Sunday, 26 March 2017

Ibuku Adalah Ibu yang Paling Ibu

Ketika menulis tulisan ini saya merasa seperti Malin Kundang yang lareh di rantau orang, yang entah kapan membawa pulang kebahagian bersama kain sarung pemberian ibu.


Dengan sekuat tenaga, saya mencoba memilah kenangan-kenangan pahit saja. Sebab, pada kenangan pahit itu bermulanya rasa cinta paling mendalam akan ibu. "Ibu, aku bukan Malin Kundang, jangan kutuk jadi batu."

Apa yang paling membuat hirau seorang anak? 

Sebagai seorang anak paling kudian dilahirkan, saya boleh merasa istimewa. Sebab, segala perhatian tercurah pada saya seorang. Dari ayah, ibu, juga 4 orang kakak. Selama ini banyak pandangan yang berserakan; anak bungsu itu manja, cengeng, suka cari perhatian, banyak kehendak yang mesti dituruti. Saya sepenuhnya tidak menyetujui pandangan itu. Apa yang didapat dan dirasakan anak bungsu adalah akumulasi kasih sayang ayah dan ibu, juga saudara terdahulu.

Sampai disini saya masih menikmati status anak bungsu yang tidak akan beradik lagi. Dan akan terus seperti itu.

Apa yang membuat saya hirau tiga tahun terakhir telah menghantarkan saya pada titik sekarang ini. Titik yang tidak bisa saya uraikan dengan baik pada sidang pembaca sekalian. Saya pun bingung harus melabeli titik ini dengan apa. Sebenarnya saya ingin menyebutnya sebagai kesuksesan.

Namun, saya insaf sidang pembaca sekalian tidak bakal setuju. Sebab, sukses sekarang ini adalah perkara keberlimpahan materi. Dan itu jauh dari diri saya, seorang yang tak berseragam juga berkantor.

Sebagai seorang sarjana yang berkelindan dengan keseharian di luar disiplin keilmuan, membuat saya segan. Segan mengakui pernah kuliah. Segan kepada teman-teman semasa kuliah yang sudah berdasi, peci, juga istri. Namun, satu sisi hal ini justru menguatkan saya untuk terus menggiatkan apa yang sudah terlanjur saya kerjakan. Seorang yang mencoba profesi sebagai tukang tulis dan segala predikat yang menyertainya. 

Pernah mencoba sebagai juru tulis untuk surat kabar, membuat saya berani menulis. Bahkan berani mengajak beberapa kawan untuk membangun media. Meski, kenyataan tak sejalan dengan ekspektasi kami yang terlanjur membesar. Ini adalah kesalahan terbesar saya kepada beberapa kawan. Semoga suatu saat, ini bisa tertebus. Soal kerinduan yang pernah dirasai bersama, sampai sekarang masih sama.

Bukan mencari pelarian dan mainan baru, yang mana pada akhirnya saya sampai di media yang malas ini. Dan bukan pula memberikan kesalahan yang sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Namun, saya merasa di sini tulisan asal bikin dari saya dapat diterima orang banyak. Sebab, saya paham betul, menulis bukan perkara seberapa keriting istilah yang digunakan, atau seberapa banyak kaidah penulisan yang telah saya patuhi. Menulis adalah cara bertutur keseharian, dan itu tidak bisa dibuat seragam atau serba datar seperti yang dianjurkan sistematika ilmiah.

Godok. Kata yang semakin hari semakin ambigu. Aih, saya sulit memberinya makna. Cukup maknai saja kata tersebut sesuai pengalaman sidang pembaca sekalian.  Soal godok yang sempat ditawari ratusan juta, mari jadikan pengalaman yang tidak terhargai. 

Pernah bekerja ini dan itu. Ke sana dan ke situ. Dan sampai detik ini belum berkedudukan yang jelas membuat saya semakin hirau pada ibu. Pada batang tarandam kami yang kini masih entah. Awalnya kehirauan saya tidak kunjung mereda, malah makin menjadi-jadi. Lebih-lebih di saat membasuh tempias di wajah ibu. Namun begitulah adatnya seorang ibu, tak senang melihat anaknya susah. Ibu juga membuat kehirauan saya lambat laun kembali mereda. Musabab sumber segala pengharapan adalah sabar dan keikhlasan. Itu kata ibu. 

Ibuku adalah ibu yang paling ibu. Seseorang yang paham bagaimana mesti melewati hidup merasai. Ibu tempat dimana bermula kerinduan dan pengharapan itu bersua. Ketika waktunya telah tiba.

***
Depitriadi

Tengah bahagia, sebab sudah bisa membuat kursi kayu sendiri.

0 comments:

Post a Comment