Friday, 3 March 2017

Delapan Belas Petunjuk Praktis Menyantet Mantan Pacar

ADA DELAPAN BELAS petunjuk praktis yang akan kusampaikan padamu tentang bagaimana cara menyantet mantan pacarmu dengan sukses, hingga nantinya riwayat hidup mantan pacarmu akan berakhir dengan perabotan dapur keluar dari mulutnya. Coba bayangkan, ketika mantan pacarmu tengah bersenda-gurau dengan pacar (baru)nya di Taman Muaro Lasak sambil menyedot nikmat daging binatang paling menyedihkan, Langkitang, tiba-tiba ia akan tersedak, batuk, dan kemudian dari mulutnya berhamburanlah busa pencuci piring. Atau, ketika di sebuah upacara akad nikah ia sedang berbunga-bunga karena sebentar lagi calon suaminya selesai mengucapkan ijab qabul dan ia akan resmi menjadi istri seseorang, ia mendadak tersedak, batuk, dan kemudian dari mulutnya mengalirlah minyak goreng tak henti-henti. Aduhai sekali, bukan? Tentu! Tapi, tunggu.


Petunjuk-petunjuk yang akan kusampaikan padamu adalah petunjuk praktis yang benar-benar akan dengan mudah bisa kaupelajari; yang kau butuhkan hanya niat yang lurus dan fokus: demi menyantet mantan pacarmu. Oleh sebab itu, karena siapa pun bisa menggunakan petunjuk ini, terlebih lagi nantinya setelah sukses menyantet mantan pacarmu kau punya peluang untuk membuka jasa santet daring, aku akan mengajukan satu syarat: jawablah pertanyaan-pertanyaan yang bertebaran di bawah ini dengan jujur; sejujur banderol harga deodorant di swalayan. Jika jawabanmu lebih banyak “pernah” daripada “tidak pernah”, selamat, kau orang yang berhak mencoba langsung salah satu petunjuk praktis paling dicari sejak masa Adam dilemparkan ke bumi sampai Boy Candra menjadi idola.

Baiklah, untuk memudahkanmu, aku akan menyajikan tiga ilustrasi dan jika kau mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi di dalam ilustrasi, jawablah dengan segera.

Satu

Sudah tiga hari Ivan tidak makan dan inilah hari ketiga ia terus-terusan menghajar nomor ponsel pacarnya dengan satu-pernyataan-dua-kata: Maafin aku.

Tiga hari yang lalu, pada sebuah malam yang abu-abu, Ivan mengunjungi kontrakan pacarnya dengan sebuah niat baik: memberikan kado ulang tahun. Di tangan kirinya tergenggam sekuntum mawar putih yang sudah ia semprot dengan parfum miliknya dan di tangan kanannya tergenggam erat sekotak martabak. Selain itu, ada sekardus kecil buku kumpulan sajak yang tersimpan di dalam tas punggungnya. Kumpulan sajak itu, kautahu, adalah buku-buku kumpulan sajak miliknya yang berisi sajak-sajak cinta berdaya ledak tinggi yang ia tulis demi perempuan pujaan hatinya itu semata.

Ivan berhadap-hadapan dengan pintu kontrakan pacarnya. Di dalam dadanya, jantung berdebar tanpa irama. Minyak kemiri yang ia balurkan ke sekujur helai rambut mulai menampakkan sifat aslinya yang tak bersahabat. Bismillah, katanya, dan kemudian mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Ia menunggu sahutan dari dalam namun tak terdengar gema apa pun. Ia mengulang lagi mengetuk pintu tiga kali, namun kali ini disertai ‘assalamualaikum’ dengan irama yang bersahaja. Lagi-lagi tak terdengar apa pun. Ia mulai gelisah, ditambah sebuah kondisi yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun kecuali padaku: perutnya sangat mulas dan tanpa ia bisa kendalikan beberapa kuntum mencret telah berhamburan di celananya.

Dengan kondisi harapan yang tertahan di dadanya dan minyak kemiri di rambutnya yang semakin kurang ajar dan perasaan kesal karena kado membahana yang ia siapkan nyaris sia-sia, didukung oleh mencret yang semakin menembak dengan membabi buta, ia menghajar pintu kontrakan pacarnya dengan ketukan yang setempo dengan Flying of Bumblebee dan diiringi dengan menyorakkan nama pacarnya dengan nada tinggi berulangkali. Begini kira-kira bunyinya:
DAR! DAR! DAR! EMILLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL! DAR! DAR! DAR!
EMILLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL! DAR! DAR! DAR!
EMILLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL! Begitu terus berulangkali dengan ketukan yang stabil selama lima belas menit. Tapi, bukan perempuan yang disebut namanya itu yang menampakkan diri, melainkan sekelompok pemuda setempat dengan muka yang seakan tak pernah bahagia sejak dilahirkan yang
datang. Celaka.

