Wednesday, 1 March 2017

Menengok Wajah Mapala yang Bopeng Sebelah

Wajah Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) sebagai wadah belajar yang anti kursi, meja, spidol, penghapus, proyektor, dan dosen yang sok dewa pada saat ini dikalangan mahasiswa pasti langsung terpikirkan mendaki, hiking atau muncak yang artiannya sama. Anak Mapala itu pasti jorok, dekil, selengean dan sok keras. Banyak juga yang mengatakan Mapala sebagai mahasiswa paling lama (wisuda), mahasiswa paling laknat, mahasiswa penahan lapar itu bagi mereka yang anti sama Mapala. Tapi bagi yang pro dengan Mapala pasti mengatakan Mapala itu mahasiswa paling laris atau mahasiswa paling laku. Bagi pihak yang pro pasti ada hubungan dengan anak Mapala kalau tidak pacar ya anak Mapala. Untuk mahasiswa jomblo, bergelut dengan Mapala bisa menjadi cara strategis menghilangkan label jomblo. Eh, jangan salah! Mapala itu termasuk mahasiswa terkeren di beberapa artikel loh, mencintai alam sejauh mata memandang aja mereka sanggup, apalagi mencintai kamu yang selalu di mata, Tssaaah! Pokoknya tak di ragukan lagi lah. Kalau kamu masih ragu, berarti kecintaan mu akan kebenaran sungguh mendalam, karena “pokoknya tak diragukan lagi “ itu bukan kepastian tapi semacam pembenaran. Hehehe
fokusjabar.com

Bulan pertama di tahun sio ayam api menurut Kalender Cina ini sedang hangat dengan tragedi kawan-kawan Mapala UII Yogyakarta yang melakukan Pendidikan Dasar (Diksar). Banyak gosip yang beredar bahwa diksar Mapala UII mengandung tindak kriminalitas berwujud perploncoan yang di dukung penjelasan panitia, bahwa mereka kecolongan dalam pembagian instruktur operasional. Banyak oknum-oknum yang tidak berkepentingan yang melakukan tindakan tidak sesuai prosedur. Mereka menampar bahkan menendang peserta diksar. Bagi kami anggota Mapala, Diksar merupakan pengalaman paling berharga dalam ber-Mapala yang paling seru sebagai topik pembicaraan. Diksar itu bukan hanya pendidikan semata namun juga pengalaman berunsur humor, balada, dan cerita tiada habis- habisnya tapi tak ada satu pun yang mau mengulanginya, apalagi  jika ada 3 generasi yang sedang bercerita waaah pasti wajib bergadang. Kalau senior yang bicara pasti terkesan senioritasnya, gak mau kalah sama junioran kan gengsi bro, masa junior lebih banyak ngomong dari pada senior? Dan pasti setiap omongan selalu menjadi indikator keilmuan dalam bercerita, udah ngaku aja! Yah gitulah,  yang tidak menjalaninya tentu tak akan menganggapnya berharga. Kenapa momen berharga itu hangat? Jelas, media online, siaran televisi ikut serta memberitahukan perkembangannya  karena diksarnya menelan korban sebanyak 3 orang sungguh tragis. Bahagialah mereka yang mati muda.


Mendengar dan memikirkan hal itu aku sendiri jadi berasumsi kok se asu itu perilaku seniornya. Aku bukan menyalahkan panitia yang melaksanakan kaderisasi dan regenerasi serta teknis pelaksanaan diksarnya namun oknum-oknum yang berada di dalamnya membuat panitia kecolongan, mereka kok nafsu kali mau menempeleng junioran, kental sekali dengan senioritas. Ini jelas salah satu bentuk watak kolonialis. Biasanya ada pasalnya yang (1) senior tak pernah salah. Ke (2) kalau senior salah kembali ke pasal 1. Asuu betul.

Aku juga pernah diksar tapi masih hidup dan sudah semester 10, jadi senior  juga meski gak aktif banget karena memang resah dengan senioritas jujur aja, junioran ku juga hidup sampai sekarang. Sepanjang yang ku pahami orang-orang yang berada di Mapala itu adalah orang-orang yang berani keluar dari zona nyamannya, pandangan hidup yang bukan hanya fiktif belaka ala-ala sinetron di televisi, melainkan rasa ingin tahu atas bumi dan manusia dengan segala kondisinya menjadi dorongan untuk keluar dari zona nyamannya, pendidikannya pun harus memanusiakan manusia seperti kata Paulo Freire, membantu seseorang untuk terlepas dari belenggu mitos hidup dan membentuk jati diri.  Jadi pendidikan itu tidak setampar-tampar dan setendang-tendang fisik kawan Mapala UII. Memang diksar hanya hukuman aja? Sampai-sampai menghukum orang dari dunia? Sudah lah bung sekarang tidak zamannya lagi senioritas dengan perploncoan karena itu warisan kolonialisme, masa kita pelihara watak yang dengan gigihnya di lawan oleh generasi pendahulu? Kita kan belum seberapa mereka, mereka yang bisa mengganyang menteri goblok, mewakili tuntutan rakyat dengan tritura, Lah kita? Kita yang hanya puas ketika foto profil media sosial yang megang bendera di pilar gunung dengan ekspresi gagah perkasa terus bangga dan merasa orang paling berpengaruh di dunia pendidikan dan negara ini? Ingat kamar kos yang berantakan!

