Sunday, 17 September 2017

Narasi dan Tulisan Pendek untuk Cerita yang Pendek

Setelah sekian lama tidak menulis, saya merasa menjadi seseorang yang kikuk lengkap dengan label "kemandulan". Seperti biasa, saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpancing emosional yang mengharu biru. Hari ini, tulisan pendek untuk cerita yang pendek akhirnya berhasil saya hidangkan untuk sidang pembaca sekalian.


Saya mulai tulisan ini dari mengutip percakapan -yang pesimis- antara Howard bersama temannya, tokoh ciptaan Paul Murray dalam novel Skippy Dies. Kutipannya seperti ini:

"Bukan seperti ini kehidupan yang aku ingini."

"Lalu kehidupan seperti apa yang kamu ingini?" Seorang teman menanggapinya.

Howard merenung; "Kurasa ini terdengar bodoh, tapi kupikir penjelasannya akan sangat menyakitkan, seperti tembakan busur melalau sebuah narasi." 

Tapi saya pikir apa yang dikeluhkan Howard sama sekali bukanlah hal yang bodoh. Meskipun, barangkali mungkin fakta tentang kehidupan seseorang, yang dipaparkan dari awal hingga ke ujung, tidak akan menyerupai sebuah narasi bagi seorang pengamat -luar- serta bagaimana seseorang memilih untuk menceritakan kisah kehidupan mereka, kepada orang lain dan -yang terpenting- pada diri mereka sendiri.

Saya pikir hampir selalu memiliki metode naratif ketika menceritakan bagaimana Aku menjadi diri Aku, dan siapa diri Aku yang sedang Aku jalani, bahkan bisa jadi ceritanya sendiri akan menjadi bagian dari diri Aku sendiri. 

Jika sampai sejauh ini, sidang pembaca menemukan kesulitan mencerna karena ruwetnya narasi dan diksi yang saya tuliskan, maaf diminta banyak-banyak.

"Saya pikir kisah hidup tidak hanya mencerminkan kepribadian seseorang. Sebab kisah hidup adalah kepribadian itu sendiri, atau lebih tepatnya, adalah bagian kepribadian yang penting, bersama dengan bagian yang lain, misalnya sifat disposisi, tujuan, dan nilai, "tulis Dan McAdams, seorang profesor psikologi di Northwestern University, bersama dengan Erika Manczak, dalam sebuah bab di Handbook of Personality and Social Psychology.

Dalam ranah psikologi naratif, kisah hidup seseorang bukanlah biografi fakta dan kejadian hidup seperti yang dijelaskan Wikipedia, melainkan cara seseorang mengintegrasikan fakta dan kejadian itu secara internal -memilah dan menyusunnya kembali untuk memberikan suatu makna. Narasi menjadi bentuk identitas, di mana hal-hal yang dipilih seseorang untuk disertakan dalam cerita, dan bagaimana menurutnya, dapat mencerminkan dan menggambarkan siapa dirinya. 

Kisah hidup tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tapi juga menjelaskan mengapa penting hal tersebut diceritakan, apa artinya seseorang, untuk siapa mereka nantinya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

"Kadang-kadang dalam kasus autisme ekstrem, orang tidak membangun struktur naratif untuk kehidupan mereka," kata Jonathan Adler, asisten profesor psikologi di Olin College of Engineering.

"Tapi mode bawaan kognisi manusia memang sudah diset dengan mode naratif." 

Ketika orang bercerita kepada orang lain tentang diri mereka sendiri, mereka harus melakukannya dengan cara bernarasi bukan? Begitulah manusia berkomunikasi. Tapi ketika orang memikirkan hidup mereka untuk diri mereka sendiri, apakah selalu dalam cara bernarasi, dengan sebuah plot yang mengarah dari satu titik ke titik lain?

Pepatah lama orang Eropa mempercayai  bahwa setiap orang memiliki buku di dalam dirinya masing-masing. 

Adakah orang di luar sana dengan kisah hidup yang sama sekali bukan berbentuk cerita?

Ini adalah pertanyaan yang hampir mustahil untuk dijawab dengan pendekatan ilmiah kata Monisha Pasupathi, seorang profesor psikologi di University of Utah. Bahkan jika kita, seperti yang ditulis oleh penulis Jonathan Gottschall, "bercerita tentang hewan," apa artinya satu orang dengan orang yang lainnya? Tidak hanya perbedaan individu mengenai bagaimana seseorang menceritakan kisah mereka, namun ada hal di mana individu terlibat dalam cerita naratif sejak awal.

Beberapa orang menulis di buku harian mereka dan sangat introspektif, dan beberapa orang sama sekali tidak, kata Kate McLean, seorang profesor psikologi di Western Washington University. 

Meski terkadang cara mendokumentasikan kisah hidup tidak selalu dalam bentuk narasi, namun seorang fakir yang sudah saya kenal sejak lama-Hadel D Piliang-telah menulis buku harian selama 15 tahun, bahkan ia masih mengatakan kepada saya, bahwa narasi bukanlah perkara yang mudah bagi dirinya. Namun demikian, para periset yang saya baca penelitiannya mengakui bahwa meskipun tidak 100 persen universal; melihat kehidupan sebagai sebuah cerita.

Naratif sepertinya merupakan metode pembingkaian yang tidak sesuai untuk menceritakan kekacauan hidup seseorang (saya:-)), sampai Anda sadar betul dari mana cerita harusnya bermula. 

Pada akhirnya, satu-satunya materi yang harus kita buat dari cerita adalah imajinasi kita sendiri, dan kehidupan itu sendiri. Mendongeng, kemudian-fiktif atau tidak fiktif, realistis atau dihiasi dengan ngalurngidul- adalah cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Salam.

