Tuesday, 14 February 2017

Ya, Kita Harus Berkelahi Untuk Perdamaian, Lennon!

Senin, 8 Desember 1980 -- hari yang tragis bagi Lennon, seorang pria bernama Chapman telah mengakhiri hidupnya. Lorong pintu masuk apartment The Dakota menjadi saksi bisu bagaimana empat peluru menembus tubuh Lennon.

WallpaperCave

Lennon resmi dinyatakan meninggal di St. Luke Rosevelt Hospital, setelah beberapa upaya penyelamatan yang dilakukan tim medis tidak bisa mengalahkan kehendak tuhan (mati!).

Bak kepergian seorang pahlawan, kepergian Lennon diiringi isak tangis, dan penyesalan. Jutaan orang menghadiri upacara kremasi jasad Lennon di Ferncliff Cemetery, New York (10/12/80), mereka menjadi saksi saat tubuh ringkih itu menjadi abu.

Berbicara soal kepahlawanan, ya, John Lennon adalah pahlawan, setidaknya bagi mereka kelas pekerja, kelompok yang didiskriminasi, hingga generasi cinta damai yang sudah bosan dengan ganasnya perang.

"Power to the People"-teriaknya--di tengah ribuan massa yang menolak perang Vietnam.

Lennon menjadi juru bicara bagi generasi(nya), lewat musik ia berjuang. Bagi John bermusik tidak hanya sekedar mengejar kepopuleran dan limpahan materi, bermusik berarti melawan, memberontak, mengkritik dan bersuara.

Kau akan merasakan lelah berkelahi untuk perdamaian, atau kau akan mati" ungkap Lennon. Tidak disangka perkataan itu bertuah, Lennon merasakannya sekaligus, lelah dan mati untuk perdamaian

Ya, kita harus berkelahi untuk perdamaian, Lennon!

Untuk buruh kau ciptakan Working Class Hero "karena kita tidak akan bisa terus dibohongi dengan propaganda televisi, seks, dan agama".

Kepada tentara yang sibuk berperang kau pesankan Give Peace a Chance "berilah kesempatan kepada perdamaian, kita semua harus memberi kesempatan, kawan!"

Dan, "puji tuhan sekarang hari natal tinggalkanlah perang sejenak jika perlu akhiri" pesanmu dengan memegang poster bertuliskan Happy X Mass, War is Over (if u want it) bersama kekasihmu Ono.

Hingga di ujung kau akan berkata "Imagine"--- yang fenomenal itu, agaknya ini merupakan suatu gambaran puncak kelelahan Lennon berkelahi untuk perdamaian, hingga usaha terakhirnya hanya bisa bermimpi (menghayal) tentang dunia yang damai, tanpa ada perang atas nama agama dan negara, tentang manusia yang bersatu, tanpa ada kerakusan dan penghisapan sesama manusia.

"Imagine there’s no countries, it isn’t hard to do, nothing to kill or die for and no religion too. Imagine all the people living life in peace” cukup sepenggal lirik itu saja maka dunia akan menjadi lebih baik (dalam hayalannya).

Lennon, setelah lelahnya berjuang demi perdamaian akhirnya kau akan mati juga.

Di tangan penggemar yang berubah menjadi seorang penganut Kristen foundamentalis, dia kembali mempersalahkan ucapanmu yang sudah bertahun-tahun berlalu

 "The Beatles lebih populer dari Yesus"

Padahal semua orang tahu bahwa "memang banyak generasi zaman itu yang lebih memilih mendengarkan musik The Beatles daripada membaca kitab suci".

Ironisnya, kematianmu terjadi saat engkau sedang lelah berjuang mewujudkan mimpi akan dunia yang damai, tanpa harus ada yang mati atas nama (sentimen) agama.

Hari ini 9 Oktober ulang tahunmu, kau tidak lagi sendiri, triliunan manusia telah mempunyai mimpi yang sama denganmu: Perdamaian!

Imagine: "jika hari ini kau masih hidup tentu akan banyak lagi yang akan engkau suarakan untuk dunia".

Imagine masih di telinga "......you may say that I am dreamer, but i'm not the only one. I hope someday you'll join us and the world be will live as one" bagian lirik itu menandakan bahwa lagu Imagine akan segera berakhir.

***
Michael Jarda

0 comments:

Post a Comment