Thursday, 2 March 2017

Kita di Sini Sangat Merasa Kehilangan Sosok Seorang Tere Liye yang Dulu

Sebelum memulai menulis tulisan ini, saya lebih dahulu ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Facebook yang memiliki fitur membagikan kenangan. Tanpa fitur tersebut, saya tidak akan kepikiran untuk menulis topik ini. Terima kasih facebook.


Brilio.net

Baiklah, jadi tadi pagi saya iseng membuka-buka fitur kenangan di facebook, tentang postingan apa yang sudah saya tulis dulu. Dan saya menemukan postingan yang cukup membuat siapapun yang paham relevansinya, pasti akan tersenyum kecut dan bahkan tertawa terbahak-bahak. 

Ya, tepat setahun lalu. Seorang penulis novel best seller Indonesia membuat postingan di akun facebooknya. Kebetulan waktu itu, postingan ini saya bagikan di akun saya. Sehingga masih tersimpan hingga sekarang. 

Dok. Pribadi Brian

Postingan di atas sempat membuat jagat dunia persilatan berkecamuk. Ada yang membuat surat terbuka, ada yang berkomentar seadanya, ada pula yang menghujat dengan riang gembira. 

Bagaimana tidak heboh, seorang penulis novel yang memiliki jutaan pembaca, berusaha membelokkan sejarah dunia persilatan kepada generasi milenia. Mengikis sedikit demi sedikit pemahaman anak-anak muda dari peran orang-orang kiri terhadap kemerdekaan Indonesia. Kurang jahat bagaimana lagi itu si Tere?!

Beruntung postingan tersebut tidak ditanggapi secara serius oleh orang-orang yang "melek" sejarah. Tere Liye sejak saat itu hanya menjadi topik candaan yang dibahas tatkala diskusi sedang mampet di kedai kopi. 

Atau ada pula yang memberikan buku novel karangan Tere sebagai hadiah ulang tahun kepada temannya, sehingga membuat teman tersebut misuh-misuh menahan kesal.

Ya, barangkali mereka sadar, bahwa tidak ada gunanya menuntut Tere liye lebih jauh di pengadilan. Toh kita sama-sama tahu, orang itu sedang berusaha menarik calon pembaca bukunya, dengan menggunakan sensasi. Cukuplah dengan cemoohan, bully, dan sangsi media sosial yang membalas perbuatannya. 

Namun jujur sebenarnya saya sedih. setelah menjadi korban bully tingkat nasional. Tere Liye tidak lagi bersedia untuk di bully

Postingan-postingannya pun tidak selucu setahun lalu. Kita di sini sangat merasa kehilangan sosok seorang Tere Liye yang dulu.

Semoga Tere Liye membaca tulisan saya ini, dan merangkul aspirasi saya. 

Kembalikan Tere Liye yang dulu kepada kami. Tere Liye yang sering menulis, meski terkadang jarang membaca. 

Salam.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan bagikan jika suka Brian Fadli Fahmi sebagai pemenang.

Brian Fadli Fahmi

Tukang Foto. Tuan Besar Akeo Art.

0 comments:

Post a Comment