Sunday, 26 February 2017

Mereka yang Setia Mengais Sisa-Sisa Si Petandang


Di suatu pagi yang cerah di hari Minggu (26/2), ada pemandangan yang berbeda di Pantai Muaro, depan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Kota Padang, dimana puluhan pemuda tampak berkumpul. Apa gerangan yang tengah mereka kerjakan? Ternyata, usut punya usut pada hari ini, Greenpeace cabang Padang, Sumatera Barat tengah menggalakkan aksi bersih pantai sekaligus kampanye lingkungan dalam rangka turut mendukung Hari Peduli Sampah Nasional 2017. Aksi tersebut dilangsungkan di sepanjang kawasan Pantai Muaro Padang.

Dok. Greenpeace

Greenpeace? Bagi anak muda yang bergerak di lingkungan hidup dan juga kealaman sudah barang tentu sangat kenal dengan Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang satu ini. Organisasi lingkungan tersebut digagas tahun 1971 di Kanada, kini jumlah mereka sudah mencapai kurang lebih 40 cabang pusat di setiap negara di dunia. Terkhususnya Indonesia terdapat 10 base volunteer yang tersebar di seluruh pulau Indonesia, salah satunya di Sumatera Barat. 

Seperti yang sudah direncanakan, saya datang untuk memenuhi undangan dari kawan-kawan Greenpeace Padang. Kegiatan ini dimulai pada Pukul 07.00. Bagi pemuda malas seperti saya, bangun tidur disaat pagi seperti itu adalah hal yang sangat sulit saya lakukan. Maklumlah, sebagai anak muda yang gemar ini dan itu, saya mempunyai cara tersendiri untuk menghabiskan malam, konsekuensinya saya kehilangan kesempatan menghantar matahari pagi ke posisinya. Tapi, berkat keinginan yang kuat dan luhur akhirnya saya bisa datang ke acara tersebut walaupun sedikit terlambat. Saya datang saat kawan-kawan sudah mulai beraksi membersihkan sampah di sekitar Pantai Muaro. 

Davit Alfian Putra (22) selaku koordinator volunteer Greenpeace Padang mengatakan, bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk sama-sama menjaga lingkungan. “Apalagi taplau (tepi laut,red) menjadi tempat wisata yang ramai di datangi orang,” tambahnya lagi. 

Dok. Greenpeace

Sesampainya di lokasi bersih-bersih, ternyata saya tidak hanya disambut oleh Greenpeace saja, tapi juga ada kawan-kawan komunitas lain yang beraktifitas di Padang antara lain; Komunitas Hammockers Sumbar, My Trip My Adventure (MTMA) Padang dan juga tentu saja kawan-kawan dari Godok.id yang turut nimbrung sebagai corong informasi. Pada kesempatan tersebut, kami juga colong-colong waktu untuk berkenalan satu sama lain.

Dengan Judul besar Ocean Defender, aksi nyata dan kampanye kali ini merupakan kegiatan kedua yang telah mereka lakukan. Sebagai media ekspresi yang mengedepankan tulisan dan kegiatan positif dari kawula muda sekalian, bagi godok.id tersendiri undangan dari Greenpeace dalam kegiatan ini merupakan hal yang sangat bermanfaat, selain untuk menjalin silahturahmi antar masing-masing komunitas yang turut hadir, ini juga merupakan realisasi dari salah satu prinsip atau nilai-nilai dalam kegiatan Greenpeace yakni “Mencari solusi untuk mempromosikan secara luas dan menginformasikan perkembangan dari pilihan untuk lingkungan di sekitar masyarakat.” 

Salah satu volunteer Greenpeace yang saya temui di lokasi bersih-bersih, Deby Rianto, mengajak semua orang untuk turut bersama-sama menyadarkan masyarakat sekitar perihal masalah lingkungan. Salah satunya sampah yang telah menjadi hal krusial dan sering menjadi bahan perbincangan pejabat teras di Kota Padang. Memang benar, saya selaku salah satu oknum dibalik godok.id yang hadir sepakat tentang hal yang disampaikan beliau. Bisa dikatakan selama hampir 4 tahun saya menuntut ilmu di Padang, perkara banjir di kota ini selalu menjadi hal yang mesti diperhatikan. Dalam waktu 5 menit saja  dengan intensitas hujan sedang, beberapa jalan di Kota Padang sudah bisa dipastikan tergenang air. Biangnya tidak lain dan tidak bukan adalah sampah yang dibiarkan menggenang di selokan bahkan di jalan-jalan. Tidak hanya di jalan, di tempat-tempat wisata seperti Pantai Padang dan Muaro yang diakhir pekan penuh riuh dengan pengunjung pasti juga turut diramaikan dengan sampah yang ditinggalkan pengunjung. Padahal menurut survey saya sendiri (hahaha) Pemerintah Kota Padang lebih spesifiknya pada bagian Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang telah menyediakan tempat pembuangan sampah yang cukup untuk menampung sampah para pengunjung bahkan para pedagang di kawasan pantai. 

Dok.Greenpeace

Tapi memang kesadaran itu yang telah hilang, kesadaran dimana sebagai manusia yang punya akal dan pikiran tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya terkhususnya benda kecil bernama sampah. Di era dimana semua orang sibuk dengan hal-hal yang besar, terkadang kita lupa memikirkan hal kecil. Kita sibuk dengan Pilkada nun jauh di sana, kita merasa tersinggung ketika ada orang yang menuduh kita apatis, tapi kita sering lupa pada hal-hal yang kecil, membuang sampah pada tempatnya salah satu contohnya. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Penting bagi kita untuk sama-sama merefleksikan kembali hal ini, terutama bagi saya.

***

Andina Amalia Haris


Perempuan Merauke yang tersesat di Padang, sedang diperjuangkan oleh Rio Jo Werry (katanya).

0 comments:

Post a Comment