Sunday, 19 March 2017

Menyigi Tiga Tipologi Jomblo dari Sudut Pandang Tidak Ilmiah

Sebenarnya saya malas membahas sesuatu yang serius belakangan ini. Hal-hal lain sudah cukup rasanya membuat kepala semakin ruwet. Banyaknya permasalahan yang ada di lingkungan sosial mulai dari korupsi berjamaah Eh-KTP sampai kasus Gubernur yang baru tahu sejarah. Lho, kenapa baru tahu sejarah? Habisnya gubernur itu ketinggalan zaman sih, Belanda udah ratusan tahun lewat membuat kebijakan tanam paksa, eh gubernur di sini baru sekarang menerapkan kebijakan itu. Kasihan sekali ya. Ah lupakan gubernur yang kudet itu, semua permasalahan itu cenderung membuat kita melarikan diri kepada sesuatu yang membahagiakan, Rendra si burung merak menggunakan istilah “lebih enak kita lari ke puisi ganja.’’ Jika ganja yang dimaksud Rendra sama sebagaimana ganja yang dimaksudkan oleh Undang-undang, saya tidak mau ah lari ke ganja yang dimaksud oleh Rendra. Lain hal jika ganja yang dimaksud menggandung arti yakni kebahagiaan dalam bentuk lain, tentu tak ada salahnya kita bersepakat dengan Rendra. Kalau Bung Depit dalam ulasannya yang sensasional kemarin mempunyai cara melarikan diri dengan mendengar musik. Kalau saya, cara membahagiakan diri ialah dengan mendengarkan curhatan teman. 

Ilustri jomblo di malam minggu

Nah, ini dia masalahnya. Kebanyakan teman-teman menceritakan kesedihan dan kesepiannya karena tak memiliki pasangan. Ya, para jomblo-jomblo reaksioner ini menjadikan saya tempat berbagi cerita. Di satu sisi, sedih juga mendengarkan curhatan teman-teman ini, tapi di sisi lain ada rasa haru karena dijadikan tempat mengadu dan  berkeluh kesah. Cerita di bawah ini diambil dari kisah nyata 3 teman, dan kemudian mengklasifikasikan masing-masing jenis jomblo ke dalam tiga tipologi, seandainya teman-teman tersebut tersinggung dengan ulasan ini, silahkan temui dan traktir saya dengan ikhlas. Tulisan ini hanya dimuat di Godok.id, sebab media lain tak akan mau mengambil resiko dengan menerbitkan tulisan seperti ini, dikarenakan tulisan ini sama sekali tidak penting. Monggo disimak dengan seksama.

Rizky Si Jomblo Idelogis

Rizky seorang lelaki yang mengaku dirinya aktivis setelah diputuskan pacarnya. Banyak orang yang kagum dengan pilihannya untuk fokus dalam dunia mahasiswa. Suatu pilihan ideologis yang tepat menurut saya, walau terkadang sesekali ia juga mengeluhkan sunyi dan  sepinya hidup tanpa perhatian dari lawan jenis. Disaat melihat teman-temannya pergi malam mingguan bersama pasangannya, Rizky hanya bisa menghabiskan malam panjang dengan menggigit jari. Untuk mengisi malam minggu yang begitu mencekam, Rizky mencoba mengajak teman-teman lain untuk berdiskusi. Ya, namanya juga jomblo, banyak cara yang ia lakukan untuk mencegah teman-temannya supaya tak jadi pergi malam minggu. 

Cara pertama yang dilakukan adalah ia mengeluhkan kondisi mahasiswa era snapgram  yang kurang memahami pentingnya budaya berdiskusi. Malam minggu yang seharusnya digunakan untuk menambah kapasitas diri dan melihat permasalahan sosial di masyarakat, lalu memberikan solusi atas permasalahan tersebut, kini hanya menjadi malam panjang tanpa makna, katanya sambil mengebu-gebu. 

Cara kedua ia mengajak teman-teman yang lain untuk bedah buku. Mulai buku kiri sampai buku kanan. Mulai dari Das Kapital sampai tuntunan sholat malam. Aih, keren deh jomblo yang satu ini. Lagi-lagi ia mengeluhkan (duh mblo kenapa sih ngeluh terus) banyak mahasiswa yang tak mempunyai minat baca. Ceramah Rizky berlanjut ketika ia menjelaskan bahwa buku adalah jendela dunia. Dan ia, dengan malu-malu pernah mengatakan bahwa kelak ia akan memberikan buku sebagai mas kawin kepada calon istri yang sekarang belum diketahui di mana rimbanya, sungguh mengagumkan seperti Bung Hatta sekali cita-citanya.  “Malu dong sama abang-abang kita dulu, di zaman Orde Baru baca buku harus ngumpet-ngumpet, jual buku karya Pramoedya Ananta Toer sampai di penjara, Harusnya di zaman yang penuh kebebasan dan demokrasi kebablasan seperti sekarang ini, akses informasi seperti buku wajib kita baca,” kali ini terlihat ia bicara sangat serius. 

Kalau boleh jujur, saya begitu terharu mendengar ceritanya yang mulia tersebut. Jarang-jarang lho, masih ada mahasiswa yang masih mau mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan bersama. Setelah setengah jam lamanya mendengarkan ia berkeluh kesah, dengan berat hati saya mohon undur diri kepadanya. Maaf Ki, Pacar saya sudah menunggu! Kembali ia dilanda sepi lalu berpuisi ria di depan pagar kosnya; Kau tak akan mengerti kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta. Sekali lagi maaf, Ki.

