Wednesday, 18 October 2017

Proses atau Hasil?

Hari Jumat kemarin, Guru Bahasa Indonesiaku mengadakan diskusi kelompok. Saat itu, Aku kebetulan masuk ke kelompok I yang beranggotakan siswa yang cukup pintar semua. Di hadapan kami, ada tiga kelompok yang siap menantang kami. Diskusi itu tentang, "proses atau hasil, manakah yang lebih dihargai ?".

wartawirausaha.com
Sebagai pembuka diskusi, Guru Bahasa Indonesiaku menanyakan pada kami semua. Sebuah pertanyaan yang sangat mengecoh. 

"Proses tidak akan mengkhianati hasil, benarkah?" Aku dan teman-teman terdiam sejenak. Memikirkan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh guruku.

"Proses tidak akan mengkhianati hasil". Itulah kalimat yang sering diucapkan oleh banyak orang untuk memotivasi agar kita tidak menyerah. Tapi, benarkah proses tak akan khianati hasil? Sepuluh menit kemudian, rekan kelompokku berdiri dan menyampaikan pendapatnya.

"Saya setuju bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Kenapa? Karena jika kita berjuang sungguh-sungguh maka hasil yang akan kita dapat bakal sempurna," ujarnya. Pendapatnya ini mendapatkan klep dari banyak orang. Termasuk Guru bahasa Indonesia yang mengadakan diskusi ini. Dan tak lama, hampir seluruh kelompok menyatakan kesetujuannya terhadap pendapat temanku. Tapi Aku rasa, ada yang aneh deh. Sepertinya bukan proses yang gak akan khianatin hasil. Tapi, apa ya...?

"Proses tidak akan khianatin hasil". Kalau proses tidak akan mengkhianati hasil, kenapa banyak orang yang gagal meskipun telah berjuang sungguh-sungguh. Contoh singkatnya, seperti Aku. Aku sering kali dapat nilai yang anjlok padahal sebelumnya Aku belajar dan latihan segiat mungkin. Tapi, yang jarang belajar kok bisa dapat nilai sempurna. Kan aneh? Kalau gitu, intinya, proses khianatin hasil dong... Lah, habis itu gimana?

Aku mengingat kembali kisah-kisah tentang tokoh-tokoh terkenal seperti Bill Gates atau Bob Sadino. Apa yang menyebabkan Mereka semua itu sukses? Aku pikirkan sejenak....

Kemauan. Ya kemauan!!! Kemauan untuk maju. Itulah yang tidak akan mengkhianati hasil. Kenapa Mereka rela dicaci maki, dihina, dibenci. Jatuh dan bangkit berulang kali. Karena ada satu kemauan di dalam hatinya. Ya, kemauan untuk maju...! Kalau Mereka tidak ada kemauan tuk maju, Mereka pastinya tidak bisa seperti ini sekarang.

Artinya, niat/kemauanlah yang tidak akan mengkhianati hasil. Tadinya, Aku mau ngungkapin ini. Cuma, keburu guru mengalihkan pertanyaan.  Jadi, ungkapin aja di sini. Lumayan, kalau menang dan semoga menang arisan bulan ini di godok.id, bisa buat ngebayar spp bulan ini dan gak nyusahin orang tua jadinya. Terus, bisa ikutan ukk deh.

Oke, Guruku langsung mengalihkan ke pertanyaan kedua dan yang jadi inti diskusi ini. "Mana yang lebih dihargai, proses atau hasil?" Dan, guruku menunjuk kelompok ke-2 untuk mengungkapkan pendapatnya.

"Menurut saya, proseslah yang lebih dihargai daripada hasil. Kenapa? Karena kita tahu biografi tokoh terkenal seperti Bob Sadino atau Mark Zuckerberg. Artinya, kita lebih menghargai proses daripada hasil".

Opini yang dilontarkan kelompok 3 dan 4 pun hampir sama dengan opini yang digagas oleh Kelompok 2. Rata - rata, mereka berpendapat bahwa proses lebih dihargai dari hasil. Kini, giliran kelompok 1 yang diberikan kesempatan untuk berpendapat. Dengan gagah beraninya, Aku berdiri dan coba tuk mengungkapkan seluruh opini yang ada di otak ini.

"Menurut saya, hasil yang lebih dihargai dibanding proses. Kenapa Saya berani mengungkapkan pendapat demikian? Karena faktanya, kita lebih menghargai hasil dibanding proses. Contoh nyatanya, orang tua kita lebih senang dapat nilai yang gede, kan? Tapi, Mereka tidak peduli prosesnya bagaimana. "Pokoknya, gak mau tau, nilai harus gede.Kalau gitu, jelas. Hasil lebih dihargai dari proses!". Teman - temanku langsung memberikan tepuk tangan yang meriah. Guruku pun mengungkapkan kesetujuannya kepada pendapatku. Sekaligus ngasih kesimpulan tuk diskusi hari ini.