Begitulah mengapa akhirnya Ivan menelepon pacarnya dan mendapatkan sebuah fakta bahwa pacarnya sedang tidak berada di kontrakan karena mesti bersenang-senang dengan teman-temannya di puncak gunung, dan, tololnya, perempuan itu sudah memberi kabar kepada Ivan dari jauh-jauh hari.

Kau pernah seperti Ivan?

Dua

Bagaimana jika seorang perempuan dari masa lalumu adalah juga perempuan yang akan selalu menguntit sampai ke masa depanmu? Sedap? Tunggu dulu. Bagaimana jika ia justru menguntitmu agar kau selalu gagal menjalin hubungan dengan perempuan lain? Tidak sedap? Tunggu dulu. Sore ini Ivan mengirimiku pesan singkat dan dua menit kemudian meneleponku. “Bang,” sahut Ivan dari seberang. “Balaslah sms-ku.”

“Bagaimana aku bisa membalas kalau kau justru menelepon ketika aku mengetik balasannya.”

Kemudian sambungan terputus. Maka kubalas pesan Ivan: BABI, KENAPA CUMA GARA-GARA BENSIN HABIS KAU MALAH NANGIS?

Sudah dua belas bulan lebih sedikit Ivan melupakan Emilia dan mulai gemar merayu Listia dengan kiriman fakta-fakta lucu dunia yang dia kutip dari akun @WowFakta di Twitter. “Ti,” kata Ivan suatu kali dalam sebuah percakapan di BBM, “ternyata di dunia ini tidak cuma ada satu matahari.”

“Lho? Abang baru tahu?” Balas Listia. “Di Padang memang cuma ada satu. Tapi di Bandung ada lebih dari tiga. Di Jakarta malah lebih banyak. Sebab itu di dua kota itu jam 6 pagi sudah lebih terang dibanding di Padang.”

Itu salah satu contoh dan contoh-contoh lainnya masih bisa kusebutkan jika saja hubungan antara Ivan dan Listia masih semesra itu semenjak kedatangan Emilia untuk kedua kalinya dalam kehidupan Ivan. Perempuan yang menurut Ivan mempunyai mata setipis senja itu akhir-akhir ini menjadi sering menghubungi Ivan dan kemudian mengajak jalan. Ivan akan girang bukan kepalang jika ajakan itu hadir dua belas bulan yang lalu, saat ia masih meletakkan perempuan itu di urutan kedua orang-orang yang ingin ia dampingi menuju surga--setelah ibunya. Namun kini persoalannya menjadi lain. Dua langkah lagi ia akan mampu menjadi kekasih Listia, dan kini langkahnya mesti surut beberapa langkah karena Emilia.

“Aku mesti bagaimana, bang?” tanya Ivan ketika sore ini aku mengunjungi
rumahnya.

“Aku seperti terpenjara di hari ini; angan-angan masa depan menghadangku dan bayang-bayang masa lalu menjeratku.”

“Itu puisi barumu?”

“Bukan. Itu puisi Pepeng di Instagram.”

“Aku pikir kamu harus banyak baca buku baru.”

“Sepertinya begitu. Tapi pikiranku sedang ruwet.”

“Kupikir kamu harus memilih salah satunya.”

“Banyak baca atau pikiran yang ruwet?”

“Emilia atau Listia.”

“Itu dia masalahnya.”

Memang itu masalahnya. Dua perempuan tidak bisa dibanding-bandingkan. Keduanya memberikan rasa nyaman yang berbeda.

Bersama Emilia ia bisa menikmati bagaimana rasanya mengejar dan diabaikan. Bersama Listia ia bisa menikmati bagaimana rasanya diabaikan dan mengejar. Dan dua perkara itu kini saling campur baur dan itu percampuran yang tidak klop. Seperti cuka yang dicampur kopi Luwak; kuah soto yang dicampur es tebak; omongan Ivan yang dicampur omongan seekor babi.

Kau pernah seperti Ivan?

Tiga

Malam ketika Ivan mengantar Listia pulang dengan Beat-nya, hujan turun perlahan. Keterangan tentang hujan turun perlahan itu tidak penting, bisa saja diganti dengan 'hujan turun mendudu' atau 'hujan turun manggarasau' atau 'hujan turun semustahil mungkin' atau apa pun. Aku sengaja menyampaikannya dengan 'hujan turun perlahan' cuma untuk mengejar efek dramatis untuk perjalanan Ivan dan Listia, tapi kalau tidak berhasil ya tidak apa-apa. Karena yang penting itu bukan perkara hujannya, tapi perkara apa yang terjadi antara Ivan dan Listia di perjalanan.

