Wednesday, 15 March 2017

Mawar Biru, Pengharapanku Berdamai Bersama Masa Lalu

Jingga itu menyeruak di sela sobekan langit yang tadinya membiru. Awan yang berbentuk kapas putih itupun terkena dampaknya. Putihnya awan tak lagi murni dan runyam seiring datangnya kelam yang mendekap erat di ujung sore itu. Jingga yang sekelibat lewat, melalui sobekan langit mulai merapikan dirinya untuk kembali menghilangkan diri dan pulang entah kemana. 


Mungkin jingga itu hanya sekedar menatap bumi, dengan kekecewaan yang sama dan meninggalkannya. 

Rumput yang sempat bergoyang ria menatap senja, kini seolah tidur mendiamkan dirinya. Senja itu dengan sombongnya menampakkan jingga yang disudutkan, yang akan kembali esok, dan seterusnya.

Aku berjalan di bawah jingga dengan hiruk pikuk kota Padang yang mulai reda. Tapak demi tapak kaki yang sejak tadi kulangkahkan, mulai memberikan dampak kepada keningku yang dihinggapi dua jerawat kecil, yang mulai basah oleh keringat. Tas ransel besarku menyimpan tumpukan buku, yang meronta untuk dibaca. Beban penuh di dalam ransel seolah semacam gambaran, sesaknya pikiranku yang ada di benak hingga pusing sampai ubun-ubun. Beriring air muka datar dan lusuhnya wajahku.

Sesekali lalu lalang motor di sampingku tanpa hirauan. Aku terus melangkahkan kaki dengan sesekali mengusap keringat yang sejak tadi bercucuran, seperti dibasuh air pekat yang tak diharapkan. Kulihat jam tangan usang pemberian teman dekat perempuanku kala aku ulang tahun dulu. Jam tangan yang berisi surat bersanding aksara yang bertuliskan harapan-harapan di masa depan yang penuh enigma. Nafas yang keluar kuusahakan teratur, seteratur tumpukan buku yang kuusahakan juga sebelum pulang tadi, di dalam ransel lusuh minta dipensiunkan.

Jalan ini akhirnya menemui ujungnya. Aku mulai membuka pagar indekos yang aku tinggali sejak dua tahun lalu, awal semester dua perkuliahanku di sini. Aku menutup kembali pagar itu dengan suara decitan, seperti teriakan panjang tikus yang terjepit minta dilepaskan, seolah berteriak sekeras mungkin untuk mengurangi pesakitan. Kembali suara tikus itu bergema kala aku menggengam ganggang kunci pagar dan memutarnya perlahan agar pas dan tertutup pasti. Kepastian yang juga aku harapkan akan masa depan dan selingannya di antara harapan.

Aku mengetuk pintu, dan langsung memutar ganggang pintu yang tidak terkunci itu. Tampak teman-teman kosku, Yogi, bang Geri, bang Ajo, bang Ade, bang Adam, serta pak kos pemilik rumah, bang Adi sedang menatap layar Televisi 14 inch yang dibeli bekas dulu. Mereka menyaksikan permainan bola dengan serunya dan hanya sekilas menghiraukanku. Akupun hanya tersenyum kecil dan sejenak menunduk sebagai isyarat sapa. Lalu aku langsung memasuki kamar, setelah membuka sepatu sebelum masuk rumah tadi.

Sebentar saja, aku perlahan membuka satu persatu kancing kemejaku yang punggungnya basah karena keringat. Juga kaos oblong yang aku lapiskan untuk menampung keringat karena perjalanan pulangku di tengah hawa panas di kota Padang. Apalagi kampus yang terletak di pinggir pantai, tak sedikitpun memberikan ruang kesejukan untuk menyinggahiku, selain waktu dini hari dan hujan badai.