"Memang benar. Sangat benar bahwa yang lebih dihargai oleh Orang Indonesia adalah hasil. Contoh kecilnya adalah ketika orang tua kalian lebih menghargai kalian dapat nilai gede dan bakal memarahi kalian saat dapat nilai kecil. Inilah problem dan sebab mengapa banyak orang yang tidak jujur dizaman modern. Kita sering mengungkapkan REVOLUSI MENTAL, REVOLUSI MENTAL. Tapi, kenapa mental kita belum saja berubah. Karena, mental berubah dari diri kita sendiri bukan orang lain. Kalau Indonesia ingin dipenuhi oleh generasi yang jujur, kita harus merevolusi mental kita. Ubah sudut pandang kita! Hargai proses ketimbang hasil. Benar kata teman Kalian, Niatlah yang tidak akan mengkhianati hasil. Kalau niat sudah terpatri di hati kita, maka kita bakal berjuang sungguh - sungguh.

***

Iqbal Maulana


Refleksi Bilangan dengan Peristiwa dan Ayat Suci

Karena terlalu menyukai pelajaran matematika akhirnya aku lebih sering menulis bilangan dari pada huruf. Dulu saya, waktu sekolah paling suka mengerjakan sol-soal matematika dibandingkan pelajaran yang lain. Tak terlepas dari bilangan, aku jadi sering mengaitkan kejadian-kejadian dalam hidupku dengan bilangan. Akhirnya beberapa peristiwa kualami.

iug.edu.gh
Waktu kelas tiga SMP, dulu belum kelas 9 namanya. Di sekolah diadakan try out sebanyak 5 kali. Alhamdulillah aku selalu di posisi 3 besar tepatnya 1,3,3,3,1. Ya begitulah rangkingku dalam try out. Lumayan keren kan? He he. Tapi saat UN beneran dan hasilnya diorbitkan oh tidak, aku di posisi 11. Nah bilangan sebelas itu adalah jumlah rangkingku di try out yaitu 1+3+3+3+1 = 11. Entah itu sebuah pertanda supaya aku tidak kaget atau hanya kebetulan? Yang pasti rasanya nyesek di dada. Huh hu huu.

Tak ingin terulang di UN saat SMA aku tak mengalami hal semacam itu, tapi memang nilai UN-ku tak sejalan dengan keinginan jumlah yang hanya 44. Aku berpikir kenapa bisa jadi 44? Lalu saat kumembuka Al Quran hendak mengaji ternyata tadarusku sampai surah An-Nisa yaitu surah ke empat dalam Al quran. Aku mengingat urutan tempat dudukku saat ujian juga di meja no empat. Kembali lagi menghela nafas panjang. Apa itu pertanda nilaiku sejumlah 44 dan namaku juga Anisa lho? he he he.

Tak berhenti di situ, suatu sore aku mendengarkan radio tentang ceramah agama. Aku mendengar ada argument tentang peristiwa bencana alam jika dikaitkan waktu terjadinya dan dikembalikan ke dalam Al Quran maka akan tepat pada ayat-ayat yang mengisahkan tentang azab pada umat terdahulu. Ngeri ya? Tapi karena aku penasaran kusimak pernyataan itu sambil memegang Quran terjemahan untuk memastikan. Ternyata benar, salah satu contohnya adalah pada hari Rabu, 30 September 2009 terjadi gempa di Padang Sumatera Barat pada pukul 17.16 WIB dan susulan pada 17.58 WIB. Dari dua waktu tersebut ternyata jika diartikan surah ke 17 yaitu surah Al Isra ayat 16 dan 58 maka isinya ternyata tentang azab bagi kaum yang durhaka. 

Ngeri gak lho? Nah langsung kubaca artinya yang ayat ke 58 terjemahannya adalah, “Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami Siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras". Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Gimana gak gemetaran coba membacanya? Tapi ada hikmahnya juga sebagai penambah keimanan sebagai umat beragama. Selain itu juga merasa punya kawan sealiran yaitu mengaitkan bilangan dengan peristiwa. Hore punya teman! Tahun berganti aku pun jadi wanita dewasa dan menikah, cie-cie laku nih ceritanya? Aku menikah di tanggal 19 dan saat kuingin bekerja ternyata aku diterima juga pada tanggal 19. Dikaitkan lagi? He he he.

Seiring pergantian masa aku pun jadi ganti tempat tinggal keluar dari pulau Jawa, merantau kisahnya. Tak lama aku dengar terjadi Gempa di Malang yang getarannya terasa sampai ke Jember tanah kelahiranku. Sontak aku langsung gak bisa tidur nyari informasi mulai dari telefon keluarga, dari sosmed sampai browsing berita. Dari suatu berita online ku peroleh informasi waktu tejadinya gempa tersebut adalah pukul 22.10. Teringat akan gempa di Padang yang kudengar di radio beberapa tahun lalu aku mencoba melihat pasangan bilangan itu dikaitkan dengan Al Quran. Hasilnya Subhanallah. Lalu ku posting kan di akun pribadiku. Postingannya sebagai berikut :