Tiga ratus meter setelah simpang pertama rumah makan Dibuang Sayang, Listia berkata pada Ivan, ''Bang, beratnya tas aku...'' Ivan yang percaya bahwa Listia adalah perwujudan konkret kebaikan-kebaikan yang beterbaran di surga mendadak menghentikan Beat-nya di pinggir jalan, dan berkata, ''Sini, biar abang yang bawa.'' Listia menjawa b tidak perlu. Dan Ivan bersikeras agar ia yang membawa tas Listia. Maka terjadilah salah satu adegan yang sekiranya tidak ditelaah dengan baik oleh para pengendara lain akan menjadi alamat buruk bagi Ivan: Ivan mencengkram tali tas sebelah kanan, Listia mencengkram tali yang sebelah lainnya. Ivan menarik, Listia mengulur. Listia menarik, Ivan mengulur. Begitu seterusnya laku dramatis mereka sambil diselingi dialog ''Abang aja yang bawa...'' ditimpali ''Nggak usah, bang.'' Sampai seseorang mendekati mereka dan kemudian tertawa sepuasnya dan membuat Ivan dan Listia sadar bahwa tindakan mereka barusan sangat menggelikan. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan.

Jika kuingat-ingat betapa pemalasnya dan membandingkannya dengan kejadian di atas, tentu saja itu bisa sedikit menegaskan untuk apa Ivan berada di dunia ini. Setiap kali seorang teman meminta tolong pada Ivan untuk melakukan sesuatu, Ivan selalu segera menjawab, ''Tunggu dulu.'' Dan, kau tahu, ''tunggu dulu'' dari Ivan itu bisa juga berarti ''Tunggu semaumu'', ''Tunggu sampai kiamat'', atau ''Tunggulah di neraka, kawaaaan!''. Sangat sulit bagi Ivan bergerak bila seorang kawan butuh bantuannya. ''Van, tolong matikan keran air.'' ''Tunggu dulu,'' jawab Ivan. ''Van, tolong ambilkan pisau cutter.'' ''Tunggu dulu,'' jawab Ivan. Selalu begitu.

Lima ratus meter lebih sedikit setelah kejadian tadi, Ivan kembali menepikan motornya. Mengeluarkan U Bold dari dalam tasnya, menyelipkannya di bibir, kemudian menyulut ujung U Bold itu dengan Cricket. Tepat ketika asap menguar setelah hembusan pertama, Listia terbatuk. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Ivan membuang rokok yang baru saja disalainya tersebut.

Itu kejadian biasa. Banyak laki-laki bersikap begitu. Entah demi menghormati, entah demi alasan lain. Meskipun ada juga lelaki yang bersikeras merokok di dalam angkot yang penuh dan jika ada yang menegurnya dengan berkata ''Bang, perokok pasif itu lebih beresiko daripada perokok aktif'' ia akan menjawab ''Ya sudah, jadi perokok aktif aja kalau begitu.'' Tapi untuk kasus Ivan, atau kasus apa yang dilakukan Ivan tadi, aku perlu memberi sedikit catatan: (1) Ivan selalu kekurangan. Untuk bisa merokok dan mengopi hari ini, Ivan harus memikirkannya dari seminggu sebelumnya. Contoh, bila ia ingin pada tanggal 18 Agustus 2016 bisa makan dan mengopi dan merokok maka ia harus memikirkan bagaimana caranya sejak tanggal 11 Agustus 2016. Untuk tanggal 19 Agustus 2016, harus dipikirkan sejak 12 Agustus 2016, begitu seterusnya. Jadi, tindakan membuang rokok yang baru dibakar itu sama saja dengan membuang kalkulasi waktu berpikir yang telah ia kerjakan sebelumnya. Dan Ivan seharusnya membenci kesia-siaan itu. (2) Ivan gemar menghisap puntung rokok yang tergeletak di asbak. Sebenarnya tidak tepat pula bila disebut 'gemar', karena Ivan melakukan itu ketika tidak ada rokok sama sekali dan mulutnya terasa asam. Tapi, ketika mengubek-ubek asbak demi mencari puntung yang sekiranya masih menyisakan panjang agak 2 senti sebelum busa penyaring, Ivan menjalaninya dengan riang. Tidak tersiksa. Tidak mengeluh. Ia tabah seperti alas kaki. Jika dengan puntung yang masih tersisa 2 senti saja ia memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, bagaimana mungkin aku tidak terkejut ketika Ivan mencampakkan tanpa iba hati rokok yang baru saja disulutnya.

Kau pernah seperti Ivan?

***

BAIKLAH, AKU YAKIN kau telah menjawab tiga pertanyaan dari tiga ilustrasi yang kuberikan di atas dan aku pun yakin kau akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya, tanpa dusta di antara kita. Kuberikan petunjuk praktis ini demi semata-mata menghormati salah satu teman terbaikku, Ivan. Ia kini telah tiada dan sebab itu ia terasa begitu penting bagiku. Untukmu yang telah menjawab dua ‘pernah’ dari tiga pertanyaan, dan ingin melanjutkan untuk mempelajari petunjuk praktis menyantet mantan pacar, silakan klik di sini. []

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan bagikan jika menyukai Karta Kusumah sebagai pemenang.

KARTA KUSUMAH

Sudah cukup terkenal.

0 comments:

Post a Comment