Thursday, 16 March 2017

Mendengarkan Lagu Sambil Menghayal Adalah Hiburan yang Paling Ramah

Saat menuliskan cerita ini saya tengah mendengarkan lagu Blues Males-Slank sambil malas-malasan serta berharap bisa nonton langsung konsernya tanpa harus bayar mahal. Lihai betul grup musik ini menciptakan lagu. Dulu. Sebelum mengenal politik.


Tiada yang lebih menyenangkan rasanya ketika mendengarkan lagu kesukaan sambil berhayal bukan? Selain gratis, hal tersebut juga tidak dilarang, bahkan dianjurkan, lebih-lebih bagi yang hidup di negeri dimana hiburannya dinomorsatukan.

Sebab dilamun lagu, sampailah saya kepada pertanyaan begini; kapan pertama kali lagu diciptakan, dan lagu apa? Adakah Adam menyanyikan sebuah lagu ketika merayu Hawa dulu, layaknya sekarang? Atau ketukan seperti apa yang disukai remaja purba dahulu? Ai, sudah malas ditambah suka berhayal, masih saja suka bertanya-tanya ini dan itu, memanglah saya manusia tak tahu diuntung.

Bukannya mencari jawaban pertanyaan tersebut di perpustakaan google -cuma google yang menyediakan segalanya dengan harga paling ramah saat ini, toko buku di kampung saya tidak ada menyediakan rubrikasi musik, kalaupun ada harganya tak mampu saya sanggupi, perpustakaan daerah pun tak ada ubahnya-saya malah buru-buru mencari kertas. Membuat semacam coretan yang saya sebut peta pemikiran, sebenarnya lebih mirip, urat terung akar. Saya pikir peta pemikiran soal lagu yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut ada gunanya di kemudian hari.

Belum lagi coretan tersebut diselesaikan, saya kembali menancapkan pengeras suara ke telinga. Tanpa sengaja pemutar musik gawai memainkan musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni. Amboi, pandai benar si penyanyi merayu saya untuk kembali malas. Saya merebahkan badan di kasur. Perlahan mata dipicingkan, saya kembali hanyut dalam hayalan. Membayangkan menjadi seorang aktor dalam lagu.

Apakah sidang pembaca pernah seperti itu, bahkan lebih dari itu?

Jika sidang pembaca sekalian merasa malu mengakuinya dengan lantang, cukup saja anggukkan hati pertanda iya. Jangan jadi seorang pemalu, lebih-lebih perkara yang membuatmu nyaman. Saya pikir, mendengarkan lagu sambil berhayal tidak akan memberi kerugian pada orang lain. Lebih mulia kiranya, ketimbang menyebar hoax di media sosial. Kita menyaksikannya sendiri bukan? Betapa riuhnya opera politik, semacam membangkitkan luka lama ada pula rasanya. Mungkin kau setuju, media sosial tidak ramah lagi untuk dijadikan pilihan pelepas penat.

Kalau dibolehkan berpendapat, saya lebih setuju dengan mereka yang mencoba narsis di media sosial. Memamerkan bakat ini dan itu, seperti pandai menari dan menyanyi, atau memperlihatkan jengkol balado yang baru selesai dimasak barangkali. Memajang kalimat harap sebagai ungkapan doa bukanlah perkara buruk, namun tidak mesti dalam bentuk membagikan foto haru lagi mengerikan, yang kemudian memohon diaminkan, semakin banyak amin semakin mahal bandrol akun yang dipatok.

Tapi sungguh pun demikian, sebenarnya saya juga tengah hirau saat ini. Lagu-lagu yang saya sukai tiba-tiba berganti lirik. Saya cemas lirik-liriknya berbunyi penghasutan. Kalaulah itu yang terjadi, mungkin saya akan mengganti kesenangan. Menonton film sambil berhayal, supaya aman dari penghasutan, mungkin film biru menjadi pilihan. Itu semati-mati angin kawan, hendaknya tidak begitu.

Apa kau tahu, lagu apa yang mengiring saya ketika menyelesaikan cerita singkat ini? Tanpa disebut, saya pikir sidang pembaca sekalian telah mencoba menjawabnya. Semua lagu akan terasa benar saat ini. Selamat berhayal sambil mendengarkan lagu kesukaan, jangan lupa bawa serta mereka yang kau sayang dalam lamunan itu.

***
Depitriadi

Sedang membesarkan godok dengan malas

0 comments:

Post a Comment