Thursday, 23 November 2017

Sesingkat Apapun Chat itu, Aku Tak Ingin Membuat Orang Lain Tak Enak Hati

Belum lama ini aku chattingan dengan dia, terima kasih sosmed yang membantuku menemukan ID chatnya! Tapi karena dia selalu membalasnya lama, aku jadi merasa seperti mengendarai jet coaster yang sesuka hati membolak-balikkan isi perutku. Di tengah-tengah kebaperan itu, ada tugas kelompok yang harus aku kerjakan sebelum teman-temanku di sini memelototiku dan mengatakan akan mencoret namaku jika aku tidak membantu.


Hari sabtu begini harus kerja kelompok di kantin yang mempunyai sedikit stop kontak, bodohnya juga aku lupa membawa powerbank dan charger karena diburu-buru oleh ketua satu ini. Sudah lima menit aku masih saja menatap room chatku dengan dia.

“Mau ngechatting siapa?”

Aku menoleh ke Siska yang kepalanya sedikit menyenden ke bahuku, “Ini, Sis, mmm, mau ngechat temen ngajakin jalan habis kita kerja kelompok tapi lagi mikir mau ngajak ke mana heheh.”

Siska menatapku heran tapi dia tetap saja memberi usul, “Suruh ke sini dulu aja. Mungkin bisa bantu kamu buat ngetik hahah.”

“Ah, jangan.”

“Baik bener sama temenmu. Kalo sama aku gak baik. Sebel.”

“Yah, jangan ngambek. Siska cuantik jangan cebel.”

“Kalian berdua gak ngerjain?” Ketua kelompok ini mulai menyindir.

Dua puluh menit aku mengetik dan membaca resume berkali-kali sambil memikirkan ingin mengirim chat apa ke dia. Apa aku akan menganggunya di hari libur ini? Apa aku sungguh ingin mengajaknya bertemu di hari libur ini? Apa akan di baca chatku ini?

“Kamu gak ngechat temenmu buat ngajak jalan habis kerja kelompok?” Siska mengingatkan lagi. Iya, iya, aku akan ngechatting sekarang.

Hai

Sudah, itu dulu saja. Sengaja tidak pakai tanda titik supaya terlihat santai. Terlalu gugup begini membuatku memperhatikan setiap detail tata cara menulis chat yang menarik. Lima menit, aku berdiskusi dengan ketua kelompok tentang bagian tugasku. Lima belas menit, Siska mengajakku berdiskusi tentang makanan apa yang harus dia makan di kantin ini. Tiga puluh lima menit, aku mulai mengerjakan bagian tugas yang lain sampai balasan chat itu pun datang.

Ya, halo juga.

Dia membalasnya. Aku bingung. Tidak, tidak boleh bingung. Di buat santai saja. Stay cool.

Libur kuliah ngapain?

Mmm di kampus. Ada apa, ya?

Balasannya cepat. Dan dia di kampus juga! Kampus kami yang sama tetapi fakultas yang berbeda membuatku kadang melihat dia. Tidak sia-sia ternyata gabung kerja kelompok daripada di rumah baper nunggu balesannya sambil ngerjain tugas sendirian. Dan aku gugup lagi untuk membalasnya.

Ngapain?

Ketemu dosen pembimbing. Ada apa nih?

Gapapa cuma nanya heheh

Oh, oke.

Eh, aku lagi di kantin kampus deket fakultasmu nih

Iya, terus?

Sini lah bareng makan siang heheh

Mmm, oke.

Ha? Oke? Padahal cuma iseng karena dia membalas chatku dengan cepat. Ternyata dia bilang oke. Aku pun menunggunya dengan degup tak karuan di balik t-shirt biruku. Mengetik pun tanganku gemetar karena ini pertama kalinya kami bertemu langsung. Sepuluh menit, aku mengecek hapeku, mungkin saja dia ngechat menanyakan posisiku. Tapi aku melongo lama saat melihat hape mati. Ti. Ti. Ti. Aku menanyakan apa ada yang membawa powerbank, tapi Siska yang satu-satunya bawa malah baterai powerbanknya habis. Minta gantian sebentar minjem charger ketua, dia malah tak mempedulikanku. Sial.

Di saat aku kebingungan, aku melihatnya. Di pintu masuk kantin, menunduk ke hapenya dan mengetik sesuatu. Dan jarak kami begitu dekat sampai aku bisa melihat bekas jerawat di mukanya. Sapa? Panggil dia? Gimana? Apa dia sedang melihat foto profil di chatku dan celingukan mencariku? Tapi sama sekali dia tidak melihat ke arahku yang ada di sebelah kirinya yang hanya berjarak empat meja. Dan aku duduk di sini melihat ke arahnya dengan penuh harap. Tapi dia sudah pergi. Melongos dengan muka datar tanpa menoleh lagi.

Aku mengutuk hape bajingan ini.

Ketidakberanianku.

Dan powerbank Siska yang berkonspirasi menghalangiku bertemu sebentar dengannya.

Tugas kembali ku ketik dengan patah semangat.

Sepulangnya dari kampus, aku langsung menancapkan charger ke stop kontak, menyalakan hape dan menunggu dengan sabar fitur chat yang lemot saat di buka. Harus menunggu selama beberapa menit dan ternyata benar, dia menunduk ke arah hapenya tadi untuk mengirim chat menanyai posisiku di mana. Sialan.

Maaf tadi hapeku ternyata mati. Lupa bawa powerbank

Dua puluh lima menit.

Oke, santai aja.

Sifat nekadku pun mulai kumat lagi.

Nanti malam ngopi-ngopi kita yuk.

Aku tidak berani membaca balasannya yang cepat itu. Tapi, apa salahnya membuka dan kemudian lega. Atau sedih dengan balasannya ini:

Sori nih, aku jalan sama cewekku ntar malem. Kapan-kapan aja ya heheh.

Dia sudah punya kekasih. Dan tidak berapa lama foto profil chatnya dia ganti dengan foto mesrah mereka. Aku tidak mengira ternyata dia punya cewek. Aku terlalu bodoh mengira dia ngga straight. Aku terkecoh pose di foto profilnya yang terlihat lemah gemulai dan senyum manis serta baju v-neck yang selalu dia pakai saat kuliah maupun saat di foto dan tingkah lakunya di kampus yang membuatku salah paham selama aku beberapa kali melihatnya dari jarak amanku. Aku bodoh dengan alasan wajahnya agak mirip dengan mantan pacar homoku waktu SMA.

Aku malu mengirim pesan singkat itu ke dia hari ini. Di mana aku kembali tertarik chatting dan bertemu dengan sesama jenis yang aku sukai. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi dalam mengirim chat. Sesingkat apa pun chat itu, aku tak ingin membuat orang lain tak enak hati padaku.

Tapi, mau sampai kapan cintaku ini tak terbalas seperti sebuah chat?

***

Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Selalu suka menulis hanya untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.


Wednesday, 22 November 2017

Kutuliskan Untukmu Kata Cinta yang Paling Cinta

Assalamualaikum. Hari ini gue ingin menceritakan tentang pengalaman mengajar gue yang masih minim. Gue terinspirasi mengabadikan pengalaman ini dalam bentuk tulisan sebab gue berharap untuk kedepannya gue bisa lebih baik lagi dalam mengajar. 


Foto via tribunnews

Untuk sekarang ini gue mengajar privat atau biasanya sih gue menyebutnya dengan nge-les-in sebanyak dua siswa. Karena posisi gue masih kuliah dan masih menjadi anak dari orang tua gue jadi ngelesin ini bukanlah prioritas utama gue.

Pengalaman mengajar gue yang pertama, ngelesin siswi Al Azhar Kembangan. Hari pertama gue dateng, gue merasa manusia paling rapi sedunia dengan atasan batik, celana bahan dan pantopel layaknya seorang guru gitu deh. Ketika sampai di rumah doi, gue diintrogasi dulu sama mamanya ditanya berbagai macam pertanyaan yang menurut gue sih biasa saja. 

Btw, gue pernah aktif di organisasi jadi untuk urusan public speaking jangan diragukan lagi. Seiring berjalannya waktu, gue awet nih ngelesin si doi. Dari waktu yang diberikan 2 jam kadang 30 menit buat telat, 15 menit buat makan dan minum, 30 menit buat pendekatan atau biasa gue sebutnya dengan ngerumpi, 15 menit buat menceritakan suatu kisah inspiratif, 10 menit buat solat magrib dan sisanya baru bahas soal. Kadang, doi suka marah nih sama gue kalo gue gak makan makanan yang disediain. 

