Tuesday, 7 March 2017

Jangan Mau Jadi Samsak!

Cerita ini tentang seorang perempuan yang bertahan. Atau bodoh? Pilih saja salah satu. Gue akan memulai cerita ini.

nilni.com


Alkisah di sebuah kota kecil di tepi pantai, hiduplah seorang perempuan bersama keluarganya. Dia baru memulai sebuah hubungan dengan seorang laki-laki yang selama beberapa bulan terakhir selalu menemaninya. Dan sumpah, kata perempuan itu sih, dia sayang banget dan mau menikah dengan laki-laki itu.

Perempuan itu adalah perempuan yang amat sangat cerewet dan selalu membantah untuk hal yang gak bisa dia terima. Sedangkan laki-laki itu adalah sosok yang terlihat pendiam, padahal entah apalah isi kepalanya. Kita sebut saja perempuan itu Banyu dan laki-laki itu Agni.

Hubungan mereka dimulai sebagaimana normalnya semua hubungan lain. Mereka jalan bareng, makan bareng, berbagi rokok (iya, Banyu ngerokok. Ada masalah?) dan melakukan hampir semua hal bareng. Sampai pada waktunya, Banyu kembali ke rutinitas aslinya yang melelahkan dan Agni mulai meributkan waktu yang berkurang buat dia.

Cerita serunya baru akan dimulai di sini. Suatu hari, Banyu pergi bersama Agni ke luar kota untuk mengantar nenek Agni. Banyu sebenarnya kelelahan, tapi dia mengalah. Di perjalanan, Banyu dan Agni tidak bicara banyak karena mereka terlibat pertengkaran pada hari sebelumnya. Sesampainya di rumah Banyu, Agni masih mengoceh dan marah-marah. Akhirnya Banyu muak dan menampar Agni. Agni Cuma kaget dan akhirnya pergi sambil mengamuk.

Itu pangkal kejadian yang akan jadi petaka untuk Banyu. Intinya sih, setelah kejadian itu hubungan Banyu dan Agni tetap berjalan seperti biasa,penuh sayang-sayangan, cuma dapet sedikit bonus aja. Setiap perkelahian mereka setelah itu berjalan dengan adegan yang dipakai di film-film BDSM action. Ditampar, diinjak, dicekik, dipiting ke lantai, didorong ke pintu, dicubit, bahkan yang paling mirip sulap ekstrim adalah adegan lempar pisau yang dilakukan Banyu ke Agni. Baju robek, kalung putus, badan memar adalah hal yang biasa dialami Banyu. Agni juga bukannya selamat begitu aja setelah melakukan KDP (baca: kekerasan dalam pacaran). 

Banyu adalah perempuan yang pantang membiarkan dirinya dianiaya oleh orang lain. Satu dorongan akan dibalas oleh dorongan lain sama Banyu dan akhirnya mereka dorong-dorongan, nonjok tangan, dorong ke lantai dan injak leher biar gak bisa bangun, sampai lelah. BRUTAL!!! Dan yang selalu terjadi setelah pertengkaran rumah tangga begitu adalah Banyu memeluk Agni biar emosinya hilang dan mereka nangis-nangisan berdua. Sampah banget! 

Banyu pernah hampir lapor polisi setelah perang dengan Agni dan ditinju muka dan ulu hatinya, tapi dia tetap luluh setelah Agni menangis minta maaf. Banyu ketakutan tapi gak mau waras kehilangan.
Bukan Cuma perkelahian fisik yang dialami Banyu dan Agni, tapi juga verbal abuse oleh Agni. Dia memang orang yang terlihat pendiam dan sepertinya sabar banget, tapi itu karena dia gak suka berantem sama Banyu di depan orang. Jadi kalau sudah berdua Banyu dan ada pertengkaran mereka yang tertunda, Agni akan langsung menyiapkan jutaan kata-kata mutiara buat Banyu. Mulai dari brengsek, anji*g, per*k, dan sejuta kata-kata indah lainnya cuma untuk “menyadarkan” Banyu kalau dia beruntung bisa mendapatkan Agni.

Hubungan Banyu dan Agni yang mirip sinetron Indonesia murahan itu berjalan cukup lama. Mereka pacaran selama 3 tahun walaupun putus nyambung di antaranya. Obat penenang dan psikiater pun sempat jadi teman dekat Banyu.

Pesan moral dari cerita ini apa?
Ada.
Yang pertama, gak ada yang namanya perempuan beruntung kalau pacaran sama laki-laki kaya Agni. Secara kasat mata memang terlihat Banyu adalah perempuan berangasan yang kurang ajar dan Agni adalah laki-laki yang baik dan penyabar. Sebrengsek-brengseknya Banyu, tetap dia sial karena pacaran dengan Agni yang rela membalas pukulan Banyu (harap dicatat bahwa secara fisik Agni pasti akan menang! Banyu gak lemah tapi dia pasti tetap kalah!).

 Jadi, kalian para Banyu di luar sana yang punya pasangan seperti Agni, jangan mau bertahan dengan alasan cinta, udah sayang banget dan sebagainya, karena itu TOLOL! KALIAN BUKAN SAMSAK TINJU!!!! DAN ITU BUKAN PERTARUNGAN YANG ADIL, kecuali kalian adalah binaragawati!

Yang kedua, verbal abuse adalah sesuatu yang sangat serius. Dalam hubungan jangka panjang, perempuan yang konstan mengalami verbal abuse akan mengalami depresi dan kehilangan harga diri. Resikonya? Cobalah rasakan sendiri. Depresi berat akan membuat kalian berpikir bahwa mati adalah jalan yang baik.

Kalau kalian para perempuan sudah telanjur memacari Agni-Agni di luar sana, malangnya kalian. Karena pada saat kalian putus nanti, pacar kalian berikutnya yang akan kesulitan untuk meyakinkan kalian bahwa kalian adalah perempuan yang layak untuk diperjuangkan. Dan itu akan membuat pacar baru kalian muak, berisiko selingkuh dan akhirnya membuat kalian mengatakan “SEMUA LAKI-LAKI SAMA AJA!” dan akhirnya kalian putus, makin rendah diri dan akhirnya merepotkan pacar baru berikutnya lagi. LINGKARAN SETAN. Begitu aja terus sampe lebaran kuda!

Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan, tapi kadang kita butuh itu buat melindungi diri. JANGAN JADI PEREMPUAN CENGENG YANG CUMA BISA MENANGIS DAN MERATAPI NASIB!

PS: ini adalah tulisan yang amat sangat subjektif. Cuma salah satu dari sekian banyak perspektif.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Dilla Anindita sebagai pemenang.

Dilla Anindita

Perempuan yang ingin menikahi PakDe

0 comments:

Post a Comment