Sunday, 26 March 2017

Berteman dengan Kalian, Adalah Anugerah Terindah Dalam Hidup di Tanah Rantau

Pagi di waktu itu, aku memandangi lingkungan kost sekitar tempat tinggal, aku memperhatikan semua masih sama seperti kemaren, hanya saja mungkin rumput yang makin tumbuh subur karena tak pernah dibersihkan oleh tuannya. Satu persatu aku amati dengan teliti semuanya masih saja sama, hewan peliharaan aku masih juga dengan semangat menyambut tuannya ketika kamar kost dibukakan. Upiak dan Tengkai namanya, dua ekor anjing lucu, riang dan senang bermain. Siapapun yang datang walaupun dia orang baru hanya dengan memanggil namanya Upik, maka secara naluriah seekor anjing akan ramah dengan tamu tuannya.

Temukan kami dari delapan orang yang penuh ekspresi di foto ini 

Tetapi ini tentu sangat berbeda dengan teman dan sahabat aku, gak tahu pasti kapan kami berteman atau menyebut diri sebagai teman bahkan sahabat. Sebut saja inisialnya Rio jo wery atau yang biasa kekasih hatinya memanggil dengan julukan Aliando dari Lubuk Minturun, dengan cita-cita sederhana ingin jadi artis, tak terkenal di Indonesia di Padang pun tak jadi soal yang penting artis. Artis YouTube. Bercanda teman, aku berdoa yang terbaik untukmu, kalau dikabulkan oleh yang punya kuasa.

Ada banyak julukan yang lahir dari teman dan sahabat aku yang satu ini, jika di kampus memiliki julukan khusus di mata dosen dan kawan-kawan kampus, jika di luar dia menjuluki dirinya pakar perjombloan namun tak pernah memberikan solusi dari teman-temannya yang berstatus jomblo, mentang-mentang punya cewek dia. Hidup dimaknai kopi dan cerutu itulah pelepas dahaga dalam hidupnya ketika menstrim dibuyar dengan peneknya membaca dan menulis untuk membesarkan “godok dengan malas’. Itu nama Web kami.

Namun uniknya kalaupun aku mencari dia tanpa kabar, nomor handphone gak aktif ada solusi untuk mencari atau menemukan dia, tinggal hubungi pujangga hatinya, sebut saja namanya andhina, ya itu namannya. Dua sijoli dengan membangun cinta yang sederhana namun diisi dengan hal-hal positif. Layaknya sebuah kopi tanpa rokok, itulah mereka sepaket. Andhina aku kurang tahu pasti namanya, maaf teman tak bermaksud melupakan namamu yang susah untuk diingat. Dia lahir dari Timur, besar dari timur, namun tak tahu apa alasannya dia merantau jauh ke tanah Minang, sebut saja kisahnya “wanita Timur kepentol pria Minang”. Ya itulah dia, dengan hidup selalu riang gembira, senyum, ramah, baik, empati, mudal bergaul, apa lagi coba, “sudahlah kebanyak takutnya keGRan, tapi itulah intinya dia baik.

Lengkaplah sudah kami berteman dengan seorang alumni yang dituakan, sebut saja namanya, tunggu biar sopan panggil bang Depitriadi, lelaki baik dan tak pelit ilmu dari Lubuk Basung, lebih tepatnya mungkin silakan tanyain ke orangnya. Bila bercerita akan sedikit kisah hidupnya, mungkin pria sederhana dengan semangat yang jauh berbeda dengan kata sederhana, semangat tinggi, kalau diibaratkan level kepedasan cabe dia paling puncak. Bila mencoba mengingat kapan dan dimana berkenalan dengan dia, aku sudah melupakan itu. kemungkinan ketemunya ketika diskusi, tapi gak tahu diskusi apa. Kenalan dan akhirnya akrab dan lebih akrab. Ya begitulah, yang penting dia baik.

Namun yang paling lucu dari abang aku yang satu ini, "mungkin aku berkeinginan bisa menikahi kekasihku, atau berkeinginan lain yang nantiknya membawa satu perubahan dalam hidup," tapi tak tahu kenapa dan apa alasannya abang Depitriadi ini hanya punya satu ke inginan dan itu selalu dipajang disetiap akhir tulisan yang dia buat. hampir setiap tulisan. Berharap bertemu Damhuri Muhammad. Aku gak tahu pasti gimana kalau dia sempat bertemu dengan idola gelapnya ini, suatu saat pasti akan aku tanyakan, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat, hahahaha. Namun aku banyak belajar dari dia, dari cara berteman, memaknai hidup dan sampai pada belajar menulis, hanya saja aku belum bisa membantu dia untuk bertemu sang idola sejatinya. Damhuri Muhammad.

Untuk melengkapi cerita ini, aku adalah salah satu teman dari tiga teman yang aku ceritakan tadi, lahir di Mentawai dengan nama yang lumayan pendek untuk diingat Jobel Rifi Dasasius Samaloisa. Banyak orang berkata kampungku adalah pusat gempa, tapi warganya gak pernah takut dengan isu koyol menggelitik itu, agak sombong. Jika kami lagi duduk bersama atau duduk berempat membahas tentang Godok.id, aku sering disebut pemilik Mentawai. Padahal bapak aku tak punya tanah di Mentawai, orang kaya mentawai tapi hidup tunggang langgang di rantau orang, namanya juga canda pelepas tawa. Ya itulah cerita canda dan derita kami. Salam hangat dan ucapan terimah kasih dari kami atas semangat kolektif kawan-kawan dalam membangun Godok.id.
*** 

Jobel Rifi Dasasius Samaloisa

Yang punya Mentawai dan orang kaya di Mentawai, konon kata mereka, aku si gak yakin.

0 comments:

Post a Comment