Beberapa kejadian gempa di tanah air jika dicatat waktu terjadix dan dikaitkan dengan surah dan ayat Al qur an maka akan tepat pada ayat2 yang isinya peringatan bagi manusia. kemarin, gempa di Malang jatim tercatat di sebuah berita online terjadi pukul 22.10 WIB. jika kita lihat quran surah ke 22 yaitu QS Al Hajj ayat 10 ternyata artinya
" (maka dikatakan kepadanya) " Itu karena perbuatan yang dilakukan dahulu oleh kedua tanganmu dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya"
lalu jika dimaksudkan jam10 malam sama dgn jam 22 dan cari surah ke 10 ayat 22 maka QS. Yunus ayat 22 artinya
" Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah kapal itu membawa mereka dengan tiupan angin baik dan mereka bergembira karenanya: tiba2 datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru dan mereka mengira telah terkepung maka mereka berdoa dgn ikhlas kepada Allah saja (seraya berkata ) "sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari ini, pasti kami termasuk orang2 yang brsyukur"... SUBHANALLAH.. Al Quran adalah petunjuk bgi manusia sampai akhir zaman..Sahabat muslim mari jadikan ini sebagai pelajaran bagi kita.. aamiin.

Lalu ada Aksi Bela Islam yaitu pada 4 November 2016 yang berkaitan dengan Quran Surah Al Maidah ayat 51. Aku melihat ada gambar yang bertuliskan “ 4 + 11 + 20 +16 = 51. Wah aku ada kawan lagi nih yang suka mengaitkan bilangan dengan peristiwa. Entah ini sebuah petunjuk atau kebetulan? Tergantung cara anda memandangnya. Tiada maksud provokasi dan lain – lain. 

Terakhir, bilangan itu ada sepuluh yaitu 0,1,2,3,4,5,6,8 dan 9 . Akan tetapi dengan sepuluh digit itu jika disusun terus menerus maka tak akan ada batasnya atau tak hingga. Seperti diri kita dengan jemari tangan sejumlah sepuluh tapi maunya menggenggam seluruh dunia tanpa batas. Mungkin setelah membaca ini Anda jadi kena virus mengaitkan kejadian dengan bilangan? Atau merefleksi bilangan dengan peristiwa dan ayat suci? Ingat semua hanya Sang Pencipta yang tahu. Ini hanya cara saya, bagaimana cara Anda? Anda punya pendapat dan cara tersendiri pastinya. Beragam itu biasa bagi orang yang lahir di Indonesia, bukan begitu? Tapi biar beda asal gak berisik gitu lho. Salam.
***

Dewi Anisa 
Lahir di Jember, 10 Desember bertahun-tahun yang lalu. Suka menulis sejak SMA meski hanya sebatas mengalihkan suasana hati agar tak berpikir tentang hiruk-pikuk kehidupan. Sangat bangga dengan orang berbakat dan terarah karena bakat yang tak menuju arah manfaat sama saja dengan cacat. Kalimat bijak yang disukai adalah, “Hidup adalah pilihan dan tak ada jalan lain kecuali memilih“.


Monday, 25 September 2017

Menjemput Luka

Hari ini aku pulang. Sekian lamanya aku tak bisa memberi kabar, kepada mereka orang-orang tercinta. Aku terjebak di tanah rantau. Betapa rindu sudah begitu menggebu, ingin menapakkan kaki di kampung halaman.

Gambar via Vemale.com

Terbayang wajah cantik istriku. Ah, tak sabar aku ingin segera memeluknya. Dia pasti gembira bila mengetahui kabar tentang kepulanganku ini. Tapi biarlah ini menjadi rahasia. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

"Turun mana, Mas?" tanya kernet angkot ke arahku. Kebetulan aku duduk berhadapan dengannya.

"Tikungan depan, pom bensin," jawabku singkat.

Sekitar 20 menit setelah itu, angkot berhenti. Sudah sampai rupanya. Bergegas aku turun. Setelah kuulurkan selembar uang lima ribuan pada kernet, mobil itu kembali melaju mengantarkan penumpang yang lain pada tujuan masing-masing.

Memasuki desa tempat tinggalku. Aku lalui dengan berjalan kaki. Desa ini sudah banyak berubah. Beberapa bagian tampak asing di mataku. Sebagiannya lagi, masih sama, masih seperti dulu, waktu aku pergi meninggalkannya.

"Gelenon, Pak."

Bapak tua yang sedang serius meraut bambu di halaman rumahnya itu tersenyum.

"Eatore," jawabnya, santun, sambil mengendapkan kepala.

Aku sudah mau melanjutkan lagi langkah kakiku, tapi ....

"Hanafi?" Aku menoleh. "Kau masih hidup?" lanjutnya.

Aku mengernyitkan kening. Bapak tadi menghampiriku.

"Iya, Pak. Ini saya, Hanafi."

"Subhanallah. Ini keajaiban Tuhan," ucapnya, lirih. Aku tak mengerti apa maksudnya.

"Kau tak ingat siapa aku?" tanyanya lagi.

Tentu saja aku ingat. Pak tua di hadapanku ini adalah Pak Salim, orang tua dari seorang gadis yang cintanya dulu pernah kutolak.

"Ingat, Pak. Bagaimana mungkin saya lupa terhadap orang sebaik Pak Salim?" jelasku sambil mengulurkan tangan. Pak Salim menyambutnya, lalu memelukku.