Dengan perasaan seneng di dalam hati, rasanya sifat kuli gue ingin gue tunjukin gitu. Oh iya, doi sekolahnya bilingual ya. Jadi gue mau gak mau harus bisa bahasa inggris dong. Tapi, kenyataannya gue malah gak malu nanya “ini artinya apa dek?”.

Pengalaman mengajar gue yang kedua, ngelesin siswi Al Azhar juga tapi tingkatnya beda. Sejujurnya gue sama doi yang ini gak awet. Soalnya gue tuh bingung bel rumahnya dimana dan gue salam kayanya gak kedengeran deh. Jadi, aduh gue gak nyaman nih. Apalagi doi kayaknya suka korea atau anime deh. Dan gue tuh suka alergi dengerin orang bercerita mengenai korea atau anime jadi sebenernya itulah penyebab utama ketidakawetan gue ama doi yang ke dua.

Pengalaman mengajar gue yang ketiga, sama juga sih siswi Al azhar juga tapi doi mau UN nih. Gue ama doi ketiga kali ini awet sampe sekarang. Sebab orang tua nya baiknya gak ketolongan, walaupun kadang gue ngerasa gue tuh cuma nemenin doi belajar doang. Sumpah, udah pinter sebenernya doi. Jadi, gue berasa gabut gitu deh. Soalnya kebanyakan dari yang sebelum sebelumnya gue dateng langsung disodorin soal dan gue yang jawab. Kalo doi yang ini, dia ngerjain dan gue ngoreksi. Kadang gue pun ngerasa pengen resign dari nih anak. Soalnya kayanya doi kecapean belajar deh, sampe-sampe sering banget gue ngeliat doi ketiduran. Guru mana sih yang tega ngebangunin siswanya yang ketiduran karena kecapekan belajar. Sebab, menurut pendapat gue tidur pun merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam belajar. Tapi masalahnya, siswa mana sih yang gak ngantuk saat belajar? Btw gue punya tips buat kalian yang insomnia nih, coba deh lo design kamar lo sama persis sama ruang belajar.

Diantara ketiga siswi-siswi yang sudah gue jelasin tersebut mereka punya cerita yang baik untuk gue kembangkan kedepannya. Kalo yang pertama, dia melatih gue buat sabar, sebab doi gak paham-paham mulu. Doi yang kedua melatih gue buat banyak makan, sebab badannya lebih besar dari gue. Doi yang ketiga melatih gue untuk care.

Memang, mengajar bukanlah prioritas utama gue. Tapi, mengajar adalah suatu kebutuhan bagi gue mahasiswa pendidikan. Gak bisa gue tolak mereka yang masih mau belajar walaupun dengan berbagai karakter yang berbeda. Sebab amanah dalam mendidik adalah suatu amanah yang berat namun ringan untuk dikerjakan. Indonesia butuh pendidik yang memanusiakan manusia, agar moral baik tetap melekat pada kita orang Timur. Selain itu, agar tercapainya pula cita-cita Negeri ini dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sungguh, mendidik adalah suatu kenyamanan dalam perjalanan hidup gue sampai saat ini.

***

Aini Chanifah

Mahasiswa yang masuk IKIP bermodalkan pengen jadi Birokrat Politik, sampai pada akhirnya fanatik banget pengen jadi pendidik 



Tuesday, 21 November 2017

Sepuluh Sabtu

Sepi-sepi merangkap bisu, di antara derit kereta yang tertahan menuju Manggarai, aku mengingatnya dengan harapan yang sama bahwa di suatu kesempatan ia akan menjeda kalimatnya untuk kemudian bertanya, "Kamu pulangnya kemana?" Setidaknya agar ia tahu kemana aku biasa kembali. Jika memang selamanya ia tidak akan pernah mencariku, setidaknya ia memiliki ingatan dimana aku pernah berada.

pinterest

Sabtu itu berjalan seperti biasa. Perputaran aktivitas berkerja untuk sekumpulan mahasiswa mingguan, kadang-kadang mereka yang berasal dari kelas malam dan kelas pagi juga terlihat disana. Sekedar mengurus perkumpulan, organisasi, atau klub kampus. 
Aku selesai mengembalikan buku pinjaman sebelum mata kuliah pertama dimulai. Sabtu pagi yang cerah di luar kota Jakarta, lebih sejuk meski rasanya sama-sama menyesakkan. Kesibukan kantin telah dimulai sejak pukul tujuh pagi, dan diantara riuh rendah percakapan seru itu, seseorang memanggilku.

"Bulan!" Aku menoleh, ia Agha, seorang perempuan dengan perawakan mungil dan senyum yang terkesan centil. Tatapannya mengerling tatkala jaraknya denganku hanya tinggal selangkah saja, "Habis dari mana kamu?" Aku melirik bangunan sebelah yang tidak terlalu jauh, "Perpustakaan, ngembaliin buku. Kamu tumben udah dateng"

"Iya," ia mendesah, raut wajahnya mendadak tidak nyaman. "Mau bayar semesteran"

"Yah, jangan cemberut gitu dong, kan masih bisa bayar, daripada nunggak terus kena denda?" Aku menggodanya, tetapi Agha masih saja manyun.

"Iya sih. Tapi gaji bulan ini rasanya cuman lewat aja," kemudian ia geleng-geleng, merasa miris dan kasihan dengan dirinya sendiri.

"Kamu mau ikut ke loket?" Ke loket? Yang ramai banget itu? Aku menolak Agha dengan halus, dengan iming-iming akan mencarikannya posisi duduk yang nyaman di kelas, yang dekat dengan AC.

Agha mengiyakan dengan resah dan bibirnya kembali manyun, "Yaudah, terus kalau dosennya dateng, kamu jangan lupa izinin aku" Aku mengacungkan ibu jari, "Siap bos!", dan lima menit berlalu, Agha telah melesat ke gedung utama, menuju loket. Aku juga tidak langsung berlalu ke kelas, masih ada waktu dua puluh menit lagi, jadi aku memutuskan untuk membeli sarapan sebentar, kemudian baru beranjak menuju kelas pertama. Ah ya, perihal mahasiswa mingguan itu, akan kujelaskan. Kami, biasa disebut sebagai mahasiswa mingguan karena memang kami hanya menghadiri tatap muka seminggu sekali. Jadwalnya padat sejak pagi hingga sore, meski kadang-kadang memang senggang. Dan dapat disimpulkan dengan mudah, mahasiswa mingguan adalah mahasiwa yang juga menjadi karyawan atau pekerja lainnya di lima hari kerja, begitu dan termasuk aku.

Aku membeli segelas cappucino hangat dan roti keju, sepagi ini koridor-koridor lantai tiga masih lengang, hanya beberapa kelas yang telah terisi. Di depan kelas, seorang pria dengan setelan necis berdiri, ia menatap lurus punggung kelas yang memperlihatkan lanskap gedung utama dan biasan cahaya mentari pagi, dan aku tidak mengenali pria yang agaknya tengah menikmati pagi sendirian di kelas yang belum ada penghuninya.

"Per...misi?" ucapku ragu, takut mengganggu aktivitas sakralnya. Pria itu tidak segera menoleh dengan gerakan cepat, ia membiarkan pandangannya berpisah secara perlahan untuk kemudian sepasang matanya bertemu dengan sepasang mataku. Seperti sebuah gerakan lambat dalam film, senyumnya mengembang, diantara pendar sinar mentari yang membias ia berucap, "Selamat pagi". Apa katanya? Selamat pagi?

"Hmm," pria itu masih tersenyum sambil mengangguk pelan, "Selamat pagi." ia seakan dapat membaca apa yang menyembul dalam benakku.

"Pagi.." balasku kaku, ketika ia memposisikan dada bidangnya kesamping dan memberi celah, aku segera berlalu melewatinya dan masuk kedalam kelas yang dingin. Pria itu mendekat beberapa langkah menuju meja yang ku tempati, aku bertanya-tanya. Apakah ia dosen? Mengapa aku tidak pernah melihatnya? Ataukah ia mahasiswa? Perawakannya atletis, iris matanya teduh meski sayu, dan senyumnya meneduhkan. Eh, tunggu! Mengapa aku dapat mendeksripsikannya dan mengapa aku diam-diam memperhatikan?

"Mata kuliah pertama apa?" pria itu bertanya.

