Saturday, 25 March 2017

Lagu Kehilangan

Di Kampung Pacah, kalau malam telah tiba, siapa yang tahu bahwa, ada suara lulung tangis terdengar amat menyesak dadamu. Entah telinga siapa yang mampu mendengarkannya. Tidak pada telingamu. Tidak pada telinganya. Tidak pula pada telinga siapa-siapa. Takada. Cuma ada tangisan yang hampir setiap hari pecah karena telah penuh melulur rindu. 
Malam itu, hujan turun lebat sekali. Mak Daramah dan Gaek Mungka mati dikoyak sepi. Duduk termenung mereka bersisian. Di hadapan jendela pondok kayunya yang tak berdaun itu, di situ mereka mengadu bisu. Tak ada sesuara pun. Hanya ada deru hujan dicampur angin malam, lolong suara anjing, serta lagu kehilangan.

Tak ada sewajah pun yang tampak dari ujung jalan Kampung Pacah, yang menandakan bahwa anak lelaki itu akan kembali ke kubangannya. Takada.

Pandangan dua orang tua itu kosong sekali. Seperti akan mati besok saja. Dan malam, terus menyelam menelan harapan yang tak pernah putus-putusnya.

Mereka bukannya tak punya anak. Mereka punya seorang. Sibiran namanya. Anak bujang itu lama tak pulang-pulang. Sejak katanya waktu itu, ikut pergi merantau, ikut pergi bekerja dengan kawannya di Jakarta. 

“Kalau akan di sini juga mencari kerja, tak akan berkembang kita. Percuma dapat gelar sarjana kalau cari kerja di sini-sini juga, tak berkembang, aku ingin mengubah nasib kita,”begitu kata Sibiran dulu ke orangtuanya.

Gaek Mungka wanti-wanti benar ke Sibiran supaya anak itu jangan ikut-ikutan pergi ke Jakarta. Tapi dasar anak itu tangkar orangnya, mau diapakan lagi. Dia nekat juga pergi ke Jakarta. 

Terakhir, dengar kabar dari anak Sidi Mantari yang kebetulan juga bekerja di Jakarta, anak orang dekat rumahnya, katanya, Sibiran sekarang orang sibuk. Sering pergi dengan pebisnis dalam negeri yang bergerak di bidang pembangunan ke berbagai daerah. 

Meskipun dua orangtua itu susah sungguh, mendengar kabar seperti itu, ada juga pengobat hati yang rusuh. Senang juga hati orangtua itu mendengar kabar bahwa  anaknya kini telah larat di rantau orang.

Tapi bagaimanalah. Sampai sekarang, lagu kehilangan itu terus menerus menghentak-hentak juga di relung hati mereka. Dan masih menghendakinya kembali pulang.

Hati siapa yang tak rusuh, anak yang dinanti belum pulang juga. Sementara kematian, terasa di ujung tenggorokkan saja. Dan entah sesiapakah yang dulu pergi di antara mereka itu, entah. 

“Terlalu larut,”kata Mak Daramah lirih. 

“Ya, aku tahu. Dan malam makin kelam,”sambut Gaek Mungka, “tapi dia belum pulang juga. Sementara kita sudah begini senjanya. Aku makin rapuh. Berjalan saja tak bisa lagi,”lanjutnya sambil memegangi kedua kakinya yang mati.

“Entah sudah pada malam keberapa, termasuk dengan malam ini,”kata Mak Daramah, “kalau benar dia masih hidup, pulangkanlah,”lanjutnya berharap kepada angin berhembus.

“Kalau benar untung malang menghamparkannya, tunjukkanlah.”

“Tuhan, sebelum kami ini benar-benar mati, pertemukanlah,”pinta Mak Daramah menengadahkan tangannya ke langit. Gaek Mungka lantas tersenyum memandangi istrinya itu.

“Kau saja yang duluan mati, aku belum, ya,”kata Gaek Mungka meledek.