***

Depitriadi

Tengah melakukan misi rahasia. Maka tunggu saja.

Saturday, 16 September 2017

Bumi, Percintaan, Punya Anak

Penduduk dunia secara pasti menuju angka 8 M. Saat ini tepatnya populasi kita 7,4 M. Tidak ada yang bilang ini baik. Sumber Daya Alam tidak cukup untuk menampung besarnya angka populasi ini. Luas perkotaan tempat manusia mayoritas hidup dan mencari nafkah, semakin buruk untuk jadi tempat tinggal. Polusi dan sampah yang dihasilkan menjadi masalah modern yang serius. Semuanya buruk.

Foto via RT en Espanol

Apakah bumi sungguh-sungguh tidak mampu menampung kita semua? 

Bumi planet besar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya, sangat padat dan stabil dalam soal komposisi pembentuk. Apapun "kekacauan" dianggap bisa ditampung di atasnya, tapi bukankah kita ingin spesies kita dapat hidup sangat lama dan makmur? Kita menekan populasi dengan serius, berpikir dengan cara itu kita menekan apa yang "dibuang" manusia. Residu kita bukan cuma eek, tapi juga buangan yang tak nampak mata seperti suara dan radiasi. Kita berharap anak-cucu kita menikmati bumi yang tetap biru, sebuah indikasi warna yang menunjukkan kehidupan dan udara layak bagi spesies ini. Tapi kita terlalu banyak untuk dapat dikontrol. Jika sudah sangat banyak, alam akan bereaksi menyeimbangkan buangan yang membuat bumi tak stabil. Kita percaya ini, tapi kita tidak mudah menekan diri kita sendiri. Bahkan industri dan teknologi modern yang kita hasilkan justru mempercepat kerusakan tempat tinggal kita.

Gw berbincang tentang hal serius ini di akhir pekan dengan spouse. Melemparkan topik serius agar percintaan menjadi tanggungjawab, adalah variasi manusia yang tak tahu mau membincangkan apa lagi setelah agama bukan fokus pemikiran kami. Ketika agama dan urusan kelangitan bukan lagi fokus seseorang, ternyata mereka serta merta menjadi pemikir lingkungan dan kemanusiaan. Mereka melihat bumi sebagai planet sekarat, membayangkan bagaimana mungkin kita apatis dengan menyumbangkan kelahiran manusia-manusia baru, seolah penambahan populasi "bukan tanggungjawab saya", tapi urusan pemerintah negara dunia ke-3.

Well.

Bercinta tanpa menambah populasi nampaknya egois dalam pandangan gereja dan mesjid. Tapi bagi kacamata humanis yang peka isu global dan propaganda hijau, kita dalam kondisi sangat serius. Bersenang-senanglah dengan kelamin, tapi berhentilah memikirkan kesenangan sendiri yang menganggap punya anak adalah "hak saya dan kebahagiaan saya".

Ya, jika orang punya anak atas anggapan masa lampau dimana anak adalah penjamin hari tua, sungguh sangat memilukan. Atau menambah anak karena ingin jenis kelamin tertentu, atau punya anak karena ingin merasakan kebahagiaan menjadi orangtua, sungguh sangat selfish. Jika punya anak atas dasar dogma, it's double selfish.

You all, ga akan membenarkan pikiran gw ini.

Karena kita semua telah mengambil peran egois tentang punya anak itu di masa lampau, sebelum membaca ini. Tapi jika hari ini kita tetap tidak menyadari kekeliruan, untuk sekedar setuju dan ikut serius soal populasi, saya sangat kecewa.

Kecewa pada caramu memikirkan hidup manusia jangka panjang, friends.

***

Estiana Arifin (EA)

Creative Writer

Wednesday, 16 August 2017

Rumah Kita

Jika berkata 'Rumah' yang terlintas adalah kampung halaman beserta pernak-pernik kehangatan di dalamnya. Semenjak kita dilahirkan, belajar berdiri hingga dewasa , rumah adalah asal usul keberadaan kita. Awal pembentukkan karakter diri pun bermula dari rumah. Rumah yang terbesar dan bagian dari kita adalah rumah Indonesia, tanah air kita.

6iee.com
Di tahun kemerdekaan yang ke-72 ini entah mengapa rumah ini seolah membuat penghuninya gerah bahkan dibetah-betahin menempatinya. Mulanya kita tak mengetahui kondisi ini. Berkembangnya media, terlebih teknologi membuat kita mengetahui segala gemerincing tingkah laku orang-orang diluar sekeliling kita. Membuat kita berfikir, 'Ada apa dengan rumahku?'

Betapa tidak? Mirisnya anak-anak sekolah bahkan mahasiswa, membully temannya sendiri karena hal sepele, kecemburuan sosial, merasa berbeda, dan entah apalagi yang mendasari semua itu. Diperparah dengan tawuran antar sekolah, berbagai geng di kalangan muda mudi kita. Lebih berbahaya lagi pahamnya soal 'seksualitas' yang bukan pada tempatnya. Ada apa dengan semua saudaraku didalamnya?

Bersenang-senang dengan obat-obatan yang mudah ditemukan membuat kita terlupa akan tujuan, 'kenapa kita diciptakan?'. Seolah kita terhanyut di dalamnya. Tak jarang artis pun dengan segala kegemerlapan membuat kita tercengang bahkan semakin hari semakin paham bahkan terbiasa. Seperti hidangan sehari-hari.

