Monday, 13 March 2017

Karena Tidak Tahan Sehabis Menonton Film Biru, Lelaki Berinisial RPS Akhirnya Melakukan ....

Toan dan Nyonyae pembaca Godok.id, perkenalkan, nama saya Aden, lengkapnya Dt. Aden Pulo Nan Kabatantang. Perlu saya jelaskan nama saya, karena saya tidak biasa bersaya-saya kalo bercerita, maka saya pakai nama saya saja sebagai pemandu cerita saya ini. Setelah paragraf ini, saya akan mulai bercerita sebagai diri saya sendiri, yakni sebagai Aden.


Aden  adalah lelaki setengah matang yang lahir di Kota Iko, berusia 25 tahun minus dua jam. Dalam waktu yang tidak lama lagi, Aden akan menikah dengan seorang perempuan berusia 19 tahun dari Kota Sinan bernama Pacarden. Prediksi seorang bidan, dalam beberapa bulan setelah menikah, Aden akan punya anak yang bernama Engga Anaden. Tapi bukan soal kenal-memamerkan ini yang akan Aden ceritakan. Aden akan bercerita soal cita-cita Aden beberapa waktu sebelum dalam waktu yang tidak lama lagi memutuskan untuk menikah. Cita-cita dan harapan Aden sebelum diajak tersesat berdua di hutan perkawinan oleh Pacarden, sebelum punya anak, sebelum tua dimakan usia, Aden mau jadi ceniman!

Yap! Aden mau jadi ceniman seperti sebagian kecil Toan dan Nyonyae pembaca tulisan di Godok.id yang hampir basi ini.

***

Toan dan Nyonyae pembaca tak setia Godok.id. Alkisah awal mula Aden tiba-tiba kepincut jadi ceniman karena tidak sengaja mendengar cerita bombastis dari aktor dan sutradara teater senior di Kota Iko. Nama ceniman itu adalah Omarmen, lengkapnya Omarmen Gauang. Ceritanya bahwa di jaman Omarmen, terkenal dan jaya-jayanya main teater di bumi tempatnya berpijak dulu, seluruh mata tertuju padanya.  Saking terkenalnya, seluruh wanita berkepit lutut karena keaktorannya, basah! Terpenting dari ceritanya yang paling penting adalah ketika ia beradu keaktoran dengan Ommii (rekanya sesama ceniman teater),  seluruh kaca-kaca gedung taman budaya di Kota Iko pecah karena saking dahsyatnya gaung vokal keaktoran mereka.

Amboi! Betapa, setelah mendengar cerita Omarmen tersebut, keinginan Aden untuk menjadi ceniman papan atas di Kota Iko mengebuk-gebuk perasaaan.

Toan dan Nyonyae yang budiman. Aden yang tidak budiman ini tiba-tiba kesengsem ingin jadi ceniman pada mula lainnya adalah karena tidak sengaja menyimak cerita seorang perempuan, namanya Ntedikarina, birokrat kecenian di Kota Iko dengan nama lengkap Ntedikarina T’mboi. Ntedikarina bercerita, sebagai birokrat kecenian rangkap ceniman di Kota Iko, dia hanya perlu eksis narsis dengan berkesinambungan membuat program asal ceni. Program itu kemudian dibagi-bagi kepada sesama birokrat atau teman dekatnya (kalo tidak salah, paling sering dibagi dengan Omarmen Gauang dan artis penyanyi lagu dangdut, Hendri Kuat).  Mau acara itu terealisasi baik atau tidak baik, bukan urusan Ntedikarina, karena urusanya hanya meminta laporan selesai kegiatan. Urusan Ntedikarina yang paling penting adalah bukan laporan, tapi bagaimana ia bisa dipastikan ikut terlibat dalam kegiatan/program ceni yang telah dibagi-baginya tersebut. Ia harus terlibat, punya posisi, entah sebagai penasehat atau ofisial, entah sebagai pendamping atau kepala rombongan, yang penting teramat penting,  ia harus dapat bagian dari biaya penyelenggaraan program tersebut.

Duhai! Terbayang betapa keinginan Aden untuk cepat kaya bisa terealisasi kalo jadi ceniman rangkap birokrat seperti Ntedikarina T’mboi. Betapa, hasrat dan keinginan tersebut sekarang deras mengencingi perasaan, urat nadi dan darah dalam diri Aden.

