Tuesday, 21 March 2017

Jalan Sunyi Seorang Jomblo Cap Megalomania dan Hal-Hal yang Tak Terselesaikan

Tuhan yang maha baik berkehendak lain. Atas garis takdir yang mesti seorang jomblo jalani. Perasaan yang kita simpulkan mungkin tak harus diuraikan. Tapi tak mungkin juga diketatkan. Biarkanlah ia menjadi rahasia di balik rahasia. Menyatu bersama degup jantung kehidupan dan hembusan napas terakhir menjelang kematian. 


Persoalan rumit hari ini adalah menyandang gelar paripurna sebagai : jomblo akhir zaman. Sebab akhir zaman ini jomblo adalah kalimat tabu yang lahir dari "stigma sosial". Realitas ini menjadi faktor utama tumbuh kembangnya pemikiran para pendaku bahwa bumi datar sama seperti kisah kita, yang tutup buku ditikungan pertama. Selepas SMA, selebihnya datar. 

Asas praduga tak bersalah, tak pernah ada dalam "kamus" tuntunan tatacara memandang jomblo itu makhluk suci. Sebab cinta jomblo itu suci. Cinta jomblo itu murni dari hati seorang jomblo. **tsaaaaahhhhh. 

Konon asal muasal jomblo adalah dari airmata perempuan yang mengering saat melihat program pacaran berencana (mungkin juga keluarga berencana) sudah tidak lagi kontekstual. Deadline usia kepastian untuk menjadi 'kita', iya kita! Antara kamu dan aku satu untuk selamanya. Aku jadi Ayah dan kamu jadi Bunda (*Jadi ingat kisah kasih Heri Purwanto) WuuaaaaAsu tenan! Jancuk!

Sebelum jadi jomblo, pastilah ada sebab status ini begitu kukuh dipertahankan dalam situasi dan kondisi tatanan laku sosial yang acap kali gagap sekaligus kaku mengikuti zaman bergerak. Luput insaf bahwa surga ada ditelapak kaki ibu, Ce'ileh puitis.

Sampaiku susun doa-doa rahasia di waktu hujan turun. Doa menjadi jomblo yang baik; Ya Tuhan berikanlah aku mata yang senang melihat sisi baik dari seseorang mantan. Sebuah hati yang selalu lapang untuk memaafkan mantan, pikiran yang mampu untuk melupakan keburukan mantan dan jiwa yang tak akan pernah hilang melihat kenyataan bahagianya senyum mantan yang merdeka,dari candu masa berterang-terang dalam kelas. Aamiin. Ntuh mah Alesan ellu aje mblo ! Biar dicap anak sholehkan? 

Lalu seperti yang telah diinsafi bersama secara sesadar-sadarnya sebab ingatan pada mantan apapun juga akan tetap di sana di gigilnya kenangan di sepinya chat BBM, line dan messenger. Terperangkap dalam melankolia. Di relung sepi bisik-bisik tetangga. Yang kuyup dalam ucapan : kapan mau nikah? Bahkan kontak nomer sang mantan, kini hilang secara ghaib apapun maknanya, mungkin kekal mungkin juga tak kekal. 

Seperti sebuah sajak sentimentil yang berharap kekal itu! Dan berulang kukirim dengan penuh keyakinan. *nasib Luh mblo, apes bener. Jalan sunyi seorang jomblo cap megalomania. Tidak hanya menjadikan sebuah melankolia banal berujung absurd, iya daripada yang mana telah disampaikeun bersama; mantan adalah tanah air yang kerap memanggil-manggilmu untuk menengok kembali, sejarah panjang perjalanan cinta Hanoman dan Sinta. -Alah ngomong apaan sih mblo? 

Dengan diiringi syahdu lagu Rayuan Pulau Kelapa, dengan semangat menggebu ingin bertukar kabar, barangkali bisa bertukar senyum. Stalking akun medsos mantan jadi jalur terjal nan penuh resiko, perasaan sakit hati. Tetapi sebagai lelaki yang kerap merasa unggul di atas semua keterbatasan dan juga tuntutan perut. 

Lakon sang jomblo memberanikan diri untuk melihat foto-foto sang mantan di akun instagram. Dan memang Tuhan maha baik, perempuan baik-baik akan berjodoh dengan lelaki baik. Fotonya dengan pemuda tampan rupawan, mapan, tenang, wibawa juga bermasa depan cerah dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Menjadi pertanda suci alam semesta medsos. Dalam foto itu juga, Lelaki itu dengan senyum khas pemenang tagan perempuan pujaan pagi, siang, malam sampai imsak!!!. Bertuliskan Hestek. #Tempat kerja baru #teman baru #teman hidup #insha Allah amin. 

Terbesit keinginan mengakhiri menulis catatan semacam ini, karena selain buat migran kepala. Ujung-ujungnya akan berakhir tidur mojok di kamar. Sambil meluk bantal erat-erat. Sambil meratapi betapa stensilan Enny Arrow juara di saat-saat perasaan seperti ini. Lantas segera mungkin keinginan untuk itu kubatalkan. 

Sebagai penyair salon pada umumnya. prinsip seperti itu mudah dimaklumi. Sebab seperti tanah air, kenangan pun harus dimerdekakan.  Seperti ucapan yang kutemukan di medsos pula, "Berbahagialah bagi mereka yang mencintai dengan merdeka."

Akhirnya tulisan ini harus kuakhiri sebagai surat perpisahan antara harapanku dan senyummu yang tersesat dan berselisih paham di tangga sekolah tempo hari itu. "Jika saya memiliki kesempatan menjalani hidup sekali lagi, saya akan memastikan bisa menemukanmu lebih cepat, sehingga saya bisa mencintaimu lebih lama lagi," "Terima kasih telah membuat saya menjadi jomblo yang paling bahagia di dunia setiap harinya. Selamat telah menemukan Hestek teman hidup, untuk menemani hidupmu, tentu menua bersamanya. 

Sampaikan salam hangatku untuk kekasihmu itu. Karena bagiku. Merelakanmu berbahagia dengan orang lain adalah cara terakhirku mencintaimu. Meskipun harus menempuh perjalanan mensucikan ruhani sebagai jomblo akhir zaman. Selebihnya aku ikhlas, sebab selama ini aku hanya berusaha keras ingin melindungi dirimu dari syahwatku sendiri. Al-Fatihah untukmu dek.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Kojel sebagai pemenang.

Kojel Put On
Kawan Sekolah Rio Jo Werry dan Pecinta Gang Sian

0 comments:

Post a Comment