Friday, 3 February 2017

Menjadi Kepala Dinas Kebudayaan di Tengah Masyarakat yang Sudah Berbudaya Harus Siap untuk Tidak Baper

Sungguh senang tiada terkira rasanya sekaligus bangga bisa duduk sejajar bersama orang-orang hebat lagi terpandang. Demikian saya berbisik kepada salah seorang rekan yang juga berkesempatan hadir dalam temu ramah Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat bersama budayawan, penggiat budaya, sastrawan, seniman, serta wartawan pada Kamis malam.



Sebagai warga Sumbar yang bukan tergolong ke dalam kategori yang telah disebutkan, saya boleh bangga, selain bisa melihat Darman Moenir dari jarak cukup dekat, akhirnya Sumatera Barat punya Dinas Kebudayaan sendiri, yang sebelumnya bergabung dengan Dinas Pendidikan. Selamat.

Namun, pada temu ramah tersebut saya tidak sempat mengucapkan selamat kepada kepala dinas yang terpilih melalui lelang jabatan itu. Ingin sekali rasanya, namun saya memilih untuk berdialog sendiri dengan orang yang ada di pikiran saya tentunya, sebab itu lebih rasional rasanya ketimbang menunggu giliran berbicara di tengah orang-orang yang gemar berbicara.

Lagian tidak sopan rasanya untuk tidak membiarkan yang lebih tua untuk tidak berbicara.

Saya berdialog tentang budaya sampai kepada pisang goreng dan segelas kopi encer yang ada di hadapan saya.

Akhirnya sampailah dialog saya pada kesimpulan seperti ini; ternyata jabatan yang paling sulit itu bukanlah menjadi presiden, melainkan menjadi seorang Kepala Dinas Kebudayaan di tengah-tengah masyarakat yang sudah berbudaya. Menjadi kepala dinas kebudayaan mesti siap untuk tidak baper.

Iseng-iseng saya mencoba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang terinstal di gawai, dan mencari definisi kata Budaya. Sampailah saya kepada penjelasan bahwa budaya adalah  sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Otak saya lalu berpikir, kalau begitu seluruh yang hadir pada temu ramah tersebut pantas disematkan gelar orang yang berbudaya dong. Sebab banyak hal yang sukar kita ubah. Mulai dari mengantuk saat mendengarkan orang lain berpendapat, malas untuk ini dan untuk itu, meninggalkan ruangan sebelum acara ditutup, membiarkan goreng pisang mendingin lalu berminyak, lebih gemar berbicara dalam hati (saya).

Kemudian saya berpikir untuk mengganti penyebutan koruptor dengan orang yang berbudaya, sebab perilaku untuk tidak korupsi sukar diubah. Namun, pada akhirnya saya menyimpulkan, lagi-lagi sepihak, untuk menghilangkan kata budayawan di dalam kehidupan saya, lalu menggantinya dengan kata penggiat budaya.

Kembali kepada kegiatan temu ramah yang berlangsung, saya sempat bertukar posisi secara imajiner dengan kepala dinas kebudayaan. Saya membayangkan beban berat yang ada di benaknya. Kalau saya di posisi beliau, tentu saya akan memilih menangis saja ketika harapan untuk menyaring saran digunakan untuk ajang curhat, ketika di suruh untuk ini untuk itu, jangan begini atau begitu, sampai kepada menerima penekanan kalau Sumbar itu adalah Minangkabau.

Coba bayangkan jika seorang kepala dinas kebudayaan suka baper seperti saya?

Akhirnya saya insaf, mengapa persoalan pemerintahan di negeri ini tidak kunjung membaik.

***
Depitriadi


Tukang kabar yang mengabarkan kabar terkabarkan. Sedang belajar menulis cerita pendek (cerpen) anak.

1 comment: