Thursday, 23 February 2017

Sikap Arogan yang Dia Miliki Sepertinya Mulai Mengikis Rasa Kemerdekaan Saya

Saya sebagai manusia yang pada hakikatnya terlahir merdeka, memiliki kebebasan dalam memilih dan menentukan arah tujuan hidup bukan? Lalu tiba-tiba harus berhadapan dengan seorang yang berambisi membatasi ruang dan gerak hidup saya dalam menetukan sikap dan tindakan dalam memilih kepada siapa saja saya boleh dekat dan belajar. 


Sampai kini saya masih tidak tahu entah apa yang terbesit di dalam pikirannya, sehingga saya diatur sedemikian rupa untuk menentukan ilmu apa saja yang boleh saya dapatkan dan kepada siapa saja saya boleh mempelajari ilmu tersebut.

Masih terngiang di dalam ingatan saya, dia mengatakan bahwasanya dia adalah orang tua saya, tetapi setahu saya kedua orang tua saya, tidak pernah membatasi saya dalam menuntut ilmu dan kepada siapa saja saya boleh menuntut ilmu. Bahkan saya mau jadi apa dan kemana arah hidup sayapun, kedua orang tua saya tidak memiliki hak sepenuhnya dalam menentukannya.

Tetapi, ada apa dengan dia? Dengan suara lantangnya dan desah nafas yang begitu kuat dia mengatakan bahwa saya harus memilih apa yang baik menurut dia. Timbul pertanyaan pertanyaan di dalam kepala saya, apakah ini saya memang salah? Atau dia memang betul-betul benar? Ataukah salah saya hanya lantaran rasa sentimen dia dengan apa yang menjadi pilihan saya? aaah sudahlah, saya rasa hal seperti ini hanya bisa dijawab dengan suatu pembuktian. Sebab, kebenaran tidak hanya bisa diperlihatkan melalui sebuah perkataan. Dan sudah menjadi tugas saya untuk membuktikan kepada dia, bahwasanya apa yang saya pilih tidaklah salah.

Sikap arogan yang dia miliki sepertinya mulai mengikis rasa kemerdekaan saya. Rasa kemerdekaan yang telah diberikan Tuhan kepada saya dalam memilih jalan hidup saya mulai direnggut satu per satu olehnya. Seakan-akan dia adalah Tuhan baru di dalam kehidupan saya. Apakah ini yang namanya sikap memanusiakan manusia yang memiliki kebebasan dalam menentukan hidup.

Memang hidup butuh aturan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang benar, namun apakah aturan menjadi salah satu cara untuk membatasi ruang gerak kita dalam menuntut ilmu yang benar hanya lantaran kita memilih orang yang salah menurut pandangannya yang belum tentu sepenuhnya benar. Hmm, saya rasa bukan begitu, karena banyak ilmu yang bermanfaat disampaikan oleh orang-orang yang kadang memiliki kesalahan dalam beraspirasi. Tetapi apakah belajar melihat dari perspektif si penyampainya atau dari perspektif  ilmu yang disampaikannya itu salah?

Saya rasa pertanyaan ini perlu dilemparkan kembali kepada dia.

Kembali kita kepada hak yang telah kita memiliki sejak lahir, “merdeka”. Sepertinya hak ini seakan-seakan mulai menjauh dari kehidupan saya, apa lagi setelah saya mengalami tekanan dari dia yang saya ceritakan di atas tadi. Bahkan yang lebih saya tidak sukai, dimana kemerdekaan saya dalam menyampaikan aspirasi menjadi bahan olok-olokan dan gurauan canda tawanya yang menurutnya sangat menggelitik. Huuuft, saya tak mengerti, seperti apa dia memahami kemerdekaan dalam beraspirasi ?

Kemerdekaan yang kita miliki sejak lahir seperti kebebasan dalam memilih dan beraspirasi, setahu saya adalah salah satu hak yang mesti dihargai. Apa bila terjadi kesalahan mestinya dibenarkan tanpa adanya rasa sentimen dan keberpihakan kepada sesuatu hal yang belum tentu benar. Dan sejak kapan kebebasan dalam beraspirasi mejadi bahan cemoohan dan menjadi alat pembunuhan karakter.

Sepertinya hal ini menjadi kesadaran untuk kita bersama, supaya hal-hal yang menjadi problema dalam menentukan sikap dan pilihan yang didasari dengan kemerdekaan tidak menjadi konflik berkepanjangan yang mebuat hubungan kita sesama manusia menjadi rusak.

***
Rizki Rio Rahmat

Mengabdi demi cinta, cinta kepadaNya, cinta kemanusiaan, dan cinta ke alam semesta.

1 comment: