Tuesday, 14 March 2017

Marantau Bujang Dahulu, di Rumah Baguno Balun

Dua atau tiga hari yang lalu, salah seorang karib datang berkunjung. Seperti biasa, setiap kali berkunjung dia selalu membawa gorengan, cuma pisang goreng tepatnya. Karena sudah lama tidak bertemu, kami jadi bersemangat saling bertukar cerita. Mulai dari cerita kanak-kanak lengkap dengan sindiran anak kampung yang khas -meski itu ke itu saja yang diceritakan kalau bertemu sesekali- bicara politik dan rimba rayanya, rambut perawan yang basah, sampai kepada menyinggung soal nasib.


Bicara nasib kita bakal bicara hidup-kehidupan-hidup-menghidupi. Bagai orang yang telah fasih soal kehidupan, kami mencoba menelanjangi nasib masing-masing. Tapi kali ini saya lebih senang mendengarkan saja, kawan saya itu yang bercerita banyak tentang nasib. Dia membuka cerita soal rantau dan mengakhiri cerita juga soal rantau.

"Hidup di rantau ternyata tak semudah yang kubayangkan," dia memulai cerita, sementara saya sibuk mengunyah pisang goreng yang mulai mendingin.

"Semua orang sibuk mencari nasib masing-masing," lanjutnya lagi, lalu saya mengiyakan perkataannya itu di dalam hati. Memang benar, rantau seolah tempat nasib berkumpul sembari menanti tuannya datang. Ada yang cepat menjemput nasib, ada juga yang butuh waktu lama namun pasti. Agaknya kami berada pada golongan ketiga, orang yang nasibnya tak menentu, orang yang masih menghitung nasib orang lain. Benar kata Amak, mencari makan di rantau bukanlah perkara mudah. Saya tak menemukan makanan yang gratis. Di kampung saya masih bisa menikmati pisang goreng pemberian seorang karib.

"Semakin ke sini semakin sulit saja kehidupan yang kulakoni. Baru saja berbilang hari keberadaanku di rantau, rasanya telah berbilang tahun. Benar kata ibu, tak mudah hidup jauh dari orang tua," tukasnya lagi.

Perlu kukatakan padamu,  saat ini aku telah mendapati pekerjaan. Pekerjaanku terbilang lumayan, sebab soal tempat tinggal tak jadi hirauan. Untuk makan sekali siang tempat kerjaku yang menanggung. Tapi aku selalu dipusingkan perkara nasib. Perkara janjiku merubah nasib. Mana mungkin seorang wartawan di negeri ini boleh bermimpi hidup layak. Kecuali ada yang kau gadaikan. Ini susunan kalimat yang paling kuingat dari keluh kawanku itu. Aku berdoa yang terbaik bagimu.

"Apa salahnya jika kau terima saja amplop-amplop yang disodorkan padamu. Toh itu buah jerihmu," celetuk seorang kawan seprofesi suatu waktu katanya.

"Ai, bukan aku orangnya. Mungkin kebiasaan hidup susah telah mengajariku untuk sombong. Tak pandai aku menjual diri seperti itu. Jika aku mau, sudah dari dulu kuterima tawaran Haji Yakub, dia mau memberikan beberapa bidang sawah miliknya, lengkap dengan kerbau pembajak sawah, juga seekor beruk yang sudah bisa disuruh memetik kelapa, asal aku mau menikahi anaknya sudah dicerai suami," kawanku itu mengakhiri ceritanya soal rantau terakhir, pelukan istri, yang kini sedang kami perjuangkan barangkali.

Kami mengakhiri cerita dengan sebuah kesepakatan; 

Karatau madang di hulu
Babuah, babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah baguno balun

Merantau bukanlah perkara mudah atau tidak pernah akan mudah. Anak laki-laki di kampung kami tidak memiliki hak atas tanah ulayat. Seorang kemanakan dari seorang penghulu besar dengan kekayaan warisan adat yang luas sekalipun tetap tidak memiliki hak atas tanah adat itu. Konon, hak ulayat hanya untuk dan atas perempuan, namun begitu tidak pula untuk diperjualbelikan. Makanya, sakit-payah di rantau bukanlah rintangan yang terlalu besar untuk dilalui bagi kami, sebab bekal yang dibawa dari kampung tidak lebih daripada apa yang bisa diberikan oleh orangtua.

***
Depitriadi

Berharap bertemu Damhuri Muhammad

0 comments:

Post a Comment