Saturday, 11 March 2017

Di Sudut Kampus Penuh Gelisah Menanti Sarjanawan yang Melupakan Sejarah


Entah mimpi atau ikut-ikutan bin salabin roti kabin aku telah menjadi mahasiswa, hati senang walaupun tak berada di kampus impian, menjadi mahasiswa di kampus yang kata rektornya ketika itu, “tersesat di jalan yang benar, selaksa keraguan mulai menjadi pertanyaan di benak aku. Namanya aja tersesat, mungkinkah itu jalan yang benar? Sudahlah ini adalah pilihan, terima dan jalani. Anggap aja wedangan konyol itu adalah yang paling benar, yang terpenting berstatus mahasiswa dari pada tidak sama sekali. Banyak orang mengatakan bahwa kampus bukan titik kunci kesuksesan seseorang.

luckystarting.com

Ibarat lagu tanpa jendre, berstatus mahasiswa ternyata memiliki keluh kesah dan keindahan tersendiri dan ini tak pernah terpikirkan. Bagai menghitung jari-jari tangan yang kasar dengan polos dibuat-buat dan demi rasa aman untuk berhadapan dan dekat dengan beberapa dosen, senior dan kawan-kawan baru tentunya ini adalah cara ampuh untuk mengambil hati mereka. intinya SKSD (Sok kenal sok dekat), yang penting main aman. Selayang memperhatikan terkadang membuat kesal dikarenakan rambutku yang dulunya gayanya ngtren, kini harus meniru layaknya sebuah kendi plontos botak dengan tempelan rambut dengan panjang 1 cm.

Dengan berlagak senior dan lagaknya beberapa dosen yang sok-sok memerahi terkadang rasanya aku ingin melempar mereka dengan topi panti yang dibagikan padaku. Bila melihat senior dengan lagak sok-sokan maka terkadang membuat aku memaki-maki dalam hati, dengan gaya rambutnya lebih mirip sarang-sarang semut dan sarang kutu ataupun ada yang dengan rambut gimbalnya layaknya sumbu kompor terkadang menjadi bahan lelucon dan hiburan tersendiri ketika kekesalan itu tiba.

Namun seiring berjalannya waktu dengan semangat 45, sekarang aku sudah disebut senior (sombong dikit boleh), memiliki teman dan beberapa junior yang lebih-lebih kurang ajarnya bukan kepalang. Seniornya aja kurang diajar apa lagi juniornya minta dihajar, tapi jangan sampai menghajar karna tempat kuliah bukan pendidikan militer ataupun seperti kampus-kampus lainnya yang mendidik juniornya sampai titik darah penghabisan, bawa berperang aja bung!

Sudahlah kau jangan terlena dengan cerita koyol penuh pencitraan “bagai menanti kabut di sebuah tungku dapur”, aku hanya ingin bercerita tentang lantunan sajak akan seorang teman yang memulai start untuk mengganti status menjadi pengangguran, jangan tersinggung kawan ini hanya candaan konyol pelipur kegelisahan, kalaupun tersinggung mohon dimaafkan, maklumlah aku masih mahasiswa lugu yang selalu ditanyain oleh junior-junior dengan pertanyaan motivasi namun mendidihkan darah. Kapan, kapan, dan kapan wisuda ini masih di kampus belum lagi di kampung. ooh Gusti! 

Inilah pertanyaan yang selalu membuat aku tersenyum walaupun sebenarnya dalam hati ingin rasanya menerkam junior itu dan ingin menelannya walau tak mampu. Kenapa ceritanya telan menelan? Kau tak ingat rupanya kawan prinsip akhir bulan anak kost, isi perut hanya mie and the gangs!

kawan! lama-lama ceritaku ini jadi ngaur dan topiknya pun gak jelas ibarat melewati batas-batas samudera kegelisahan, alangkah baiknya kau berdiri dan memesan kopi hitam dengan sesendok gula, agar bubungan asap cerutu yang kita hisap mengarah pada topik cerita yang lebih menggelisahkan, “uni kopi sakarek hutang dulu ya," “maaf gak bisa ngutang gula ama kopi lagi mahal, kalau mau habisin tu air kran sampai mampus, sadis kali lah."

Jangan kau hisap rokok eletrikmu kawan, kasihan petani-petani tembakau, kau harus tahu rokok itu penghasil pajak terbesar negara, walaupun kebanyakan investornya dari China ataupun dari sudut bumi yang tak aku tahu betul asalnya dan walaupun ujung-ujungnya pajak terkadang dikorupsi, andai ku..! jangan dilanjutin teman nanti kau dituduh pelecehan nama baik. Kau tahu tidak lentingan semua aspek yang ada di rokok hampir memakai produk dalam negeri, jangan kau ketawain aku, disini aku bukan ingin mempromosikan rokok, tapi aku kasihan dengan petani tembakau yang penghasilannya mulai terancam dengan adanya rokok-rokok eletrik dengan berbagai macam rasa, hanya yang tak ada dan mungkin tak pernah ada yakni rasa cinta pada dirimu yang masih setia pada status jomblo dunia dan akhirat.