Ku ambil handuk berniat untuk mandi. Hanya saja, handuk itu sejenak kubiarkan terlilit menggantung di leherku, untuk sedikit mendinginkan badan setelah bermandikan peluh perjalanan pulang tadi. Sambil berjongkok, aku mengambil ujung kabel charger HP dan menyambungkannya di HP tanpa memandang notifikasi yang dipaparkannya sedikitpun. Bagiku, itu hanya menunda kegiatanku yang lain. 

Setelah di rasa pas, kuletakkan HP ke lantai, dan sejenak menatap kalender yang menggantung di pintu kamar indekosku. Kulihat deretan angka terbaris rapi, memamerkan tanggal-tanggal dengan kesan sombong. Tak ada sapaan, atau apapun ekspresi yang diberikan kalender kecuali angka-angka. Satu hal yang ada di kalender itu yang memberikannya sebuah estetika tak terelakkan. Sebuah foto anggun yang terpampang di atas deretan angka-angka membosankan itu. Mawar biru.

Mawar biru itu tersusun rapi beberapa tangkai, dengan latar belakang kilau cerah matahari bersela langit biru yang kosong dan datar. Mawar biru itu seolah berdiri tegap memamerkan keindahannya dengan ekspresi tenang berselip wibawa. Beberapa titik air sedikit membasahi kelopak indah mawar biru itu, seperti suasana segar sehabis turunnya hujan yang mendamaikan. Ketenangan menghampiriku sejenak kala menatap foto mawar biru itu. Ketenangan itupun sirna ketika beban tugas yang bersiap-siap untuk di kerjakan kembali terpikirkan. 

“Bang,” Sapaku sambil tersenyum kecil kepada bang Ajo yang menyingkap layar kamar.

“Yop. Baru pulang?” Tanggap bang Ajo.

“Iya bang. Aku mandi dulu bang,” Jawabku sambil menyelipkan handuk di leher yang agak mengendor.

“Sip”. Sambung bang Ajo.

Aku menuju kamar mandi dengan sabar. Langkah kaki letih seolah kupaksakan untuk membawa tubuhku. Akupun mulai mandi dengan segala ritualnya. Segarpun merayapi tubuhku bersama sebaran air menjamah. Juga serakan pikiran yang mulai tersususun rapi rasanya. Gayung demi gayung mengguyuri tubuh merubuhkan ruwetnya pikiran liar. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dengan diriku yang baru. Sungguh menyegarkan, batinku.

Kenestapaanku singgah kembali kala melihat foto mawar biru itu. Ia seolah menyindir kesendirianku yang sekian tahun itu. Aku menepis kenestepaan itu dengan shalat maghrib dan mengadu kepada tuhan. Setelah selesai, aku menghempaskan tubuku di kasur pemberian tante kala hari pertama di Padang dulu. Aku membuka pembicaraan dengan bang Ajo, teman sekamar indekosku yang serius menatap layar HP.

“Tadi tidak ke kampus, bang?” Tanyaku.

“Iya. Tadi abang ke kampus menemui dosen pembimbing. Tadi siang saat istirahat, abang menyempatkan diri bimbingan skirpsi, biar cepat selesai.” Jawab bang Ajo yang sedang menjalani semester 8 itu.

“Mawar biru, kira-kira di jual dimana bang.” Tanyaku kembali mengalihkan pembicaraan.

“Itu bunga langka. Susah untuk di cari. Bahkan bunga itupun hasil dari penelitian di Jepang. Mungkin di Jepang, ada orang yang menjualnya.” Tanggapan bang Ajo dengan pengetahuan luas yang akupun mengagguminya.

Aku mengangguk kecil dan sejenak saling terdiam. Bang Ajo yang masih sibuk menatap layar HP, mulai merespon pertanyaan terakhirku.

“Untuk apa mau membeli mawar biru?” Bang Ajo melempar pertanyaan kepadaku

Aku sempat terdiam sejenak. Aku menyusun jawaban dengan susahnya. Akupun menjawab.

“Cuma bertanya bang. Mawar biru itu aku lihat cukup indah jika di berikan kepada orang yang spesial.”