"Fonologi" jawabku singkat. Kemudian ia hanya kembali takzim memperhatikan lanskap yang ada di depannya, aku mengutuk suasana beku ini. Mengapa tidak ada satu orang pun yang datang? Aku menyesap cappucino perlahan agar tidak menimbulkan suara, agar pria itu tidak bertanya. Namun itu tidak lama karena kemudian ia berbalik dan berlalu begitu saja meninggalkan kelas, dan aku sendiri di dalamnya. Kira-kira baru beberapa detik senyap melingkupi sampai sedetik kemudian pria itu menyembulkan kepalanya sambil berkata, "Nama saya Nugraha" Ia memperkenalkan dirinya, kemudian menghilang lagi. Aku menghempas napas pelan sambil membatin tentang Sabtu apakah ini?

Aku menceritakan hal aneh tadi pagi kepada Agha, ia terkekeh sambil menggoda mengapa aku tidak balas meperkenalkan diri, dan Agha benar-benar penasaran saat aku mendeskripsikan pria itu sekali lagi; atletis, bermata sayu, dan senyum yang teduh.

"Kalo aku jadi kamu pagi tadi, aku udah tukeran nomor handphone, saling follow di instagram! Payah kamu, Lan!" Aku mengerutkan dahi, "Suasananya aneh banget, kaku, beku, nggak ada celah untuk bertingkah centil!"

"Itu kamu!" Katanya sambil menyorongkan sendok kearahku. "Kamu yang kaku, yang beku". Halah, aku mendengus. Aku yakin, suasana aneh tadi memang datang dari aura pria itu kok. Bukan karena aku yang payah. Aku teringat satu hal lagi saat itu, "Aku belum pernah ngeliat pria itu sebelumnya di kampus."

Agha langsung memasang ekspresi menerka-nerka, "Mahasiswa baru?" Aku mengendikkan bahu, "Ah, terlalu rapih dan gagah"

"Dosen baru?" Agha memberi alternatif lain.

"Terlalu muda juga," ucapku sambil lalu menyuap makanan. Agha berhenti memberi tebakan soal siapa pria itu, kembali fokus pada santap siangnya. Sementara diantara ramainya kantin aku mencipta kesenyapan diriku sendiri, membayangkan bias sinar mentari pagi tadi, ingatan tentang betapa teduh senyumnya melintas secara otomatis tanpa bisa kucegah. Sampai sore, aku berkali-kali waspada pada setiap tempat yang aku lalui. Pria itu tidak ku temukan lagi.

Namanya Nugraha, dengan segenap tekhnologi mutakhir di abad 21, aku menemukan banyak pemilik akun dengan nama itu, namun tidak satupun yang memperlihatkan senyum teduh miliknya. Aku bermimpi melihat bias mentari pagi dan lanskap bangunan kampus, tetapi diruangan itu aku menikmatinya sendirian. Dalam lelap, aku bertanya-tanya apa yang seharusnya ada disini, aku tidak kunjung menemukan jawabannya. Aku cuma merasa kosong dan monoton.

Sabtu datang dengan lambat.

Pagi itu, aku bangun lebih awal dari biasanya. Segera membersihkan diri dan berkemas menuju halte, kemudian menyambung perjalanan dengan angkot lintas provinsi selama kurang lebih tiga puluh menit. Jarak antara rumahku dengan kampus memang cukup jauh, beberapa teman tidak bosan untuk menawarkan tumpangan, baik di kosan, maupun mereka yang masih satu atap dengan orang tua. Tetapi aku lebih nyaman untuk pulang pergi, aku akan menerima tawaran mereka jika memang keesokan harinya aku masih harus berkutat dengan tugas, atau jika aku benar-benar merasa lelah. Semenjak aku bertemu dengan pria itu, aku tidak bisa untuk memberitahu Agha tentang yang sebenarnya terjadi, sekelebatan ingatan yang selalu otomatis berputar, aku berusaha keras untuk tidak membiarkan diriku kosong dengan musik, dengan buku, dengan keramaian, dengan perbincangan, tetapi setiap pagi menjelang, aku selalu dapat mengingatnya dengan jelas. Aku tidak tahan lagi.

Aku akan menceritakan yang aku alami selama seminggu ini kepada Agha, tidak perduli jika nanti anak itu akan habis menertawakan betapa seperti remajanya diriku. Aku sampai sebelum matahari pagi meninggi, kantin masih sepi, baru diisi oleh satu dua mahasiswa, masih bisa dihitung jari. Aku seperti biasa, memesan segelas kopi hangat dan roti bungkus, kemudian membawanya menuju kelas. Agha belum juga dapat dihubungi, nomornya tidak aktif, dan koridor-kodridor masih begitu lengang. Ketika aku sampai pada ambang pintu, jantungku meletup, berdetak dengan kecepatan yang lebih, tidak ada siapa-siapa disana, tidak ada.

Pintu kelas masih tertutup, aku mengatur nafas, memegang gagang pintunya, dan membukanya perlahan. Bias cahaya mentari pagi yang telah meninggi memenuhi wajahku seiring dengan terbukanya pintu. Mataku tertuju kepada bayangan panjang yang hanya sendiri, ia menatap lanskap bangunan utama dan silaunya mentari dari jarak lima langkah dari jendela. Menyadari kehadiranku, ia menoleh dengan gayanya yang khas, tetapi bukan selamat pagi yang keluar dari bibirnya, melainkan sesuatu yang membuatku tertegun karena ia mengucapkan, “Akhirnya kamu datang”

Pagi itu, kami berbincang layaknya sepasang anak manusia yang telah saling mengenal selama belasan tahun, seperti teman karib yang lama tidak bertemu. Bagaimana tidak? Ia tidak sedingin yang aku bayangkan pada saat pertama, ia sehangat mentari pagi, kami berbincang tentang banyak hal, tentang buku, tentang film. Ia bahkan telah menyiapkan segelas kopi untuk dirinya sendiri pagi itu. Selaksa perasaan aneh menelusup saat dengan tenang ia bertanya, “Siapa namamu? Mengapa kau datang sepagi ini?”

“Bulan,” jawabku singkat. “Rumahku jauh, bisa sih berangkat siang, tapi pasti kejebak macet” Ia cuma mengangguk maklum, kembali melanjutkan obrolan. Sejak pagi itu, niatku untuk menceritakan perasaan aneh ini kepada Agha urung, ia tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi. Dan setiap Sabtu, aku akan berangkat lebih pagi demi sepotong mentari pagi bersama Nugraha.

Berlalu delapan sabtu, satu modul perkuliahan selesai. Dan aku masih belum tahu banyak tentangnya, hubungan ini hanya sebatas mentari pagi, kopi, dan banyak hal tentang buku juga seputar sastra, kadang-kadang lelucon singkat. Tidak ada saling tukar nomor ponsel, tidak ada saling mengikuti di instagram, tidak ada. Senyum itu masih sama teduhnya, bahkan jika ia tengah menyesap kopinya sekalipun. Tetapi setidaknya, tidakkah ia ingin bertanya dimana rumahku? Pagi itu, setelah genap delapan mentari yang kami nikmati bersama, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya hal yang lebih pribadi padanya, tentang siapa dia? Mengapa ia selalu ada disini setiap sebelum jam pertama dimulai?

“Siapa kamu?” Ia hanya tersenyum, mengendikkan bahu.

“Kamu mahasiswa disini? Pakaianmu terlalu rapi, bahkan lebih rapih dari dosen yang kebanyakan lebih suka pakai kemeja santai” Ia hanya menggeleng dan tertawa pelan.

“Kenapa kita selalu bertemu setiap Sabtu pagi?” Kali ini ia tidak tersenyum, tidak juga menoleh, tidak menunjukan respon apapun, hanya menatap matahari yang semakin meninggi untuk kemudian akhirnya berucap, “Karena rasanya lengkap”

“Lengkap?”

“Melihat mentari terbit dan berbincang dengan kamu sambil minum kopi”. Aku masih mencerna kalimatnya, lama. Tidak tahu, pipiku panas, sepertinya bersemu merah, bodoh sekali. Saat aku ingin mengulas senyum malu-malu, kulihat punggungnya telah lenyap dibalik pintu. Pagi kedelapan, ia pergi tanpa pamit.

Sabtu kesembilan, modul satu di semester ini berakhir.

Pagi itu, aku tidak menemukannya di kelas. Tidak juga sore hari. Aku gelisah. Pagi kesembilan, ia menghilang.

