Wednesday, 15 March 2017

Antara Jihad, Singgalang dan Permata Biru

Maklum, sebagai karyawan swasta saya tidak punya harapan yang terlalu tinggi, cukup dapat kerja layak, rumah layak, istri layak dan anak juga layak. Layak dalam kamus Bahasa Indonesia memiliki makna wajar, patut, pantas. Tentu kelayakan itu harus cocok dengan keadaan saya saat ini, rasanya tidak mungkin juga saya memimpikan sesuatu di luar kemampuan, saya hanya karyawan swasta, punya impian rumah besar lima lantai, taman yang luas, kolam renang di dalam rumah dan satpam enam orang, ditambah lagi istri secantik Cinderella, punya sepatu terbuat dari kaca, hingga semut kecil bisa bercermin disana, rasanya tak mungkinlah ya…!


Saat ini saya tinggal di rumah sederhana, punya 5 kamar di bawah, 1 kamar di tingkat atas, kolam ukuran 2x1 di depan, pekarangannya cukup buat saya menanam sayur, terung, dan kacang panjang. Kolam saya isi Gurami 30 ekor, mati 11 tinggal 19, saya tambah Lobster 20 ekor, saya sup 14 ekor tinggal 3 ekor, supaya menjadi heterogen kayak penghuni Kota Padang saya masukan ikan Puyu 2 ekor, Puyu ini tidak mati-mati, karena memang ikan puyu ini jenis ikan yang paling susah matinya.

Oiya, saya lupa menyebutkan di mana alamatnya. Tepatnya saya tinggal di Komplek Permata Biru Blok C1 di antara Komplek Jihad dan Komplek Singgalang. Satu komplek bersama dosen waktu saya studi di Universitas Muhammadiyah Sumbar dulu, dosen yang sangat saya kagumi, sebelah kanan rumah Pak RT yang terbilang perhatian sama warganya, di gang belakang ada rumah istri teman saya Wanda Romansa dan sebelah kiri kami beda Negara, dia masuk Komplek Singgalang. Nah, di Komplek Singgalang ini juga ada salah satu rumah istri teman seperjuangan saya, namanya Yogi Yolanda. Teman berdua ini telah sepakat di atas segala kesepakatan mengangkat saya secara demokratis menjadi ketua RT untuk kami bertiga. Sssstt…jangan sampai Pak RT di sebelah tahu...

Sobat, saat membaca judul di atas, terlintas dalam tulisan ini menceritakan Jihad Fiisabilillah, naik Gunung Singgalang kemudian mendapat permata. Tidak sobat, saya mau menceritakan fenomena-fenomena hidup di komplek. Misalnya, kehidupan di komplek individual, lho siapa, gue siapa, dan bebas. Jika pesta jalan satu gang ditutup, musiknya keras selama 2 hari 2 malam. Memang semuanya ada benarnya, tapi ada juga salahnya. Soal persaudaraan contohnya, lebih bersahabat di komplek, sering saya lihat dan perhatikan warga saling senyum, menegur dan mengingatkan. Terutama kepada saya, soalnya anak saya yang baru berumur 2 tahun pernah hilang dan ketemunya di Masjid Komplek setelah diumumkan oleh petugas masjid. Tentang pesta juga demikian, anak saya senang hatinya jika ada musik, Naya panggilannya asik menggoyang-goyangkan badannya saat mendengar alunan musik, jadi kami tidak merasa ternganggu, tidak tahu kalau warga lain.

Ekspektasi orang terhadap komplek adalah tempat tinggal bagi orang modern yang banyak aktivitas, sebagian besar pekerjaannya adalah pengusaha, karyawan swasta, PNS, pedangang dan profesi lainnya. Walau jam kantor mulai pukul 08.00 s/d 16.00 WIB rata-rata, namun dia mulai meninggalkan komplek pukul 06.00 WIB dan sampai di rumah pukul 20.00 WIB paling lama. Maka waktu tersebut menjadi dasar sebagian pedangang keliling untuk meraup rezeki dengan cara jualan di sekitaran komplek.

Didasari itu juga, komplek menjadi lokasi dimana seluruh penghuninya disuguhkan semua kebutuhan sampai di depan pintu, maka sering kali kita melihat para pedagang keliling berkeliaran di sekitaran komplek. Jenis dagangan yang dijual berbagai macam ragam, mulai dari alat kebutuhan dapur, memasak, penjual lontong, soto, sate, nasgor, kue putu, es buah, palai pada, gas, roti, bakso, dan bibit bunga.

Di komplek saya misalnya, pedagang yang pertama masuk adalah penjual lontong gulai, penjualnya seorang Ibu paruh baya, usianya kalau diterka +45 tahun, dengan menggunakan gerobak dorong, ibu itu bisa membawa dagangannya, lontong gulai, gorengan, kerupuk dan lainnya. Suara indahnya akan terdengar mulai pukul 06.30 WIB s/d 08.00 WIB di sekitaran komplek

….lonnnnntooooooooooang guuuulaiiii…………itulah kedengarannya. 

Di sisi lain, pada kisaran jam yang sama, warga komplek akan mendengar suara nyaring dari pedagang isi ulang gas, berkeliling menggunakan mobil Datsun Tua warna merah, tabung gas yang dijual ukuran 3 Kg dan 5 Kg warna biru dengan setianya mengililingi komplek……..gas…isi ulang gas………terdengar tawarannya.

Saat hari mulai beranjak naik, sekitar pukul 10.00 WIB, pedagang selanjutnya adalah penjual ikan. Seorang perempuan, dengan setianya dia mendatangi rumah demi rumah, ikan yang dijual dibawa dengan menggunakan baskom (bejana), ibu itu juga membawa sepotong papan untuk digunakan sebagai landasan memotong ikan dapat kita beli sesuai kebutuhan, bahkan satu ikan bisa untuk 5 orang, si ibu akan memotong ikan sesuai permintaan pembeli, dan sudah dalam kondisi bersih. Iiiiiiiiikannn guuuulai..………….eh salah, itulah kadang kami jadi salah dengar, apakah yang lewat itu pedagang ikan atau penjual lontong gulai, dengan suara lembut dia menawari ikan kepada warga komplek, beli ikan buk? Lah ba ikan pak? Biasanya penjual ikan ini tidak satu orang saja, ada banyak dan selalu datang bergantian, datang dan menawarkan ikan dengan caranya dan seninya masing-masing. Itu berlangsung sampai pukul 13.00 WIB.

Pukul 13.00 WIB, dimana waktu pedagang palai bada masuk, dari kejauhan suara lantangnya sudah terdengar. Penjualnya seorang anak muda, mengendarai sepeda motor warna merah, balai bada dagangannya itu dimasukan ke dalam kotak ukuran 60 cmx30 cm yang diberi kedudukan di belakang motor, suaranya yang keras, membuat dia terpilih menjadi pedagang yang paling mudah diingat dan ditunggu kedatangannya.

Paaaalai…….Badaaaaa…….pas kata “bada” nya, dia teriakan seperti orang marah, ‘ba’ nya agak pelan,,,’da’ nya sangat keras.

Selesai waktu tayang penjual palai bada, pedagang selanjutnya silih berganti, tidak ada yang terlalu spesifik, kadang penjual es buah, es krim, sari roti, bunga, dan pendatang baru mencoba pertaruhan di sana, namun tergantung yang dijual, sejauh mana itu dibutuhkan oleh warga komplek. Ini berlangsung sampai pukul 16.00 WIB dimana jam kantor berakhir dan penghuni kemplek kembali dari tempat bekerja.

Matahari mulai tenggelam, penghuni komplek sudah kembali, waktu ini dimanfaatkan oleh pedangang ikan, targetnya adalah warga yang berprofesi sebagai karyawan kantor membutuhkan ikan, yang tidak sempat membelinya atau stok di kulkas sudah habis. Si ibu penjual berbeda dengan ibu yang pagi, yang ini gigih. Menggunakan gerobak dorong, dia masuk gang keluar gang menjojokan dangagannya, yoooo…..ikan………, di atas gerobak terdapat fiber frestea warna hijau sebagai tempat pendigin ikan. Saya tidak tahu, si ibu dapat ide dari mana, biasanya fiber frestea itu digunakan untuk pendingin minuman, ehh malah dia gunakan untuk pendingin ikan jualannya. Jam tayang si ibu 18.00 s/d 19.30 WIB, waktu yang sangat kasip dan sensitif, dimana penghuni komplek sedang melaksanakan ibadah mahgrib. Semoga si ibu bisa transit di masjid dan melanjutkan perjuangannya setelah menunaikan Sholat Maghrib.