Sekolah bukankah menjadi sarana pendidikan dan pembentukkan karakter generasi muda, namun sadarkah kita bahwa tak semua pendidikan merata? Bahkan sarana dan prasarana di daerah terpencil jauh dari dinamakan 'sekolah'? Beruntunglah yang mengenyam pendidikan tertinggi. Miris, selembar ijazah ternyata hanya selembar kertas biasa, tersimpan rapi bersama ijazah-ijazah lainnya tak terpakai karena minimnya lapangan pekerjaan. Uniknya beratus-ratus orang luar negeri datang secara ilegal bekerja menyerobot pekerjaan saudara kita. Lucu bukan?

Tiada hari tanpa keluhan. Padahal rumahku adalah rumah terindah, tersubur, terkaya namun kenapa termiskin? Saudara-saudaraku memang bertahan dengan segala keterbatasan ekonomi bahkan berbagai tingkat ekonomi yang timpang membuat kita selalu berpikir hidup untuk makan atau makan untuk hidup?

Benarlah jika mengatakan semakin banyak penghuni rumah maka semakin banyak pula kejahatan di dalamnya. Tak ayal sedikitnya mengenal diri membuat kita terhempas pada nafsu diri. Pencuri kecil-kecilan berbeda nasib dengan pencuri yang meraup milyaran rupiah. Bahkan orang baik-baik pun dituduh mencuri bahkan dihakimi massa, ironis bukan? Tapi ini nyata. Bahkan sedikit demi sedikit tanah kita mulai tergadai. Tidak hanya merembes pada sektor ekonomi bahkan ke sektor-sektor lainnya.

Rumah yang berkembang bisakah menjadi rumah penuh kemajuan sedangkan segala 'Pekerjaan Rumah' belum terkondisikan? Kita bahkan tersenyum melihat rumah kita begitu mudah terpengaruh bahkan menjadi sarana 'Kepentingan' orang luar. Bukankah menjadi teratur bahkan semakin porak poranda setiap isi rumah? Bolehlah mengikuti segala perkembangan yang ada tapi kapan mulai membereskan 'Pekerjaan Rumah' kita? Bukankah bukan sekedar kesadaran tapi butuh kegotong-royongan bersama?

Semua itu terjadi dalam rumah kita, rumah Indonesia, tanah tempat tinggal kita. Ingatkah? Kemerdekaan yang diraih para nenek moyang kita dahulu adalah berkat perjuangan tumpah darah dan pengorbanan? Bukan sekedar perjuangan pembebasan dari penjajah yang menjarah seluruh negeri tapi bentuk perjuangan membela ketauhidan. Sayangnya semua itu memudar sepudarnya warna pakaian ketika dicuci. Bukannya semakin bersih bahkan semakin kotor dan lusuh. Begitulah kita saat ini.

Semestinya setiap anggota rumah bahu membahu agar rumah tetap nyaman, aman dan tentram. Apa daya semua terpedaya. Semua terlena oleh keinginan dunia yang fana. Bukannya memperkokoh malah hampir meruntuhkan setiap sendi rumah sendiri. Siapa yang menjadi korban? Siapa yang disalahkan? Siapa yang bertanggungjawab? Siapa yang terluka? Kita. Aku, kamu, kalian, mereka adalah kita, orang-orang yang terluka mungkin tanpa disadari, entah menyadari aku tak tahu.

Membereskan segala isi rumah saat ini yang bisa kulakukan saat ini adalah menuliskan segores kesadaran dalam tulisanku. Rumah kita bukan dihuni oleh aku saja tapi segenap yang menempatinya. Diri kita adalah orang itu. Orang yang menempati rumah Indonesia. Estafet perjuangan tumpah darah nenek moyang kita. Harusnya bukan kita yang memutuskan rangkaian tali itu tapi menyambungkannya kembali dengan penuh kesadaran diri. Meski bukan dalam kondisi terjajah oleh penjajah tapi kita terjajah oleh kondisi rumah kita. Diri kita belumlah merdeka seperti yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Terlalu mahal untuk melakukannya, terlalu tinggi menggapainya tapi semua itu 'KEBUTUHAN' bukan 'KEINGINAN'. Kebutuhan kita ketika ditanya oleh Sang Pencipta tentang amanah yang kita emban, apa jawaban kita? Ataukah kita benar-benar terlena hingga terlupa dan membutakan mata hati kita? Sayangnya kita diciptakan untuk menjaga, melestarikan, bukan merusak. Seyogyanya menjadikan rumah dan halaman kita tetap subur dan harmoni dengan penuh kesadaran dan bergerak mengubah, membereskan, dan menempatkan kekondisi semula. Pertanyaannya maukah melakukannya? Sungguh semua itu demi kepentingan bersama. Rumah ketika kita dilahirkan menjadi bagian dari jutaan penduduknya. Rumah aku, kamu dan kita. Rumah kita.

Ubahlah dengan dimulai dari diri sendiri beserta kesadaran bahwa diri adalah bagian dari penghuni rumah. Kembali pada tujuan untuk apa kita diciptakan, bagaimana menjalani kehidupan dengan tujuan dan cita-cita yang diharapkan-Nya, agar rumah menjadi layak untuk disinggahi. Ubahlah mindset dan tanamkan dalam hati kita bahwa semua itu benar-benar tanggung jawab kita dihadapan-Nya kelak, karena diri adalah pemimpin. Pemimpin bagi keluarga, pemimpin bagi lingkungan, pemimpin bagi ruang lingkup yang lebih besar lagi. Ayo perbaiki rumah kita.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Lita Wasiati sebagai pemenang.

Lita Wasiati  
Pernah sekolah di SMA YWKA Bandung, sekarang menetap di Kebumen, Jawa Tengah. Menulis awalnya sebuah keisengan, lambat laun berubah menjadi keseriusan. Jika ingin bersilaturahmi bisa invite facebook-ku Lita wasiati atau WhatsApp di 083128747311 atau di 08995131711. Email pun bisa di Lita.chan17@gmail.com
Terima kasih.