"Mari, Nak, mampirlah ke rumah. Lama kau pergi meninggalkan desa. Aku ingin menceritakan banyak hal padamu."

"Terima kasih, Pak. Tapi saya ingin segera sampai rumah. Sudah tidak sabar ingin bertemu Istri, Bapak juga Ibu."

Pak Salim menepuk-nepuk bahuku sambil menarik napas panjang, kemudian dihempaskannya.

"Ibumu, sudah tiada. Tepat satu tahun yang lalu."

Seperti disambar petir aku mendengarnya. Lututku lemas.
"Benarkah?"

"Ya, tabahkanlah hatimu."

"Terima kasih, Pak. Saya pamit, saya harus segera sampai ke rumah."

"Ya, silakan, Nak Hanafi. Lapangkanlah dadamu," pesan Pak Salim berulang-ulang. Aku pun segera berlalu dari hadapannya.

Separuh kebahagiaanku telah hancur. Salah seorang yang aku rindukan telah pergi. Tak akan dapat aku temui meski sekarang aku telah bisa pulang.

Kuayun langkah kakiku agak sedikit tergesa. Hingga tiba di halaman sebuah rumah kecil, berdinding papan. Kumuh. Terlihat jelas tak terawat. Itu rumahku.

Kuketuk pintu rumah yang tertutup rapat itu beberapa kali. Tak lama, terdengar suara langkah-langkah berat menuju pintu.

'Cepat buka pintunya, Sayang. Abang rindu sekali denganmu,' bisikku dalam hati.

'Sreeeaat...!' Pintu dibuka. Di hadapanku, kini telah berdiri seorang perempuan, Ilma, istriku.

"Abang, kau?!"

Aku melihat keterkejutan yang luar biasa di wajah Ilma, wajahnya seketika pucat seperti mayat.

Aku sudah merentangkan kedua tangan, bersiap untuk mendekapnya erat-erat. Tapi..., tidak. Kuperhatikan perut Ilma, bulat dan penuh. Ilma sedang hamil? Oh, Tuhan.

Aku belum berkata apa pun. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Tapi Ilma sudah menangis tersedu-sedu.

"Aku tidak tahu kalau ternyata kau masih hidup, Bang. Orang-orang bilang kau sudah meninggal, tenggelam bersama perahu yang kau tumpangi dalam perjalanan waktu itu."

"Kau sudah menikah lagi?"

Dia menggeleng. Masih terus menangis.

"Lantas, anak siapa yang kau kandung itu?"

Ilma diam saja.

"Dia mengandung anakku," suara seorang lelaki dari belakang.
Aku menoleh.

"Bapak?!"

Madura, 25 Agustus 2017

***
Syahdu Tralala

Aku menulis untuk mengisi waktu luang, menguji kemampuan dan mengusir kejenuhan. Bagiku, menulis bukan hanya sekadar hobi, melainkan kebutuhan.

Menyegerakan dan Tergesa-gesa Dalam Pernikahan itu Berbeda

Pernah tidak mengalami ini? Baper akibat ditinggal menikah oleh sahabat sendiri. Sebenarnya sih senangnya bukan main. Tapi ya namanya juga manusia ya, pasti ada keinginan buat juga disegerakan untuk menikah bukan? Walaupun diri sendiri juga tak tahu apakah sudah memiliki kesiapan lahir batin atau belum. Yang bikin dunia makin kacau itu adalah keberadaan mereka yang sibuk membicarakan ‘mereka yang lain’ yang telah menikah. 


Hmmm maksudku, selalu membicarakan ‘andai –mereka yang lain- menikah di saat yang sama, di tempat yang sama, dan dengan kondisi yang sama dengan mereka’.Apa salah dan dosaku, berada di antara dua hal yang berbeda. Padahal sebenarnya diri ini juga mengalami kebaperan tingkat tinggi. Bedanya dengan mereka yang lain, tak ingin sedikitpun menunjukkan tentang hal ini. Membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Kalau ketemu jodohnya sekarang ya bersyukur, kalau memang ditakdirkannya nanti ya tak apa. 

Tak perlu galau maupun risau jika kamu belum bertemu dengan jodoh. Karena memang belum saatnya saja untuk kamu dibersamai olehnya. Tuhan masih ingin ‘jatuh cinta’ padamu. Ia masih ingin mendekapmu dalam kehangatan cintaNya ‘sendirian’, tanpa kehadiran orang lain. Dan percayalah, akan tiba saatnya Tuhan mempertemukan dengan seseorang yang selalu mendekapmu pula. Walaupun tak akan pernah menyamai Tuhan, namun setidaknya dialah yang terbaik yang dipilih olehNya untukmu. Jadi, tak perlu tergesa-gesa dalam menemukan jodoh.

Memang sangat baik jika kamu ingin menyegerakan pernikahan. Namun catat ini, bahwa menyegerakan dengan tergesa-gesa adalah sangat jauh berbeda. Mereka yang menyegerakan itu sudah mempersiapkan pernikahannya jauh-jauh hari. Bukan hitungan bulan, bahkan tahun. Jangan salah sangka bahwa mereka telah mengetahui siapa yang akan bersanding dengannya di atas pelaminan. Karena mereka bahkan belum tahu pasti nama maupun asalnya. 

Aneh bukan? Karena mereka yang ingin menyegerakan hanya berpikir bahwa semua harus dipersiapkan dengan baik. Baik itu mental maupun finansial. Jadi jangan sekalipun menganggap bahwa mereka yang telah menikah di usia muda itu cenderung tergesa-gesa tanpa sokongan finansial. Walaupun memang sebagian diantaranya ada juga yang sebenarnya tergesa-gesa. Menutupi keinginan pacaran dalam zina sebagai pernikahan dalam kehalalan. 

Merekamelupakan satu hal, bahwa menikah tak hanya membutuhkan cinta yang menggebu-gebu. Namun juga butuh biaya. Entah itu biaya untuk resepsi pernikahan hingga pada akhirnya mereka harus hidup mandiri tanpa bantuan dari orang tua. Iya, memang tak semuanya mempersiapkan dengan baik. Karena banyak juga dari mereka yang menikah muda itu masih berlindung di dalam ketiak orang tua. Sedikit-sedikit minta uang, sedikit-sedikit bilang kalau akan segera menabung, sedikit-sedikit mengeluh karena selalu kurang. 

Iya, memang sebagian dari mereka itu ada yang menyegerakan namun ada pula yang tergesa-gesa dalam pernikahan. Jadi, kalau kamu memang belum bertemu dengan jodoh, tak masalah. Dan jika telah bertemu, ingatlah dengan hal ‘menyegerakan’. Aku tak melarangmu untuk menikah muda ya. Jika memang baik, lakukanlah. Namun jangan sampai merepotkan orang lain. Terutama orang tua.Bukan hal yang mudah, karena menikah itu hanya indah di awal, selebihnya perjuangan.

Siapa aku yang dapat dengan mudahnya mengatakan bahwa pernikahan itu hanya indah di awal. Ya karena aku sendiri pun belum pernah merasakan, hanya melihat apa yang bisa ku lihat dan pahami. Iya memang benar adanya bahwa menikah itu hanya indah di awal, selebihnya adalah perjuangan. Jika ada dari mereka yang memintamu untuk segera menikah padahal kamu masih ingin meningkatkan kompetensi, abaikan saja. Dan mintalah padanya untuk mendoakanmu mendapatkan yang terbaik. 

Sudah, jangan katakan apapun selain itu. Karena mereka lupa bahwa kehidupan setelah menikah itu ajaib. Kamu akan menjadi istri, kemudian menjadi ibu, lalu menjadi nenek dari cucu-cucumu. Dan untuk menjadi itu semua harus ada ilmunya. Tak serta merta terjadi begitu saja. Tak selamanya kamu bergantung pada suami terkait pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Karena tak ada yang tahu tentang kehidupan kalian setelahnya. Tak akan menjadi masalah jika kamupun menjadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan. Selamat datang di kehidupan yang baru.

***

Nisdishahih

Mantan mahasiswi farmasi yang kalau sedang sakit selalu menolak untuk minum obat. Dan selalu percaya dengan keajaiban.

Sunday, 17 September 2017

Narasi dan Tulisan Pendek untuk Cerita yang Pendek

Setelah sekian lama tidak menulis, saya merasa menjadi seseorang yang kikuk lengkap dengan label "kemandulan". Seperti biasa, saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpancing emosional yang mengharu biru. Hari ini, tulisan pendek untuk cerita yang pendek akhirnya berhasil saya hidangkan untuk sidang pembaca sekalian.


Saya mulai tulisan ini dari mengutip percakapan -yang pesimis- antara Howard bersama temannya, tokoh ciptaan Paul Murray dalam novel Skippy Dies. Kutipannya seperti ini:

"Bukan seperti ini kehidupan yang aku ingini."

"Lalu kehidupan seperti apa yang kamu ingini?" Seorang teman menanggapinya.

Howard merenung; "Kurasa ini terdengar bodoh, tapi kupikir penjelasannya akan sangat menyakitkan, seperti tembakan busur melalau sebuah narasi." 

Tapi saya pikir apa yang dikeluhkan Howard sama sekali bukanlah hal yang bodoh. Meskipun, barangkali mungkin fakta tentang kehidupan seseorang, yang dipaparkan dari awal hingga ke ujung, tidak akan menyerupai sebuah narasi bagi seorang pengamat -luar- serta bagaimana seseorang memilih untuk menceritakan kisah kehidupan mereka, kepada orang lain dan -yang terpenting- pada diri mereka sendiri.

Saya pikir hampir selalu memiliki metode naratif ketika menceritakan bagaimana Aku menjadi diri Aku, dan siapa diri Aku yang sedang Aku jalani, bahkan bisa jadi ceritanya sendiri akan menjadi bagian dari diri Aku sendiri. 

Jika sampai sejauh ini, sidang pembaca menemukan kesulitan mencerna karena ruwetnya narasi dan diksi yang saya tuliskan, maaf diminta banyak-banyak.

