Sunday, 19 March 2017

Menikah atau Mutilasi Skripsi

Semua saku dan semua laci di ruangan ini telah diperiksa dengan teliti bahkan di bawah sofa dan di sela-sela lipatan baju tak luput dari pemeriksaan. Sepertinya aku telah memperkosa ruangan dengan baik. Tapi, tak satu pun uang tersisa. Aku mulai putus asa dan berniat berpuasa untuk hari ini. Rasanya tidak mungkin meminta orang tua mengirimi uang serutin dahulu kala, karena sponsor sudah tidak ada lagi dari keluarga untuk keterlambatan “pernikahan” ini.

ilustrasi: google.com
Sudah hampir delapan tahun berlalu begitu saja dan aku masih saja belum berhasil mebuat skripsi. Jatuh cinta dan bersedia menikahi perempuan hampir seperempat baya ini. Jika saja 'nona' skripsi bersedia menerimaku apa adanya, mungkin aku bisa menambahkan nama kehormatan “S.Hum” di belakang nama pemberian amak-apak ini. Tapi cinta tak dapat dipaksakan sekaligus juga berlaku untuk sebuah skripsi.

Entah aku yang tak benar-benar mencintainya atau skripsi yang sudah muak dengan tingkah lakuku nan tidak peduli dengan belaian tangan, yang sangat ‘ia’ inginkan setiap hari. Aku melupakan soal uang jajan yang benar-benar sudah tak tersisa dan sesekali timbul niat menjual tumpukan kertas revisi yang sudah menggunung ini.

***

Selanjutnya, aku mulai memakai sepatu untuk memburu pembimbing selagi mungkin sebelum terik matahari mulai membuat pembimbing gerah dan layu bagai bunga-bunga di taman karya Bapak Amel. Seperti sedari kecil, aku mulai menyandingkan kedua belah sepatu terlebih dahulu. Karena pernah suatu hari akibat terburu-buru, aku lupa mempertemukan 'dua sejoli' sebelum berangkat pergi. Alhasil, aku memakai sepatu terbalik, dengan sangat percaya diri hingga semua orang meringkuk-ringkuk tertawa seperti melihat mahasiswa kelewatan trendi.

Namun, atas kebahagiaan yang telah aku bagi, aku purak-purak tidak peduli meski rasanya mau purak-purak mati. Semua ini nyata benar-benar terjadi. Malunya saja masih melekat sampai hari ini. Kini aku akan menemui pembimbing, manusia yang tidak bisa diprediksi keberadaan serta jalan pikirannya. Kadang ia begitu sangat baik sesekali, kadang hati ini terasa dicabik-cabik olehnya.

Jika semua pengendara di jalanan suka deg-degan melihat polisi di jalan, lalu ada pula sepasang manusia deg-degkan karena jatuh cinta. Aku mahasiswa 'gila' revisi suka deg-degkan seperti genderang mau perang sampai-sampai jantungan rasanya saat bertemu pembimbing. Aku mencoba duduk dengan nyaman di kursi depan ruangan dosen yang rasanya sedikit berduri akibat bayangan omelan tentang revisi sembari menunggu sang pembimbing, yang selalu di hati dan takkan terganti.

Aku mulai dengan dunia lain bergulat dengan wi-fi kampus untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin. Fasilitas yang rasanya gratis namun itu adalah hoax.


***

Tanol!” terdengar suara itu memanggil namaku, sontak aku serasa beraktivitas di dunia lain dan langsung berjalan masuk ke ruangan sang pembimbing. Sebelum aku benar-benar sampai di depan meja pembimbing, petir pun menyambar. “Tanol! Kamu ini niat buat revisi atau tidak? Kenapa revisi yang kamu kumpulin kemarin masih sama datanya, bukankah saya sudah bilang, jangan pakai novel Inggris-Inggrisan gitu?” bentaknya. “Pakai novel asli dan artiin sendiri datanya!” sambung dospemku tercinta itu.

Selama satu seperempat jam, banyak sekali obrolan yang hanya bisa dijawab “Iya, iya, baik, baik,” sembari senyum-senyum sendiri. Dah itu aja. Pelajaran pertama untuk menghadapi pembimbing hari ini, kerjakan hal yang menurut pembimbing benar, bukan menurut kamu benar.