“Tak setia! Tega kau bicara seperti itu ke aku,”kata Mak Daramah merungut.

“Ha, ha, ha aku bercanda cuma. Habis, tiap kali kau mengingatnya, selalu kau bicara begitu. Tak pernah beranjak dari kata mati, mati, mati. Memangnya kau sudah siap benar untuk mati?”sindir Gaek Mungka. 

“Bukankah setiap dari kita pasti akan ke sana juga tibanya. Dan siap tidak siap, harus memang siap.”

Gaek Mungka sekonyong terdiam dibuatnya. “Tapi tak perlu juga setiap kali kau merindukannya, kau menyebut-nyebut itu ke itu saja terus.”

“Maafkan, tidak lagi.”

“Ya, kumaafkan.”

Gaek Mungka melayangkan pandangannya ke ujung jalan. Masih belum ada juga tanda-tanda. “Ngomong-ngomong, kau masak apa hari ini??”katanya.

“Mengapa? Kau lapar?”Tanya Mak Daramah melirik Gaek Mungka.

Lelaki tua itu hanya menoleh ke istrinya sekadar. Dan ia sendiri tak mau berkata jelas-jelas. Takut akan membebankan istrinya hanya karena memikirkan lambungnya sendiri saja.

“Seharian ini aku tak sempat pergi ke kota.”

“Semua ini salahku juga, harusnya aku bisa berjalan mencari makan untuk kau,”kata Gaek Mungka mengupati dirinya.

 Mak Daramah menghampiri.

“Rebahkan aku,”pinta Gaek Mungka.

Mak Daramah merebahkan badan Gaek Mungka ke dipan tak berkasur itu. Tikar pandan setidaknya dapat mengalas tubuh Gaek Mungka dari kerasnya dipan itu. Supaya tak terasa benar sakit punggungnya.

“Jangan mengupat juga!”kata Mak Daramah.

“Memang seharusnya aku yang mencarikan uang untukmu kan,”kata Gaek Mungka yang masih menyesali dirinya.

“Sudah jalan kita begini, mau diapakan lagi. Kita harusnya bersyukur masih bisa hidup sama-sama,”hibur Mak Daramah.

“Tetap saja aku merasa diriku ini tidak berharga.”

“Kalau kau benar tak berharga, mungkin sudah lama kau kujual ke tukang loak,”kata Mak Daramah membalas meledek kali ini.

“Eh, mengejek?”

Mak Daramah masih menahan tawanya. Ia lantas pergi ke dalam, lalu kembali lagi sambil membawa plastik hitam berisi roti kelapa.

 “Aku tadi membeli ini, kau makanlah,”kata Mak Daramah.

“Di mana kau dapat uang membeli ini?”

“Yang jelas, aku membelinya dengan uang halal. Sisa menjual botol plastik ke toke kemarin,”jelas Mak Daramah, “makanlah, sisihkan sedikit untuk esok pagi,”lanjutnya.

“Tidak, sebelahnya lagi untuk kau sajalah.”

“Tidak. Aku sudah makan tadi,”kata Mak Daramah berbasa.

Terhenti mulut Gaek Mungka menyungkah begitu mendengar kata istrinya baru saja. 

“Makan di mana pula kau? Dengan siapa?”ujar Gaek Mungka mencurigai.

“Tak perlu kau curiga. Aku tadi dilempari makanan oleh orang bermobil. Lumayan, aku dapat roti tawar tanpa selai,”kata Mak Daramah menceritakan.

“Daramah…”kata Gaek Mungka menatap istrinya sedih sekali.

“Saya…”balas Mak Daramah.

“Betul begitu?”Tanya Gaek Mungka memastikan.

“Betul, sudah setua ini tak pantas lagi kita banyak-banyak berbohong, sementara pintu kubur sudah semakin dekat. Kalau masih sempat juga berbohong, itu keterlaluan namanya,”jawab Mak Daramah. 

