Wednesday, 22 February 2017

Kami Hanya Ingin Merasakan Pendidikan Seperti Layaknya Mereka di Kota

Saya masih setuju jika pendidikan menjadi hal yang paling utama dalam mengangkat harkat dan martabat manusia. Pendidikan sudah berlangsung saat seorang bayi dilahirkan sampai tutup usia. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir, seperti yang dilakukan beberapa orang dengan cara membacakan doa-doa kepada bayi saat dalam kandungan dengan harapan mereka bisa mengajar bayi mereka hal yang baik sebelum proses kelahiran. Sebagaimana diketahui pendidikan itu sendiri memiliki makna sebagai bekal untuk menuju hal yang lebih baik bagi setiap proses yang dilewati individu. 

Berbincang soal aspek pendidikan terkadang ini menjadi aspek penting dalam diri setiap individu khususnya menyangkut kepribadian, kecerdasan, keagamaan, akhlak, proses bermasyrakat, keterampilan. Pengembangan potensi diri dan tentunya menumbuhkan jiwa nasionalisme.


Dok. Jobel

Menyoal tentang arti penting dari pendidikan mengingatkan saya ketika berkunjung ke kampung halaman nenek tercinta.  Kami menyebutnya kampung itu dusun, ya dusun. Kondisi kampung kami masih sebuah dusun yang jauh dari kata pengharapan dan pembangunan yang layak. 

Kerinduan akan suasana kampung yang tak saya temui di kota, selain alasan utama rindu dengan nenek, ada hal lain lain yang membuat saya memiliki niat untuk berkunjung. Saya ingin menikmati suasana kampung yang damai, dengan tawaran panorama keasrian alam yang cocok  untuk menenangkan pikiran dari kejenuhan kota tempat saya mengenyam pendidikan, sebuah tempat menggantung cita-cita yang belum tentu menjamin masa depan.

Di balik keindahan yang ditawarkan, dari dekat saya melihat beberapa anak umur sekolah tingkat dasar sedang asyik-asyiknya bermain, ketika itu hari sudah sore. Saya tidak tahu persis apa permainan mereka, namun dari penglihatan, menurut hemat saya itu semua adalah permainan cangkang umang-umang yang sudah mati. Mereka bermain tak jauh dari rumah nenek. Mungkin itu adalah permanan kelereng namun karena kondisi tidak memiliki gundu layaknya kelereng asli maka memunculkan ide anak dusun untuk memanfaatkan apa yang disediakan oleh alam. Jika diperhatikan dengan serius, mereka terlihat sangat menikmati dan tentunya mereka bahagia dengan permainan sederhana itu.

Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk menyapa mereka dengan bahasa daerah yang biasa saya gunakan “KIPA MASANANG  LEU KAAP" ( Bagaimana kabarnya?). Demikianlah bahasa daerah Mentawai yang saya gunakan untuk menanya kabar satu atau beberapa orang. Dengan senyuman mereka menjawab sapaan tersebut “ MASANANG LE KAI”(Kami sehat). Ini terjadi terjadi ketika saya menghabiskan waktu sore dengan bersantai di teras rumah nenek dengan segelas kopi dan beberapa batang kretek kesukaan saya. Tak etis rasanya dalam kunjungan ini saya tak bercengkrama dengan mereka, walaupun apa yang dibicarakan terkadang hal-hal yang tak penting. Ya, namanya juga ngobrol dengan anak kecil.

Maka dengan penuh senyum dan keramahan serta menghargai budaya adat istiadat yang ada, maka saya mengajak mereka untuk menikmati sore sambil menghabiskan beberapa cemilan kue favorit. Tentu nikmat, ditambah lagi suasana alam yang asri dan lestari. Seperti kata lagu itu, lestari alamku, lestari desaku, demikianlah lagu yang cocok untuk menggambarkan suasana ketika itu. Senyum tersipu malu kadang mewarnai candaan di sore itu. Sederhana tapi berkesan. Itulah tawaran keramahan-keramahan yang ada di kampung atau dusun. Meski untuk mencapai dusun tersebut harus menyebrangi laut dan melanjutkan perjalanan darat yang kondisi infrastrukturnya jauh dari pembangunan yang layak. Sungguh sedih melihat pembangunan di dusun ini.