Toan, Nyonyae, dan Tuan dan Nyonyae lagi. Pernah pada suatu lara yang senja, nafsu Aden menjadi ceniman jadi berlipat-lipat ganda setelah melihat eksistensi penyair D’Kajai Kusumah. Bagaimana tidak? Penyair dengan rambut modisz bewarna putih abu ini membuat buku puisi dengan fotonya sedang tersenyum lebar terpampang besar sebagai sampul buku puisi tersebut. Satu hal yang luar biasa,  latar belakang foto penyair D’Kajai Kusumah di sampul buku itu adalah lukisan perupa internasional dari Kota Iko, perupa D’Kamals Asrul. Awalnya Aden kira sampul buku puisi yang berjudul Senja Bersedih adalah sampul buku puisi terburuk di Kota Iko, bahkan mungkin Negara Iko! Sebab tak ada hubungan antara foto penyair D’Kajai Kusumah yang tersenyum lebar dengan judul buku puisinya yang senja bersedih itu. Apalagi pemotongan foto beresolusi rendah dan gambar latar lukisan yang diolah di Phootoosooaaap tersebut tidak rapi, sehingga malah terkesan melecehkan karya lukis dari perupa D’Kamals Asrul.

Tapi ternyata perkiraan Aden meleset! Sejak dimasukkan itu foto sampul buku ke Fanspage Facebook penyair D’Kajai Kusumah, banyak komentar dan tanda jempol bertandang dari akun Facebook orang-orang yang mengapresiasi sampul buku tersebut. Salah satu orang pemilik akun Facebook, berkomentar di akun Facebook penyair D’Kajai Kusumah mengatakan itu adalah sampul buku puisi terakhir atau termutakhir yang bakalan menjadi trend di Kota Iko, bahkan mungkin Negara Iko!  Namun, meski banyak komentar positif, sebagai penyair yang sudah cukup terkenal, sebagai penyair yang punya rambut modisz dan cool abizzzz, penyair D’Kajai Kusumah hanya membalas komentar-komentar tersebut dengan memberi jempol gemuk. Seminggu sejak dimasukkan itu foto sampul buku ke Fanspage Facebook penyair D’Kajai Kusumah, buku puisi tersebut ludes entah kemana atau entah bagaimana.

Masih banyak cerita lainnya yang terus menggugah perasaan Aden untuk jadi ceniman, antara lain cerita soal bagaimana sengitnya pembahasan intelektual ceniman Kota Iko soal Pilkada DKI di lepau Dt. Aktor Fajry Kards. Lepau tersebut berada di dalam komplek Taman Budaya Kota Iko. Lepau tersebut sangat khas, dimana seluruh dindingnya penuh dengan poster pertunjukan teater bergambar aktor utama  Fajry Kards, sehingga semua yang singgah ke lepau tersebut akhirnya tahu siapa betul aktor ganteng dan hebat di Kota Iko, ya,  pemilik lepau itu! Kembali ke soal Pilkada DKI, meski jarak DKI dan Kota Iko ribuan kilometer, meski tak ada hubungan antara Pilkada DKI dengan Kota Iko atau dengan karya cipta mereka, pembahasan Pilkada DKI oleh ceniman di lepau ini  lebih tajam daripada mata Najwa Sihab di Metro TV atau salam Jeremy Teti di SCTV. Dalam minggu-minggu ini pembicaraan itu semakin sengit, merambah ke segala sektor dan wilayah seperti agama, suku, ras, bajir, demonstrasi, ekonomi, kebencian, hingga lomba baca puisi berjudul Sajak Sang Penista karya Fadli Zon.

