Monday, 20 February 2017

Sebuah Cerita Tentang Awi dan Mars Partai


Saya adalah anak muda yang jarang di rumah. Dengan status saya sebagai mahasiswa yang sok sibuk, ditambah dengan kegiatan-kegiatan yang tak berdampak apa-apa dan bisnis yang malah membuat kantong celana saya makin lama makin tipis, rasanya cukup itu semua dijadikan alasan untuk membuat saya jauh dari rumah.

womansway.ie

Saya tak menyesali itu semua, namun ada sedikit perasaan bersalah karena saya tak sempat mengikuti perkembangan adik-adik sepupu saya. Ya, adik sepupu, karena saya adalah anak bungsu dari anak-anak ibu dan bapak saya. Walaupun hanya adik sepupu, saya menganggap mereka semua seperti adik kandung sendiri. 

Saya punya adik sepupu yang paling kecil, namanya Awi. Dia baru kelas 3 SD. Saya selalu pulang ke rumah disaat dia sudah terlelap. Hanya di hari minggu saya bisa menghabiskan waktu bersama dia dan bicara apa saja. Mulai dari cerita begitu, cerita begana dan cerita begono

Minggu pagi dia sudah bangun, tentunya kita semua tahu bahwa hari minggu adalah hari kartun nasional. Semua anak-anak dengan senang hati menunggu tayangan kartun yang ada di televisi.  Saya jadi terkenang masa kecil saya yang dipenuhi tayangan kartun. Mulai dari Serial Doraemon, Sinchan, Dragonball, P-man dan lain-lain. 

Betapa indahnya masa kanak-kanak dulu, masa di mana hidup belum terbebani banyak hal. Belum terbebani bahwa menjadi sarjana adalah harga mati, desakkan pacar dan tuntutan hidup layak dari calon mertua, pikir saya. Ah maafkan jikalau cerita saya ngelantur kemana-mana. 

Baiklah, kita kembali ke cerita awi tadi. Saya menemaninya menonton kartun Doraemon, ketika sedang iklan, lagu sebuah mars partai ditayangkan di televisi tersebut. Alangkah terkejutnya saya ketika tahu bahwa adik saya hafal di luar kepala lirik dari lagu tersebut. Saya mencoba mencari tahu kenapa adik saya begitu hafal lirik dari lagu tersebut. Saya malah sempat curiga bahwa adik saya telah menjadi kader dari partai tersebut (Oh tuhan, maafkan kecurigaan saya).

Sekarang saya sudah menemukan jawaban kenapa adik saya begitu hafal lagu mars partai tersebut. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah karena lagu itu diputar berulang-ulang dan ditayangkan di televisi. Bukankah sesuatu yang diulang-ulang membuat kita mudah ingat terhadap sesuatu?

Ya, jelas sudah semua akar permasalahannya. Televisi yang seharusnya menjadi sarana edukasi untuk semua anak bangsa, kini berubah menjadi sarana kampanye penguasa demi kelancaran kepentingannya. Banyak ketakutan dalam diri saya ketika mengetahui apa yang tejadi ini, ketakutan saya menimbulkan banyak pertanyaan di dalam kepala saya. Saya jadi bertanya apakah adik saya hafal lagu-lagu nasionalisme lainnya? Atau malah yang lebih mengerikan, saya membayangkan ternyata adik saya tersebut tidak hafal lagu kebangsaan kita yakni lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman.

Saya masih beruntung ketika anak-anak masih diwajibkan oleh guru saya menghafal lagu-lagu kebangsaan seperti Tanah Airku, Ibu Kita Kartini,  Dari Sabang Sampai Merauke, Berkibarlah Benderaku dan sebagainya. Seandainya itu semua terjadi dan ternyata adik saya tak seberuntung saya, betapa berdosanya saya sebagai kakak karena membiarkan hal itu menimpa adik saya. Tentunya sebagai kakak, saya ingin adik saya tumbuh dengan wajar. Saya ingin adik saya bermain  layak sesuai dengan usianya dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang menyenangkan. Bagaimana mungkin adik saya yang baru seumur jagung  dipaksa secara halus untuk mengentaskan kemiskinan? Bagaimana mungkin adik saya yang baru berumur 8 tahun harus ikut ikut memikul beban agar Indonesia sejahtera dan maju? Biarkan saja ia bercita-cita menjadi dokter, pilot atau guru. Setelah dewasa dan memahami akar permasalahan, baru lah ia berhak memikirkan nasib lingkungan dan bangsa nya.

Bagi saya, adik saya cukup memikirkan PR matematika yang susah dari gurunya, adik saya cukup main sepeda dan bermain apa saja dengan kawan sebayanya tanpa harus pusing memikirkan makna yang ada di dalam lagu tesebut yang telah terpatri di dalam kepala anak Indonesia lainnya. 

Setelah kejadian tersebut, saya menjadi sadar bahwa tak akan mungkin bisa melawan televisi. Saya tak kuasa mencegah agar lagu mars partai tersebut tidak diputar di televisi. Sebab melawan dan mencegah hegemoni di media massa yang bernama televisi adalah hal yang mustahil. 

Kini, yang dapat saya lakukan adalah memberikan pendidikan kepada adik saya dan mulai mengajak adik saya tersebut untuk mendengar lagu-lagu lain yang sudah semestinya ia dengar. Seperti kata orang-orang tua, setiap masalah pasti ada hikmahnya. Hikmahnya tentu saja saya menjadi lebih dekat dengan adik saya. Semoga usaha saya ini tidak sia-sia!

***

Rio Jo Werry


Penikmat kopi, menuju wisuda, dan sedang memperjuangkan Andina

0 comments:

Post a Comment