Saturday, 4 March 2017

Menghargai Tubuh, Menghargai Pilihan

Seminggu yang lalu, saya meng-upload foto di akun Instagram saya. Fotonya biasa saja, cuma saya yang sedang pose berdiri bersandar pada tembok sambil menahan tote bag hitam di bahu kiri. Di dalam foto saya pakai baju serba biru; atasan rajut biru dongker berlengan tanggung, celana jins belel biru tua, dan sneaker yang warnanya senada dengan jins. Tidak ada yang aneh.


Foto itu saya beri kepsyen "Tubuh kita, kita yang punya. Kita berhak memperlakukannya sesuai apa yang kita suka."

Beberapa menit kemudian, muncul notifikasi bahwa salah satu teman mengomentarinya. Teman lama, dulu sempat satu jurusan hingga semester dua, tapi kemudian ia cuti sampai sekarang. Komentarnya begini; “yg punya Tuhan @dai_vee, perlakukanlah sesuai tuntunanNya, haha”

And, I’m just like “WHAT??”

Well, mungkin dia agak terganggu dengan kepsyen saya, yang memang terdengar sangat liberal sekali. Apalagi saya perempuan, juga muslim. Dan tidak berjilbab. Mungkin tidak pantas kali ya seorang perempuan muslim dan tidak berjilbab membuat kepsyen foto seperti itu, meski fotonya sendiri standar saja, tidak ada yang aneh.

Perihal kebebasan perempuan dalam mengekspresikan diri memang masih menuai banyak pro kontra. Mungkin kita masih ingat soal netizen yang ramai-ramai mencaci Awkarin karena berpakaian baju jaring-jaring seperut saat duet dengan Young Lex. Ditambah dengan lirik lagu yang cukup memprovokasi:

I am a bad girl

Kalau kau tak pernah buat dosa

Silakan hina ku sepuasnya

Kalian semua suci aku penuh dosa

Jangan lupa bagian “dosa” ditambahkan aksen mendesah yang aduh... gimana gitu ya. Juga mungkin saat Bu Susi Pudjiastuti punya tato phoenix di bagian kakinya itu diangkat jadi menteri. Wah, ramai netizen berkomentar. Banyak yang mencaci.

Alaaahhhh... Mbaknya baperan amat! Ya berlebihan banget tho ya, kalau orang-orang terkenal kayak mereka yang dijadikan contoh. Lha mbaknya itu siapa? Wong yang protes kepsyen fotonya toh cuma satu orang, itu pun bisa saja hanya bercanda. Ya toh?

Eiiittt...! Saya memang bukan siapa-siapa, cuma mahasiswa semester enam yang tiap hari berharap bisa punya waktu satu atau dua jam kosong untuk tidur siang di tengah kesibukan. Tapi mau nggak mau komentar teman saya tadi menggelitik pikiran juga.

Selama berabad-abad manusia hidup di bumi, mereka membentuk konstruksi sosial yang memberi batasan-batasan pada ruang gender, entah itu terhadap laki-laki atau perempuan. Pada perempuan, seperti yang saya, Awkarin, Bu Susi, dan mungkin juga dialami ribuan perempuan lain, misalnya, bahwa perempuan haruslah tunduk pada norma sosial. Harus menghargai tubuh dengan cara membalutnya dengan kain rapat-rapat. Ekspresi diri seperti tato atau merokok itu bidah! Perempuan yang pendiam dan manut lebih disukai, yang bersuara lantang tentang eksistensi diri dan penghargaan terhadap tubuh itu sundal! Waduh.

Begini lho, mas, pak, mbak, bu, pakde, bude, uwak, tulang, dsb. Saya—seperti apa yang saya tuliskan pada kepsyen foto instagram saya itu—percaya bahwa perempuan harus menganggap tubuhnya adalah miliknya sendiri. Dengan begitu, akan muncul rasa memiliki dan menghargai apa yang memang miliknya. Jika perempuan sudah menghargai tubuhnya sendiri, saya percaya ia akan berani melawan jika ada orang yang memperlakukan barangmiliknya semena-mena.