Jawaban kulontarkan dengan tidak sadar sepenuhnya. Pikiranku kembali rumit jika membayangkan orang yang spesial.

“Bagus. Cobalah berdamai dengan masa lalu.” Jawab bang Ajo singkat mengagetkanku

“Iya bang.” Tanggapku.

Tanggapan bang Ajo mengkoyak luka lama yang mulai kering. Aku bertahun-tahun mengobati luka itu. Mendaki gunung untuk sementara adalah obat yang sangat ampuh untuk sejenak melupakan tumpukan masalah di dunia ini. Menurutku, mendaki gunung memiliki sebuah filosofi tersendiri. Dari basecamp, aku bisa memandang hamparan bumi sejauh mata memandang. Manusia yang di bawah, pun tak tampak sama sekali. Jadi, untuk siapa manusia menyombongkan diri? Aku melihat kesombongan itu omong kosong belaka, dan menghindari itu sebisa mungkin.

Aku bangun dari pembaringan. Aku duduk sejenak di kasur, lalu melangkahkan kaki menuju dapur. Kakiku sejenak diterpa angin kipas angin yang kulewati di depannya. Sesampai di dapur, aku menggenggam gelas kaca yang sangat bening. Aku menaikkan keran galon dan menampung airnya di dalam gelas bening itu. Suara air yang tumpah ke dalam gelas, dan gelembung yang terdengar dari dalam tubuh galon terdengar menenangkan. Aku meneguk air setengah gelas itu, hingga tandas. Aku kembali berjalan ke kamar.

Aku duduk sejenak di atas kasur. Aku berpikir bagaimana caranya mewujudkan mimpi mendapatkan mawar biru itu, dan memberikan kepada pengisi hatiku yang telah sekian lama kosong. Hati yang tetap sabar bertahan di dalam kesendirian dan ingatan masa lalu. Aku bertekad akan mendapatkan mawar biru itu, bahkan ke Jepang sekalipun. Aku tersenyum di dalam hati bersama mimpi liarku.

Aku mengambil ransel yang kubawa tadi senja. Membuka resleting, dan menumpahkan segala isi tumpukan buku di dalamnya. Buku pustaka yang mulai usang ku coba susun serapi mungkin, agar mudah ku ambil jika dibutuhkan nanti untuk menyusun makalah, tugas kelompokku. Aku memutar lagu tangan hampa kaki telanjang dari band tigapagi.

Aku meletakkan jari-jariku di keyboard laptop yang tadi kuhidupkan. Sambil menoleh kepada buku, setiap paragraf yang ku ambil intinya dari analisisku. Aku mengetik dengan beberapa kali sekelibat terbayang akan masa depan. Aku yakin, proses yang sedang aku lalui sekarang akan berdampak terhadap masa depanku. Keyakinan itu sama besarnya dengan anganku. Aku akan mendapatkan mawar biru, walau ke Jepang sekalipun, yang akan aku berikan kepada pengisi hatiku, yang terlelap dalam pesakitan sekian lama. Mawar biru, salah satu harapanku yang entah kapan akan aku wujudkan.

Namun, pekerjaan terbesarku adalah mencoba berdamai terlebih dahulu, menyiapkan masa depan, dan memiliki paling tidak setangkai mawar biru yang akan kuberikan kepada pengisi hati, yang sampai sekarang mulai menuaikan bibit cahaya. Aku pasti akan memenangkan pergelutanku dengan masa lalu, berdamai dengannya, melalui perantara mawar biru. Ya, mawar biru yang akan kuberikan kepada seseorang, yang entah kapan ku temui adanya. 

***
Tulisan ini ikut Arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Fadhil sebagai pemenang.

Fadhil Hudaya

  1. Asli Kerinci, kuliah di Padang, kini sejenak berdomisili di Solok. Penikmat lagu sendu, semacam banda neira, tigapagi, payung teduh. 


0 comments:

Post a Comment