Monday, 27 February 2017

Biarlah Orang Berkata Apa, yang Jelas Menu ini Bisa Bikin Saya Lupa Diri, Tapi Tidak Lupa Berbagi

Entah bagaimana mulanya saya selalu saja bersemangat jika berbicara soal makanan. Apakah ini mungkin karena makanan itu lebih tua dari saya? Atau juga saya sangat takut bakal kelaparan barangakali? Memang benarlah bicara soal makanan tiada pernah usainya, selama masih hidup kita akan terus bersinggungan dengan aktifitas tersebut. Konon Adam-Hawa pun didepak ke bumi karena perkara makan-memakan ini.


Setiap dari ketika tentu mempunyai santapan yang kita favoritkan, mulai dari nasi goreng, pecel, gado-gado, nasi padang dan banyak lagi menu lainnya. Bahkan ada yang menyanggupi lebih dari satu hidangan favorit. Bagi saya hanya ada satu menu makanan yang selalu mencuri perhatian, bahkan membuat saya tidak sadar diri. Hayoo, menu apa itu?

Kalaulah jengkol telah berkolaborasi dengan ikan asin serta kentang dan tempe yang dibalut dengan pesona cabai hijau, hmmm.. Saya bakalan memilih jadi orang pertama yang bilang "ternyata makan itu lebih penting ketimbang urusan yang lain." Meski perang tengah berkecamuk di Pasifik, saya tidak bakalan melewatkan menu ini. Apa? Kamu juga? Ah masa?

Mungkin tidak hanya saya yang menyukai menu tersebut. Banyak lagi yang seleranya sama dengan selera saya, bahkan lebih katrok dan lebih ekstrim lagi. Tapi beruntunglah kita yang masih bisa memilih makanan kesukaan, ketimbang masih banyak di luar sana yang tidak makan. Semoga kita bisa sedikit berbagi makanan favorit kita kepada mereka. Sebab orang bijak bilang, semua persoalan bisa selesai di meja makan.

Kembali ke persoalan jengkol dan ikan asin. Banyak orang yang bilang, dua makanan ini lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Bahkan dimakrufkan. Jengkol dapat menimbulkan distorsi dalam kehidupan sosial kita melalui baunya, tidak hanya di mulut tapi juga wadah peninggalan minyak alam kita. Pun demikian dengan ikan asin, katanya berisiko menimbulkan penyakit darah tinggi dan juga memicu maag.

Meski punya riwayat penyakit maag, jika dihadapkan dengan menu ikan asin saya sering dibuat lupa diri, lupa dengan penyakit yang saya derita. Tapi toh setelah makan makanan itu, asam lambung saya tidak naik sama sekali. Bahkan saya merasa tentram. Apa jangan-jangan ini yang namanya informasi hoax itu? Antara ikan asin dan asam lambung. Ah sudahlah, yang jelas saya tak tahan untuk tidak memakan ikan asin.

Meski saya sangat mengandrungi menu jengkol ataupun ikan asin, itu bukan berarti saya bakal menyantapnya setiap hari. Ada sewaktu-waktu menu ini sama sekali membuat saya tidak bergairah, salah satunya bila dihadapkan menu kehidupan yang ada kamu di dalamnya. Eh ada lagi, saya tidak suka makan jengkol ketika harganya menanjak, bak roket NASA.

Itulah sepenggal cerita yang biasa-biasa saja dari meja makan saya. Kebetulan hari ini menu tersebut tersedia. Agar lebih nikmat, menu tersebut dipersandingkan dengan sayur bayam, cukup sayur bening saja. Kalau ada kerupuk bakal lebih mantap. 

Bakal lebih nikmat lagi ketika bisa berbagi makanan bersama tetangga yang serba kekurangan. Konon berbagi hal yang kita sukai, imbalannya bakal dilipatkan gadakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Memulai kebaikan akan lebih mudah dengan apa yang kita sukai, salah satunya dimulai di meja makan. Selamat makan.

***
Depitriadi

yang katanya suka makan ikan asin dan jengkol

0 comments:

Post a Comment