Gaek Mungka menyuapkan potongan roti kelapa itu ke mulut Mak Daramah. Berkaca-kaca matanya memandangi istrinya itu. Dan tanpa perlawanan, Mak Daramah menurut saja membuka mulutnya. Dikunyahnya kue itu dengan gigi yang tak utuh lagi. 

Hujan dan angin malam cemburu melihatnya. Udara semakin terasa mencucuk tulang. Rindu semakin bertalu-talu, membuncah di hati yang rindu. 

Mak Daramah termenung kemudian, “tiba-tiba aku ingat dia lagi,”lanjutnya.

“Dia saja belum tentu ingat dengan kita,”kata Gaek Mungka melirik ke foto wisuda Sibiran yang tergantung di dinding.

“Bukan dia tidak ingat, dia ingat.”

“Kalau dia ingat, pasti dia pulang,”gerutu Gaek Mungka melawan. Lalu lelaki tua itu mengerinyitkan keningnya sambil memegang dada.

“Apa yang terasa sekarang?”

“Dadaku,”kata Gaek Mungka agak susah menyebutkan.

“Mengapa dengan dadamu?”

“Seperti ditekan-tekan orang.”

“Ditekan-tekan rindu?”

“Aku sedang tidak bercanda, tahu.”

“Iya, iya maafkan lagi.”

“Ah kepalaku,”keluh Gaek Mungka lagi.

“Mengapa pula dengan kepalamu?”

“Serasa mau pecah.”

“Ya Allah,”Mak Daramah khawatir.

Dicarinya apa yang bisa ditumbuknya, untuk dilekatkan ke kening Gaek Mungka. Tapi tak ada yang bisa ditumbuk. Cuma ada air dalam tempayan yang didapat. Lantas dicarinya kain singlet bekas yang bisa dipakainya untuk mengompres, sebagai penurun panas. Sementara Mak Daramah mencari itu, Gaek Mungka berkata-kata tidak karuan saja. Panas di keningnya tinggi sekali. 

“Anakku pulang. Dia di halaman rumah kita sekarang, pergi lekas! Sambut dia dengan hangat, Daramah,”perintah Gaek Mungka ke istrinya itu. 

“Kau mengigau berat. Tak ada dia di halaman. Ya, Allah..”kata Mak Daramah menangis cemas sekali.

“Daramah..”

“Saya..”kata Mak Daramah menjawab dengan tangis tertahan-tahan.

“Punggungku.”

“Mengapa dengan punggungmu?”

“Serasa mau keluar saja tulang belakangku ini,”keluh Gaek Mungka menahan sakit. 

“Sebentar biar kucarikan obat.”

“Tidak perlu. Aku takut ditinggal sendiri, Daramah.”

“Bersabarlah sebentar, sebentar aku kembali,”kata Mak Daramah nekat pergi sebentar.

Gaek Mungka berlinang air matanya melihat istrinya kalimpasingan seperti itu. Dalam hati, berkali-kali ia mengucap. Dadanya terasa semakin sesak. Kalau memang pendek umurnya, ia siap. Seperti kata apa istrinya tadi. Dan ia mau mati dipangkuan Mak Daramah saja.

Tak lama sesudah itu, Mak Daramah datang membawa daun sidingin yang dimintanya ke rumah Mak Lansia, orang yang jarak rumahnya hanya selemparan batu dari pondoknya. Ditumbuknya daun itu, lalu dilekatkannya ke punggung Gaek Mungka. 

Barulah sedikit berkurang sakit punggung lelaki itu. Gaek Mungka bisa tenang dan tertidur pulas sekali. Mak Daramah lega. Dibiarkannya. Ia tak mau mengganggu tidur lelaki tua itu. 

Malam semakin membenamkan mereka yang diselumuti dingin dan hujan.

***

Subuh pecah. Mak Daramah pergi mencuci kain ke tepi sungai. Rencananya, sesudah itu, ia akan ikut pergi memancing ikan dengan Sumani, orang Kampung Pacah yang rumahnya tak jauh dari pondok Mak Daramah. Kalau dapat agak sesambal, lumayan untuk makan seharian. 

