Tuesday, 28 February 2017

Antara Saya, Teman Saya, dan Pemilik Warung yang Fasih Berbahasa Inggris

Siang itu ketika haus terasa sangat menyiksa tenggorokan, saya memutuskan untuk singgah barang sebentar di kampus salah seorang teman. Kampus yang menjadi rahim calon-calon guru yang baik hatinya di masa depan. STKIP PGRI Sumbar. Kedatangan saya ke sana bukanlah untuk pertama kalinya. Sudah tiga atau empat kali saya mengunjungi kampus yang penuh riuh dengan mahasiswi cantik, eh maksudnya penuh riuh dengan aktifitas keguruan itu.


Karena alasan saya singgah lantaran haus, maka tidak lain dan tidak bukan yang saya tuju ialah kantin. Semoga saja di kantin itu ada yang manis-manis. Tapi, saya kaget alang kepalang melihat kantin yang penuh dengan bapak-bapak dan ibuk-ibuk berpakaian rapi, lengkap dengan sepatu mengkilap. "Wah saya salah menuju kantin, ternyata ini kantinnya para dosen, saya mesti putar balik," saya membatin.

Selang sebentar ketika ingin melangkah pergi, saya dikagetkan dengan sorak orang memanggil. Dari nada suaranya, sepertinya saya sangat akrab dengan si empunya suara tersebut. Saya celingukan mencari sumber suara. Akhirnya tertujulah pandangan saya ke salah seorang wanita cantik, ternyata orang yang menegur saya itu pas berada di belakang wanita cantik itu. Seorang laki-laki yang gagah dengan pakaian batiknya. Si Mikel namanya, calon guru sejarah yang bersahaja.

Usut punya usut ternyata di sana bukanlah kantinnya para dosen, akan tetapi kantinnya mahasiswa. "Karena seorang guru mesti terlihat necis dan formal, makanya kami mengenakan pakaian ini. Meski kosekuensinya umur kami seakan bertambah 10 tahun," jelas teman saya itu, sembari saya menatap mahasiswa brewokan di depan saya, untuk mencari kebenaran ucapannya tersebut.

Berada di tengah-tengah calon guru memanglah membuat saya bangga sekaligus minder. Sebab di tangan mereka nantinya kemudi perbaikan itu berada. Sampai sekarang saya masih sangat berhutang budi kepada guru-guru yang tabah dengan perangai saya yang terkadang bikin mereka kesal. Selama saya masih memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kebaikan, selama itu pula mereka dilimpahi keberkahan oleh yang maha kuasa hendaknya.

Ada lagi hal yang membuat saya minder dan terperanga berada di kampus kaum mujahid pendidikan tersebut. Bunda panggilannya. Pemilik salah satu kantin di kampus itu. Beliau menjual beraneka makanan, mulai dari nasi padang, pecel ayam, hingga pecel dadar. Bukan menu-menu tersebut yang sungguh membuat saya terperanga, melainkan alat komunikasi - bahasa- yang digunakan di kantin itu. 

Awalnya saya sedikit kurang percaya dengan apa yang saya dengar. Saya mencoba memasang telinga, dan mendengarkannya dengar serius. Boom!!, ternyata percakapan di warung itu menggunakan Bahasa Inggris. Si empunya warung terdengar fasih berbahasa Inggris, malahan mahasiswa yang menjadi lawan bicaranya tampak tergagap-gagap meladeni beliau.

Si Mikel bercerita banyak perihal kantin bunda tersebut. Dikatakannya, sebagian mahasiswa lebih senang berbahasa Inggris ketika memesan menu di kantin itu. Meski tak sedikit juga mahasiswa yang menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; Bahasa Minang dan Bahasa Indonesia. Dia melanjutkan bercerita. Bunda, selain kesehariannya dihabiskan di warung, rupa-rupanya beliau juga seorang guru. Lebih tepatnya, guru private Bahasa Inggris.

Satu jam berada di sana, Bunda menyadarkan saya akan banyak hal tentang kehidupan.  Ilmu pengetahuan, selama itu demi kebaikan maka akan ada saja tempat untuk menyalurkannya. Dimanapun kita berada, akan ada kebaikan-kebaikan yang akan kita jumpai, selama kita berjernih hati menanggapi suatu kejadian. Tidak semua hal yang bisa kita nilai dari kulitnya saja, ibarat membeli durian kita mesti cium dulu baunya, jika perlu congkel sedikit biar tidak penasaran. Terakhir, ternyata seorang guru tidak mesti berakhir di ruang kelas.

***

Depitriadi

Pria yang berharap bertemu dengan Damhuri Muhammad.

5 comments:

  1. judulmu kepanjangan om. udah macam judul skrip saja.

    ReplyDelete
  2. "Karena alasan saya singgah lantaran haus, maka tidak lain dan tidak bukan yang saya tuju ialah kantin. Semoga saja di kantin itu ada yang manis-manis. Tapi, saya kaget alang kepalang melihat kantin yang penuh dengan bapak-bapak dan ibuk-ibuk berpakaian rapi, lengkap dengan sepatu mengkilap. "Wah saya salah menuju kantin, ternyata ini kantinnya para dosen, saya mesti putar balik," saya membatin" paragraf yang nggilani.

    ReplyDelete
  3. "Tapi, saya kaget alang kepalang melihat kantin yang penuh dengan bapak-bapak dan ibuk-ibuk berpakaian rapi, lengkap dengan sepatu mengkilap." preposisi jangan diletakkan di awal kalimat! fungsi tapinya untuk mengasikan apa ?

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Wah dapat masukan lagi nih.. Siap pak/buk cimpro segala kekurangan saya akan diperbaiki, saya insaf benar tulisan saya masih banyak kekurangannya. Maklum saya masih dalam tataran belajar menulis, cuma ada semangat menulis saja tapi minim pengetahuan tentang menulis. Kalau berkenan sudilah kiranya bpk/ibuk mengirimkan tulisannya, biar bisa menjadi pembelajaran kami yang fakir ini. Salam

    ReplyDelete