Seminggu lagi berjalan, aku berkerja seperti biasa. Hanya saja, ada yang berbeda setiap kali aku melewati pagi, kereta yang membawaku menuju tujuan kerap kali tertahan di sinyal masuk stasiun Manggarai. Jeda-jeda panjang antara derit kereta dan masinis yang tidak bosan member informasi bahwa kereta ini tertahan membuatku kosong dan menimbang; apakah aku akan menceritakan ini kepada Agha? Pria itu? Ia yang selalu bercerita tentang banyak hal tanpa pernah bertanya secuil pun tentang diriku, bahwa jika hanya sekedar, “Kamu tinggal dimana?” Aku mengambil ponsel, mencari nama Agha. Nada sambung segera terdengar, dan tidak lama aku mendengar suaranya.

“Gha…”

“Kebetulan kamu telpon, kamu tahu nggak?” Ia justru lebih antusias, aku tidak memotong momen dimana ia akan bercerita, aku membiarkannya. “Modul selanjutnya kita dapat dosen baru!”

“Oh, ya?” balasku kurang minat.

Yup, beliau sebelumnya dapat jatah ngajar di lantai lima, ruangan 502 keatas, jadi penasaran”

“Aku biasa aja” Setelah itu, yang terjadi adalah Agha curhat tentang pekerjaannya dan banyak hal lagi, seperti biasa juga, aku hanya mendengarkan, keinginan untuk bercerita yang telah terjadi menguap begitu saja. Lima menit kemudian, akhirnya Agha memutuskan untuk menyudahi percakapan ini, “Nanti lagi ya, aku udah mau sampai kantor, have a great day!”

You too

Kereta masih tertahan. Lengang. Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Dari balik jendela, matahari pagi perlahan naik, sinarnya berpendar seperti biasa, kadang membuat silau. Perasaan aneh setiap melihat sinar mentari naik, antara degup jantung dan lebih cepat dan ingatan-ingatan tentang dialog setiap Sabtu pagi yang rasanya panjang sekali. Sialan! Mengapa secuil tentang dirinya yang tidak pernah terbuka selalu saja menghantuiku? Aku menghela nafas panjang, memejamkan mata…. Senyum teduh itu melintas dengan tenang. Hei, dapatkah sekejap saja kau pergi seperti yang selalu kau lakukan setiap menyudahi percakapan kita?.

Lagi-lagi, aku bertemu Sabtu. Nugraha tidak juga enyah dari pikiranku, bersama senyumnya ia selalu melintas. Sepotong mentari pagi setiap hari Sabtu seakan-akan telah mendarah daging dan menjadi ritual bagiku, selain karena itu satu-satunya waktu dimana aku dapat menemuinya. Pagi ini seperti biasa, mampir sejenak ke kantin yang belum ramai dan membeli secangkir kopi dan roti, melesat menuju lantai tiga yang senyap, memegang gagang pintu kelas dan memasukinya dengan semangat. Gelap.

Bahkan belum ada yang membuka tirai jendela, belum ada seseorang yang meninggalkan jejak pagi ini kecuali aku. Aku menuju tempat dimana aku biasa duduk dengan Agha, berjalan menuju jendela dan membukanya, kembali duduk di meja sendirian, menunggu sesuatu yang sama sekali tidak pasti, menyesap kopi tanpa menimbulkan suara, menyaksikan pagi yang pelan-pelan naik dengan cahaya mentari yang berpendar dan silau. Pagi ini, seperti mimpi malamku saat aku pertama kali menemuinya, aku menikmati mentari pagi dan lanskap gedung sendirian, menunggu hal tidak jelas yang barangkali akan membuatku merasa lengkap.  Namun alih-alih menunggu, waktu terus saja berlalu. Tidak ada selamat pagi pertama untukku, tidak ada senyum teduh yang menggambarkan kelegaan saat aku membuka pintu. Disini, aku hanya merasa kosong dan monoton.

Mata kuliah pertama, akan segera dimulai. Kelas telah lengkap, tidak sesenyap pagi tadi. Pria itu, tidak datang, tidak menemuiku. Agha ceria seperti biasa, lagi-lagi obrolan tentang modul kedua di semester ini memenuhi ruangan. Keluh kesah perihal pekerjaan yang diemban sejak Senin sampai Jumat tertukar, langit-langit kelas penuh oleh percakapan sampai seseorang masuk dan membuka pintu, mengucap selamat pagi, dan tetiba kelas menjadi teratur dan rapih. Akhirnya kelas pertama dimulai.

“Apa kabar semuanya?” Aku mendongah, suara itu..

“Ini pertemuan pertama kita, ya? Sebelumnya memang saya mengajar di lantai lima, jadi…” Pertemuan pertama katanya?

“Nama saya Aditya..” Aditya?

“Aditya Nugraha” Dia?

“Tapi kalian bisa panggil saya Adit, itu cukup” Ia tersenyum.

Aku menatapnya dengan sejuta perasaan aneh yang melesak di dada, ingatan akan sembilan pagi di hari Sabtu yang kuhabiskan dengannya, percakapan remeh temeh, matahari pagi, dan betapa aku berharap ia akan bertanya di mana rumahku, saat-saat ia pergi pergi begitu saja.

“Bulaaan!!!” Agha berbisik histeris, menarik-narik lengan kemeja ku, “Dosennya manis banget, Tuhaaaan!” Aku menunduk, bertanya-tanya mengapa waktu itu aku datang terlalu pagi. Seharusnya aku tidak pernah menemuinya lagi semenjak pertemuan pertama, seharusnya aku tidak melihatnya saat ia tersenyum, seharusnya kereta yang kutumpangi setiap Senin sampai Jumat tidak perlu terhenti di sinyal masuk stasiun Manggarai agar aku tidak memiliki celah untuk mengingat segala percakapan. Seharusnya…

“Disini ada yang jarak rumahnya jauh sekali barangkali? Di luar dari kota ini, misalnya?” Seluruh kelas otomatis menoleh dan menunjukku, “Bulan, pak.. Bulan” Pria itu mengangguk, berjalan menuju mejaku, aku sungguh ingin bertanya mengapa ia tidak jujur sejak pertama. Aku sungguh ingin bertanya mengapa…

“Rumah kamu dimana?”

Agha menahan rasa kagumnya disampingku.

Aku balas menatapnya datar, “Jauh”
Di Sabtu yang kesepuluh, segalanya, terasa jauh.

***

Rolyta Nur Utami

Kopi Hitam, bukan nama asli, itu hanya nama pena dari seorang perempuan. Menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, tengah mengenyam pendidikan lanjut sebagai mahasiswi mingguan di salah satu universitas swasta dengan prodi Sastra Indonesia, sehari-harinya berkerja sebagai Staff Development di salah satu perusahaan IT di bilangan Tebet. Penikmat senja dan kopi, juga puisi.

I Found Love

Yein tahu, apa yang akan terjadi saat ia menerima undangan pesta dari Sungyoul mantan kekasihnya. Ia tidak merasa cemburu atau terkejut. Tapi, ia harus bersabar menjawab semua pertanyaan dari kelima sahabatnya yaitu Halla, SinB, Hyunjoo, Dahyun dan Yeeun.

tumblr.com
“Di undangannya bahkan tertulis ‘Don’t forget, bring your mate’ jadi, kau akan pergi bersama siapa?”  Tanya Dahyun.

“…”  Yein tidak menjawab.

“Jungkook?  Benarkan?  Kau pasti akan pergi bersama Jungkook yang berpura-pura menjadi kekasihmu,” ucap SinB sambil tersenyum.

“…”  Yein mengangguk.

“Yein-ah, kan aku sudah bilang.  Cepat cari pacar!  Jadi kau tidak perlu memohon pada Jungkook untuk berpura-pura menjadi kekasihmu lagi,” seru Yeeun sambil memainkan ponselnya.

“Oh ya, kemarin kakakku bertanya padaku.  Apakah kau sudah memiliki pasangan untuk pergi ke pesta Sungyoul sunbae,”  Hyunjoo membuka suaranya setelah menyimpan bukunya.

“Yein-ah, sudahlah kau pergi saja bersama Deokyeom oppa!  Daripada dengan Jungkook yang hanya berpura-pura.  Lagi pula Deokyeom oppa itu kan pintar, wakil ketua klub musik. Kau tidak akan merasa malu saat berhadapan dengan Sungyoul sunbae di pesta nanti malam jika pergi bersamanya,”  Ucap Halla.

“Hyunjoo-ya, tolong sampaikan pada kakakmu.  Terima kasih sudah mengajakku pergi bersama.”  Seru Yein.

“Waeyo?  Apa kau ingat pesta Sungyoul sunbae tahun kemarin? Karena hanya berpura-pura, Jungkook lebih memilih berdansa bersama Nayeon unnie dibanding denganmu. Kau tidak mau kan kejadian itu terulang kembali?”  tanya Dahyun.