Lepau Dt.Aktor Fajry Kards adalah jendela dunia ceni bagi Aden untuk mengetahui dan menggagumi ceniman di Kota Iko. Pembicaraan panjang soal Pilkada DKI hanya bisa teralihkan oleh beberapa hal, diantaranya karena rokok para ceniman habis sehingga pembicaraan terpaksa di pause sebentar menunggu ceniman lainnya yang membawa rokok datang. Atau seperti dalam minggu ini, pembicaraan sempat teralih kepada soal kantor MUI tutup kerena tak dapat hibah, atau teralih pada pembicaraan soal dua Surat Edaran Gubernur Provinsi Iko tentang Dukungan Gerakan Percepatan Tanam Padi, yang menurut para ceniman menjajah masyarakat dengan mengambil lahan petani. Tapi karena dua pokok topik tadi bersifat konten lokal, maka pembicaraan topik tersebut hanya masuk kategori topik pendamping. Ya, hangat-hangat tahi ayam-lah, tidak perlu betul aksi nyata turun ke lapangan yang berlebihan, karena bagaimanapun topik utama tetap Pilkada DKI. Pembicaraan Pilkada DKI juga hanya bisa (wajib) terhenti, pada jam 17.00 s/d 21.00 karena perhatian para ceniman di lepau pada jam tersebut beralih pada sinetron Lonceng Cinta, Ashoka, Mohabbatein, dan Bunga yang Terluka di chanel ANTV televisi milik Dt.Aktor Fajry Kards. Bila sudah keluar tulisan to be continued di layar kaca, maka pembicaraan Pilkada DKI mengudara lagi.

Dari Lepau Dt.Aktor Fajry Kards, macam-macam jenis ceniman yang buat Aden terkagum-kagum. Ada penyair Da’Ief-an Harliy yang dalam sehari bisa buat puisi (pendek) sejenis kuatrain, haiku, soneta, pantun dsb, sampai 30 judul. Puisi-puisi itu membawanya ke berbagai negara tetangga dan belahan dunia sebagai sastrawan tamu. Menariknya ketika diminta membacakan banyak puisinya yang telah dibukukan tersebut, ia sendiri gemar menukar atau mengimprovisasikan puisi yang telah ia buat dengan alasan itu adalah puisi yang baru ia buat di dalam kepalanya satu menit sebelum diminta membaca. Ada juga pelukis Da’Asros Ganesha yang seharian duduk di lepau Dt.Aktor Fajry Kards untuk me-retweet gambar atau konten-konten porno ke akun twitternya. Hal ini terjadi kemungkinan karena ia  tidak mampu mengoperasikan twitter atau membedakan konten foto dan vidio, sehingga maksud hati hendak melihat gambar dan vidio secara jelas dan detail, malah  ia retweet ke akun twitternya tanpa ia sadari aktivitas tersebut dilihat oleh orang banyak. Yang buat kagum adalah gambar-gambar porno tersebut kemudian disulap sedemikian rupa jadi bahan lukisan abstraknya yang sering tanpa judul.

Ada pula pencipta lagu yang mau mengajak ngobrol siapa saja dengan topik apa saja asal lawan bicaranya punya sebungkus rokok, kalo rokok habis, otomatis pembicaraan selesai. Ada pula penulis yang bergelar Raja Penyair dan Ratu Penyair. Ada ceniman yang melekatkan namanya sebagai Pangeran Teater, Bagindo Rajo Tari, Pematung Number One, Tuan Pengarang, Putri Musik, Wartawan Hebat, dsb. Hal tersebut untuk mengukuhkan eksistensi profesinya sebagai ceniman teater, tari, sastrawan, musisi, perupa, wartawan atau penulis lepas. Betapa! Aden kagum, Aden sukak sekaleeee dengan semua itu!

***

Bila pada akhirnya Toan dan Nyonyae kepincut juga jadi ceniman karena cerita-cerita yang Aden ceritakan di atas, hal tersebut adalah wajar dan alamiah. Bagaimana kalo kemudian usia Toan dan Nyonyae sudah tua, tidak lagi muda untuk memburu gelar ceniman yang prestise tersebut? Gampang! Aden akan bagikan cerita kepada Toan dan Nyonyae, berdasarkan pengamatan dan pendengaran Aden di lapangan.

