Tuesday, 7 March 2017

Alam Pertanggung Jawaban Penampilan

“Apa ini? Apakah ada yang salah dengan mata ku, mengapa semuanya gelap, tidak. Tidak mungkin, tidak mungkin aku mati, ini hanya mimpi kah? Akh! Aku masih bisa merasakan sakit, berarti ini bukan mimpi. Halo? Permisi? Ada orang kah? Tolong di nyalakan lampunya. Cahaya? Benar itu cahaya, halo? Permisi? Mas? Mbak? Bisa bantu saya? Ini dimana?”.


pikiranrakyat.com

Tempat ini sangat menakutkan, aku bersumpah ini bukan mimpi, apakah kau tidak merasakannya? Gelap, dingin, tidak ada satupun suara di dalamnya. Seingat ku sebelum aku berada di sini aku hendak menuju kota dengan sepeda motorku, tetapi entah mengapa aku bisa berada di tempat antah berantah ini. Aku masih mengenakan pakaian yang sama, celana kampak dan flanel hadiah ulang tahunku, tetapi ada yang aneh dengan pakaian ku, mengapa seperti ada bekas lumuran darah. Sepertinya cahaya ini menuntun ku pada suatu tempat.

“Hei kau yang disana?” Aku melihat seseorang, sepertinya dia penghuni tempat ini.
“hei? Kau tahu kita ada dimana?”
Ada yang aneh dengan pria ini, dia kelihatan tampan, wajahnya mulus, maskulin seperti di operasi beberapa kali. Aku tidak yakin kalau pria ini manusia, tapi dia menyentuh tanah, berarti dia manusia.

“Kau tidak sopan sekali anak muda, berani-beraninya kau berbicara seperti itu”
“Maaf om, saya lupa menyapa dengan hormat, saya langsung saja bertanya”
“Bukan itu maksudku, kau lebih tak sopan lagi, tak sedikitpun kau mengenali wajah dan penampilan ku?”

Apa-apaan pria ini, memangnya dia siapa, aku tidak pernah berjumpa apalagi berkenalan, artis juga bukan menurutku, tidak pernah muncul di televisi. Wajahnya yang maskulin lebih mirip seorang transgender, hanya saja pakaiannya cukup nyentrik, celananya juga kampak, seperti yang aku kenakan. Ah, mengapa aku harus bertemu pria seperti ini di tempat yang menyeramkan ini.

“Saya sedang tidak ingin bergurau Om, saya tidak tahu tempat ini, jadi bisakah Om bantu saya keluar dari tempat ini, disini dingin sekali”
Hahaha, kurang ajar sekali kau!”

Seketika bunyi petir berkali-kali terdengar yang entah dari mana datangnya, langit pun tak ada. Tempat ini semakin menyeramkan, tidak ada angin, tetapi dinginnya begitu menusuk kedalam tulang hingga menyentuh nadiku. Aku semakin takut, terlebih dengan pria maskulin ini, matanya yang biru berubah menjadi merah penuh amarah.

“Kau akan menerima hukuman yang begitu menyakitkan bocah tengik! Kau tidak mengenaliku dan kau sungguh menjijikkan”
“Ben! Ben! Cobaiiiiiin! Cepat kesini dan bawa gitarmu, hantam wajah bocah tengik ini sekuat tenagamu layaknya kau di atas panggung!”

Seketika seorang pria muncul dari belakang, menghantam kepalaku dengan keras dan itu sangat menyakitkan. Sangat jelas terasa bahwa yang menghantamku bukanlah tangan, melainkan benda keras, sepertinya gitar. Tepat dibagian telinga kanan ku, pria itu menghantam dengan sekuat tenaga hingga membuatku jatuh, bahkan aku tidak bisa merasakan isi dari kepalaku.

Aaaaaah, Kampret, aaaah sakit, sakit, apa yang kau lakukan? Apa salahku?”
“Ternyata kau bisa juga menangis bocah angkuh. Hahaha!”

Aku tertunduk, dengan posisi berlutut, pandanganku masih buram karena hantaman yang tepat dibagian telinga ku, aku merasakan ada kaki yang mendekat ke arah ku, tepat di depan ku, dan aku masih tertunduk.