"Saya pikir kisah hidup tidak hanya mencerminkan kepribadian seseorang. Sebab kisah hidup adalah kepribadian itu sendiri, atau lebih tepatnya, adalah bagian kepribadian yang penting, bersama dengan bagian yang lain, misalnya sifat disposisi, tujuan, dan nilai, "tulis Dan McAdams, seorang profesor psikologi di Northwestern University, bersama dengan Erika Manczak, dalam sebuah bab di Handbook of Personality and Social Psychology.

Dalam ranah psikologi naratif, kisah hidup seseorang bukanlah biografi fakta dan kejadian hidup seperti yang dijelaskan Wikipedia, melainkan cara seseorang mengintegrasikan fakta dan kejadian itu secara internal -memilah dan menyusunnya kembali untuk memberikan suatu makna. Narasi menjadi bentuk identitas, di mana hal-hal yang dipilih seseorang untuk disertakan dalam cerita, dan bagaimana menurutnya, dapat mencerminkan dan menggambarkan siapa dirinya. 

Kisah hidup tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tapi juga menjelaskan mengapa penting hal tersebut diceritakan, apa artinya seseorang, untuk siapa mereka nantinya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

"Kadang-kadang dalam kasus autisme ekstrem, orang tidak membangun struktur naratif untuk kehidupan mereka," kata Jonathan Adler, asisten profesor psikologi di Olin College of Engineering.

"Tapi mode bawaan kognisi manusia memang sudah diset dengan mode naratif." 

Ketika orang bercerita kepada orang lain tentang diri mereka sendiri, mereka harus melakukannya dengan cara bernarasi bukan? Begitulah manusia berkomunikasi. Tapi ketika orang memikirkan hidup mereka untuk diri mereka sendiri, apakah selalu dalam cara bernarasi, dengan sebuah plot yang mengarah dari satu titik ke titik lain?

Pepatah lama orang Eropa mempercayai  bahwa setiap orang memiliki buku di dalam dirinya masing-masing. 

Adakah orang di luar sana dengan kisah hidup yang sama sekali bukan berbentuk cerita?

Ini adalah pertanyaan yang hampir mustahil untuk dijawab dengan pendekatan ilmiah kata Monisha Pasupathi, seorang profesor psikologi di University of Utah. Bahkan jika kita, seperti yang ditulis oleh penulis Jonathan Gottschall, "bercerita tentang hewan," apa artinya satu orang dengan orang yang lainnya? Tidak hanya perbedaan individu mengenai bagaimana seseorang menceritakan kisah mereka, namun ada hal di mana individu terlibat dalam cerita naratif sejak awal.

Beberapa orang menulis di buku harian mereka dan sangat introspektif, dan beberapa orang sama sekali tidak, kata Kate McLean, seorang profesor psikologi di Western Washington University. 

Meski terkadang cara mendokumentasikan kisah hidup tidak selalu dalam bentuk narasi, namun seorang fakir yang sudah saya kenal sejak lama-Hadel D Piliang-telah menulis buku harian selama 15 tahun, bahkan ia masih mengatakan kepada saya, bahwa narasi bukanlah perkara yang mudah bagi dirinya. Namun demikian, para periset yang saya baca penelitiannya mengakui bahwa meskipun tidak 100 persen universal; melihat kehidupan sebagai sebuah cerita.

Naratif sepertinya merupakan metode pembingkaian yang tidak sesuai untuk menceritakan kekacauan hidup seseorang (saya:-)), sampai Anda sadar betul dari mana cerita harusnya bermula. 

Pada akhirnya, satu-satunya materi yang harus kita buat dari cerita adalah imajinasi kita sendiri, dan kehidupan itu sendiri. Mendongeng, kemudian-fiktif atau tidak fiktif, realistis atau dihiasi dengan ngalurngidul- adalah cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Salam.

***

Depitriadi

Tengah melakukan misi rahasia. Maka tunggu saja.

Saturday, 16 September 2017

Bumi, Percintaan, Punya Anak

Penduduk dunia secara pasti menuju angka 8 M. Saat ini tepatnya populasi kita 7,4 M. Tidak ada yang bilang ini baik. Sumber Daya Alam tidak cukup untuk menampung besarnya angka populasi ini. Luas perkotaan tempat manusia mayoritas hidup dan mencari nafkah, semakin buruk untuk jadi tempat tinggal. Polusi dan sampah yang dihasilkan menjadi masalah modern yang serius. Semuanya buruk.

Foto via RT en Espanol

Apakah bumi sungguh-sungguh tidak mampu menampung kita semua? 

Bumi planet besar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya, sangat padat dan stabil dalam soal komposisi pembentuk. Apapun "kekacauan" dianggap bisa ditampung di atasnya, tapi bukankah kita ingin spesies kita dapat hidup sangat lama dan makmur? Kita menekan populasi dengan serius, berpikir dengan cara itu kita menekan apa yang "dibuang" manusia. Residu kita bukan cuma eek, tapi juga buangan yang tak nampak mata seperti suara dan radiasi. Kita berharap anak-cucu kita menikmati bumi yang tetap biru, sebuah indikasi warna yang menunjukkan kehidupan dan udara layak bagi spesies ini. Tapi kita terlalu banyak untuk dapat dikontrol. Jika sudah sangat banyak, alam akan bereaksi menyeimbangkan buangan yang membuat bumi tak stabil. Kita percaya ini, tapi kita tidak mudah menekan diri kita sendiri. Bahkan industri dan teknologi modern yang kita hasilkan justru mempercepat kerusakan tempat tinggal kita.

