Tuesday, 14 February 2017

Akhirnya Saya Insaf Ternyata Ada Perbedaan Signifikan Antara Home dan House


Home adalah sebuah film yang diproduseri oleh Muhammad Hidayat yang menceritakan tentang rekam jejak perjalanan 9 orang pemuda menuju Gunung Tujuh yang lokasinya terletak di Desa Pelompek, Kabupaten Kerinci, Jambi. Setiap orang ke sana tentunya mempunyai tujuan untuk menyambangi sebuah Danau Gunung Tujuh. Seperti namanya Danau ini memang di kelilingi oleh tujuh gunung.

Giphy

Tulisan saya dibawah ini tidak mengulas bagaimana panorama alam yang ada disana dan juga tidak membahas detail tetek-bengek sinematografi. Tentunya semua harus dilandasi dengan kerangka teoritis dari yang ahli masing-masing bidangnya, saya tidak menguasai ke 2 hal tersebut. Akan tetapi, saya tertarik dengan bagaimana produser memilih judul “Home” untuk film dokumenter tersebut.

Ketika pertama kali melihat dokumenter ini, langsung muncul pertanyaan dikepala saya, mengapa harus home? Mengapa tidak House? Saya langsung membuka kamus yang sudah lama tak tersentuh. Sedikit berdebu memang, tapi apa lah arti sebuah debu untuk sesuatu yang kita cari?

Akhirnya saya insaf bahwa ada perbedaan signifikan antara Home dan House. Memang home dan house artinya sama-sama rumah, tapi berbeda dalam pemaknaannya. House hanya dalam bentuk fisik bangunannya, sedangkan home lebih kepada suasana kejiwaan dan atmosfer yang terbangun di dalamnya, sehingga home dapat dimaknakan sebagai suatu tempat yang menawarkan rasa nyaman dan betah.

Setelah mengetahui makna home tersebut maka munculah kembali ingatan dikepala saya. Saya dapat memahami mengapa film berdurasi 8 menit, 1 detik itu dibuka oleh kalimat: Apakah maksud dari sebuah perjalanan?

Menurut hemat saya, si pembuat film ingin mempertanyakan jalan mana yang harus ditempuh untuk sebuah tempat yang nyaman dan betah. Pada hakikatnya, semua orang akan mencari jalan untuk mencapai sebuah titik yang bernama kebahagiaan. Home dalam artian di sini mempunyai definisi yang hampir sama dengan Pulang. Manusia akan selalu mencari tempatnya berpulang, seperti dalam potongan sajak Agam Wispi : puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang puisi, hanya kaulah lagi pacarku lerbang. (pulang, 1996). Agam Wispi seorang penyair yang terpisah jauh dari kampung halamannya memaknai puisi sebagai tempatnya berpulang. Hanya dengan puisi Agam Wispi mengungkapkan kerinduan pada Tanah Air.

Film yang dirilis pada pertengahan Januari lalu ini, bukanlah hanya sekedar catatan perjalanan biasa. Film ini menawarkan suasana alam yang menggoda. Jadi, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa Home adalah sebuah penegasan akan kerinduan 9 orang pemuda akan usaha mencapai titik kebahagiaan melalui alam. Seperti dalam idiom yang telah menjadi falsafah orang Minangkabau : Alam takambang jadi guru. Alam memang menawarkan kebahagiaan. Tapi, Apalah arti kebahagiaan tanpa hikmah yang bisa dipetik?

Entahlah.

***
Rio Jowerry


0 comments:

Post a Comment