Waktu Mak Daramah sedang memancing di sungai, tiba-tiba, datang kabar dari Lumin, pemuda setempat. Lumin berlari ke arah Mak Daramah dan berkata, “Mak Daramah! Mak! Mak Daramah!”sorak Lumin yang semakin mendekat.

Mak Daramah terheran, melihat Lumin teriak histeris berlari seperti itu ke arahnya. Dan waktu Lumin sampai ke tempat Mak Daramah, dengan napas tersengal, ia bercerita. 

“Mengapa, Lumin?”

“Kampung kita, Mak.”

“Mengapa dengan kampung kita?”

“Orang berseragam masuk ke kampung kita. Mereka menggusur kampung kita dengan mesin geledor. Tanah kita diambilnya,”kata Lumin menangis histeris menceritakannya. 

“MasyaAllah,”kata Sumani histeris, “ayo, Mak. Kita segera ke sana,”lanjut Sumani.

Cepat-cepat Mak Daramah diboyong pergi oleh Sumani. Dan di jalan menuju tempat kejadian, Lumin terus menangis karena kekhawatiran yang teramat. 

“Hapus air matamu, Lumin. Jangan menangis seperti itu juga,”kata Mak Daramah yang berusaha tenang.

Sesampainya di sana, Mak Daramah yang semula tegar, runtuh juga imannya kemudian. Ia histeris melihat Gaek Mungka dievakuasi oleh warga setempat. Dan dilihatnya pula, rumahnya telah rata dengan tanah. Dan di kampung yang telah rata dengan tanah itu terpampang tulisan besar-besar, “TANAH INI MILIK PT GUMARANG”. 

Mak Daramah tumbang. Ia menangis sejadi-jadinya, dipeluk oleh Sumani dan Lumin. 

“Kampung kita habis, Mak,”kata Lumin sambil menangis.

Pak Karan, kepala kampung yang berada di barisan depan, berteriak dengan histerisnya. “Ini tanah milik kami. Kami yang berhak atas tanah ini,”katanya, “ini tanah leluhur kami. Sejarahnya, ini tanah kaum kami, kalian tak ada hak mengambil tanah ini,“lanjut Pak Karan sambil menghunuskan parangnya ke arah para petugas yang sedang mengeksekusi. 

Karena dianggap membahayakan proses eksekusi, Pak Karan ditangkap. Meskipun ia berupaya melawan dan dibantu oleh beberapa warga lain untuk mempertahankan hak atas tanah kampung itu. Ia  dan beberapa warga lain malah dikeroyok habis-habisan. Badannya bengkak-bengkak kena hantaman pentungan dan sepatu pedehel.

Di tengah hiruk pikuk itu, Mak Daramah berlari ke tempat Gaek Mungka yang sedang dievakuasi. Berlinang air mata lelaki itu dipelukan istrinya. Panas di keningnyya tinggi sekali. Tapi badannya menggigil.

“Bantu aku bacakan kalimat itu, Daramah,”pinta Gaek Mungka berkata susah sekali.

Pelan-pelan Mak Daramah membisikkan dua kalimat syahadat ke telinga Gaek Mungka. Selesai kalimat itu dibacakan, berdiri bulu roma Gaek Mungka. Dua kali lelaki tua itu tercegut. Dan nyawa lelaki tua itu melesat, kembali kepada-Nya.

Mak Daramah menangis amat histeris memeluk jasad suaminya. Sebagian orang yang ada di situ, tak bisa lagi menahan tangis. Lalu membawa Mak Daramah dan jasad Gaek Mungka pergi ke tempat yang agak aman. 

Sementara, Kampung Pacah masih mencekam. Orang Kampung Pacah makin mengamuk. Mereka tak terima atas tidakan eksekusi yang dianggap tak adil itu. Sebagian orang yang berani melawan, habis dihajar oleh petugas.