“Hmm… aku hanya tidak ingin menggagalkan rencana Yuju unnie untuk mendekati Deokyeom oppa,”  jawab Yein.

“Ya sudah, kau pilih!  Koo JunHoe, Lee DongMin, Seo MyungHoo, atau Choi Hansol?  Aku bisa memohon pada mereka untuk menemanimu ke pesta nanti malam.”  Tanya Yeeun

“Tidak!!  Aku tetap pergi bersama Jungkook.”  Tegas Yin menahan kekesalannya.

“Apa sesempurna itu Sungyoul oppa di matamu sampai-sampai kau belum bisa melupakannya?  Ingat!  Kau sudah putus dengannya satu tahun yang lalu,”  ucap Halla.

“AKU SUDAH MELUPAKANNYA!”  Yein berteriak karena sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.

“Bagaimana bisa kelas menjadi sangat berisik walaupun hanya diisi enam orang siswi perempuan?”  Terdengar suara yang berasal dari pintu masuk. Kemudian, masuklah enam orang siswa laki-laki dan bergabung bersama enam orang siswi perempuan yang sedang duduk berkumpul.

“Yeinnie, mengapa kau berteriak?”  tanya Jungkook menghampiri Yein.

“….”  Yein tidak menjawab dan hanya mengkerucutkan bibirnya, menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal.

“Kita hanya bertanya padanya, mengapa ia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu!”  ucap Dahyun.

“Dia sudah melupakannya.”  Ucap Jungkook.

“Jika sudah, mengapa ia masih tidak mau menerima ajakan laki-laki lain pergi bersamanya selain dengan kau Jeon Jungkook?”  tanya Yeeun.

“Karena aku kekasihnya.”  Jawab Jungkook.

“Hahaha… aku tahu engkau kekasihnya.  Tapi, hanya berpura-pura benarkan?”  tanya SinB.

“Tidak.  Aku benar-benar berpacaran dengannya.”  Jawab Jungkook serius. Lantas setelah mendengar pengakuan Jungkook, semua sahabatnya itu pun menatap Jungkook dan Yein secara bergantian.

“Sejak kapan kalian mulai berpacaran?”  tanya Bambam.

“Tadi malam.”  Jawab Jungkook tersenyum sambil menunjukkan gigi kelincinya.

“Dimana?”  tanya Gyujin.

“Di kamarnya!”  jawab Jungkook sambil tersenyum ke arah   Jawab Jungkook tersenyum sambil menunjukkan gigi kelincinya.

“Dimana?”  tanya Gyujin.

“Di kamarnya!”  jawab Jungkook sambil tersenyum ke arah Yein.

“Apa?!?”  teriak semua sahabatnya bersamaan. Mereka terkejut.  Tidak hanya sahabatnya, Yein pun terkejut dan segera menutup mulut Jungkook sambil menyumpah serapahi Jungkook.

“Hanya berdua?”  Tanya Mingyu. Karena tidak bisa menjawab, Jungkook hanya mengangguk.

“YA! YA! YA!  Kalian jangan berpikir aneh.  Ingat!  Aku tidak melakukan apapun dengannya”  teriak Yein.

“Kami percaya,”  ucap Chanwoo dengan nada menggoda.

“YA!  Jung Chanwoo!!”  teriak Yein sambil menendang kaki Chanwoo.

“Aw….  Jika kau tidak melakukan apapun, kau tidak usah marah!”  ucap Chanwoo menahan sakit.

“Sudah! Sudah!  Benar apa yang dikatakan Yein.  Kami tidak melakukakan apapun,”  jelas Jungkook.

“Tentu saja, kami percaya,”  ucap Jaehyun. Semua sahabatnya pun tersenyum setelah mendengar pengakuan Jungkook.  Namun, tak berselang lama mereka kembali terkejut setelah mendengar pengakuan Jungkook.

“Tapi, aku hanya menciumnya sedikit(?)”  Jungkook tersenyum.

***
Putri Rahmawati 

Lahir di Sukabumi, 5 Januari 2001.  Hobi menulis saya dapatkan sejak kecil.  Rata-rata tulisan saya mengambil tokol para idola K-pop.  Saya sangat suka menulis untuk mengisi kekosongan waktu saya.  Sudah bayak cerita tak terbit yang saya miliki.


Putri, Alice, Jenifer Satu Tubuh Tiga Wajah

Kebahagiaan seperti apa yang kalian inginkan? Bahagia bersama dengan hobby kalian? Bahagia dengan kehidupan kalian yang tidak pernah beranjak dari masa lalu? Bahagia dengan cara hidup kalian yang itu-itu saja? Ataukah bahagia dengan perubahan yang telah kalian lakukan di setiap tahap-tahap pencapaian keberhasilan yang kalian raih? 

fromwriter
Semua orang tentu memilih kebahagiaan mereka sendiri walapun mereka bahagia dengan kenangan masa lalu, mereka tidak pernah beranjak  tidak pernah maju mereka hanya tetap ingin tinggal di sana sampai mereka sadar bahwa itu bukan kebahagiaan melainkan keterpurukkan yang mereka ciptakan menjadi kebehagian yang pura-pura di depan semua orang yang tidak bisa melihat kedalam kehidupan mereka. 

Bahagia dulu ada seseorang yang bahagia dengan apa yang dia lakukan di dalam hidupnya. Dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang terhadapnya. Asalkan dia bahagia dengan hidup yang dijalaninya itu sudah cukup baginya. Perempuan itu sederhana sekali, tidak mengeluh dengan keadaannya. Dia selalu bersyukur dengan apa yang ada di hidupnya, tetapi ada satu hal yang tidak bisa dia hindari, kenangan  masa lalunya. Setiap dia mengingat masa lalunya itu dia menjadi berbeda, ketika dia memiliki banyak masalah dia menjadi berbeda, ketika dia bersedih dia juga berbeda, ketika dia marah dia juga menjadi berbeda, setiap manusia memang seperti itu tapi kasus ini lain halnya dengan orang lain.

Nama perempuan itu Putri, ya dia biasa dipanggil Putri. Putri sekarang kuliah di salah satu universitas ternama di daerahnya,  dia memilih jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Putri adalah anak tunggal,  dia tinggal dengan keluarganya, ayah dan ibunya pegawai negeri sipil. Dia memiliki seorang teman yang sedari dulu selalu menemaninya dan selalu mendukungnya. Anita dialah teman Putri. Sore itu suasa hati Putri tidak baik, karena dia merasa ada bayangan masa lalu yang selalu melintas di benaknya seketika dia mengalami sakit kepala yang begitu dahsyat seketika badanya terhempas ke kasur. Tiba-tiba Putri terbangun dengan mimik wajah yang berbeda dia terlihat kasar. Putri pergi mengganti pakaiannya dengan style sporty dan rambut yang tergerai. Tiba-tiba Anita sudah sampai di rumah Putri,  entah kenapa mereka saling bertatapan “Put, kamu mau kemana, dengan dandan yang begitu” sahut Anita. Dia hanya diam dan tidak menghiraukan Anita dan terus berjalan meninggalkan Anita di depan pintu.

Anita mulai berfikir dan langsung mengikuti Putri kemana dia pergi, Anita berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Putri “Put..Put..” panggil Anita. Dia tetap diam dan tidak menjawab panggilan Anita. Anita mulai curiga dan dia mencoba memanggilnya lagi dengan nama yang berbeda “Alice..!!” teriak Anita. Dan ya Putri langsung berhenti dan menoleh ke arah Anita, “Ya ada apa manggil gua?” jawab Putri. Sontak Anita tak bisa berkata apa-apa lagi yang dia lihat sekarang bukanlah Putri melainkan Alice kepribadian Putri yang sangat kasar telah keluar. Anita hanya diam di belakang dan terus mengikuti Putri yang sekarang menjadi Alice.

Putri adalah seorang wanita yang sangat baik, kehidupannya normal tidak ada percecokan keluarga, tidak ada penyakit keturunan. Tapi seketika dia mulai berubah semenjak dia berumur 6 tahun. Pada waktu itu Putri mengalami depresi yang sangat tinggi, dia dikucilkan oleh teman-teman sekolahnya dan dia selalu dibully. Tapi Putri tak pernah bisa mengatakan kepada kedua orang tuanya, dia selalu bilang kalau luka-luka yang ada di tubuhnya akibat dia ceroboh saat berjalan dan terjatuh. Dia selalu memendam perasaan yang seperti ini sendirian, masa bullyan teman-temannya selalu berlanjut dan tak pernah henti-henti. Ironisnya Putri tak pernah melawan dia hanya bisa menangis itu satu-satunya kekuatan Putri. Tiba-tiba suatu malam Putri menangis karena mengalami sakit kepala yang sangat dahsyat, orang tuanya berfikir kalau itu biasa saja dan hanya dibawa ke praktek dokter umum terdekat dari rumahnya, dan diberikan obat pereda rasa sakit. Keesokan paginya Putri berangkat sekolah dengan wajah yang berbeda dan sangat kasar, orang tuanya tidak merasakan ada perubahan di diri Putri. Entah kenapa Putri pada hari itu bisa melawan teman-teman yang suka membullynya dengan membalas seperti yang dibuat temannya ke Putri. 

Dari situlah Putri tau bahwa awal mula penyakit yang dideritanya, hingga dia mengerti bahwa banyak sekali perubahan yang dia alami, perubahan yang terjadi pada dirinya perubahan jarak waktu yang dialami, dan akhirnya orang tua Putri memutuskan membawa Putri ke psikiater. Dan ya dengan semua kejadian semua cerita yang dialami Putri dia mengalami permasalahan berbentuk pemecahan kepribadian atau bisa kita sebut dengan DID (Dissociative Identity Disorder) dimana disebut juga dengan gangguan disosiatif: amnesia, fugue, depersonialisasi dan gangguan identitas disosiatif. 

Gangguan ini merupakan penyakit mental dengan gangguan kerusakan memori, kesadaran, identitas dan persepsi. Ketika satu atau lebih fungsi tersebut terganggu, simtom dapat muncul. Gejala-gejala tersebut dapat menggangu fungsi umum manusia, termasuk fungsi kerja, aktivitas dan relasi sosial. Disosiatif merupakan coping mechanism, bahwa seseorang menggunakan cara tersebut untuk menghindar dan melepaskan diri dari situasi stres dan kenangan traumatik. Cara tersebut digunakan untuk memutuskan hubungan antara dirinya dengan dunia luar, serta untuk menjauhkan diri dari kesadaran tentang apa yang terjadi. Disosiatif dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan (defence mechanism) terhadap rasa sakit fisik dan emosional dari pengalaman traumatik dan stres.

Anita sahabat putri yang selalu menemaninya semenjak SMP dia tau Putri mengalami kepribadian ganda, dengan banyak sekali kejadian aneh yang terjadi kepada Putri dan memang Anita juga ikut menemani Putri untuk selalu pergi konsultasi ke dokter psikiater yang sekarang selalu ada disisi Putri untuk mengobatinya sampai sekarang dan Putri sudah masuk ke tahun ajaran semester genap di perkuliahannya. Beda jurusan dengan Anita tetapi Anita selalu pergi bersama Putri dan menemaninya.  Mereka sudah seperti kakak beradik, Anita selalu menjaga Putri dia tidak mengeluh dan tidak malu dengan penyakit yang di derita Putri, sahabat memang harusnya seperti itu.

Alice masih saja terus berjalan dengan langkah kaki yang begitu cepat, sesampai di persimpangan dia menghentikan angkot dan di ikuti oleh Anita. “Eh lu kenapa ngikutin gua terus” tanya Alice. “Saya ngikutin kamu karena saya khawatir kamu apa-apain tubuhnya Putri” jawab Anita. “Oke baiklah karena lu sahabat Putri gua ijinin” ucap Alice. “Sebenarnya kamu mau kemana Alice?” tanya Anita. “Gua mau pergi ke mall, gua suntuk melihat Putri di rumah terus sok kerajinan” jawab Alice. “Oke baiklah saya ikut sebagai jaga-jaga” ucap Anita. Alice adalah kepribadian pertama muncul dari diri putri dialah yang melawan teman-teman yang sering membully Putri dialah kepribadian Putri yang kasar, suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Itulah bentuk perlindungan diri putri yang tidak bisa dia lakukan sebagai Putri. 

Anita selalu mengikuti Alice tidak ada hal-hal yang mencurigakan, Alice berjalan kesana kemari bermain ini bermain itu. Murni Alice menghabiskan waktunya untuk meghilangkan rasa suntuk yang di derita oleh Putri. Malam pun telah menyapa akhirnya Alice pulang dia mengantar Anita pulang yang sudah kelelahan mengikutinya seharian penuh. “Alice setelah ini kamu harus pulang, jangan kemana-mana lagi saya capek” ujar Anita. “Baiklah lu tenang saja gua bakal pulang, jangan cemas gua dalam keadaan tidak lagi emosi besar” jawab Alice. Sesampai Alice di rumah dia langsung tertidur dan tidak sempat berganti pakaian.

Keesokan paginya Putri terbagun dengan pakaian yang sangat tidak sesuai dengan gayanya, “jangan-jangan Alice” batinnya. Putri langsung melihat handphone dan melihat pesan dari Anita, memang benar Alice. Putri merasa lega karena Anita selalu ada di sampingnya walaupun Anita sangat takut berhadapan dengan Alice, dia bersyukur punya sahabat yang begitu pengertian andaikan Anita dulu ada bersamanya pada masa dia dibully pasti tidak akan terjadi hal seperti ini, Putri sangat capek dengan dirinya yang terbagi-bagi, entah kapan dirinya yang satu lagi keluar dia sangat takut. Putri memiliki 2 kepribadian ganda pertama Alice wanita yang kasar, kejam pemarah dan suka menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan, kedua Jenifer wanita yang periang suka sekali berdandan dan tidak pernah ketinggalan rambut kuncir dua dengan ikatan pita berwarna pink, dia sangat gemar menari dan suka bernyanyi  berkebalikan denga Putri. Putri tidak pandai menari dan tidak suka dengan dandanan yang dipakai Jenifer tapi mau diapakan lagi itulah kepribadian Putri. Kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. 

Putri menjalani hari-hari nya seperti biasa di kampus dengan di temani sahabatnya anita, mereka sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. “Put kamu baik-baik saja kan? Jangan terlalu banyak berfikir apalagi tentang kenangan masa lalumu itu” ucap Anita khawatir. “Iya aku baik kok, Nta, ini sudah biasa aku alami apalagi Alice itu selalu ingin keluar. Kenangan itu tiba-tiba melintas di benakku Nta, mau dikatakan apalagi, aku bersyukur ada kamu nta yang selalu ada walaupun Alice garang untung dia tidak melakukan hal-hal aneh” ucap Putri. Mereka tidak mampir kemana-mana hanya langsung pulang, Anita mengantarkan Putri pulang selalu seperti itu karena Anita takut kalau Putri pulang sendiri tidak tau akan terjadi hal apa nantinya di perjalanan. Tidak terasa gelap pun datang, di mana hari yang selalu ditakutkan oleh Putri kenapa tidak karena ketika malam datang kepribadian Putri selalu ingin keluar terutama Alice dia selalu ingin keluar. Putri menghabiskan waktunya dengan belajar dan menyelesaikan tugas kuliahnya. Hingga dia tidak sadar telah ketiduran dan begitupun alaram handphonenya selalu berdering waktu untuk meminum obat yang selalu diberikan oleh dokter yang menangani kasus Putri saat ini. 

Alunan musik yang begitu energik, membuat ayah dan ibu Putri terkejut “Put kamu kenapa nyalain musik sekeras itu, ini masih pagi nanti tetangga kita marah loh berisik sekali” sahut ibu Putri. “Putri gak ada hihihi aku Jenifer  yuhuu...” dengan begitu cerianya Jenifer menjawab ibu Putri. Ibu Putri langsung pergi berjalan memasuki kamar Putri dan memeriksa alaram handphonenya dan iya, Putri lupa meminum obat. Mau diapakan lagi ibunya hanya bisa mengawasi Jenifer,  kepribadian kedua Putri yang begitu energik. Jenifer hanya bernyanyi-nyanyi di rumah dan menari seperti layaknya anak kecil yang kenangan masa kanak-kanak Putri tidak sebaik dan seindah yang diharapkan. Maka itulah terciptanya kepribadian Jenifer yang ceria, yang tidak bisa dimilikinya waktu dia masih kecil. Semua kepribadian Putri telah keluar dengan sendirinya, Putri hanya bisa tergantung dengan obatan, psikoterapi dan hipnosis terutama juga kepada diri Putri sendiri untuk tetap bertahan dan kuat supaya semua kepribadian itu menjadi satu dengan tubuh dan pikiran Putri, ibu dan ayahnya hanya bisa berdoa agar anaknya bisa cepat sembuh dari trauma masa kecilnya itulah satu-satunya harapan orang tua Putri. 