Gw berbincang tentang hal serius ini di akhir pekan dengan spouse. Melemparkan topik serius agar percintaan menjadi tanggungjawab, adalah variasi manusia yang tak tahu mau membincangkan apa lagi setelah agama bukan fokus pemikiran kami. Ketika agama dan urusan kelangitan bukan lagi fokus seseorang, ternyata mereka serta merta menjadi pemikir lingkungan dan kemanusiaan. Mereka melihat bumi sebagai planet sekarat, membayangkan bagaimana mungkin kita apatis dengan menyumbangkan kelahiran manusia-manusia baru, seolah penambahan populasi "bukan tanggungjawab saya", tapi urusan pemerintah negara dunia ke-3.

Well.

Bercinta tanpa menambah populasi nampaknya egois dalam pandangan gereja dan mesjid. Tapi bagi kacamata humanis yang peka isu global dan propaganda hijau, kita dalam kondisi sangat serius. Bersenang-senanglah dengan kelamin, tapi berhentilah memikirkan kesenangan sendiri yang menganggap punya anak adalah "hak saya dan kebahagiaan saya".

Ya, jika orang punya anak atas anggapan masa lampau dimana anak adalah penjamin hari tua, sungguh sangat memilukan. Atau menambah anak karena ingin jenis kelamin tertentu, atau punya anak karena ingin merasakan kebahagiaan menjadi orangtua, sungguh sangat selfish. Jika punya anak atas dasar dogma, it's double selfish.

You all, ga akan membenarkan pikiran gw ini.

Karena kita semua telah mengambil peran egois tentang punya anak itu di masa lampau, sebelum membaca ini. Tapi jika hari ini kita tetap tidak menyadari kekeliruan, untuk sekedar setuju dan ikut serius soal populasi, saya sangat kecewa.

Kecewa pada caramu memikirkan hidup manusia jangka panjang, friends.

***

Estiana Arifin (EA)

Creative Writer

Wednesday, 16 August 2017

Rumah Kita

Jika berkata 'Rumah' yang terlintas adalah kampung halaman beserta pernak-pernik kehangatan di dalamnya. Semenjak kita dilahirkan, belajar berdiri hingga dewasa , rumah adalah asal usul keberadaan kita. Awal pembentukkan karakter diri pun bermula dari rumah. Rumah yang terbesar dan bagian dari kita adalah rumah Indonesia, tanah air kita.

6iee.com
Di tahun kemerdekaan yang ke-72 ini entah mengapa rumah ini seolah membuat penghuninya gerah bahkan dibetah-betahin menempatinya. Mulanya kita tak mengetahui kondisi ini. Berkembangnya media, terlebih teknologi membuat kita mengetahui segala gemerincing tingkah laku orang-orang diluar sekeliling kita. Membuat kita berfikir, 'Ada apa dengan rumahku?'

Betapa tidak? Mirisnya anak-anak sekolah bahkan mahasiswa, membully temannya sendiri karena hal sepele, kecemburuan sosial, merasa berbeda, dan entah apalagi yang mendasari semua itu. Diperparah dengan tawuran antar sekolah, berbagai geng di kalangan muda mudi kita. Lebih berbahaya lagi pahamnya soal 'seksualitas' yang bukan pada tempatnya. Ada apa dengan semua saudaraku didalamnya?

Bersenang-senang dengan obat-obatan yang mudah ditemukan membuat kita terlupa akan tujuan, 'kenapa kita diciptakan?'. Seolah kita terhanyut di dalamnya. Tak jarang artis pun dengan segala kegemerlapan membuat kita tercengang bahkan semakin hari semakin paham bahkan terbiasa. Seperti hidangan sehari-hari.

Sekolah bukankah menjadi sarana pendidikan dan pembentukkan karakter generasi muda, namun sadarkah kita bahwa tak semua pendidikan merata? Bahkan sarana dan prasarana di daerah terpencil jauh dari dinamakan 'sekolah'? Beruntunglah yang mengenyam pendidikan tertinggi. Miris, selembar ijazah ternyata hanya selembar kertas biasa, tersimpan rapi bersama ijazah-ijazah lainnya tak terpakai karena minimnya lapangan pekerjaan. Uniknya beratus-ratus orang luar negeri datang secara ilegal bekerja menyerobot pekerjaan saudara kita. Lucu bukan?

Tiada hari tanpa keluhan. Padahal rumahku adalah rumah terindah, tersubur, terkaya namun kenapa termiskin? Saudara-saudaraku memang bertahan dengan segala keterbatasan ekonomi bahkan berbagai tingkat ekonomi yang timpang membuat kita selalu berpikir hidup untuk makan atau makan untuk hidup?

