Friday, 3 February 2017

Ternyata Kami Tidak Cocok Tinggal di Kebun, Biarkan Saja Kami Mati dan Membusuk di Hutan

Beberapa hari terakhir kami menjadi sorotan jutaan pasang mata. Mulai dari mata orang-orang yang setiap akhir pekan melemparkan roti kepada kami, sampai kepada mata orang-orang yang sama sekali tidak kami kenal. Kami serasa telah menjadi selebritis saja.




Kami boleh saja bangga bisa dikenal oleh banyak orang. Siapa yang tidak mau jika saban hari mendapat perhatian. Tapi tunggu dulu, kalian harus dengarkan cerita kami. Siapa tahu kalian ingin menjadi tenar. Jika pun saat ini kalian meminta bertukar posisi, kami pasti akan menyanggupinya.

Dulu kami dikenal sebagai hewan buas, kami sangat gagah ketika berburu mangsa, bahkan ada yang bilang kami tak pantas bersahabat dengan kalian. Kalian akan menggigil jika berpapasan dengan kami, sebab daging kalian sangat gurih, dengan tulang yang lumayan rapuh.

Tidak hanya buas, kami juga hewan yang setiap jengkal badan punya harganya sendiri. Mulai dari kuku, tulang, rambut, hingga kulit. Di mata mahkluk yang sering menghitung harga seperti kalian, kami adalah sasaran empuk bukan? Sialnya, setelah kalian tahu kami berharga, kebuasan kami menurun drastis, taring-taring kami seolah melunak di hadapan kalian.

Kami insaf benar setiap jengkal hutan di negeri ini telah kalian telusuri. Tidak sedikit keluarga kami yang berakhir di kemurahan hati kalian. Ada yang menghiasi tembok-tembok, atau mematung di sudut ruangan keluarga kalian. Kepalang mujur kami menari-nari di panggung atau yang kalian sebut kebun, kemudian kami dilempari makanan, dan kalian bertepuk tangan bersama keluarga tercinta, kalian terpuaskan.

Bukan, tidak semua dari kalian yang memperlakukan kami dengan buruk, ada juga yang katanya peduli dengan kami. Mereka ingin melindungi kami, sebab saban hari jumlah kami semakin berkurang. Mereka memperbaiki habitat kami, menegur kalian yang mencoba menjahili kami, sebab kalian jenis mahkluk yang suka uring-uringan.

Entahlah, jika ada di antara mereka yang melindungi kami itu punya niatan buruk, entah itu menjual keberadaan kami, atau menguangkan apa saja yang katanya demi kami. Kami insaf itu, meski buas kami tidak bisa melindungi diri sendiri.

Kami dengar di tempat tinggal kalian, ada entah seorang atau semahkluk yang menjadi pemimpin, di tempat tinggal kami, ia disebut raja. Penjantan yang tangguh, berani menerkam jika melihat kesalahan. Ya, kami sangat patuh kepadanya. Sebab, kami tidak bisa melindungi diri sendiri, butuh sosok yang dapat kami anjungkan.

Beralih cerita, karena sebagian dari kalian menganggap kami langka, maka secara sepihak kalian memutuskan untuk membawa kami tinggal bersama kalian. Mungkin kalian berpikir kami semanis hewan berbulu sejenis kami, yang dapat kalian usap-usap, atau setiap kalian pulang berpergian ia akan sumringah menyambut kalian, bahkan ada yang tak segan-segan mencium kaki kalian.

Akhir rundingan, kalian mengumpulkan kami, dipaksa hidup serumah dengan hewan-hewan yang tidak kami kenal, entah baik atau penyebutun apa yang cocok, kalian menempatkan kami serumah dengan mangsa kami, tapi kami cuma bisa menghirup aroma mereka, sebab semacam urat besi kalian sematkan ke leher kami. Awalnya kami kiran kalian baik, tapi..

Kami mendengar kabar, sangkar yang kalian sebut kebun binatang, tidak hanya ada di tempat tinggal kami yang baru ini, tapi juga ada puluhan, bahkan ratusan. Mereka diperlakukan seperti kami, sebaik mungkin, bagi yang beruntung akan diajak berjalan-jalan ke tempat yang sama sekali belum pernah kami kunjungi.

Mungkin cerita buruknya hanya diperuntukkan bagi kami. Di tempat tinggal baru ini kami menjadi pesakitan, taring kami menjadi berkarat, kulit kami kering, tak ada lagi bulu halus yang menari ketika diterpa angin, tulang kami menonjol seperti ide cemerlang yang selama ini kalian percayai. Kami hanya bisa berharap pada kerendahan hati kaum kalian yang melemparkan kami makanan sisa remah santapan anak kalian.

Kalau sudah begini, kami hanya menunggu mati lalu membusuk. Jika kalian sudah tahu akhirnya akan seperti ini, mengapa tidak biarkan saja kami menjadi liar di hutan, jika pun kami nantinya mati akan mati saling serang, maka terimalah itu sebagai hukumnya.

***

Depitriadi

Tukang kabar yang mengabarkan kabar terkabarkan. Sedang belajar menulis cerita pendek (cerpen) anak. 

0 comments:

Post a Comment