Dengan kisah yang saya tulis ini kita sebagai manusia bisa memahami dan mengerti bahwa hal yang dialami Putri adalah akibat trauma berkepanjangan yang dialaminya pada masa usia Sekolah dasar. Membuat seseorang dilecehkan, dibully dan dikucilkan adalah salah satu tindakan yang tidak pantas, jika seseorang yang dibully tersebut tidak bisa menerima dia akan melakukan tindakan-tindakan yang di luar akal sehat. Tetapi beda dengan kasus Putri ini, dia tidak bisa menerima keadaan dan tidak bisa melakukan apapun dan akhirnya dia memecah kepribadiannya dengan berbeda sifat. Dengan sifat yang selama ini tidak bisa dia lakukan dengan dirinya. 

Menurut teori psikoanalisa oleh Sigmund Freud,  trauma pada masa kanak-kanak adalah kejadian paling berpeluang mengakibatkan gangguan kepribadian seseorang. Pada masa kanak-kanak itulah kepribadian mulai berkembang dan terbentuk. Saat terjadi pengalaman buruk, pengalaman-pengalaman tersebut sebisa mungkin akan di tekan (repress) ke dalam alam bawah sadar. Namun  ada beberapa kejadian yang benar-benar tidak bisa di tangani oleh penderita, sehingga memaksanya untuk menciptakan sosok pribadi lainnya yang mampu mengahadapi situasi itu.

Hal ini merupakan mekanisme pertahanan diri, suatu sistem yang terbentuk saat seseorang tidak bisa mengahadapi sebuah kecemasan yang luar biasa. Kepribadian-kepribadian baru akan terus muncul apabila terjadi lagi suatu peristiwa yang tidak bisa teratasi. Kepribadian-kepribadian itu tergantung pada situasi yang di hadapi. Kepribadian aslinya cenderung tidak mengetahui keberadaan kepribadian lainnya, karena memang hal itu yang diinginkan, yaitu melupakan hal-hal yang telah diambil alih oleh kepribadian lainnya.

Maka dari itu saya memberitahukan kepada semuanya membully seseorang, melecehkannya dan melakukan kekerasan fisik kepada seseorang apalagi kepada anak-anak di usia mereka yang seharusnya bahagia dengan masa kanak-kanaknya yang ceria dan polos itu, janganlah pernah menodai kehidupan mereka yang tidak tau apa-apa dan yang hanya ingin bahagia itu. Mereka juga ingin hidup normal kita semua sama, sama-sama manusia ciptaan Tuhan. Cerita yang saya tulis ini adalah gambaran seseorang yang mengalami kepribadian ganda atau bisa kita sebut DID. Saya terinspirasi dengan cerita seseorang yaitu Anastasia Wella. Dia adalah penderita DID yang ada di Indonesia  memiliki 9 kepribadian dan itu semua bertolak belakang dengan dirinya.

Serta saya terisnpirasi dari beberapa film yang saya tonton tentang penderita DID ini dan kasus-kasus DID yang telah saya baca yaitu Sybli guru taman kanak-kanak dengan 16 kepribadian mengguncang dunia di era 70-an, serta Billy dengan 24 kepribadian. Billy atau bisa di sebut dengan billy milligan cerita atau kisah hidupnya di angkat menjadi novel oleh  Daniel Keyes 24 wajah Billy. Dari cerita diatas ada dari beberapa sumber yang saya cari terutama sumber mbah google, dan beberapa refensi buku-buku psikologi kesehatan yang saya baca. Sekedar memberikan informasi dan mengingatkan bahwa pembullyan, kekerasan fisik, pelecehan seksual, penyiksaan batin dan moral pada anak-anak  itu tidaklah benar. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi dan akibat yang dialami pada orang tersebut. Kebanyakan penderita DID ini mengalami trauma pada usia anak-anak.

***

Yolla Novita Sari
Berusaha untuk selalu bahagia, bahagia dengan kegiatan yang super itu-itu saja. Berusaha untuk mencari si kotak pandora, kotak pandora yang mengeluarkan semua sakit dan kesedihan, dan hanya menyisakan satu hal yaitu harapan. Dan si harapan itu yang akan saya kejar.


Wednesday, 18 October 2017

Proses atau Hasil?

Hari Jumat kemarin, Guru Bahasa Indonesiaku mengadakan diskusi kelompok. Saat itu, Aku kebetulan masuk ke kelompok I yang beranggotakan siswa yang cukup pintar semua. Di hadapan kami, ada tiga kelompok yang siap menantang kami. Diskusi itu tentang, "proses atau hasil, manakah yang lebih dihargai ?".

wartawirausaha.com
Sebagai pembuka diskusi, Guru Bahasa Indonesiaku menanyakan pada kami semua. Sebuah pertanyaan yang sangat mengecoh. 

"Proses tidak akan mengkhianati hasil, benarkah?" Aku dan teman-teman terdiam sejenak. Memikirkan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh guruku.

"Proses tidak akan mengkhianati hasil". Itulah kalimat yang sering diucapkan oleh banyak orang untuk memotivasi agar kita tidak menyerah. Tapi, benarkah proses tak akan khianati hasil? Sepuluh menit kemudian, rekan kelompokku berdiri dan menyampaikan pendapatnya.

"Saya setuju bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Kenapa? Karena jika kita berjuang sungguh-sungguh maka hasil yang akan kita dapat bakal sempurna," ujarnya. Pendapatnya ini mendapatkan klep dari banyak orang. Termasuk Guru bahasa Indonesia yang mengadakan diskusi ini. Dan tak lama, hampir seluruh kelompok menyatakan kesetujuannya terhadap pendapat temanku. Tapi Aku rasa, ada yang aneh deh. Sepertinya bukan proses yang gak akan khianatin hasil. Tapi, apa ya...?

"Proses tidak akan khianatin hasil". Kalau proses tidak akan mengkhianati hasil, kenapa banyak orang yang gagal meskipun telah berjuang sungguh-sungguh. Contoh singkatnya, seperti Aku. Aku sering kali dapat nilai yang anjlok padahal sebelumnya Aku belajar dan latihan segiat mungkin. Tapi, yang jarang belajar kok bisa dapat nilai sempurna. Kan aneh? Kalau gitu, intinya, proses khianatin hasil dong... Lah, habis itu gimana?

Aku mengingat kembali kisah-kisah tentang tokoh-tokoh terkenal seperti Bill Gates atau Bob Sadino. Apa yang menyebabkan Mereka semua itu sukses? Aku pikirkan sejenak....

Kemauan. Ya kemauan!!! Kemauan untuk maju. Itulah yang tidak akan mengkhianati hasil. Kenapa Mereka rela dicaci maki, dihina, dibenci. Jatuh dan bangkit berulang kali. Karena ada satu kemauan di dalam hatinya. Ya, kemauan untuk maju...! Kalau Mereka tidak ada kemauan tuk maju, Mereka pastinya tidak bisa seperti ini sekarang.

Artinya, niat/kemauanlah yang tidak akan mengkhianati hasil. Tadinya, Aku mau ngungkapin ini. Cuma, keburu guru mengalihkan pertanyaan.  Jadi, ungkapin aja di sini. Lumayan, kalau menang dan semoga menang arisan bulan ini di godok.id, bisa buat ngebayar spp bulan ini dan gak nyusahin orang tua jadinya. Terus, bisa ikutan ukk deh.

Oke, Guruku langsung mengalihkan ke pertanyaan kedua dan yang jadi inti diskusi ini. "Mana yang lebih dihargai, proses atau hasil?" Dan, guruku menunjuk kelompok ke-2 untuk mengungkapkan pendapatnya.

"Menurut saya, proseslah yang lebih dihargai daripada hasil. Kenapa? Karena kita tahu biografi tokoh terkenal seperti Bob Sadino atau Mark Zuckerberg. Artinya, kita lebih menghargai proses daripada hasil".

Opini yang dilontarkan kelompok 3 dan 4 pun hampir sama dengan opini yang digagas oleh Kelompok 2. Rata - rata, mereka berpendapat bahwa proses lebih dihargai dari hasil. Kini, giliran kelompok 1 yang diberikan kesempatan untuk berpendapat. Dengan gagah beraninya, Aku berdiri dan coba tuk mengungkapkan seluruh opini yang ada di otak ini.