Sungguh! Kita Tidak Sedang Bermalas-malasan Dalam Membesarkan Godok

“Banyak anak, banyak rejeki”.
Begitulah sabda dari pepatah lama yang entah siapa yang bilang. Tapi dari sabda tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa orang terdahulu tidak pemalas. Karena untuk menciptakan produk-produk manusia yang banyak pasti butuh energi yang besar dan tenaga ekstra, meski buah dari kerja keras itu adalah kenikmatan. Belum lagi harus memenuhi kebutuhan  keberlangsungan hidup keluarga besar yang sudah diciptakan. Semua itu karena manusia terdahulu tidak malas.

priangga.web.id
Lalu kita sampai di zaman modern ini.  Kita juga selalu dituntut untuk aktif bekerja oleh keluarga, aktif belajar oleh sekolah, aktif beribadah oleh agama, bahkan sampai negara sekalipun juga tak mau kelewatan mengingatkan kita untuk tidak malas. Terbukti dengan motto “Ayo Kerja”nya 70 tahun Indonesia. Kerja, kerja, kerja, kerja teruuuus sampai lupalah kita beristirahat. Sampai lupa pula kita bahwa buruh sedang ditindas dan dihisap oleh pemodal, petani dikriminalisasi kemudian dirampas tanahnya, mahasiswa di-DO karena mengkritik kampusnya. Yah, semua karena kita asik bekerja.

Kemudian muncul sebuah media, sebut saja Godok. Yang kerjanya tiap hari mengabdikan diri menampung segala keluh kesah, romansa atau cerita-cerita yang ingin dituliskan. Sungguh mulianya Godok. Sudah seperti Tuhan saja,  bedanya kalau yang ini lewat doa. Apa jangan-jangan Godok adalah perwakilan Tuhan di Bumi cabang Indonesia?

Kehadiran godok sebagai wadah penampung keluh kesah dapat secara nyata dirasa. Tulisan pertama yang kukirim untuk ikut Arisan bulan Maret langsung mendapat respon baik. Bukan seperti media sebelah yang sudah pernah bubar itu! Beberapa tulisan yang kukirim tak pernah dimuat, bahkan untuk direspon pun tidak. Dengan slogan “Membesarkan godok dengan malas” yang sungguh aku tidak mengerti. Bagaimana bisa pula Godok bisa besar kalau kerjanya bermalas-malasan? Bukankah ini bertentangan dengan “Ayo Kerja” nya Jokowi? Apakah ini cuma bahasa sastra? Bahasa kiasan? Ah! Sulit dipahami oleh orang sepertiku yang hanya bisa bermimpi menjadi bisa menjadi sastawan, setidaknya untuk tingkatan kecamatan saja aku sudah bahagia.

Di-era sekarang ini, saat minat baca masyarakat indonesia sangat minim tapi minat berkomentarnya sangat besar seperti tong kosong yang nyaring bunyinya. Godok hadir dengan menyajikan kepada pembacanya menu bacaan yang simpel, krispi dan gurih. Sehingga orang-orang seperti saya yang sulit memahami tulisan yang menggunakan bahasa ‘berat’ semakin berminat membaca oleh tulisan nan sederhana yang ditawarkan Godok.

Berbicara  tentang Arisan Godok, aku memandang ada semacam konspirasi didalamnya! Bagaimana tidak? Godok yang malas dan juga tidak serius mengadakan penjurian atas tulisan-tulisan dan menuai perdebatan panjang yang alot untuk menentukan pemenang. Mana bisa itu terjadi sedang mereka malas dan tidak serius. Dasar Godok!

Biar pun begitu, ketidakseriusan dan kemalasan yang selalu dipropagandakan Godok menuai kegagalan. Bayangkan, penulis-penulis yang menuliskan keluh kesahnya pastinya membutuhkan energi yang besar. Butir-butir air mata yang menetes jatuh akibat mengingat memori ketika ditolak gebetannya. Padahal tiap hari dalam hidupnya dicekoki kisah-kisah percintaan oleh perfilman Indonesia. Belum lagi saat menulis keluh kesah atas kasus DO mahasiswa yang membuka lapak baca demi menyadarkan kita untuk membaca, sedang disamping itu melihat banyak mahasiswa yang dianggap berprestasi padahal berselingkuh sambil bersetubuh dengan koorporasi demi kepentingan pribadi.

Di akhir kata aku ingin menyampaikan bahwa godok memang kawan baik untuk membagikan semua keluh kesah kita. Tapi apakah godok kawan yang baik juga untuk menyelesaikan masalah-masalah kita? Biar Godok yang menjawab!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Lewis Siahaan sebagai pemenang.
 
Lewis Siahaan
Penulis adalah Mahasiswa biasa yang aktif di Kelompok Studi Mahasiswa BARSDem dan juga Sastrawan Daerah yang masih bermimpi punya Karya Sastra.  

