Monday, 20 February 2017

Kembali Merenung Soal Seperangkat Alat Shalat yang Dibayar Tunai


Sepanjang perjalanan pulang menuju kampung halaman, hari Sabtu ketika itu. Dalam 2 jam perjalanan dengan motor, setidaknya ada 5 atau 6 tenda pelaminan yang saya jumpai berdiri di pinggir jalan (sebenarnya ada 1 atau 2 yang hampir menutupi badan jalan). Mulai dari tenda sederhana dengan beberapa kursi yang tidak dilapisi kain, sampai pada tenda yang mewah dengan deretan karangan bunga ucapan selamat menempuh hidup baru. Sesekali juga terdengar alunan tembang dangdut yang menyambut kedatangan tamu undangan.

media.zoya.co.id

Demikianlah kira-kira yang mampu saya ingat dari riuh rendah resepsi pernikahan dengan sederet predikat yang menyertai. Sejauh ini orang-orang masih bersepakat bahwa pernikahan ialah anjuran orang terdahulu yang mesti dipenuhi, demi meneruskan keturunan secara ‘halal’.

Saya masih belum paham soal bagaimana mulanya pernikahan itu mesti ‘diacarakan’. Dengan menyewa pelaminan, organ tunggal, juga jasa event organizer barangkali. Yang jelas hal semacam itu sudah lebih dulu ada daripada saya.

Namun, kali ini saya belum ambil hirau ihwal resepsi pernikahan. Saya lebih tertarik membincangkan pasangan mempelai yang tengah berbulan madu. Pun saya belum berani nyinyir mengenai keharmonisan rumah tangga, musabab saya sadar betul hal demikian tidak mudah, terlebih bagi yang belum berpengalam seperti saya.

Seperti biasanya, saya selalu gemar berdialog dengan orang yang ada di dalam diri saya. Sepanjang jalan saya terus berdebat dengan diri saya yang lain itu. Satu di antara yang kami perdebatkan ialah soal mahar perkawinan.

Mahar atau mas kawin sepertinya sesuatu yang mesti ada dalam sebuah pernikahan. Secara sepihak saya ambil kesimpulan bahwa betapa dalam makna mahar yang diberikan seorang laki-laki kepada perempuan.

Sepanjang pengetahuan saya, selama ini mahar selalu identik dengan uang, emas ataupun barang-barang lain. Namun hakikat sebenarnya dari mahar tidak hanya sebatas uang, emas, perak, seperangkat alat shalat, Al-qur’an, rumah, benda unik dan semacamnya.

Jika boleh berpendapat, pemberian mas kawin seorang laki-laki yang nantinya menjadi hak milik perempuan, tidak mesti dalam bentuk benda berwujud. Mahar juga bisa dalam bentuk kasih sayang serta keimanan. Seperti yang dilawat dari kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.

Mahar juga dapat berupa ilmu, atau bisa juga berupa pemberian kemerdekaan dari perbudakan. Dan dapat juga dengan apa saja yang bisa diambil upahnya. Dalam sebuah riwayat yang termaktub dalam HR Bukhari, dianjurkan untuk bergegas dan mengajarkan seorang istri dua puluh ayat, maka dia akan resmi menjadi istrimu.

Bahkan bagi seorang laki-laki yang sama sekali tak memiliki harta benda dapat memberi mahar berupa hafalan ayat Al-qur’an. Artinya tidak ada batasan bentuk dan seberapa besar mahar yang diberikan calon suami kepada calon istrinya. Tapi, itu mesti ada.

Jamak di sekitar lingkungan saya, seorang laki-laki memberikan mahar berupa seperangkat alat shalat yang dibayar tunai. Kiranya apapun bentuk mahar yang diberikan kepada seorang istri, semuanya memerlukan pertanggungjawaban yang tidak main-main bagi seorang suami.

Mahar bukanlah seberapa mewah dan seberapa banyak yang mampu diberikan, tapi seberapa mampu mahar tersebut dipergunakan dan memberi manfaat. Jika seorang suami memberikan seperangkat alat shalat, maka secara resmi ia memproklamirkan keberlangsungan ibadah istrinya.

Seorang suami akan memastikan seperangkat alat shalat yang diberikan tidak habis di dalam lipatan, atau awet di dalam lemari kaca. Artinya secara tersirat seorang suami mesti menjaga istrinya dari kemelaratan keimanan.

Akhir perbincangan saya cuma bisa mengucapkan selamat menikah, semoga pernikahan mendatangkan kebaikan.

***

Depitriadi

Tukang kabar yang mengabarkan kabar terkabarkan. Sedang belajar menulis cerita pendek (cerpen) anak.

0 comments:

Post a Comment