Saturday, 25 February 2017

Saya Sarino, Presiden Rancak Production

Hujan yang mengguyur Gunung Medan pada Minggu malam (19/2) membawaku berteduh di toko baju milik seorang teman semasa Sekolah Dasar. Ini merupakan kepulangan keduaku ke tanah kelahiran sepanjang tahun 2017. Kesempatan Pulang kali ini aku manfaatkan betul untuk mempererat tali silahturahmi sekaligus bertemu kembali dengan teman-teman dari TK hingga SMA—pun-- dengan para mereka yang telah menjadi sarjana baru-baru ini.

Begitulah, jika suasana Padang sudah terasa begitu sumpek, menyesakkan dada, penuh keriuhan, hingga kesal dengan rutinitas yang semakin merontokkan rambut. Maka, aku akan memilih untuk pulang ke Gunung Medan saja, yang berjarak sekitar 200 km dari Kota Padang dan menghabiskan waktu tempuh selama empat jam perjalanan itu guna menyegarkan kembali pikiran lewat suasana asri, sejuk, hijau, damai, tanpa hiruk pikuk khas pedesaan yang tersaji di Gunung Medan.

Kembali ke cerita hujan yang membawaku singgah di toko temanku tadi.

Namanya Sarino, perawakannya kecil, pembawaannya humoris, yang jelas Sarino merupakan orang Gunung Medan keturunan Pariaman. Ibu seorang Pariaman dan Ayah berdarah Gunung Medan. Aku memanggilnya “Mak No,” setamat Pondok Pesantren Mak No lebih memilih untuk berkelana dulu ke beberapa daerah di Pulau Jawa selama tiga tahun dan kembali pulang ke Gunung Medan tahun 2015 ketimbang berpusing-pusing melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Aku menemuinya saat ia sedang sibuk memasang sablon nomor-nomor yang akan ditempel ke kostum orderan salah satu tim sepakbola antar kampung (tarkam).

Sarino Presiden Rancak Production/dok. pribadi Sarino
Sedikit terkejut, dia bertanya ‘angin apa yang membawaku tiba-tiba singgah tanpa konfirmasi terlebih dahulu di tokonya?’. Mungkin akibat saking sibuk, ia sampai lupa bahwa hujan telah membawaku ke tempat usaha miliknya. Entahlah.

Toko milik Mak No beralamat di Seberang Mimpi, Gunung Medan berada tepat sebelah SD Negeri 04 Gunung Medan, tempat aku bersekolah dulu dari tahun 2000-2006. Selain menjual baju, tokoh yang dia beri nama Rancak Production ini juga memproduksi sendiri bahan, menerima pesanan sablon, hingga order bordiran. Sarino sukses memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat, bakat berwirausaha ini diturunkan dari sang Ayah.

Rancak Production, pertama kali dirintis saat perantauan Mak No di Kota Bandung tahun 2013. Kantornya beralamat di kawasan Jalan Surapati. Tahun 2015 bersamaan dengan kepulangannya ke kampung halaman, cabang Rancak Production pun dibuka di kampung halaman sebagai wujud perluasan trah bisnis dari induk usaha di Bandung. Setahun berselang berdiri juga cabang Rancak di Pasaman Barat. Kalau tak ada aral melintang kata Mak No rencananya Rancak juga akan membuka cabang di Kota Padang atau Bukittinggi dalam tahun 2017 ini, Amin.

Selain sibuk menekuni urusan produksi mode, Sarino juga memiliki usaha sampingan seperti membuka jasa printer untuk anak sekolahan dan jasa pengiriman uang khusus bagi nasabah BRI lewat BRIlink. Disamping itu, Rancak Production juga merangkap sebagai Event Organizer beberapa helatan besar yang diadakan di Gunung Medan. Akibat memiliki humor yang bagus, acap kali Sarino diundang menjadi Master of Ceremony atau sekadar memerankan badut dalam acara ulang tahun anak-anak di sekitaran tempat tinggalnya. 

Tak lupa pemerintah daerah setempat juga ikut mengundang Mak No sebagai pemateri bidang kewirausahaan usaha kratif.

BRAVO MAK NO!

