Thursday, 2 March 2017

Izinkan Aku Melawat Pendidikan Melalui Penafsiran Gelas yang Pecah

Gelas itu akhirnya ku tendang, entah sengaja ataupun tidak tetapi kakiku berayun menujunya, hingga ia terlempar dan terpecah belah, sungguh malang nasibmu gelas. Aku melihatmu tapi tak ku sangka karena lengahku kau hancur berkeping-keping. Kau tak bisa lagi digunakan, sampai akhirnya kau pun berakhir di tempat sampah. Dengan penuh rasa sesal, ku ucapkan, selamat tinggal gelas.


Youtube.com

Ya, barangkali seperti itu perumpamaan dari ceritaku kali ini. Berbondong-bondong mahasiswa dan mahasiswi datang dengan semangat yang tinggi menuju kampus yang mereka cintai, dengan harapan mendapatkan ilmu dan pendidikan karakter serta pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan. 

Mereka seperti gelas, ya gelas. Gelas yang siap menampung segala ilmu yang akan mereka dapatkan di dalam perkuliahan yang mereka ikuti. Gelas tersebut ada yang masih kosong dan ada pula yang sudah berisi walaupun tidak penuh.

Kebebasan yang mereka miliki membuat mereka berkelana ke sana lalu ke sini demi mengisi gelas tersebut. Ada yang mencoba serius mengikuti perkuliahan karena baginya hanya dengan hal itu lah gelas tersebut dapat terisi. Ada pula yang sekedar menjadikan perkuliahan sebagai ajang tempat bermain-main karena baginya perkuliahan tersebut tidak dapat mengisi gelas sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dan ada pula yang mencoba mengikuti dunia kelembagaan mahasiswa karena dari sanalah dia merasa gelas tersebut dapat diisi dengan pengalaman beharga yang mereka alami.

Begitulah macam-macam cara mereka dalam mengisi gelas tersebut. Dan masih banyak lagi cara lain yang mereka lakukan. Kalau diterangkan satu per satu, aku rasa 5 lembar kertas hvs pun tak akan cukup untuk menjelaskannya. Tetapi, kali ini aku lebih tertarik dengan perlakuan orang-orang yang akan mengisi gelas-gelas tersebut.

Jika kita mengamati dunia perkuliahan, orang-orang yang akan mengisi gelas-gelas tersebut seperti; struktural kampus, dosen-dosen dan senior-senior selaku orang yang telah berpengalaman lebih panjang. Mereka memiliki keleluasaan terhadap gelas-gelas tersebut, seperti apa mereka memperlakukannya dan apa yang akan diisinya terhadap gelas-gelas tersebut.

Pada pengantar di atas, “aku” selaku oknum dari salah satu orang yang akan mengisi gelas-gelas tersebut. Ya terserah, “aku” itu siapa dari antara oknum tersebut, karena disaat si “aku” menendang gelas, jelas gelasnya akan pecah juga.

Kenapa gelas itu bisa pecah, mungkin akan ku awali dengan cerita seseorang dari mahasiswa yang ingin mengisi gelasnya di sebuah ruangan kampus. Dia percaya bahwa si “aku” akan mengisi gelasnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Hingga dia mulai mengikuti dan menampuang hal-hal bermanfaat tersebut.

Dia terlihat seperti gelas yang berbeda antara yang lainnya. Dia memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat hingga dia mulai berproses dengan sebaik-baiknya. Sepertinya gelas ini memang betul-betul menunjukkan bahwasanya dia memang harus diisi.

Tetapi entah mengapa? Dia tiba-tiba terdiam ketika si “aku” menertawakan sedikit keselahan yang disampaikanya. Kepercayaan diri yang dia miliki sepertinya mulai luntur karena sikap si “aku” yang tak henti-henti mempermalukannya di depan mahasiswa lainnya. Lambat laun dia mulai diam dengan tak tersenyum sedikitpun. Raut wajahnya seperti menyimpan kekesalan di dalam dirinya.

Sekian lama berjalan dalam kediaman, akhirnya waktu untuk pulangpun datang. Dan raut wajahnya masih sama seperti yang tadi.

Esok, ketika mulai masuk keruangan itu lagi dengan niat mengisi gelas yang belum sepenuhnya terisi, dia mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Tetapi apalah daya karena gelas yang belum terisi penuh ini tidaklah mampu mengikuti si “aku” yang sudah kaya pengalaman tersebut, ia harus terdiam lagi karena dia salah dalam menjawab sebuah pertanyaan. Si “aku” pun mulai menertawakannya kembali tak henti-henti seperti merendahkannya di depan mahasiswa yang lainnya.

Semenjak ini, sepertinya dia mulai trauma untuk melakukan kesalahan lagi, dan setiap mengikuti ruangan tersebut dia mulai diam seperti gelas yang begitu kosong sama dengan gelas-gelas lainnya. Ruangan itu mulai membosankan karena tidak ada lagi gelas yang berbeda di dalamnya.

Mungkin si “aku”pun merasakan hal yang sama dengan apa yang ku rasakan, hingga akhirnya si “aku” pun bertanya, “menapa ruangan ini seperti kuburan?” Semuanya diam, si “aku” pun diam, sepertinya dia mulai menyadari bahwasanya ruangan tersebut seperti kuburan karena ulahnya. 

Seperti yang diumpamakan di atas, si “aku” telah menendang gelas tersebut hingga pecah, hingga gelas-gelas yang lainnya mulai diam dan takut dipecahkan olehnya.

Namun si “aku” tidak peduli, baginya seperti apa ia mengisi dan memperlakukan gelas tersebut adalah pilihannya. Gelas tersebut mau retak mau pecah itu tak menjadi hal yang dipertimbangkannya. Mungkin dia meresa masih banyak gelas yang lain yang masih bisa diisi.

Dari hal ini aku mulai belajar, bahwasanya si “aku” yang semestinya dapat menanamkan dan membina karakter dari semua mahasiswa malah merusak dan membunuh karakter tersebut. Apakah hal ini akan tetap terus dibiarkan hingga gelas-gelas tersebut pecah keseluruhannya, hingga mereka tertekan dan merasa takut untuk memperbanyak isi gelasnya.

Sungguh disayangkan sekali apabila hal ini terus terjadi, apalagi dalam dunia pendidikan.

***

#Tulisan ini ikut dalam arisan godok bulan Maret. Silakan bagikan jika menyukai Rizki Rio Rahmat sebagai pemenang.

Rizki Rio Rahmat

Mengabdi demi cinta, cinta kepadaNya, cinta kemanusiaan, dan cinta ke alam semesta.

0 comments:

Post a Comment