"Menurut saya, hasil yang lebih dihargai dibanding proses. Kenapa Saya berani mengungkapkan pendapat demikian? Karena faktanya, kita lebih menghargai hasil dibanding proses. Contoh nyatanya, orang tua kita lebih senang dapat nilai yang gede, kan? Tapi, Mereka tidak peduli prosesnya bagaimana. "Pokoknya, gak mau tau, nilai harus gede.Kalau gitu, jelas. Hasil lebih dihargai dari proses!". Teman - temanku langsung memberikan tepuk tangan yang meriah. Guruku pun mengungkapkan kesetujuannya kepada pendapatku. Sekaligus ngasih kesimpulan tuk diskusi hari ini.

"Memang benar. Sangat benar bahwa yang lebih dihargai oleh Orang Indonesia adalah hasil. Contoh kecilnya adalah ketika orang tua kalian lebih menghargai kalian dapat nilai gede dan bakal memarahi kalian saat dapat nilai kecil. Inilah problem dan sebab mengapa banyak orang yang tidak jujur dizaman modern. Kita sering mengungkapkan REVOLUSI MENTAL, REVOLUSI MENTAL. Tapi, kenapa mental kita belum saja berubah. Karena, mental berubah dari diri kita sendiri bukan orang lain. Kalau Indonesia ingin dipenuhi oleh generasi yang jujur, kita harus merevolusi mental kita. Ubah sudut pandang kita! Hargai proses ketimbang hasil. Benar kata teman Kalian, Niatlah yang tidak akan mengkhianati hasil. Kalau niat sudah terpatri di hati kita, maka kita bakal berjuang sungguh - sungguh.

***

Iqbal Maulana


Refleksi Bilangan dengan Peristiwa dan Ayat Suci

Karena terlalu menyukai pelajaran matematika akhirnya aku lebih sering menulis bilangan dari pada huruf. Dulu saya, waktu sekolah paling suka mengerjakan sol-soal matematika dibandingkan pelajaran yang lain. Tak terlepas dari bilangan, aku jadi sering mengaitkan kejadian-kejadian dalam hidupku dengan bilangan. Akhirnya beberapa peristiwa kualami.

iug.edu.gh
Waktu kelas tiga SMP, dulu belum kelas 9 namanya. Di sekolah diadakan try out sebanyak 5 kali. Alhamdulillah aku selalu di posisi 3 besar tepatnya 1,3,3,3,1. Ya begitulah rangkingku dalam try out. Lumayan keren kan? He he. Tapi saat UN beneran dan hasilnya diorbitkan oh tidak, aku di posisi 11. Nah bilangan sebelas itu adalah jumlah rangkingku di try out yaitu 1+3+3+3+1 = 11. Entah itu sebuah pertanda supaya aku tidak kaget atau hanya kebetulan? Yang pasti rasanya nyesek di dada. Huh hu huu.

Tak ingin terulang di UN saat SMA aku tak mengalami hal semacam itu, tapi memang nilai UN-ku tak sejalan dengan keinginan jumlah yang hanya 44. Aku berpikir kenapa bisa jadi 44? Lalu saat kumembuka Al Quran hendak mengaji ternyata tadarusku sampai surah An-Nisa yaitu surah ke empat dalam Al quran. Aku mengingat urutan tempat dudukku saat ujian juga di meja no empat. Kembali lagi menghela nafas panjang. Apa itu pertanda nilaiku sejumlah 44 dan namaku juga Anisa lho? he he he.

Tak berhenti di situ, suatu sore aku mendengarkan radio tentang ceramah agama. Aku mendengar ada argument tentang peristiwa bencana alam jika dikaitkan waktu terjadinya dan dikembalikan ke dalam Al Quran maka akan tepat pada ayat-ayat yang mengisahkan tentang azab pada umat terdahulu. Ngeri ya? Tapi karena aku penasaran kusimak pernyataan itu sambil memegang Quran terjemahan untuk memastikan. Ternyata benar, salah satu contohnya adalah pada hari Rabu, 30 September 2009 terjadi gempa di Padang Sumatera Barat pada pukul 17.16 WIB dan susulan pada 17.58 WIB. Dari dua waktu tersebut ternyata jika diartikan surah ke 17 yaitu surah Al Isra ayat 16 dan 58 maka isinya ternyata tentang azab bagi kaum yang durhaka. 

Ngeri gak lho? Nah langsung kubaca artinya yang ayat ke 58 terjemahannya adalah, “Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami Siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras". Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Gimana gak gemetaran coba membacanya? Tapi ada hikmahnya juga sebagai penambah keimanan sebagai umat beragama. Selain itu juga merasa punya kawan sealiran yaitu mengaitkan bilangan dengan peristiwa. Hore punya teman! Tahun berganti aku pun jadi wanita dewasa dan menikah, cie-cie laku nih ceritanya? Aku menikah di tanggal 19 dan saat kuingin bekerja ternyata aku diterima juga pada tanggal 19. Dikaitkan lagi? He he he.

Seiring pergantian masa aku pun jadi ganti tempat tinggal keluar dari pulau Jawa, merantau kisahnya. Tak lama aku dengar terjadi Gempa di Malang yang getarannya terasa sampai ke Jember tanah kelahiranku. Sontak aku langsung gak bisa tidur nyari informasi mulai dari telefon keluarga, dari sosmed sampai browsing berita. Dari suatu berita online ku peroleh informasi waktu tejadinya gempa tersebut adalah pukul 22.10. Teringat akan gempa di Padang yang kudengar di radio beberapa tahun lalu aku mencoba melihat pasangan bilangan itu dikaitkan dengan Al Quran. Hasilnya Subhanallah. Lalu ku posting kan di akun pribadiku. Postingannya sebagai berikut :

Beberapa kejadian gempa di tanah air jika dicatat waktu terjadix dan dikaitkan dengan surah dan ayat Al qur an maka akan tepat pada ayat2 yang isinya peringatan bagi manusia. kemarin, gempa di Malang jatim tercatat di sebuah berita online terjadi pukul 22.10 WIB. jika kita lihat quran surah ke 22 yaitu QS Al Hajj ayat 10 ternyata artinya
" (maka dikatakan kepadanya) " Itu karena perbuatan yang dilakukan dahulu oleh kedua tanganmu dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya"
lalu jika dimaksudkan jam10 malam sama dgn jam 22 dan cari surah ke 10 ayat 22 maka QS. Yunus ayat 22 artinya
" Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah kapal itu membawa mereka dengan tiupan angin baik dan mereka bergembira karenanya: tiba2 datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru dan mereka mengira telah terkepung maka mereka berdoa dgn ikhlas kepada Allah saja (seraya berkata ) "sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari ini, pasti kami termasuk orang2 yang brsyukur"... SUBHANALLAH.. Al Quran adalah petunjuk bgi manusia sampai akhir zaman..Sahabat muslim mari jadikan ini sebagai pelajaran bagi kita.. aamiin.

Lalu ada Aksi Bela Islam yaitu pada 4 November 2016 yang berkaitan dengan Quran Surah Al Maidah ayat 51. Aku melihat ada gambar yang bertuliskan “ 4 + 11 + 20 +16 = 51. Wah aku ada kawan lagi nih yang suka mengaitkan bilangan dengan peristiwa. Entah ini sebuah petunjuk atau kebetulan? Tergantung cara anda memandangnya. Tiada maksud provokasi dan lain – lain. 

Terakhir, bilangan itu ada sepuluh yaitu 0,1,2,3,4,5,6,8 dan 9 . Akan tetapi dengan sepuluh digit itu jika disusun terus menerus maka tak akan ada batasnya atau tak hingga. Seperti diri kita dengan jemari tangan sejumlah sepuluh tapi maunya menggenggam seluruh dunia tanpa batas. Mungkin setelah membaca ini Anda jadi kena virus mengaitkan kejadian dengan bilangan? Atau merefleksi bilangan dengan peristiwa dan ayat suci? Ingat semua hanya Sang Pencipta yang tahu. Ini hanya cara saya, bagaimana cara Anda? Anda punya pendapat dan cara tersendiri pastinya. Beragam itu biasa bagi orang yang lahir di Indonesia, bukan begitu? Tapi biar beda asal gak berisik gitu lho. Salam.
***

Dewi Anisa 
Lahir di Jember, 10 Desember bertahun-tahun yang lalu. Suka menulis sejak SMA meski hanya sebatas mengalihkan suasana hati agar tak berpikir tentang hiruk-pikuk kehidupan. Sangat bangga dengan orang berbakat dan terarah karena bakat yang tak menuju arah manfaat sama saja dengan cacat. Kalimat bijak yang disukai adalah, “Hidup adalah pilihan dan tak ada jalan lain kecuali memilih“.