Thursday, 3 August 2017

Surat Abu-Abu

Tinta hitam menembus sampai ke belakang kertas tipis yang aku rentangkan di depanku. Tulisannya tampak diperindah dengan susah payah dengan bagian kaku di setiap lekukan. Aku menghargai usahanya. Sudah berkali-kali aku mengatakan tulisannya tidak dapat kubaca tapi dia tetap bersikeras ingin menuliskan sebuah surat. Surat cinta, dia bilang. Apa yang sudah dia tulis tidak langsung aku baca. Masih mengagumi kesanggupannya, sikap romantis yang aku ledek tidak ada di dirinya. Kertasnya bukan berasal dari sobekan bagian tengah buku tulis. Bukan juga kertas tipis bergaris dengan bagian pinggirnya yang berlobang-lobang. Kertas itu abu-abu, warna kesukaanku yang dia bilang membuatku tampak hangat untuk dipeluk (maksudnya adalah saat aku mengenakan hoodie abu-abuku itu, lho), bergaris rapat-rapat sehingga tulisannya tampak kecil dan ruwet meskipun memang tampak lebih baik. Dia menekuknya menjadi dua, tanpa amplop, hanya tergeletak begitu saja di meja sebelah infusku. Baik, aku akan membaca surat tidak penting agak panjang itu. Semoga dia tidak membubuhinya dengan lelucon garing yang membuat perutku semakin mual:

Wordpres

Untuk yang Selalu Disertakan dalam Masa Depanku, Kita pernah berangan-angan ingin tinggal bersama seperti Dupin di Faubourg St. Germain yang sepi dan terpencil. Atau John dan Sherlock di tengah bising nan kumuhnya London. Kita akan habiskan waktu dengan membaca, berdiskusi, menulis, makan, menonton, dan melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan, kita dapat terus berciuman. Aku juga ingin menjadi Tom Baker bagimu. Lelucon kami sama-sama menyedihkan, rasa cinta kami yang tulus juga sama, kamu sendiri kan yang bilang? Jadi itu artinya kamu juga ingin melahirkan selusin anak? Kamu sanggup? Aku sih sanggup saja. Asal kamu memaklumiku yang masih agak geli memegang pantat-pantat bau dalam kemasan mungil itu. Apa lagi yang kita angankan ya? Aku lupa saking banyaknya. Yang selalu aku ingat hanya saat air mukamu cepat berubah sewaktu bercerita, tanganmu yang tidak bisa diam memeluntir segenggam rambut hitammu berulang-ulang, dagu lancipmu yang mengkerut saat aku menceritakan angan-anganku yang bagimu menjijikkan. Kukatakan sekali lagi, aku adalah superhero yang akan selalu menyelamatkanmu saat kamu disandera king kong di atas puncak gedung. Aku anak keturunan bangsawan yang mencari ratunya, dan kemudian aku malah menemukanmu terperangkap dicomberan yang menutupi kecantikanmu. Kuberitahukan juga ya, aku jika sudah tua nanti, akan berdansa di pernikahan anak-anak kita tepat di depan toilet sehingga tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali mereka menonton sampai hampir ngompol! Karena aku bilang berdansa, itu berarti kamu yang akan berdansa denganku. Saat ini pasti dagu lancipmu berkerut lagi deh.

Untuk yang Selalu Diberi Kabar, aku merindukanmu dalam perjalanku yang jauh ini. Pagi ini aku pergi begitu cepat dari jadwal. Menaiki pesawat yang kamu takutkan. Bagaimana kalau aku menyuruhmu datang berkunjung kalau ketinggian saja tidak bisa kamu taklukan? Kamu mencintaiku kan? Kalahkan rasa takut itu untuk pertemuan kita segera! Tapi tak usah dipaksa. Aku juga akan bisa pulang dipelukanmu kelak. Badanku masih pegal dan hatiku tertinggal di samping bantalmu. Tolong jaga, aku juga akan merawat mata yang sedikit membengkak ini, tangan yang membeku ini, bibir yang menjadi terasa asam ini, kaki yang lemah ini karena harus berjalan menjauh barang sementara darimu. Yang masih sehat hanya telingaku, dia tidak membengkak seperti saat jika aku di sampingmu. Aneh sekali bukan?

Seperti janji kita dulu, jika sudah sampai di suatu tempat saat kita tidak bersama, jangan langsung memberi kabar lewat suara. Katakan dalam aksara bahwa sudah selamat sampai tujuan. Jadi aku akan meneleponmu dua hari lagi jika diizinkan. Aku tahu ini berat, menulis dengan baik dan indah ini juga terasa berat, jadi aku akan menyudahi tulisan romantisku ini yang pasti akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku di setiap titiknya.

Haruskah aku menuliskan namaku di tandatangannya? Halah, ucapkan saja nama panggilanku yang kamu sayangi itu. Jadi, apa tulisanku yang meliuk-liuk ini bisa kamu baca, kekasihku?


Aku melihat ke arah jendela. Awan putih bergulung-gulung lezat berlatar biru pekat. Angin menghembuskan daun pohon dekat jendela. Aku ingin membuka jendela itu, merasakan angin, menghilangkan sedih. Ruang kamar pasien VIP begitu luas, dingin, menakutkan. Di luar cerah, hangat, menyenangkan. Aku ingin berlari, berenang, bersepeda, berjemur, berbelanja.

Aku ingin menciummu.

Aku ingin mencintaimu lebih lama lagi.

Aku ingin kamu menjadi Tom Baker di Cheaper by the Dozen. Dan meskipun kamu mungkin bukan Cary Grant dalam wujud Philip Adams yang aku gilai, lalu kenapa? Tidak ada yang bisa menandingimu nyatanya. Aku harus sadar hidup ini begitu singkat. Kamu adalah obat penawar dalam kelam. Janji abadi di tengah dusta penjabat. Teriakan bahagia di dalam kemalangan. Kamu, dengan nama panggilan kesayangan yang aku buat khusus untukmu, dengan ketidakkonsistenan-mu dalam hal merayu, awalnya romantis ujung-ujungnya ngeselin. Kamu yang dianggap tak pernah membahagiakanku, dapat melakukannya sembunyi-sembunyi dalam benteng pertahanan kita. Jadi aku bersyukur, kamu juga mencintaiku dalam setiap keisenganmu.