Benarlah jika mengatakan semakin banyak penghuni rumah maka semakin banyak pula kejahatan di dalamnya. Tak ayal sedikitnya mengenal diri membuat kita terhempas pada nafsu diri. Pencuri kecil-kecilan berbeda nasib dengan pencuri yang meraup milyaran rupiah. Bahkan orang baik-baik pun dituduh mencuri bahkan dihakimi massa, ironis bukan? Tapi ini nyata. Bahkan sedikit demi sedikit tanah kita mulai tergadai. Tidak hanya merembes pada sektor ekonomi bahkan ke sektor-sektor lainnya.

Rumah yang berkembang bisakah menjadi rumah penuh kemajuan sedangkan segala 'Pekerjaan Rumah' belum terkondisikan? Kita bahkan tersenyum melihat rumah kita begitu mudah terpengaruh bahkan menjadi sarana 'Kepentingan' orang luar. Bukankah menjadi teratur bahkan semakin porak poranda setiap isi rumah? Bolehlah mengikuti segala perkembangan yang ada tapi kapan mulai membereskan 'Pekerjaan Rumah' kita? Bukankah bukan sekedar kesadaran tapi butuh kegotong-royongan bersama?

Semua itu terjadi dalam rumah kita, rumah Indonesia, tanah tempat tinggal kita. Ingatkah? Kemerdekaan yang diraih para nenek moyang kita dahulu adalah berkat perjuangan tumpah darah dan pengorbanan? Bukan sekedar perjuangan pembebasan dari penjajah yang menjarah seluruh negeri tapi bentuk perjuangan membela ketauhidan. Sayangnya semua itu memudar sepudarnya warna pakaian ketika dicuci. Bukannya semakin bersih bahkan semakin kotor dan lusuh. Begitulah kita saat ini.

Semestinya setiap anggota rumah bahu membahu agar rumah tetap nyaman, aman dan tentram. Apa daya semua terpedaya. Semua terlena oleh keinginan dunia yang fana. Bukannya memperkokoh malah hampir meruntuhkan setiap sendi rumah sendiri. Siapa yang menjadi korban? Siapa yang disalahkan? Siapa yang bertanggungjawab? Siapa yang terluka? Kita. Aku, kamu, kalian, mereka adalah kita, orang-orang yang terluka mungkin tanpa disadari, entah menyadari aku tak tahu.

Membereskan segala isi rumah saat ini yang bisa kulakukan saat ini adalah menuliskan segores kesadaran dalam tulisanku. Rumah kita bukan dihuni oleh aku saja tapi segenap yang menempatinya. Diri kita adalah orang itu. Orang yang menempati rumah Indonesia. Estafet perjuangan tumpah darah nenek moyang kita. Harusnya bukan kita yang memutuskan rangkaian tali itu tapi menyambungkannya kembali dengan penuh kesadaran diri. Meski bukan dalam kondisi terjajah oleh penjajah tapi kita terjajah oleh kondisi rumah kita. Diri kita belumlah merdeka seperti yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Terlalu mahal untuk melakukannya, terlalu tinggi menggapainya tapi semua itu 'KEBUTUHAN' bukan 'KEINGINAN'. Kebutuhan kita ketika ditanya oleh Sang Pencipta tentang amanah yang kita emban, apa jawaban kita? Ataukah kita benar-benar terlena hingga terlupa dan membutakan mata hati kita? Sayangnya kita diciptakan untuk menjaga, melestarikan, bukan merusak. Seyogyanya menjadikan rumah dan halaman kita tetap subur dan harmoni dengan penuh kesadaran dan bergerak mengubah, membereskan, dan menempatkan kekondisi semula. Pertanyaannya maukah melakukannya? Sungguh semua itu demi kepentingan bersama. Rumah ketika kita dilahirkan menjadi bagian dari jutaan penduduknya. Rumah aku, kamu dan kita. Rumah kita.

Ubahlah dengan dimulai dari diri sendiri beserta kesadaran bahwa diri adalah bagian dari penghuni rumah. Kembali pada tujuan untuk apa kita diciptakan, bagaimana menjalani kehidupan dengan tujuan dan cita-cita yang diharapkan-Nya, agar rumah menjadi layak untuk disinggahi. Ubahlah mindset dan tanamkan dalam hati kita bahwa semua itu benar-benar tanggung jawab kita dihadapan-Nya kelak, karena diri adalah pemimpin. Pemimpin bagi keluarga, pemimpin bagi lingkungan, pemimpin bagi ruang lingkup yang lebih besar lagi. Ayo perbaiki rumah kita.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Lita Wasiati sebagai pemenang.

Lita Wasiati  
Pernah sekolah di SMA YWKA Bandung, sekarang menetap di Kebumen, Jawa Tengah. Menulis awalnya sebuah keisengan, lambat laun berubah menjadi keseriusan. Jika ingin bersilaturahmi bisa invite facebook-ku Lita wasiati atau WhatsApp di 083128747311 atau di 08995131711. Email pun bisa di Lita.chan17@gmail.com
Terima kasih.