Sekarang saatnya itu pendidikan kerakyatan yang objektif dan ilmiah, metode berdialog sangat efisien sebagai wujud pengembangan pengetahuan, pelajari Socrates dan Yesus dengan metodenya dalam buku Dunia Shopie karya Justin Garder. Kalau masih ada senior yang berplonco ingatlah tamparan keras sang pendahulu Soe Hok Gie “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” Jika tidak peduli dengan tamparannya, maka bersiaplah diksar lagi bersama mereka supaya bung-bung sekalian sadar. Mau?

Senioritas dengan perploncoan inilah yang membuat wajah Mapala jadi bopeng sebelah. Melahirkan stigma Mapala yang hanya naik turun gunung dan kerap menelan korban jiwa. Sejarahnya organisasi Mapala lahir karena gonjang-ganjing politik kampus dan negara. Di prakarsai oleh Soe Hok Gie mahasiswa berdarah Tiongkok, kritis, cakep, rajin membaca, menulis, berdiskusi dan rajin mengkritik teman, guru, dosen dan pemerintah serta komitmen untuk melawan sistem yang tidak berpihak kepada rakyat, sayang dia mati muda. Politik praktis sangat di benci Soe Hok Gie pada masanya maka di bentuk lah Mapala sebagai sikap atas kondisi politik praktis saat itu dan Mapala menjadi politik strategis dalam perjuangan kehidupan yang lebih humanis yakni belajar dengan alam (bumi dan segala isinya).Jadi apolitis terhadap politik praktis melekat pada organ Mapala. Mendaki gunung (belajar dengan alam) merupakan hobi Soe mulai dari kecil sampai dia kuliah. Membaca buku, menulis, berdiskusi sampai kegiatan upacara bendera di lakukan di gunung maka terbentuk lah tradisi Mapala belajar dengan alam. 

Berbagi waktu dengan alam kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya, layaknya organisasi, kaderisasi menjadi penting untuk pengembangan dan kemajuan regenerasi organisasi. Di atmosfer Mapala, kaderisasi dimulai dengan pendidikan dasar (Diksar) sebagai syarat pertama menjadi kader Mapala. Selanjutnya ada pendidikan lanjutan (Dikjut) biasanya pendidikan di Mapala ada dua fisik dan materi. Pendidikan fisik membuat kita siap dengan kondisi alam bebas. Bukan siap dengan kondisi akhirat! Pendidikan materi membuat kita bisa bertahan hidup di alam bebas, melalui navigasi, survival, management pecinta alam dst, serta pengalamanku Mapala itu wadah belajar yang sabar, telaten, pantang patah semangat, menghilangkan ego pribadi dan menyatu dengan kelompok (sosial), jadi Mapala itu ajar, pembelajaran, tempat belajar sekaligus pengajar,mengajar.

Kalau kita nonton film Biografi Soe Hok Gie, dalam film tersebut dia katakan kepada Herman, “sudah kita naik turun gunung saja, tapi sesekali kita harus menghantam pemerintah” jika melek sejarah jelas bahwa sejarah Mapala bukan hanya soal gunung saja. Mapala harus tetap hadir dalam persoalan negara saat ini tanpa kepentingan politik dan golongan namun untuk kepentingan lebih mulia yaitu kehidupan yang lebih humanis sebab disanalah bersemayam kebenaran. Rapatkan barisan hantam pemerintah. 

Pesanku kepada kawan Mapala se-Indonesia mari hancurkan watak senioritas berwujud perpeloncoan. Sudahi korban-korban berikutnya. Kembalikan wajah Mapala yang bopeng sebelah dengan terus berjuang atas ketidakadilan dan kedegilan di negara ini. Sebagai penutup dalam kebopengan ini mari teriakkan "Lestari!"

***
#Artikel ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan share jika menyukai Boyture Sitanggang sebagai pemenang

Boyture Sitanggang 

Mahasiswa biasa di Unimed, aktif di kelompok studi BARSDem, senang sedih bervespa ria, sekarang di Medan.



0 comments:

Post a Comment