Detik melewati menit lalu menit melampaui jam hingga jam dikalahkan bulan tak terasa bulan berlalu hingga turun hujan. Aktivitas tidur pun terasa lebih menyenangkan. Skripsi masih saja bagaikan bayangan yang terlihat nyata. Namun, tak dapat disentuh. Jika saja kau tak punya kekuatan hati serta pikiran, jangan pernah berkenalan dengan 'nona' skripsi karena dia bisa saja menyerap semua energi waras dan membuat kau gila, ini yang bakal terjadi, percayalah.


Suatu ketika, aku mulai sadar bahwa aku mulai digerogoti penyakit 'gila'. Aku sadar bahwa selama ini aku mengerjakan segala sesuatu karena ‘ingin’ dan bukannya ‘harus’ atau hanya mengerjakannya sekadar keinginan, yang kadang hanya kebanyakan ingin daripada usaha dan tekad.

Revisi tak sesingkat itu, setiap kalimat dalam skripsi harus mengandung mantra dari hati. Mantra itu hendaklah bisa langsung menembus hati pembimbing hingga acc terjadi. Barulah undangan bisa segera dibagi. Tunggu dulu, ini baru sebatas teori, terjadi bila aku hendak tidur saja.

Beberapa bulan kemudian, sampailah pada hari pernikahan yang telah ditentukan oleh sang raja dari segala raja di kampus ini. Sayangnya, aku belum juga terdaftar sebagai satu pengantin pria yang akan mewarisisi tahta. Rasanya tidak akan ada lagi waktu untuk berjuang mendapatkan tahta raja di bulan Februari.

Ah, aku belum kalah! Pemeran utama selalu kuat di akhir episode dan aku tak mau mati bunuh diri seperti ini” gumamku dalam hati. Gumaman yang kali ini benar-benar telah membuat tangan ini bergerak lebih banyak, kaki melangkah lebih cepat dan mata memandang lebih lama.
Hingga sekali revisi, dua kali ulang revisi, tiga kali revisi lagi, dan empat kali barulah dinyatakan “Sah, coba lagi!”

Aku merasa amat putus asa, aku merasa dibodohi oleh nona skripsi. Kejengkelanku pada nona ini membuat birahiku meninggi, aku semakin bersemangat memperkosa ‘nona ini’ setiap malam hingga pagi hari. “Aku sudah muak!” muak ini harus aku lampiaskan dengan jalan bermesraan setelah memperkosa nona skripsi ini agar nona itu tidak ngambek, dengan cara senyum miring-miring ke kiri aku mencoba membuka hati dan dekati ia. Meskipun mesra itu tetap berujung dan kembali juga kepada kata “masih harus di revisi lagi”.

***

Seperti tidak ada tanda-tanda akan berjodoh di bulan Februari ini. Aku masih mengumpulkan puing-puing semangat sebelum benar-benar mati. Tinggal seminggu lagi untuk acc kompre tapi nona skripsi masih keras kepala. Hingga sampailah pada hari itu. Hari dimana aku bimbingan lagi, setelah lagi, (yang) berulang kali.

“Kamu mau tempur malam ini?” sang pembimbing menawarkan pertempuran malam hari. Sebelum ia meminta aku telah melakukannya tiap hari meski sering kali tersesat ke drama korea yang “Oppa”nya meleleh di hati. “Kalau kamu sangup tempur, Jum’at tak kasih skripsi full dan selasa segera ujian skripsi” mendengar kesempatan tempur yang luar biasa ini aku ingin segera pulang dan tidur.

Pertempuran malam ini harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, aku tak ingin lagi, tak ingin mencintai, bermesraan hingga keji memperkosa ‘nona skripsi’ itu lagi. Aku ingin memutilasinya hingga mati berserak-serak. Aku ingin ia mati dan kita sudahi pemakamannya di bulan Februari. “Aah, muak sekali selama ini harus mencintai nona skripsi yang luar biasa menguras otak, hati dan materi.” Protesku dalam hati.

Sayang, dia tetap saja tak baik hati menerimaku apa adanya.
Malam itu pun aku  memutilasi nona skripsi degan semangat dan emosi yang tak terkendali. Hingga ia benar-benar mati dan pemakamannya berada di bulan Februari.

***

Kematian nona skripsi mendatangkan lebih banyak kutukan untuk tambahan nama yang terasa berat sekali. Tentang ini aku akan cerita jika benar-benar sudah muak dan ingin melakukan mutilasi lagi. Dengan ini aku masih ingin lanjut tidur lagi. Yang pasti hari ini, skripsi benar-benar sudah mati. Aku bisa bermimpi indah sampai pagi.


***




*Pegiat Kebudayaan


Penulis bisa diikuti di Instagram atau Twitter (@BungTanol)


0 comments:

Post a Comment