Friday, 24 March 2017

Menyilau Kembali Semangat Pemuda yang Terpahat di Tugu Jong Sumatranen Bond Kota Padang

Salah satu monumen bersejarah yang memaknai bahwa organisasi pemuda memiliki peranan penting di dalam kontribusi kemerdekan Indonesia ialah organisasi JSB (Jong Sumatranen Bond). Tugu JSB yang terletak di pertigaan jalan ujung kiri kawasan Taman Melati di samping Tugu Gempa, di sebelah selatan Oranje Hotel (Hotel Grand Inna Muara) Jalan Khairil Anwar, adalah bukti bahwa pemuda Sumatera dahulunya memiliki andil dalam gerakan perjuangan bangsa pra kemerdekaan.

Klikpositif

Tugu JSB berbentuk persegi panjang, panjangnya kira-kira 1,5 m, bagian atasnya terdapat sebuah bulatan yang bewarna biru, kemudian empat sisi bagian bawah terdapat tulisan-tulisan yang menggambarkan perjuangan Jong Sumateranen Bond. Bagian depan bertuliskan “1910”, bagian kanan bawah tugu ini bertuliskan “Kekallah Agama Islam”, bagian belakang bertuliskan “Tersiarnja Pergerakan Anak Sumatera”, dan bagian kiri bertuliskan “Perkumpulan Anak Sumatera”

Mengingat keberadaan tugu ini, maka tidak terlepas dari perjalanan sejarah pemuda bangsa ini di zaman pergerakan, dengan diberlakukannya politik etis di awal abad ke-20 menghasilkan para intelektual muda yang mulai melakukan pergerakan secara terorganisir. Pola perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda mulai bergeser dari pola perjuangan fisik bersenjata menuju pola pemikiran yang ditopang oleh organisasi. Organisasi perjuangan yang berlandaskan kedaerahan banyak bermunculan pada awal-awal abad ke 20, seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Jong Timoreesch Bond, Jong Ambon, dan salah satunya Jong Sumatranen Bond. JSB didirikan Pada tanggal 9 Desember 1917 di Batavia atau Jakarta hari ini dengan ketua terpilih yaitu Teuku Masyur.

Sebagai organisasi kedaerahan, JSB berpusat di Batavia. Dan pada tahun 1918 anggota JSB semakin bertambah, sehingga ketika JSB diketuai oleh Teuku Masyur dan Mohammad Amir sebagai wakil ketua pada rapat pertama JSB tanggal 26 Januari 1919 di gedung Volkslectur Weltevreden di Batavia, Teuku Masyur memerintahkan kepada Nastsir Datuak Patunjak yang berasal dari Selayo, Kabupaten Solok, Sumatera Barat untuk untuk mendirikan cabang di Bukittinggi dan Padang sekaligus menunjuk Natsir Datuk Patunjak sebagai Ketua Cabang. Hal ini menangapi dengan bertambahnya jumlah anggota JSB dan luasnya wilayah Sumatera maka adanya ke khawatiran bahwa Organisasi JSB tidak mampu menerima seluruh aspirasi dari pemuda yang berada di luar Batavia khususnya wilayah Sumatera.

Dengan di bentuknya Cabang Sumatera Bond Nazir Datuk Pamunjak dan tokoh pemuda lainnya seperti Muhammad Taher Marah Sultan dan Syekh Haji Abdullah Hamid mengadakan pertemuan untuk membahas isu-isu dan gagasan dalam upaya pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 4-6 Juli 1919 disepakatilah untuk mengadakan Kongres pertama di Lapangan Fancy Fair yang dihadiri oleh Mohammad Amir sebagai Wakil ketua JSB saat itu.

Setelah dilakukannya Kongres I tepatnya 6 Juli 1919 dilakukanlah peresmian tugu Jong Sumateranen Bond sebagai tugu peringatan pertama yang di bangun di Kota Padang. Peresmian ini dihadiri juga oleh beberapa tokoh seperti Panglima Regent Padang Marah Oejoeb, Haji Abdullah Ahmad dan Asisten Residen Ahrend. Kehadiran tugu ini lah sebagai bukti bahwa pemuda yang ada di Kota Padang dahulunya juga memiliki andil dalam memperjuangkankemerdekaan Indonesia.