Kindrok jomblo realitas

Sebenarnya jomblo seperti ini yang paling menyedihkan dan banyak jumlahnya. Jomblo seperti ini yang paling berbahaya. Jomblo realitas adalah kejombloan yang harus ditanggung dan dipikul karena keadaan yang tidak mengizinkan mereka untuk mengenyam pendidikan asmara. 

Ya seperti yang telah disebutkan di atas, Kindrok menjadi jomblo realitas semenjak ditinggal nikah oleh mantan pacaranya. Menjelang 2 minggu menjelang pernikahan, si mantan pacar memutuskan Kindrok dengan alasan yang sangat-sangat klasik; kamu terlalu baik buat aku. Saking klasiknya, alasan tersebut mampu mengalahkan Mozart atau Beethoven yang legendaris itu. Setelah mantan pacar dinikahi karyawan Bank, Kindrok lalu memutuskan untuk memulai petualangan cinta dan belajar untuk menjadi orang yang tak terlalu baik. Ia mecoba meyakinkan perempuan-perempuan yang menurutnya cantik, yang ada di kontak media sosialnya. Ia bahkan melakukan pesan siaran yang mana pesan seperti ini hanya digunakan untuk keperluan komersil, menjual kosmetik dan menyebarkan tulisan godok.id, misalnya. Di facebook pun Kindrok memproklamirkan dirinya bekerja di PT.Mencari Cinta Sejati. Ia melakukan semua itu dengan semangat agar mendapatkan perempuan yang sesuai dengan kriterianya. 

Proses tidak akan mengkhianati hasil, ia percaya kata-kata sakti itu. Kindrok menggunakan metode menyaring ikan, ia lempar jala ke kolam. Tapi sayang sungguh sayang, jala tersebut tak mendapatkan satu ikan pun. Jangankan ikan, malah jala tersebut selalu saja rusak dibuatnya. Tapi Kindrok tak putus asa, ia tetap berjuang mencari pujaan hati. Sekarang ia sedang beristirahat sejenak sambil melihat siraman asmara dari Ronald Frank si maestro cinta. Jomblo seperti ini sudah selayaknya diundang dalam acara Kick Andy dengan tema jomblo yang tak pernah menyerah.

Uci si Jomblo Ortodoks

Jomblo ortodoks ini semakin laku keras di pasar semenjak maraknya pemberitaan aksi demonstrasi penistaan agama di televisi. Bagaimana tidak, di media sosial dengan mudahnya kita menemukan akun-akun berisi nasihat yang meneduhkan rohani. Ajakan-ajakan untuk kembali kepada sistem khilafah beredar bak jamur dimusim hujan. Akan tetapi yang membuat tawa, situasi semacam ini malah dimanfaatkan oleh penganut paham jomblo ortodoks untuk membela diri. 

Kisah terakhir ialah dari uci, ia diputuskan oleh pacarnya yang bernama Satrio akhir tahun lalu. Satrio yang sedang kuliah di Jogja memutuskannya secara tiba-tiba. Seminggu kemudian, Uci baru tahu bahwa Satrio memiliki wanita idaman lain. Uci menjalani hidup dengan gamang. Ia mulai membaca kisah-kisah perempuan yang ditinggalkan lelaki. Uci melahap habis segala teori feminisme sampai membaca tips menjadi perempuan soleha. Akhirnya ia menemukan titik terang setelah melihat salah satu media sosial. Uci merasa menjadi yakin bahwa sendiri itu bukanlah pilihan yang buruk. Dengan mengutip caption yang ada di akun Intstagram tersebut, uci mengaku dirinya sedang berusaha memperbaiki diri dan memutuskan untuk tidak pacaran dulu. Tidak pacaran dulu?

Apa pula maksudnya itu! Ia percaya bahwa jodoh telah dipersiapkan oleh tuhan. Tiba-tiba saja uci menjadi syari’i. Ia percaya bahwa semua akan indah pada waktunya. Toh, pacaran hanya membuat kita menambah dosa, sebab ketika anak cucu Adam sedang berduaan, maka di tengah-tengahnya ada setan, katanya dengan lemah lembut meniru gaya bicara teteh istri AA Gym. Uci sangat yakin dan percaya, bahwa pacaran lebih banyak membawa mudharat dibanding manfaat. Uci kini hanya bisa menunggu, ya menunggu. Ia menunggu lelaki soleh yang bekerja di BUMN atau minimal pegawai BI datang menyatakan cinta kepadanya. Aduh!

Ya begitulah, perkara jomblo adalah perkara yang akan terus ada sampai akhir zaman. Setiap jomblo selalu punya alasan ketika ditanya mengapa ia jomblo. Tapi apapun itu, kita sebagai makhluk sosial tak boleh memandang sebelah mata fakir-fakir asmara dan tuna cinta tersebut. Hendaklah sebagai orang yang sedikit beruntung, kita harus selalu memberikan dukungan moril kepada mereka dan mendoakan mereka agar suatu hari nanti tak lagi mengeluh dan menyalahkan keadaan. Begitulah kisah tiga temanku tersebut.  Semoga menjadi inspirasi buat kita semua, kalaupun tidak, berdolah kepada tuhan agar kita tidak demikian. Di lain waktu saya akan bercerita tentang jomblo-jomblo yang lain. Semoga saya tak akan pernah menuliskan cerita saya sendiri. Kepada nona Andina Amalia Haris, saya mohon jangan biarkan saya menjadi jomblo dan membiarkan mati membusuk di hutan.

***

Rio Jo Werry

Pengamat Jomblo, Menolak Surat Edaran Gubernur dan Sedang memperjuangkan Andina dengan tidak malas.

0 comments:

Post a Comment