Hari semakin gelap, langau sudah berganti nyamuk, pedangang Batagor sudah standby di lokasi biasa mangkalnya, di jembatan antara komplek Permata Biru dan Singgalang. Dia tidak hanya menjual Batagor, tetapi juga tahu isi. Sambal buatannya menarik selera, pembeli bisa berkehendak, mau manis atau pedas, tinggal sebut, langsung jadi. Maka tak jarang orang harus antri untuk mendapatkannya. Kita bisa beli Rp. 2.000,-, 3.000,-, karena satu potongnya dibandrol Rp. 1.000,-. Namun ada yang menarik jika Batagor ini dimakan langsung di sana, kita dipaksa “Batapuak” saat menikmati, karena nyamuk mulai mengigit, karena tempatnya terbuka. Penjual Batagor ini berlangsung cukup lama, mulai pukul : 19.00 s/d 23.00 WIB. Jika sobat ingin mencobanya, silakan datang ke Permata Biru pukul 19.00 WIB di dekat jembatan kecil, namun setelah pukul 20.00 WIB posisinya akan pindah ke depan Masjid Alfi Sahrin sampai pukul 23.00 WIb, di sana menjadi pusat perkumpulan pedangang malam.

Malam terus berjalan, warga kemplek kembali disuguhkan dagangan Sate, Nasi Goreng, Kue Putu, mereka datang silih berganti, masuk gang keluar gang, kadang terasa dia tidak beranjak dari tempatnya, tapi kiranya sudah berganti. Pedangang Kue Putu, sangat mudah kita kenali jikalau lewat, bunyinya yang khas seperti orang menghembus puput tanpa berhenti, langsung kita tahu bahwa itu adalah penjual Kue Putu. Pemasaran Kue Putu sepertinya tidak akan pernah mengalami peningkatan dan modernisasi, seandainya Kue Putu dijual pake mobil, atau honda, atau yang lainnya, maka suara khas puput akan berganti, harga Kue Putu juga menanjak naik, lobang puput harus dibesarkan, suaranya jadi keras, cetakannya juga besar, bisa jadi, asap yang keluar seperti cerobong Pabrik Semen Padang. Belum lagi putunya yang besar, ini kita lihat dari sisi khasnya ya, kalau dari sisi putunya bisa diinovasikan lah, misalnya membuat putu dengan berbagai macam rasa dan warna yang alami. Nah, penjual Putu ini lewat berkisaran jam 21.00 WIB, 22.00 WIB dan kadang juga sampai 23.00 WIB.

Beda juga dengan penjual sate, bunyinya pake suara terompet, biasa digunakan oleh pedagang es, itu yang dipakai  penjual sate, lalu bagaimana cara membedakannya? Mudah saja sob, kalau bunyi es siang itu beneran penjual es, tetapi kalau malam, itu artinya penjual sate yang lagi lewat….O et..Oet…Oet…… maka penjual sate, penjual Batagor dan Kue Putu, biasanya mereka arisan dulu sebelum pulang di depan Masjid Alfi Sahrin untuk sekedar berceloteh melepas penat sejenak sebelum kembali ke rumah masing-masing membawa hasil jerih payah hari itu.

Komplek tampak lengang itu bukan berarti mati, penjual datang, untuk sekedar mencari rezeki. Keunikan dan ciri khas para pedagang mewarnai kehidupan komplek, mereka datang mengantarkan semua kebutuhan penghuni komplek dengan hati senang.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Ilham sebagai pemenang.

Ilham

Senang berpetualang, peduli terhadap sesama, hampir semua bencana di Sumbar turun membantu dengan cara yang berbeda. Aktivitas sehari-hari Dosen di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. 

0 comments:

Post a Comment