Maka, kekasihku, sambil melihat langit luas yang menakutkan, aku merasa nyaman karena awan merapat membentuk ilusi lucu yang bisa kamu tebak dengan ratusan nama benda, aku berdoa agar kamu bahagia di sana meskipun kelak aku mungkin sudah tiada.

Meski singkat, seperti surat dalam lembaran kertas abu-abu, aku sangat mencintaimu kekasihku, titik.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Nahdiana Dara sebagai pemenang.

Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Menulis untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.

Wednesday, 2 August 2017

Film Biru

Grid.id

"Guru, aku ingin ke luar negeri."

"Mengapa begitu, Anakku?"

"Negeri ini banyak masalah."

"Coba sebut beberapa, Anakku."

"Satu. Pemilu Jakarta, Guru. Pemilu di Jakarta, orang Padang yang ribut. Dua. Banyak ustad yang alih profesi jadi pengganda uang. Guru pikir uang segalanya? Tiga. Penduduk negeri ini, gampang terhasut, Guru. Jadi, kita sulit bercanda."

"Ada lagi?"

"Nanti jadi seribu, Guru. Tiga saja dahulu."

"Yakin tak ada masalah lain? Ongkos-mu ke luar negeri bagaimana?"

"Itulah kenapa, aku menceritakan ini padamu, wahai, Guru yang tanpa pamrih."

"Bagaimana kalau kita menonton film, Anakku?"

"Oke, Guru. Sampai berapa lama?"

"Sampai kau berubah pikiran, Anakku. Harusnya, masalah dalam negeri juga dilakukan di dalam negeri, Anakku. "

"Aku mencintaimu, Guru. Mari kita menonton film."

"Film apa? Yang biru atau yang merah?"

"Yang biru saja, Guru. Aku menyukai langit."

"Kita menonton film biru?"

"Iya, Guru. Putarkanlah! Semoga masalah negeri ini dapat selesai dengan menonton film biru."

"Sabar, Anakku. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang sabar dan salat*. Sebentar, untuk film biru, kita harus belajar kepada Jepang, Amerika bagian selatan, dan Rusia. Kita butuh waktu banyak"

"Tidak ada pemain lokal, wahai Guru?"

"Ada. Tapi kualitasnya kurang."

"Putarkanlah, Guru. Aku mau itu. Sesungguhnya masalah dalam negeri, dibenarkan oleh orang-orang yang di dalam negeri juga."

"Sebentar, Anakku."

"Apa lagi, wahai Guru?"

"Kita butuh waktu."

"Waktu untuk apa, wahai Guru."

"Waktu untuk memikirkan, apakah kita, orang-orang baik ini, pantas kiranya menonton film biru."

"Kalau demikian, wahai Guru. Baiklah, Mari kita urungkan menonton film biru. Kita coba yang merah."

"Nah, aku setuju pendapatmu. Mari kita menonton film"

Film diputar. Darah-darah berserakan, seorang Jendral tapi pakai kain sarung, sedang dicongkel kepalanya oleh seseorang yang bersedia digambarkan dengan kualitas rendah. Darah mengucur keluar dari matanya, seperi es jaman dahulu yang dipencet kuat-kuat oleh anak SD dan sampai ke bawah kakinya.

"Guru, ada film lain?"

"Yang tersisa hanya film biru, Anakku."

"Putar yang itu, wahai Guru. Aku takut melihat darah"

"Baik, Anakku. Tapi, sekali lagi aku katakan, kita butuh waktu untuk berfikir apakah kita pantas menonton film biru."

"Apakah ini semata-mata karena kau bosan dengan ketololan negeri ini?"

"Tidak, tidak ada hubungannya dengan itu, wahai Guru."

"Lalu?"

"Putarkanlah, Guru."

"Baiklah, kalau kau memaksa."

Film biru diputar. Tampaklah langit dengan burung-burung. Tampaklah laut juga dengan burung-burung.

"Betapa indah, Guru. Betapa indah film biru."

"Itulah Anakku. Aku takut, kau terlena dengan keindahan, itulah kenapa, aku agak sedikit nyinyir bertanya, apakah kita betul-betul siap untuk menonton film biru."

Film masih diputar. Sampai tua, karena memang begitu, si Guru dan anaknya masih menonton film biru. Mereka keluar hanya karena, hanya kerena ingin keluar. Dan, kembali lagi masuk ke dalam untuk menonton film biru. Film biru masih memutarkan langit, laut dan burung-burung.

"Guru, Aku ingin buat kopi untukmu."

"Buatkanlah yang manis, Anakku. Semoga kekacauan negeri bisa dilupakan dengan minum kopi."

Ketaping, 2016

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Maulidan Rahman Siregar sebagai pemenang.

Maulidan Rahman Siregar

Lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Singgalang, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, DetakPekanbaru dan tarbijahislamijah.com.

Rindu pada Kesendirian yang Lain, Mama.

Tulisan ini terangkai di atas meja kala senja. Bercak-bercak, kusam, berminyak, berdebu, bergores, bercorat-coret tak karuan, menjadi penghias wajah meja itu. Yah! Namanya juga meja umum sudah begitu tertempatkan di halaman kampus, tepatnya di samping kafe kampus. So! Tangan-tangan jahil mahasiswa atau mahasiswi dengan segala rasa yang semu itu terlampiaskan pada meja yang tak bersalah itu, yang hanya diam, yang hanya tegak kokoh, memberi punggungnya pada mahasiswa atau mahasiswi untuk sekadar bersantai menikmati makan dan minum atau ruang nyaman bercanda tentang omongan-omongan kosong.