Sarino saat menjadi MC dalam suatu acara ulang tahun anak-anak di Gunung Medan/dok. pribadi Sarino

Seusai bersalaman basa-basi tanda sudah lama tak bersua, kami mulai membuka obrolan, dimulai dengan guyon-guyonan tak penting hingga saling cimeeh, barulah aku berani memancing sedikit Sarino untuk bercerita perihal usahanya. Sarino menceritakan kisahnya mulai dari setelah ia tamat sekolah, merantau ke Jawa, terkatung-katung di Bandung hingga sukses mendirikan rumah produksi pakaian sendiri.

Ayo simak obrolanku dengan Sarino sembari ditemani kopi, Marlboro, dan suara hujan yang mengguyur Gunung Medan malam itu. Menghabiskan waktu selama sepuluh jam.

[Panduan membaca:
*Mamak (panggilan hormat untuk Paman)
*Nakan/Kan (Bahasa Minang untuk Kemenakan)
Jika dirasa terlalu panjang, silakan distop membaca]

Menatap Pulau Jawa

“Tahun 2012, setelah lulus dari ponpes modern Hamka, Mamak galau, kuliah nggak kepikiran. Kerjaan di rumah mencari rumput untuk makanan ternak.” Ujarnya sambil tersenyum sungging.

Kejenuhan, itulah yang dirasakan Sarino setelah menamatkan sekolah di Pesantren Modern Terpadu Prof. Dr. Hamka (PMT Prof. Dr. Hamka). Kejenuhan diakibatkan rutinitas yang itu-itu saja. Kalau siangnya hanya tidur, sorenya mencari rumput untuk makan ternak, dan malamnya begadang untuk bangun lagi siangnya begitu saban hari.

“Teman-teman pada kuliah semua, hanya satu dua orang yang milih nganggur, ah, bosan hahaha” tuturnya.

Rutinitas mencari rumput setiap sore membuat Sarino menyalahkan keadaan “inikah hukuman bagi orang yang tidak kepingin kuliah?” itulah yang sempat terlintas dalam benaknya. Sesekali muncul juga tanya “apakah rutinitas nyentrik ini akan menjadi kerjaannya sampai berkeluarga kelak?” pikirnya.

Dalam kebimbangan Sarino merasa bersalah pula, karena enggan disuruh untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Hingga terpikir rencana bertualang ke Pulau Jawa. Inisiatif untuk berangkat ke Jawa ini awalnya mendapat penolakan keras dari Ayah Sarino, berkali-kali Sarino mencoba meyakinkan Ayahnya tapi tidak juga mampu melunakkan hati sang Ayah. 

Sampailah Sarino pada ide-ide jahilnya (mungkin ide hasil dari begadang semalaman). Idenya mengibuli orang tua dengan menyampaikan rencana ia ke Jawa untuk mengikuti Bimbingan Belajar selama tiga bulan di sana guna menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri tahun berikut.

Dicarinya ke warnet profil tempat-tempat bimbel mentereng yang ada di Jakarta, Bandung, dan Bogor, setelah itu ia cetak. Bermodalkan kertas-kertas profil tempat bimbel ini Sarino mencoba menyakini ayahnya, disodorkan kertas-kertas itu kepada Ayahanda dengan sedikit diplomasi bicara memelas.

Dan ternyata alasan ini lebih diterima oleh Ayah Sarino. Sarino diizinkan untuk terbang ke Jawa.

“Usaha itu ternyata berhasil Nakan, hahaha” Sarino tertawa mengenang certia jahilnya ini.

Setelah diberi izin pergi, Sarino memilih Bogor sebagai tempat petualangan pertama di Pulau seberang itu. Alasannya memilih Bogor sederhana karena “kebetulan, teman-teman Mamak banyak yang berkuliah di IPB” jelasnya.

Di Bogor Sarino tinggal bersama kakak perempuan sulungnya di kawasan Laladon Komplek Graha Ciomas. Singkat cerita, setelah dua bulan di Bogor ia mulai merasa bosan karena tidak ada rutinitas yang jelas selain menjajahkan ijazah ponpes ke beberapa perusahaan dengan harapan diterima sebagai karyawan, hasilnya tak kunjung menampakan titik cerah.

Sarino saat mencari peruntungan di Bogor/dok. pribadi Sarino
Sarino berinisiatif untuk membuat usaha keripik peyek, tentang usaha ini dia menjelaskan bagaimana inisiatif itu bisa muncul “mamak segan aja, sudah tinggal numpang tempat kakak, kerjaan belum dapat, ya terpaksalah bikin itu peyek, hehehe”. Sesekali bila rasa segan memuncak Sarino pergi nginap di indekos teman-temannya yang berkuliah di IPB.