Seiring perjalanan organisasi JSB, Organisasi daerah ini melebur dan terbentuknya Indonesia Muda pada tahun 1930 maka peristiwa ini di pandang sebagai langkah pembuka dari sebuah peristiwa yang bermakna. Dan setelah itu tugu JSB mendapat perubahan, yang menyatakan adanya kongres pertama JSB pada 1919.

Jika dilihat bentuk fisik dari tugu tersebut, pada saat sekarang ini akan kita temukan tulisan di tugu tersebut yang bertulis di bagian bawah “PERINGATAN RAPAT BESAR KESATOE DARI J.S.B (PERSATOEAN PEMOEDA SOEMATERA” yang di bagian atas nya tertulis “PERKOEMPULAN PEMOEDA SOEMATERA Diperhatikan Perdjalanannja DALAM RAPAT BESAR DIKOTA JAKATERA KARENA MASOEK INDONESIA MOEDA 9.XII.1917-23.III.1930”. 

Tulisan yang terdapat pada tugu ini dapat dilambangkan sebagai persatuan yang memperingati awal berdirinya organisasi kepemudaan di Nusantara ini, khususnya bukti perjalanan Organisasi daerah JSB yang pernah ikut aktif selama memperjuangkan kemerdekaan.

Artinya dari awal orang-orang Minangkabau, sangat menginginkan terciptanya nasionalisme di tanah air Indonesia. Karna sudah terbukti dengan didirikannya JSB menandakan bahwa orang-orang di Sumatra khususnya Minangkabau sangat menjunjung tinggi keberagaman dalam Nasionalisme Indonesia.

Besarnya makna historis tugu JSB, berbanding terbalik dengan kondisi kepemudaan hari ini, kurangnya pemahaman pemuda akan nilai-nilai sejarah bangsa membuat tugu JSB jadi tidak bermakna dan hanya menjadi tembok usang saksi sejarah, jangankan untuk mengetahui dan memaknai sejarah perjalanan bangsa, ditempat mereka duduk dan berkumpul setiap hari saja, mereka tidak mengetahui bahwa pernah terjadi peristiwa penting tentang pemuda di deklarasikan. Itu terbukti ketika kami menanyakan tentang tugu JSB, banyak anak-anak muda yang berada disana tidak mengetahuinya.

Penulis melihat gejala ini bagian dari krisis Nasionalisme yang terjadi pada kalangan pemuda negeri ini, peninggalan-peninggalan sejarah yang seharusnya di jaga dan dipelajari justru kebanyakan terlihat terabaikan. Bahkan hampir semua tugu tugu penting di sumatera barat tidak terawat dan rusak, bahkan ada beberapa tugu yang sudah hilang.

Padahal melalui monumen sejarah tersebut dapat menjadi objek edukasi sejarah bagi generasi penerus untuk mengenal perjuangan leluhur bangsa. Banyak cara supaya sejarah bangsa Indonesia bisa tetap tersampaikan kepada generasi penerus. Pertama, dalam bidang pendidikan monumen dan khususnya tugu JSB bisa menjadi media pembelajaran sejarah bagi siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan di sekolah. Kedua, menjadikan sebagai objek wisata sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan.

Menyikapi hal ini, diharapkan sekali pemerintah Sumatra Barat memberikan perhatian lebih terhadap peninggalan-peninggalan sejarah. Karena kita sadari melalui peninggalan-peninggalan sejarah tersebut bisa menjadi proses edukasi terhadap pemuda memaknai sejarah perjalanan bangsa, dengan ini akan menimbulkan sikap cinta tanah air yang nantinya akan berwujud kepada peran pemuda didalam membangun daerah.

***
Tulisan ini dikirim oleh Komunitas Arus Sejarah (KAS) Kota Padang

0 comments:

Post a Comment