Toan dan Nyonyae yang berkelas, memang, hari ini di Kota Iko yang paling siiiip, oke punya, mantap, dan mantap lagi itu, ya, jadi ceniman! Modal hanya dengan pengalaman sekali, dua kali tiga, tiga kali satu dan sekali-kali naik panggung, pameran, menulis fiksi atau fakta, main film, dst, dst, dst, dan seterusnya. Sebetulnya sekali, tidak penting berapa kali, sebab yang terpenting peristiwa kecenian itu terjadi sejak tahun delapan belas sekian sekian, sebelum masehi, atau saat dahulu kala, dan terpenting sebelum generasi muda di Kota Iko lahir. Dengan modal tersebut, Toan dan Nyonyae sah sudah jadi ceniman, tidak perlu susah resah berkarya lagi. Dengan meningkatkan intensitas duduk di lepau Dt.Aktor Fajry Kards atau lepau Mam’s Original di Taman Budaya, Toan dan Nyonyae bisa melihat-nilai latihan ceni generasi anak bawang, bercerita pada generasi muda semacam Aden, kawan-kawan Aden atau mereka yang muda anyir, pada mereka yang baru kemarin sore kepincut ceni, dengan mengatakan kalo Toan dan Nyonyae sudah balik dari kegiatan semacam itu sejak kemarin pagi.

Terpenting dari sekian banyak yang penting dalam tulisan ini, Toan dan Nyonyae harus mengatakan bahwa dahulu kala Toan dan Nyonyae sangat berpengaruh dan berdarah-darah di jalan kecenian.

Mulailah percakapan dengan mengatakan "Dahulu kami diundang ini, itu, dan ....begini", "Ambo dulu kesini kesitu dan ...begono", "Dulu kita-kita susah, berprestasi, juara dan...begana". Jadilah di mata mereka generasi Aden itu, Toan dan Nyonyae hebat! Langkah berikut, tinggal minta mereka yang muda anyir tadi untuk buat acara ceni budaya, lomba, iven pencarian bakat, seminar, diskusi, atau apalah, yang mana Toan dan Nyonya berperan sebagai nabi dalam acara tersebut. Arahkan mereka untuk menempatkan Toan dan Nyonyae sebagai penggagas acara, pemateri, juri lomba, atau minta karya Toan dan Nyonyae dari tahun sebelum masehi tadi, tahun delapan belas sekian-sekian itu, yang dulu tak pernah dibicarakan itu, jadi bahan pembicaraan, bahan lomba dan kajian, dst.

Besarkan kepala mereka dengan memberi gelar Seniman Muda Hebat, Seniman Kota Iko Bertalenta, Seniman Muda Harapan Bangsa, dst, dst, dst, dan seterusnya. Ikat merekar dalam kepanitiaan, organisasi dan EO yang Toan dan Nyonyae buat selama bertahun- tahun kedepan. Ciptakan tradisi yang membuat mereka selalu bersorak: Hidup Toanku ceniman! Hidup Nyonyaeku ceniman!

Dengan sendirinya, Toan dan Nyanyae eksis sebagai ceniman,  bahkah lebih cepat naik daun daripada Aden.

***

Toan dan Nyonyae, meski tidak pernah sampai, keinginan Aden untuk menjadi ceniman resmi pensiun dini beberapa waktu yang telah lalu. Hal ini tersebab membaca berita utama di harian Darmadi&Nata Metro yang tertulis dengan huruf besar, “SEORANG CENIMAN BERINISIAL RPS YANG SEHARI-HARINYA BERPROFESI SEBAGAI PENYAIR DITANGKAP POLISI KARENA TERBUKTI MEMPERKOSA HINGGA HAMIL SEORANG MAHASISWI DARI SEBUAH KAMPUS SASTRA DI KOTA SINAN BERINISIAL PCD”. Modus penyair  pelaku (Riski Pepeng Srengekan, 39 tahun,  red) adalah dengan cara pura-pura mengajak nonton teater, meminjamkan buku dan mengajarkan cara menulis puisi yang baik dan benar kepada korban (Pacarden, 19 tahun,  red). Menurut seorang psikolog, korban sangat trauma terhadap hal-hal berbau ceni, nyastra dan ceniman, apalagi bila mendengar tiga pertanyaan spesifik di bawah ini:

1. Suka nulis puisi juga?
2. Suka nonton teater atau tari, nggak?
3. Punya atau sudah baca buku apa saja?

...[]
Kota Iko, 11 Maret 2017

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Aden sebagai pemenang.

Dt. Aden Pulo Nan Kabatantang

Lelaki setengah matang, lahir di Kota Iko. Seniman tak kesampaian, teman ngopi dan diskusi Ajo K.

0 comments:

Post a Comment