Keripik peyek ini memiliki makna historis tersendiri yang mengingatkan Sarino kepada Ibu dan masa kecilnya di kampung halaman “....tunggu dulu, kenapa peyek ya peyek itu dulu kebetulan mama pintar bikin, akhirnya ketularan juga deh walau amatiran.” Kenangnya. Maka, diberilah nama usaha barunya itu “Keripik Peyek Dharmasraya".

Suka duka dalam usaha peyek dirasakan betul oleh Sarino, usaha peyek ini pula yang berujung pada terbongkarnya bohong alasan berangkat ke Jawa tadi. Bagaimana tidak, setiap gagal cetak dan ketika peyek itu menjadi hangus atau kurang renyah, Sarino terpaksa menelpon ibunya berkali-kali uintuk menanyakan kira-kira resep apa yang kurang hingga peyek terasa keras dan tidak renyah.

Usaha keripik peyek Dharmasraya milik Sarino.
Bermula dari sini kecurigaan Ibu Sarino mulai muncul, mengapa anaknya membuat peyek, apa gerangan? Bukankah dulu Sarino hanya diberi izin untuk pergi bimbel?

Ibarat bunyi peribahasa "sepandai-pandai membungkus yang busuk berbau juga" begitu pula kebohongan Sarino selama beberapa bulan terakhir berujung nahas juga. Sarino tak dapat menyangkal lagi soal kebohongan alasan keberangkatannya ke Jawa. Dimarahi dan dicerca. Sarino harus tahan dengan konsekuensi akibat kebohongannya itu. 

Suatu kali ketika Sarino menelpon untuk menanyakan resep peyek yang kurang renyah itu, tiba-tiba yang mengangkat telepon itu Ayahnya. “kamu pulang, sudah tidak mendengarkan kata orang tua, berani-beraninya membohongi kami!” kenang Sarino sambil menirukan perkataan ayahnya dulu.

Sampai-sampai sang ayah meragukan kemampuan Sarino “kalau kamu nggak pulang sekarang, apa kamu pulang nanti pas hidung saya sudah ditutup sama kapas?” begitulah ucap Ayah Sarino. Kata-kata itu semakin membuat Sarino patah arang, bersalah, seperti ungkapan yang berserakan di belakang bak truk “pulang malu, nggak pulang (isi sendiri)...

Sarino galau bukan main. Galaunya tidak hanya dikarenakan ucapan orang tua tadi, pekerjaan tak kunjung didapat, usaha keripik peyek rintisannya mandeg, kurang laris dan berujung pada kebangkrutan. Ada benarnya juga “Ridho Allah terletak pada ridho orang tua” betulkan Mak No?

Dari Bogor Menuju Bandung

Hari-hari Sarino di Bogor tidak lagi cerah sama halnya dengan hujan yang terus mengguyur Kota Bogor sepanjang hari. Sarino terpaksa memutar otak walau otaknya kadang enggan diajak berputar. Kepada kakak Sulungnya Sarino meminta izin untuk berangkat ke Bandung, berharap nasib akan berubah baik, mujur, dan mulus seperti kata banyak orang “semulus awewek yang ada di kota kembang itu.” Konon di Bandung inilah Sarino memiliki cerita yang kompleks.

Akhir tahun 2012, Sarino mantap melangkahkan kaki menuju terminal Baranangsiang, dinaikinya Bus Baraya jurusan Bogor-Bandung. Pukul 16:00 WIB bus sampai terminal Caringin, dari Caringin Sarino naik angkot ke Pasar Baru. Setelah itu dia menuju stasiun Bandung menaiki kereta kelas ekonomi seharga 2000 rupiah menuju Padalarang, kebetulan di sana tinggal kakak perempuannya yang nomor 3.

Setiba di Padalarang, Sarino curhat panjang lebar soal nasibnya yang tak pasti di Bogor hingga terbongkarnya rahasia sakral bimbel menuju Bogor dulu. Sarino mengatakan “saya ingin cari kerja di Bandung Kota Kak” kenang Sarino. Kakaknya memberi semangat Sarino. Esoknya Sarino kembali ke Kota Bandung dan akan memulai cerita baru hidup tanpa kenalan pada awal-awal menginjakkan kaki di kota ini.

