Friday, 24 February 2017

Untukmu yang Mengaku Bergairah Atas Nama Cinta, Buatlah Sebaris Puisi dan Bacakanlah di Mukamu Sendiri

Bagaimana mungkin kita yang hidup pada hari ini tidak habisnya untuk tertawa. Dan paling menggelikan adalah orang muda yang juga gagal menjamin kemerdekaan hidupnya sendiri, ini bukan tanpa soal, kilas balik mengingat wajah mantan misalnya. Memaksa kita untuk bertindak bodoh dan takluk pada nalar sempit. Bahkan lebih sempit dari lapangan futsal. 

Bintang.com

Eh, seringkali kita hanya gemar mengomentari tanpa tahu konteks dari persoalan yang ada, tak juga mencari landasan berpikir logis pada tahap mengkritisi. Ini semua diakibatkan oleh mendakunya kaum muda yang sudah merasa hebat dan unggul dengan menghisap rokok elektrik di tangan. 

Sebuah tragedi memprihatinkan dikala orang muda sibuk bersolek di depan cermin. Tetapi telah lama juga lupa wajah rahim ibu pertiwi yang kerap memanggil-manggil dari ruang hening dan kelabu.

Kemerdekaan hanya baru dinikmati kalangan tertentu saja dan orang muda tak pernah sadar dan insaf! Bahwa hidupnya hari ini cuma kebagian hore demi hore.

Bukan hal itu sungguh yang jadi persoalan dan juga bukan lagi mendesak! karena hilangnya semangat untuk mendidik diri sendiri menjadi pribadi penuh kesadaran; kebebasan dan kemerdekaan! Luput dijadikan ruang kembali, membaca teks secara teratur melalui tiap- aksara. Orang muda nihil literasi! 

Bukan remah temeh, bila dibandingkan dengan komentar di media sosial saat ini. Menyikapi tingkah elite politik, kejadian sosial politik membuat mereka lupa untuk kembali mengeja pada apa yang disebut wahyu pertama yang turun; baca! Wabil khusus generasi milenial yang membosankan hidupnya!

Bagaimana mungkin mewarisi kebudayaan dan bangsa yang tak akan hancur bila 1000 dewa menyerang, badai revolusi tak ada sama sekali dirasa didegup jantungnya. Hati orang muda yang acapkali Hanya berani untuk meniduri perempuan pujaan, bukan berani bersikap dengan terang dan tegas; membangunkan kesadaran bahwa setiap individu wajib mencerdaskan kehidupan mantan. Eh, Kehidupan berbangsa dan bernegara tentunya. 

Belumlah kita peduli dengan petani tembakau. Dengan jumawa orang muda- yang rasanya tak mungkin merasakan perutnya dalam keadaan lapar. Membusungkan dada sambil tertawa lincah mengatakan. Ini vape rokok elektrik, kita akan sehat dengan menghisap rokok ini!!! Berhentilah merokok tembakau sekarang.

B*jing*nnnnn!!!!! Memang orang macam ini harus ditindak tegas, karena ternyata puberitas akidah tidak juga rampung. Oh meigot! Halal haram surga neraka tetap saja laris manis jadi dagangan. Cuih! Generasi menunduk yang jelas-jelas hanya merasa heroik untuk mencari pokemon! Mereka harusnya dikirim ke tengah samudera. Biarlah dia mati perlahan karena kelaparan barangkali juga jadi santapan hiu! Orang muda apa hanya diwarisi rengek manja sebuah dongeng sumur tua nan gelap. Tempat para Jenderal! Kedinginan jadi bahan drama sebuah film cuci otak. Dan masih kita bangga memelihara ketololan juga kepandiran diri sendiri dengan dongeng itu! Bagaimana nasibmu orang muda? Bagaimana bangsa ini berhenti untuk berselfie.

Iya baiknya begini saja; kalian orang muda yang mengaku bergairah atas nama cinta. Buatlah sebaris puisi dan bacalah keras-keras di mukamu sendiri! Hanya bisa merengek-rengek dan sok tahu! Mungkin memang daun tembakau yang kering karena matahari merah harus bisa mengatakan omong kosong rokok elektrik!!! Sekian.

***

Kojel Put On

Keseharian sibuk dengan status jomblo, juga jadi pelayan di kedai kopi. Pribadi hangat seperti matahari pas jam 12 siang, bercita-cita sederhana; bisa selesai jadi manusia merdeka 100%  Kebiasaan buruk: suka kangen sama mantan.

0 comments:

Post a Comment