Nolm.us

Maaf! Paragraf pertama di atas hanyalah bentuk simpati saya kepada kondisi meja yang tak terawat, dekil, kusam, dan kotor itu, yang mana di atas meja yang semestinya seperti itu guna menunjukan kesederhanaan, keliaran, kesemi-profesionalan, dan kemerakyatan sang mahasiswa, kata-kata dalam tulisan ini terukir pada kertas putih bergaris berukuran B6 (paperline).

Fine. Mari kita tinggalkan perihal meja itu. Dalam tulisan saya kali ini ada dua hal yang ingin saya ‘curhatkan’. Hal pertama mengenai kegalauan saya. Masalah klasik, cinta. Hal kedua adalah tentang senyum seorang perempuan paruh baya yang menjual ‘alat-alat’ penyambung hidup di kafe kampus, dia hangat disapa ‘Ibu’.

….

Beberapa hari yang lalu, saya lupa tepatnya tanggal berapa (pura-pura lupa hehehe) saya hendak menyatakan isi hati saya kepada seorang perempuan yang sangat saya cintai, namanya Elany (nama samaran). Rasa cinta itu sudah lama sekali saya pendam, lama banget, hampir basi pokoknya!

Jadi, malam itu saya telah menuliskan sebuah puisi dan akan saya bacakan di hadapannya dalam sebuah warung kecil yang terletak tidak jauh dari kampus UKSW. Sangat klasik kan? Yup! Setelah saya bergumul panjang, saya sendiri mengakui hal itu sungguh menggelikan! Tapi, saya sangat mengaggumi puisi itu. Yah… biarpun menggelikan tapi puisi itu lahir dari jiwa-jiwa cinta yang bersemayam jauh di dalam sanubari saya (hehehe… yang mau muntah saya persilakan).

Nah, izinkan saya menuliskan ulang puisi itu, yang saya beri judul ‘Kecuali Kau’ :

semua hal semu,
kecuali kau.

Salatiga. Sumba.
jarak merangkul waktu.
membentangkan dinding-dinding 
curam.

bagi, menetak
memecahmu.
membelahku.
memisah cinta.
lalu,

memupuk rindu.
merawat mawar, duri
beracun.

malam hari, itu
kosong. 
mati.

kau, perempuanku.
gerak nalarku. darah nadiku.
napas tubuhku. rumah diamku.
di sisa usiaku.

dekat.
dekap aku, seperti
tanah memeluk mayatku,
kelak.

gelap membingkai kota Salatiga, juga
membungkusnya 
dengan kabut.

demikian.

inginku : peluk aku 
dalam,
selimut cintamu.

***

Salatiga, Warung BQ. 05/05/2017.
Aduh! Bapereeerrr dehh…. Hehehe… Nah, puisi itu berhasil saya bacakan kepadanya dengan seluruh tubuh, jiwa, dan roh. Bibir saya sungguh bergetar saat mengucapkan kata demi kata puisi itu dan dia hanya tersipu malu-malu usai mendengarnya.

Hari berlalu dan semua mengalir seperti biasa. Hingga tiba hari itu. Saya meminta, mengemis, dan memohon berulang-ulang kali agar Elany mau saya kencani. Pada permintaan, pengemisan, dan permohonan kesekian kali itu, dia akhirnya dengan rasa iba bersedia.

Kami pun berjumpa di waktu dan tempat yang sudah saya tentukan.

Ah! Saya sedikit malu menuliskan kronologi kencan kami waktu itu. Pokoknya berantakan. Parah! Saya harus akui bahwa, kencan waktu itu adalah kencan pertama saya selama saya hidup 22 tahun di bumi sejak dilahirkan. Tapi, waktu itu sebelum Elany pergi dia sempat meminta saya menatap matanya, entah apa maksudnya? Yang jelas matanya sangat berbinar. Saya rasa ada yang hendak dia sampaikan, barangkali dia ingin meminta maaf atau memukul saya atas kelancangan mengajaknya kencan. Tapi, yang saya rasa matanya penuh cinta!

….

Salah! Itu adalah sebuah rasa, hanya perasaan. Perasaan saya. Perasaan yang tidak pasti. Rasa yang semu dan menipu! Bodohnya saya begitu polos untuk percaya begitu saja. Bermodalkan perasaan semu itu, saya memberanikan sikap untuk menyampaikan tiga kata mistik kepada Elany. “Sa Sayang Engko.” Terucap dengan keyakinan pasti. Kata-kata itu tersampaikan, Elany akhirnya tahu sudah bagaimana perasaan saya selama ini kepada dia. Saya begitu mencintainya.

Selama 1 hari Elany hanya membenamkan kata-kata itu dalam ruang ‘tahu’ saja. Dia belum menanggapinya. Lalu pada hari berikut dia pun akhirnya keluar dari ruang meditasinya untuk memberikan tanggapan atas tiga kata itu. Namun, jawaban dari bibirnya tidak seperti yang saya harapkan, saya kalah!

Dan, yang membuat saya mengidap kegalauan selama hampir seminggu adalah cara saya menjadi kalah. Kalau kita menyatakan cinta pada seorang perempuan penolakannya hanya ada dua sebab (menurut pengalaman sempit saya). Pertama, kehadiran orang ketiga yang telah lebih dahulu dia cintai. Kedua, tak adanya rasa yang sama. Dalam kasus saya Elany memilih  sebab yang kedua. Kalau hanya sebatas rasa yang tidaklah sama, saya sebenarnya kuat, sudah pula terlatih untuk menerima itu. Tapi, yang semakin menyayat hati, yang merubah rasa cinta menjadi racun mematikan yang merusak perlahan tubuh dari dalam adalah penolakan plus pembatasan dia kepada saya secara halus tapi sadis. “Maaf Kak! Sa tidak bisa balas rasa sayang Kaka lebih dari seorang SAUDARA.” Demikian dia membatasi saya.