Di Bandung, ia menemukan kos-kosan di daerah Cicendo depan kawasan rumah sakit mata. Sarino tidak langsung memgistirahatkan tubuhnya yang lelah usai bolak balik dari Bandung-Padalarang, tekadnya sudah bulat mencari kerja. Ia mulai kembali menjajahkan ijazah ponpes ke perusahaan, restoran, atau tempat apa pun yang penting bisa mendapat rezeki halal. Mula-mula ia mengantar ijazah ke setiap rumah makan Padang yang ia temui, hasilnya jawaban yang didapat hampir sama dari satu rumah makan ke rumah makan lain “tidak terima lowongan, Dik”.

Matahari mulai terbenam, tak ada jalan lain pikir Sarino selain kembali ke kosan. Hari demi hari Sarino sudah tahan banting dengan penolakan kerja, seminggu lamanya. Tapi, untuk kali ini dia tak akan putus asa, hingga sampailah pada senja yang beruntung itu. Saat sedang merokok di kawasan Stasiun Bandung bagian barat dari kejauhan Sarino melihat tulisan “Terima Lowongan Kerja” di sebuah restoran Tionghoa bernama “Golden Duck”. Tanpa pikir panjang Sarino melangkahkan kaki ke restoran tersebut.

Sampai di restoran. Ada cerita unik di sini, saat ada orang berdiri di depan pintu berpenampilan necis Sarino bertanya “Om, saya ingin bertemu dengan manager sini, bisa?” orang itu mempersilakan ia masuk. Orang yang begitu rapi dan necis untuk ukuran security. Sarino sempat berpikir “wah security sini parlente sekali”. Sarino tak menyangka kalau orang tersebut sang manager restoran.

Ia diwawancarai. Seperti biasa tidak ketinggalan Sarino curhat soal kepahitan dan penolakan-penolakan selama satu minggu berada di Bandung. Singkat cerita, nasib baik menghampiri laki-laki berperawakan kecil yang belum genap berusia 20 tahun saat itu, Sarino dinyatakan diterima, dan ditugaskan sebagai waitress bahasa keren untuk juru cuci piring, juru antar masakan yang dipesan pelanggan.

Sarino saat bekerja di Golden Duck/dok. pribadi Sarino
Di restoran Golden Duck tersebut Sarino bekerja dengan telaten, disiplin, dan sangat antusias sekali, impiannya tercapai merantau ke negeri orang lalu mempunyai penghasilan hasil dari jerih penat sendiri. Sarino cepat berbaur dengan rekan-rekan kerja dari berbagai daerah.Ia sangat disukai oleh para koki karena selalu menghumor tatkala para koki itu letih. Tidak ada masalah pada awal-awal dia bekerja di Golden Duck.

Satu hal yang masih melekat dalam pikiran Sarino. Momen-momen saat dijahili rekan kerja di hari pertama “Mamak dijahili Kan, oleh karyawan-karyawan lama kampret! Bayangkan Kan, itu saluran air tempat mamak cuci piring disumbat pakai sumpit” katanya menjelaskan berapi-api kepadaku.

Di sini pula keminangan Sarino yang kental menjadi bahan olok-olok para karyawan senior yang kebanyakan berdarah Sunda. Bahasa Indonesia Mak No kerap tercampur dengan logat Minang muncullah istilah Padang Bengkok dari rekan kerja mereka. Padang Bengkok ini merupakan istilah ejekan kepada oknum perantau Padang yang terkenal licik. Mak No “nggak licik kok, heeh” tambahnya.

Memasuki bulan ke empat baru muncul masalah menghadang Sarino, saat aku tanyakan apa masalahnya, Sarino berujar “Mamak, jadi nggak betah Kan, mentang-mentang badan mamak kecil itu para suntoloyo seenaknya sama Mamak, ya gak maulah, diberatin semua sama Mamak.” Di samping alasan tersebut masih menurut penuturan Sarino terdapat beberapa hal lain seperti merasa didiskriminasi, diintimidasi, atau jengkel melihat beberapa karyawan yang terkesan “jilat pantat bos, Mamak yang jadi korban”. 

Akhirnya Sarino berhenti dari Golden Duck pada bulan Maret 2013. Keputusannya untuk berhenti kerja membuat Sarino kembali hidup luntang-lantung, dalam perenungan sebelum tidur ia sempat menyesalkan keputusannya untuk berhenti. Sarino harus kembali bertualang mencari pekerjaan. Untuk memudahkan usaha dalam mencari kerja itu dia pindah kos dari kawasan RS Cicendo ke kawasan Monumen Pancasila. 

Sebagai selingan untuk mengisi kekosongan sambil menanti mendapat tempat kerja baru, Sarino rela untuk mengasong. “Mamakmu yang keren ini, terpaksa ngasong Nakan hahhaha” Sarino tertawa keras.

Mengasong dengan Nama "Abi si Padang"

“Jualan Mamak itu Mijon, Floridina, kacang,..” buka Sarino setelah ditanya asongan apa yang ia jual.

Benar, kesulitan memaksa orang untuk berpikir panjang. Setidaknya selama di Jawa Sarino kebal akan hal itu. Sarino mulai mengasong. Awalnya dia enggan melakukannya karena agak malu, aku mahfum hal ini karena sejak kecil Sarino sudah bermental bos keturunan priayi.

Untuk menutup identitasnya sebagai pengasong pria berperawakan kecil tersebut mengganti nama menjadi Abi. Dia takut identitasnya terbongkar kalau-kalau ada perantau dari Padang menemuinya. Sarino takut membayangkan reaksi orang tua jika tahu Sarino menjadi seorang pengasong “Gini Nakan, kalau mamak tetap make nama Sarino, ntar kalo ada ketemu orang Padang tahu-tahu dia teman kawan mamak gimana? Ya apes dilaporin, suruh pulang, Mama Malu, apalagi Papa, wah berabe bisa. Cuma antisipasi itu doang kok, hehehe” ujar Sarino dengan bahasa selenge’an.

Untuk dagangan yang dijual Sarino membeli barang dari supermarket, kebetulan barang-barang itu sedang diskon. Sarino menuturkan keuntungan ini pula yang menjadi biaya makan dan bayar kos-kosan. Minggu pagi Sarino stand by di Car Free Day kawasan Dago. Di sana ia menjual minuman kepada kerumanan orang ramai yang selesai berolahraga ringan.

“wis, gila, macam-macam orang di sana nakan, rugi deh belom nginjak Bandung, orang seperti Nakan ini gak bakalan tidur. Mamak Jamin! Di sono no banyak komunitas ini itu, apalagi pas CFD ada orang bawa ular, anjing, banyak de pokoknya, aweweknya manis pisan euy.” Ledeknya. Ucapan Sarino ini sejenak membawaku mengawang mengimajinasikan Bandung.

Sarino saat hidup di jalanan./dok. priadi Sarino
Kehidupan jalanan membawa Sarino bertermu dengan kenalan-kenalan baru. Ia bertemu dengan anak-anak yang biasa hidup di jalanan kemudian bertemu pula dengan om-om klub motor “Motorhead” sebuah klub Motor Harley yang dikepalai oleh pelawak kondang Indro Warkop. “bahasa Indro itu, selenge’an abis, lo-gue-lo aja. Mungkin karena orang-orangnya kaya semua, klub ini sering touring dan orangnya baik-baik, gitu”. 

Dari sini juga ia berkenalan dengan salah satu anggota klub yang kelak mengubah nasibnya, Aa Dedi namanya. Aa Dedi menawarkan peluang usaha kepada Sarino. “daripada abi(k) di jalanan trus, gimana kalo kita buka produksi dik, kasihan abik kan anak rantau dari Padang pula?” Sarino menirukan kembali kata-kata orang yang mengajaknya itu.

Awalnya Sarino sungkan dan menolak dengan alasan tidak ada pengalaman di bidang itu. Usaha yang ditawarkan Aa Dedi kepadanya yaitu melanjutkan kembali produksi beliau di bidang konveksi yang sempat bangkrut, ia berharap Sarino bisa menghidupkan kembali “Goldi Nukami” nama produksinya. Selain itu supaya usaha ramai Sarino ditawarkan juga untuk membuka suatu brand tersendiri dengan sistem kerja seperti yang diutarakan Sarino “sistemnya gini, kalo Goldi Nukami dapat orderan, Mamak dapat fee dari orderan Om Dedi kalau misalkan branded mamak bagus itu duit full buat mamak” dari penuturan Sarino dapat disimpulkan intinya mereka sama-sama memajukan brand masing-masing dengan penggunaan satu rumah produksi.

Sarino akhirnya menyanggupi permintaan si AA Dedi dengan syarar AA Dedi yang mengajarkan Sarino mulai dari titik nol.

“Kalau ke Bandung, orang masih kenal dengan Abi si Padang” kata Mak No sebelum pergi membuatkan kopi untukku.

Bergelut di Bidang Konveksi

Kerjasama telah disanggupi Sarino, terlintas dalam benaknya untuk menanyakan kepada AA Dedi apa maksud dari nama brand Goldi Nukami tersebut. Aa Dedi menjelaskan “Goldi itu kan Emas, dan Nukami itu kepunyaan orang bandung” mendengar arti dari brand yang menonjolkan nama daerah, berinisiatiflah Sarino juga membuat brand yang menonjolkan kedaerahannya, diberilah nama Brand itu “Rancak” yang berarti bagus dalam bahasa Indonesia.

Tanggal 12 April 2013, dilaunchinglah brand bernama “Rancak Production” khas Sarino tersebut di Jl. Surapati depan pasar Suci Bandung. Rancak berlogokan tanduk kerbau yang menjadi ciri khas Minangkabau, dalam logo rancak juga terselip tanda panah mengarah ke atas yang memberi himbauan agar selalu ingat kepada yang di atas, dan terdapat kaki empat yang melambangkan tau jo nan ampek (sebuah ungkapan norma kesopanan adat Minangkabau).

Logo Rancak Production/dok. pribadi Sarino


Masa awal-awal produksi, Rancak mendapat tanggapan positif dari kawan-kawan dekat Sarino lalu mulai datang pesanan dari berbagai daerah seperti; Mentawai, Padang, Pesisir Selatan, tak ketinggalan pesanan dari teman-teman yang ada di  Gunung Medan. Dalam hal ini kemajuan media sosial sangat membantu penyebaran informasi.

Dari hasil usaha konveksi, saat hari besar Sarino sudah bisa mengirim buah tangan kepada kedua orangtuanya di kampung halaman. “Mama, senang sekali waktu pas mamak ngirim itu, senang sekali mereka.” Melihat perubahan drastis Sarino, orang tuanya mulai setuju dan perhatian kembali kepada Sarino “setelah itu barulah Mama sering nelpon, nakan” kenang Sarino.

Usaha di Bandung berjalan lancar. Dalam beberapa bulan membuka konveksi itu saja, ia sudah memiliki karyawan sebanyak dua belas orang, angka yang cukup lumayan bagi seorang anak yang baru berusia dua puluhan tahun. Dalam sebulan Sarino bisa meraup keuntungan sebesar sepuluh juta rupiah, “lima jutanya buat makan, main, beli bahanlah”.

Saat usaha sedang puncak-puncaknya, awal tahun 2015 Sarino diserang penyakit tifus “ini akibat fisik mamak terkuras hebat nakan,” Sarino tak menyampaikan ini secara langsung kepada kedua orang tua di kampung. Setiap kali mereka menelpon menanyakan keadaan anak kesayangan ini, Sarino selalu berujar bahwa keadaannya baik-baik saja. Lagi-lagi Sarino berbohong yang “demi kebaikan” katanya.

Tapi, kontak batin antara anak dan ibu tetap terjalin. di kampung Ibu Sarino berfirasat bahwa Sarino sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya disuruh oleh sang ibu kakak yang di Padalarang untuk mengecek keberadaan sekaligus keadaan Sarino di Bandung.
Mendapati Sarino sedang sakit, ditelponnyalah orang tua di kampung. Heboh, mereka langsung menjeput Sarino hari itu juga ke Bandung dengan mobil carteran, perjalanan menjemput Sarino ini memakan biaya sekitar sepuluh juta rupiah, sungguh besar pengorbanan orang tua untuk anak. Kepulangan Sarino tersebut tak diketahui oleh karyawan-karyawannya serta Aa Dedi.

Sarino saat mengerjakan sablon di Bandung/dok. pribadi Sarino
Pulang Kampung

“Gila, di rumah orang sudah banyak menunggu Mamak, kaya' udah mati aja Mamak” Sarino begitu terkejut saat pertama kali menginjakan kaki di Gunung Medan setelah tiga tahun di perantauan.