Kasus kekerasan seksual yang kerap terjadi salah satu penyebabnya adalah
karena perempuan sebagai korban akan cenderung diam karena malu dan takut terhadap sanksi sosial masyarakat, dimana korban pelecehan malah akan dihakimi cara ia berpakaian, cara ia duduk, ukuran payudaranya yang memang besar, bahkan ada juga asumsi bahwa perempuan yang dilecehkan justru menikmati pelecehan itu karena diamnya.

Menurut saya, fenomena pelecehan seksual dan victim blaming ini juga terjadi karena faktor pola pikir bahwa tubuh wanita adalah bukan miliknya, sehingga orang lain merasa boleh-boleh saja menjamah bagian tertentu tubuh itu tanpa permisi, juga menghakimi tubuh dan pilihan-pilihan yang ada pada tubuh itu sendiri.

Nah, sekarang, coba ingat-ingat lagi ketika masih kecil, kita punya mainan yang sangat kita suka—mobil-mobilan misalnya. Tentu, kita akan marah jika ada teman kita yang seenaknya memainkan mobil-mobilan itu tanpa seizin kita, bukan? Begitu juga masalah tubuh. Dengan rasa memiliki dan penghargaan terhadap tubuhnya sendiri, perempuan akan berani melawan jika tubuh itu diperlakukan kurang ajar, salah satunya soal pelecehan seksual tadi. Tentu, ini juga penting karena menegaskan bahwa untuk memasuki wilayah tubuh perempuan, laki-laki harus izin pada pemiliknya dulu, sehingga perempuan tidak terus-terusan menjadi obyek, tetapi subyek yang berani bertindak.

Rasa menghargai dan memiliki tubuh memberikan hak kepada pemiliknya untuk melakukan apa yang ia suka terhadap tubuh itu. Mau dirajah tato, mau di-pierching, mau bulu keteknya tidak dicukur, mau rambutnya diwarnai pelangi, mau pakai pakaian seperti apapun, itu hak penuh pemilik. Termasuk, jika sang pemilik ingin menutupinya dengan jilbab panjang bahkan burka. Menganggap bahwa tubuh harus diperlakukan seperti tuntunan agama juga bukan masalah sebenarnya. Asal, menurut saya, jika itu memang keinginan dari hati, bukan karena tuntutan masyarakat terhadap tubuh itu. Lha tubuh, tubuh siapa? Kok malah orang lain yang menuntut?

Jadi, sebernanya saya mau balas komentar temen saya itu dengan penjelasan seperti di atas. Tapi kan kepanjangan, jadi saya tumpahkan saja uneg-uneg saya itu di sini, mana tahu menang #ArisanGodok bulan Maret kan lumayan, buat bayar kost. Akhirnya saya balas saja dengan: “Wah, gimana nih kabarnya, Pak?”

Eh, tapi setelah itu malah nggak dibalas. Mungkin sibuk, sibuk ngingetin mbak-mbak yang lain. Jadi yo tak hapus saja balasan saya, biar nggak ketahuan kalau saya dicuekin. Hahaha.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Fitriana Hadi sebagai pemenang.

Fitriana Hadi

Mahasiswa seni yang tidak nyeni. Suka motif floral dan mie ayam, terutama yang harga semangkuknya Rp. 7000,- di depan kampusnya. Sedang berusaha meraih gelar sarjana.

1 comment:

  1. aku suka menulis, semoga kita, dia dan mereka mengerti jika masih banyak anak indonesia yang suka akan menulis. menyampaikan apa yang kita rasa dalam tulisan, apa yg kita lihat dan apa yang sedang terjadi, "sesungguhnya negeri ini tidak kurang orang cerdas, namun hanya kekurangan orang jujur", sebuah kalimat yang disebut oleh seseorang yang saya lupa nama orangnya.

    ReplyDelete