***

Sepekan sesudah kejadian itu, sebagian orang Kampung Pacah yang tergusur itu pergi mengungsi, menumpang tinggal dengan sanak familinya di kampung sebelah. Ada pula sebagiannya lagi. karena tak ada yang mau menampungnya, kini mereka itu jadi gelandangan di kota. Dan di kota, mereka jadi bulan-bulanan pula. Dikejar-kejar petugas hampir setiap hari.

Tapi untunglah, nasib Mak Daramah sedikit lebih mujur dari orang-orang tergusur itu. Yang pergi menggelandang ke kota itu. 

Mak Daramah dibawa oleh Sumani untuk sementara waktu tinggal dengan saudara jauhnya ke kampung sebelah.

Mak Daramah tak mau ikut dibawa ke kota. Ia mau tinggal di dekat Kampung Pacah saja. Biar setiap hari ia bisa pergi ziarah ke makan Gaek Mungka. Dan ibanya lagi, kondisinya semakin memburuk. Ia sering sakit-sakitan. 

Baginya, meski lelaki itu kini telah ditanam dan tenang di sana, Gaek Mungka masih ada di Kampung Pacah. Dia itu masih hidup, meski cuma di hatinya. 

Dan kini, kampung yang kini telah jadi tengah lapang itu, terpampang tulisan besar “Lokasi Ini Segera Dibangun Villa Megah Asri”.

Pemilik modal dari Jakarta semakin memberi peluang besar untuk orang-orang kota di kota ini yang akan pindah dan mengambil rumah ke sana, karena menurut mereka, tinggal di sana lebih aman dari bahaya tsunami.  

***

Di tanah lapang itu, tampak dua mobil mewah besar melintas kencang sekali. Dan membuat kabut. Lalu, turun dua orang lelaki berbaju putih. Satu kulitnya putih bermata sipit, dan satu lagi berkulit coklat berbadan tinggi semampai. Yang berkulit putih bernama sipit itu namanya Pak Wangsa. Dan yang satunya lagi bernama Sibiran.

“Pak Biran, bagaimana? Kira-kira ini satu tahun kerja, bisa lah ya,”kata lelaki berkulit putih bermata sipit itu menargetkan.

“Mudah-mudahan, Pak. Kami sudah siapkan segalanya. Bulan depan kita bisa  langsung laksanakan.”

“Bagus,”kata lelaki berkulit putih bermata sipit itu tersenyum.

Lalu mereka itu bersalaman dan sama-sama meninggalkan tanah lapang itu dengan mobil mewahnya masing-masing. Kabut kembali berderai ke udara karena kencangnya laju mobil besar mewah itu.

Ada segurat kenangan terlintas dalam ingatan lelaki yang duduk mengangkang di kursi belakang. Dan sedang ia mengingat segurat kenangan itu, tampak orang-orang berjalan berarak-arakan, membawa keranda dengan muka penuh duka. Orang-orang yang berjalan berarak-arak itu hampir semua dikenalnya.

Dibukanya kaca mobilnya sedikit. Lalu ditutupnya lagi cepat-cepat. Berpindah-pindah matanya melirik ke arah orang-orang yang berjalan berarak-arak di tanah lapang itu.

“Mengapa, Pak Biran?”tanya supirnya itu.

“Tidak, kau menyetir sajalah yang benar. Ndak usah banyak tanya,”katanya.

Berkali-kali mata lelaki yang duduk di belakang itu melihat-lihat ke belakang. Mencari Mak Daramah di antara orang banyak yang berjalan beriringan itu. Tak ada Mak Daramah dilihatnya, tanpa ia tahu bahwa yang sedang dijujung orang dalam keranda itu, yang menuju ke pekuburan itu, adalah ibunya.

Padang, 15 Maret 2017.

Kalimpasiangan(Min)= gelisah

***
Rio Rinaldi

0 comments:

Post a Comment