Keadaan Gunung Medan pun sudah banyak berubah, bergerak menuju kemajuan. Sampai di rumah ia lebih terkejut lagi, karena sudah banyak sanak famili berdatangan menunggu kepulangannya. Seperti yang diutarakan Sarino mereka mengira ia sudah tiada sampai-sampai sanak jauh pun datang. 

Begitu terkejut Sarino. “haha, untungnya ada juga nakan, mamak banyak dapat duit” Sarino tertawa. Itulah Sarino kalau sudah bicara soal uang, tawanya lepas.

Usai sakit ia mendapat uang tiga juta rupiah. Kembali terlintas dalam benak Sarino kembali ke Kota Bandung. Sayangnya, untuk kali ini tidak diizinkan lagi sang Ibu dengan dalih terlalu jauh dan takut Sarino akan berbohong lagi soal kesehatannya. Sarino pasrah dan tidak melawan. Ia hanya meminta ibunya boleh mengizinkan Rancak membuka cabang di Gunung Medan. 

Bemodalkan tiga juta rupiah, Sarino mulai merombak sebuah warung bekas kontrakan di sebelah rumahnya. Warung itu disulap menjadi sebuah toko baju. Sarino sempat pesimis di awal membuka cabang ini, ia ragu kalau cabang tak akan seramai di Bandung “Awalnya mamak ragu, siapa sih yang pengen nyablon di sini, kampret ah!”

Sarino (tengah) bersama dua karyawan, saat rancak pertama kali dibuka di Gunung Medan/dok. pribadi Sarino

Seiring waktu berjalan, hasilnya ternyata di luar dugaan Sarino. Hari demi hari orderan mulai menumpuk masuk. Tanggapan masyarakat pun sangat antusias terhadap kehadiran Rancak di Dharmasraya. Slogan baru pun hadir “Rancak: Kausnyo Urang Dharmasraya”. “untuk urusan karyawan di sini bisa minim, cukup dua sampai tiga orang saja. Toh, produksi tetap di Bandung yang dihendel oleh Aa Dedi.” Ujar Sarino.

Rancak Production Berjaya di Kampung Halaman

Nama Sarino kian melambung, Rancak semakin diminati. Desas-desus Sarino ini mengundang rasa penasaran Pemerintah Daerah (Pemda), Sarino diundang untuk mengisi materi kewirausahaan tentang usaha mandiri dengan tujuan memotivasi masyarakat Dharmasraya supaya berani untuk berwirausaha seperti Sarino yang mulai merintis dari usia muda.

Jika ada event-event besar Dharmasraya semacam Porprov, hari lahir kabupaten, event sekolahan, Rancak Production dipercaya untuk memproduksi seragam official. Tak ketinggalan Rancak Production juga diundang pada event tersebut untuk melakukan pameran.

Rancak saat pameran di SMAN 1 Sitiung/dok. Rancak Production


Banyak masyarakat melamar untuk menjadi karyawan di Rancak Production, sayang Sarino dengan seleksi ketat hanya memilih karyawan yang sudah sarjana. “Gak uruslah, mamak pengen kriterianya seperti itu, biar Sarjana itu saya yang gaji hahaha” gelak Sarino sambil menyeduh kopi yang hampir dingin.

Memang terdapat kriteria khusus yang diterapkan Sarino. Ini untuk meminimalisir karyawan yang tidak jujur dan kerja malas-malasan “kalo sarjana, kerjanya rapi, disiplin” ungkapnya.

Tak hanya ikut acara undangan orang, rancak pun menjadi sponsor seperti festival band, stand up comedy, OSIS Cup. Spanduk bertuliskan Rancak berkibar gagah di setiap acara tersebut selama dua tahun terakhir.

Rancak saat menjadi sponsr ulang tahun Gunung Medan/dok. Rancak Production

Pada ulang tahun ke-tiga Rancak Production, sahabat Sarino bernama Fadli di Pasaman menghubunginya setelah melihat perkembangan pesat dari Rancak, Fadli menawarkan diri untuk membuka Cabang Rancak di Pasaman Barat. Tanpa pikir panjang Sarino langsung menyetujui kerjasama tersebut dengan menawarkan sistem bagi hasil.

Lengkap sudah anniversary ke tiga rancak. Punya dua cabang. Di Bandung dan Pasaman Barat.

Dalam perkembangan Rancak di Pasaman Barat juga diminati masyarakat setempat dan Pemda sana. Sarino menikmati betul kesuksesannya, dia tidak pernah sombong, selera humornya masih tetap mengalir lepas, sesekali Rancak juga menjadi donatur untuk event-event besar yang dihelat di Gunung Medan.
 
Sarino di pameran Rancak Pasaman Barat/dok. pribadi Sarino

Duit mengalir deras ke kantong Sarino dari dua penjuru. Jika datang telepon dari AA Dedi itu pertanda duit datang dari Bandung, jika yang menghubunginya Fadli siap-siap duit pasaman mengisi rekening.

Rancak juga sempat membuat project film bertemakan Tulang 8 Karek yang menjadi gambaran awal dari perjalanan Sarino di Pulau Jawa, film itu dibintangi oleh dua pemeran utama Rocky sebagai Harun dan Il sebagai Jamal. Trailernya bisa ditonton di sini. 

Film ini belum rampung, baru beberapa episode terhenti, dikarenakan pemeran jamal mengalami kecelakaan sepada motor.

dok. Rancak Production
“Insyaalah tahun 2017 Rancak akan membuka cabang di Padang atau Bukittinggi Bapak-Bapak” jelas Sarino saat mengisi pelatihan yang diadakan Pemda di Muaro Sopan Jaya disambut dengan “amin” secara serentak.

Sarino di tengah peserta pelatihan sablon/dok. pribadi Sarino
Lika Liku Asmara Sarino(*)

Kata orang dibalik kesuksesan seorang pria di belakangnya ada perempuan hebat.

Bagian terakhir cerita ini aku minta izin setengah mati kepada Mak No agar mau bercerita sedikit tentang perjalanan asmaranya yang penuh liku. Sebelum berangkat ke Pulau Jawa Sarino memiliki seorang kekasih sedari kelas II ponpes, kekasihnya yang satu ini sangat membantu Sarino dalam hal motivasi pengembangan karir.

Bahkan jauh sebelum itu, sejak Sarino masih luntang-lantung perempuan ini pula yang menjadi penyemangat di kala Sarino hidup tak jelas di jalanan, “Abang harus tahan banting, titik!” begitu bunyi pesan singkat yang dikirim oleh perempuan berinisial “Y” yang masih disimpan Sarino pada draft pesan singkatnya.

Sarino harus merasa bersalah kepada kekasihnya ini tatkala Rancak Production sedang naik daun ia memutuskan jalinan kasih dengan perempuan yang sudah merawat dalam suka dan duka dengan alasan “Sarino tidak bisa memastikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih sakral kepada si perempuan,” hancurlah hati si perempuan.

Satu tahun setelah itu ia kembali menjalin hubungan kasih dengan seoerang perempuan manis pekerja keras berinisial “D”. 

“loh, nakan bikin judulnya lebay, lika-liku asmaranya mana?” Tanya Sarino kepadaku saat aku harus mengetik bagian satu ini dengan hati-hati atas persetujuanya.

(*) Bagian terakhir ini merupakan obrolan dengan Sarino hari Selasa sebelum kembali ke Padang, paginya aku menyempatkan untuk bertanya ini.
***
Tanpa terasa obrolanku dengan Sarino berlangsung selama sepuluh jam. Hari sudah kembali Senin, pukul 08:00 WIB ponselku bordering ternyata masuk pesan WA dari dospem akademikku “Tugas semester pendekmu kapan akan diselesaikan Mich?” isinya, aku menunjukkan pesan ini kepada Sarino dengan tawa terbahak-bahak ia berceloteh “makanya jangan kuliah lihat rambutmu sudah rontok, seperti mamak aja jadi pengusaha hahaha” 

Sebelum izin undur diri untuk tidur pulang, Mak No memberikanku satu kaos berwarna kuning yang diambil dari dalam laci meja kerjanya bergambarkan “ini yang kamu suka kan?” aku terkejut Mamak. Buru-buru aku foto dia sebelum benar-benar beranjak pulang.


***

Dari Sarino kita bisa belajar bahwa untuk berhasil itu diperlukan kemauan yang keras, tekad yang bulat, dan tetap sayang kedua orang tua, udah.

***

*langsung dari Gunung Medan



0 comments:

Post a Comment