“Jadi ini dia makanan kita hari ini, bocah angkuh, tengik, ingusan, wajahmu cukup keliatan baik, tetapi angkuhmu berlebihan, menutupi keluguan mu”

Aku mendengar dengan samar suara seseorang yang baru saja mendekatiku, sepertinya dia baru saja datang, aku melihat kakinya tetapi tidak mampu menatap ke atas untuk melihat wajahnya, aku hanya mendengar si pria maskulin memanggilnya dengan sebutan “Jimmy”.

“OhJimmy si hitam manisku, sepertinya kau tidak sabar memberi hukuman bocah ini, berikan dia permainan yang terbaik Jimmy!”

Belum sempat aku mengangkat kepala, sebuah benda menghantam kepalaku lagi, kali ini tepat di bagian kepala belakangku dengan posisi yang masih berlutut. Pria hitam itu memukul sekuat tenaganya hingga membuat aku bergeser ke arahnya dan semakin membuat ku lebih berlutut lagi. Sakitnya tak tertahankan, aku membayangkan sebuah penyiksaan di dalam penjara layaknya film-film action yang aku tonton dan kali ini aku merasakannya dengan jelas. Bagian leher belakangku terasa dingin, seperti ada air yang mengalir, aku mulai menduga bahwa itu adalah darah akibat hantaman si pria hitam.

“ Bocah tengik, ibu mu kah yang membelikan mu celana ini? Ibu mu kah yang menyuruh mu berpenampilan sekeren ini?”
“Aku yakin tidak Jimmy, jika ibunya yang membelikan mungkin saja telah kita ampuni bocah ini”
“ Bagaimana bisa kau berpenampilan seperti ini bocah? Jawab aku!”

Aku sudah tidak sanggup lagi menahan penyiksaan yang mereka lakukan, aku berniat menuntut mereka jika setelah ini aku tidak mati karenanya. Dengan kondisi yang setengah sadar, hantaman demi hantaman terus aku terima, mata ku lebam dan hanya dapat melihat seadanya.

“Apa pentingnya semua itu? Kalian ini hanya pria-pria tua yang tega menyiksa orang lain, aku mendapatkan pakaian ini dengan uang ku sendiri, setelah aku melihat akun-akun di media sosial, kalian tidak tahu media sosial? Instagram? Facebook? Tidak? Sudah ku duga”.
“Kurang ajar bocah ini! Beraninya kau berbicara dengan kami seperti itu, selagi kau masih berada di alam pertanggung jawaban penampilan, kau akan kami buat merintih kesakitan hingga sakit mu terdengar sampai ke bumi, hahaha!”

Si pria maskulin selalu saja memberikan perintah kepada Jimmy dan Cobain untuk menyiksaku, mereka mengatakan bahwa ini alam pertanggung jawaban penampilan, sebuah tahap yang harus aku lewati sebelum malaikat-malaikat menguji keimanan ku, aku tersentak dan tersadar bahwa aku telah mati ketika menuju kota, ini penyiksaan ringan, penyiksaan berat setelah ini, ketika para malaikat menanyakan siapa Tuhanku. Penyiksaan terus saja berlanjut, hingga seorang pria datang dengan cahaya yang begitu terang.

“Sudahlah Elvis, jatah mu telah selesai, berikan pada dewa yang mati di zaman milleneal, biarkan mereka yang menyelesaikannya, semoga setelah ini dikehidupan yang lain selera bocah ini selaras dengan penampilannya”

Aku mendengar dengan jelas suara pria itu begitu tenang dan halus, cahayanya bersinar terang, aku menatap ke arah wajahnya, sepertinya familiar dengan kaca mata bulat dan hidung mancungnya, Dia kah yang pernah menyuarakan perdamaian? Kali ini aku mengenalinya, karena hingga sebelum aku mati selalu saja ada anak muda yang mengagumi pria itu, tak lekang oleh waktu, hal se-mainstream seperti itu tidak mungkin aku tidak tahu dan tidak mengenalinya. Lenon, Jhon Lenon!

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Mariyos Alam Fajisra sebagai pemenang.



Mariyos Alam Fajisra


0 comments:

Post a Comment