Gelisah dan gundah akhirnya salah satu dari mereka berkata lesu, "kami lagi libur karena guru kami sudah tak ada lagi, dikarenakan guru honor yang ada disini tidak mendapat gaji yang layak". Saya diam terpaku, tak mampu lagi berkata-kata. Saya yang seorang mahasiswa, harusnya bisa memberi solusi dari permasalahan tersebut. Tapi, saya tak mampu berbuat apa-apa.

Belum lagi terjaga dari kecemuk hati yang gelisah, salah satu dari mereka berkata : "Apakah kami yang di dusun tidak pantas mengenyam pendidikan yang layak seperti orang-orang di kota?" Kami ingin sekolah seperti sekolah yang ada ditelevisi!". Diam-diam saya berkata: “Tuhan betapa pedihnya hidup mereka, betapa beruntungnya saya yang masih engkau beri kesempatan menempuh pendidikan yang layak.”

Hal yang dapat saya lakukan kini bagaimana mengangkat semangat adik-adik kecil ini. Saya sempat menanyakan apa cita-cita mereka, dan dengan tegas mereka serempak menjawab : "ingin menjadi guru”. Ada juga yang bercita jadi bupati, polisi dan tentara, sungguh cita – cita yang tinggi memang. Namun diantara kawan – kawan kecil saya ini, ada yang tak ingin menjawab pertanyaan itu, maka saya bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, dengan menundukkan kepala dia hanya menjawab, “BAGAIMANA SAYA MEMILIKI CITA – CITA BANG SEMENTARA GURU DI KAMPUNG SUDAH TIDAK ADA LAGI YANG MAU MENGAJAR DI SEKOLAH.” Inilah kalimat yang membuat saya tidak bisa membendung kesedihan, darah terasa mendidih ketika polemik dari kawan – kawan ini tak bisa teratasi dengan baik. Semua itu kembali bagaimana masa depan pendidikan mereka menjadi ajang taruhan dari pemangku kepentingan di dunia pendidikan.

Sejenak aku pandangi kawan – kawan kecil ini sembari memberi beberapa wedangan semangat untuk bangkit dan tak putus asa. Kembali akupun merenung dalam hati tanpa peduli lagi dengan kawan – kawan kecil ini, sungguhlah miris  dan sedih melihat kondisi pendidikan di dusun kecil ini, pendidikan yang menjadi tawaran istimewa dengan proses lebih mengangkat harkat dan martabat manusia  agar menjadi manusia yang merdeka (memanusiakan mansusia) ternyata belum bisa dinikmati sepenuhnya oleh kawan – kawan kecil ini layaknya seperti pendidikan di kota – kota besar yang menjadi mimpi mereka. Sungguh mimpi yang sederhana namun amat sangat sulit untuk mewujudkannya.

Lalu tak pernahkah pemerintah yang punya kewenangan di dunia pendidikan untuk melirik dan memberi hati untuk memperjuangkan nasib masa depan kawan – kawan kecil ini? Mereka juga anak bangsa yang berhak memperbaiki nasibnya melalui wadah dunia pendidikan, atau apakah janji dari pemangkuh kekuasaan dibidang pendidikan hanya akan menjadi taruhan politik untuk kesuksesan politik belaka? Harusnya ini menjadi bahan evaluasi yang harus intens diperhatikan sehingga pemerataan pendidikan bisa teratasi sesuai mimpi kita bersama.

***
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa


Sedang berjuang merebut hati dosen pembimbing. Gemar menyepi dari kehidupan kota yang menjemukan.

0 comments:

Post a Comment