Sudahlah ota lapau kita ini jangan kau anggap serius kawan, tebarlah senyum indahmu agar terlihat gigi kuning akibat nikotin dan kopi yang kau hisap dan kau seduh setiap saat, nikmat betul. Kau tahu tidak kondisi kampus kebanggan kita saat ini, tunggu dulu kau harus bangga kawan dengan kampus kita, setidaknya dosennya sudah mendidik kita untuk menjadi pekerja ulung, tapi sayang kau masih belum bekerja, ”wkwkwkwwk”, model ketawa abad 21!

Tumpul ide tumpul kreativitas, tumpul mental tumpul gerakan akhirnya semua jadi penjilat ulung, kawan ini bahasa dari mana, ketemu di literasi mana? Gak Ini terinspirasi ketika aku lagi asyiknya-asyiknya menangisi nasib, begini nasib jadi bujangan! Aaahh, lagunya gak cocok, tak usah pulalah menyanyi suara kita bagusan suara kentongan Poskamling dan suara kaleng ketika dipukul. Oh..oh, jangan salah-salah kawan ibarat moral dengan budaya jika keduanya tak sejalan sama saja bohong, lalu apa yang cocoknya kawan? Ibarat suara kita yang tak enak didengar inilah yang ingin kuceritakan kawan!

Kampusku, bekas kampusmu dan nantinya akan jadi bekas kampus kita tempat kita menutut ilmu dan berkreativitas perlahan ibarat susunan huruf-huruf di keybord laptop atau komputer semuanya berantakan. Tak ada lagi kebebasan berkreativitas di dalamnya, tak bisa lagi kita menyusun huruf-huruf menjadi susunan kata-kata indah pelipur kegelisahan, semua serba dibatasi dan diambil alih, melawanpun aku sudah tak sanggup kawan, aku sudah cukup umur untuk melawan, jangan kau bilang aku pengecut! Keliang kubur pun mungkin kau akan kucari untuk meminta pertanggung jawaban dari ucapanmu.

Kawan, aku sudah mencoba berbagai cara untuk mencari dan membentuk barisan, namun dulu lembaga kampus yang kita bangga-banggakan kini hanya diisi oleh mereka pejuang-pejuang tangguh. Ooopps! jangan berbesar hati dulu kawan, mereka adalah pejuang-pejuang tangguh dan penjilat demi menyukseskan proposal kegiatan mereka, syukur-syukur kegiatan yang diangkat untuk mengedukasi dan menjaring aspirasi kami yang masih berstatus mahasiswa, kenyataanya mungkin dan lebih pastinya tidak, bazar, bazar, dan jadinya bajigu! Mungkin itulah, baru-baru ini aku meihat ada stand baru di kampus kita, katanya si  stand inagurasi kayak dulu kau nari-nari pom-pom boys ala-ala memalukan itu, Oh my God, onde mande..! apa salah dan dosa yang telah kami perbuat?

Namun aku salut dengan didikan karakter yang kita berikan kepada adek-adek tercinta kita, sehingga semua tak menjadi penjilat seperti kaum-kaum elit kampus lainnya. Kawan kau sudah capek tidak mendengar ceritaku, aku harap tidak. Aku ingin bercerita lucu padamu, slogan mahasiswa yang katanya Agent Of Change, katanya! Ternyata hanya menjadi penghias dan pemanis tanpa gula di benak mahasiswa seperti saya ini, aku sempat berdiskusi dengan kawan-kawan mahasiswa sepertiku ini disebuah media sosial, maklumlah zaman sudah moderen kawan, berdiskusi bisa di medsos!

Rencana dan berencana ingin melakukan reunian dengan kawan-kawan konsentrasi kita, aku dengan sok-sok berjiwa pahlawan memberikan ide untuk sebuah kegiatan amal sosial, dengan tema berbagi kasih dengan kawan-kawan di Panti Asuhan, malah tak terlalu direspon oleh kawan-kawan kita, mereka lebih senang dengan makan-makan sampai perut buncit, jalan-jalan, dan yang lebih lucunya lagi kawan, foto studio. Ini mahasiswa atau anak-anak SD, SMP dan SMA? ....Ooh Gusti!

Ya sudahlah kawan, kita menghargai ide-ide kawan-kawan kita. Mungkin postingan instagram, facebook, twitter dan modsos lainnya, masih ada yang kurang atau kita saja yang sok-sok idealis, biar disebut ideologis tulen. Tak, tak, tak kurang lebih beginilah bunyi suara jam yang aku dengar kawan, tak tahu lagi aku sudah jam berapa, kau yang ku tunggu pun tak pula kunjung datang menampakkan batang hidungmu. Tapi aku tak akan pernah bosan menunggu, kau adalah kawan, kau juga sahabatku, lebih tepatnya kau adalah keluargaku.

Tapi ingat! kunjungi aku dan berbagi ceritalah tentang status baru yang kau gapai sebagai pengguran, semoga telingamu tak bising mendengar itu, sorry hanya bermaksud bergurau! Aku berharap dan berdoa yang terbaik akan sebuah cerita hidup agar kau tak menghianati ideologi dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang banyak. Teruntun lagi, aku tunggu undangan pernikahanmu dengan kekasih pujaan!.
***
Jobel Rifi Dasasius Samaloisa

Selalu kesepian ketika hujan turun, merenung dan menanti pelangi setelah hujan.



0 comments:

Post a Comment