Mendengarkan ucapannya seperti mematikan sistem syaraf tubuh. Dia seperti menuntun saya ke dalam sebuah sangkar. Kata-katanya seperti memberatkan langkah kaki saya. Ucapannya membekukan aliran darah saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Barangkali sudah sejak awal saya sendirilah yang menciptakan kalimat yang diucapkan Elany itu. Sentuhan dan pelukan saya selama ini adalah pelukan seorang saudara.

No problem. Sekarang ini, saat tulisan ini terangkai, saya sudah berdamai dengan itu. Saya mempelajari dan mengerti satu hal bahwa, jadikanlah seseorang yang kita butuhkan karena kita mencintainya untuk menghabiskan sisa hidup bersama kelak, atau sekedar membuka pintu kala kita pulang atau menyampaikan salam dan pesan hati-hati saat kita hendak keluar rumah, maka jadikanlah dia seorang sahabat. “Tapi sa akan sayang seorang Elany lebih dari saudari.” 

Yup! Itulah cara saya kalah waktu itu. Kalah untuk menggenggam tangannya. Kalah untuk tidak dapat mengusap air matanya ketika dia bersedih suatu saat. Saya kalah, tak mungkin lagi memeluknya dengan cinta yang utuh. Tetapi, saya memenangkan satu hal, cinta. Saya tidak ingin mengalah dan akan terus mencintai seorang Elany melebihi rasa cinta seorang saudara kepada saudarinya.


Titik (.), saya berhenti menulis tepat di akhir paragraf di atas. Meletakan alat tulis lalu beranjak dari meja itu pergi ke dalam kafe hendak memesan segelas kopi, rokok, 3 tempe goreng, dan 3 ubi kayu goreng plus sambalnya.

“lho… kok tangkai Ibu hari ini layu?” Tanya Ibu kepada saya.

Ibu dan saya sudah sering bercanda. Tangkai adalah sapaan akrab ibu kepada saya. Hal ini karena suatu ketika Ibu aku goda, “Ibu seperti setangkai bunga yang kembangnya tidak hanya anggun tetapi menyimpan kehidupan.” Dari candaan inilah aku dinamakan tangkai.

Ibu berbalik menatap saya. Sambil tersenyum ia mengaduk-aduk gula agar larut menyatu dengan air juga kopi. 

“Iya Ibu, biasa masalah hati.”

“Itu kan, Ibu udah tahu… seorang ibu itu tahu apa yang dirasakan anak-anaknya.”

Tangan Ibu berhenti mengaduk. Sudah selesai. Ia meneteskan sedikit kopi di tangan, lalu mencicipinya. Tersungging senyuman manis di bibir Ibu, memberi tanda bahwa kopi terbaiknya telah siap.

Ia melangkah ke sisi ruang yang lain, menyiapkan gorengan yang sudah saya pesan. 3 tempe goreng, 3 ubi kayu goreng, ditambah 3 sendok teh sambal.
“Hati itu tempat paling murni dalam diri manusia. Hati, bukan yang berdaging dan darah itu… tapi, yang adalah ruang dimana ‘Yang Baik’ berdiam." Ucap Ibu lembut sambil tangannya mengatur gorengan di sebuah piring warna hijau tua berbentuk seperti daun pepaya.

Ibu berpaling menatap saya lalu tersenyum. Saya membalas senyumannya. Tapi, Ia tahu bahwa senyuman saya sendu dan ragu.

“Suara hati itu sangatlah tulus. Tapi, bias jadi penyakit kalau tidak tersuarakan dan ditindaki. Memang berat, terkadang kita hanya ragu, tapi, percaya sama Ibu… kalau kita mengatakan dan melakukan suara hati itu, kita sesungguhnya sedang membagi beban itu sendiri… Jadi, tangkai Ibu harus bisa mengungkapkan suara hati itu dan berkomitmen untuk menghidupinya… laki-laki sejati itu, bisa memegang ucapannya.” Ucap Ibu sambil meletakan dua batang rokok di tangan saya.

Mata saya berkaca, bukan karena kegalauan asmara, tapi hari ini Ibu dengan senyuman manis dan berwibawa, jilbab ungu tua, juga nasehatnya, seperti memangkas ruang dan waktu dimana saya boleh berjumpa Mama. 

Dalam termangu itu, saya menyadari hal mendasar bahwa. Perihal kegalauan, keeksisan diri, juga harapan untuk ada bersama orang yang kita sayangi. Bahkan usaha saya; membikin puisi, membacakannya di depan Elany, kencan yang berantakan, juga persoalan penolakan ia terhadap cinta saya, adalah melulu soal ketakutan menjadi sendiri. Kita takut asing, bahkan terhadapan diri sendiripun kita masih saja sangsi.

Mungkin Mama ada dalam diri setiap perempuan. Entahlah hingga saya kembali dan menyelesaikan tulisan ini, tiba-tiba saya rindu Mama.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Elyan Kowi sebagai pemenang.

Elyan Mesakh Kowi

Mahasiswa aktif FTI-UKSW. Angkatan 2013. Baru saja resmi dihukum (kembali) men-jomblo. Bersahabat akrab dengan kopi, rokok, dan buku. Sering berkawan pada malam (bat man, not bad man!). Tidak suka perubahan tanpa alasan. So!, sudah pasti kualitas kesetiaannya terjamin. Beberapa waktu terakhir kembali menghidupi dunia yang sejak umur 15 tahun di tinggalkan, ‘PUISI’.