Saturday, 4 March 2017

Merelakan : Keikhlasan untuk Melepaskan Dia yang Belum Sempat Dimiliki

Merelakan adalah suatu keikhlasan. Ikhlas untuk melepaskan dan merelakan dia yang belum sempat dimiliki.


Aku sempat berharap bahwa aku dan dia bisa menjadi kita. Namun kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lebih kurang 2 tahun aku bertahan dengan penantian yang berujung sia-sia seperti ini. Bodoh? Mungkin kalian semua beranggapan seperti itu. Telah banyak yang menasehati namun hati selalu bersikeras tuk membantah perkataan tersebut. Titik akhir dari penantian ini ialah merelakan. 

Aku sadar bahwa bukan aku lah yang diharapkannya. Aku sadar bahwa aku tak pantas berada disisi mu. Sejauh apapun kita dekat, sejauh apapun kita pernah melangkah bersama, seromantis apapun kenangan itu. Tetap tidak akan pernah merubah rasamu terhadap dia! Iya dia yang selalu kau nantikan meski berulang kali dia menyakiti hatimu.  

Cinta harus bisa merelakan.

Betul sekali! Lalu kenapa tidak? Jika Cinta itu bisa membuat ia bahagia. Kurelakan ia pergi mengejar cinta tersebut. Namun jika Cinta yang ia kejar tak seperti yang ia harapakan. Jangan kau toleh ke arahku lagi, karena aku telah lelah dengan semua rasa yang sekian lama ini. Aku lelah ditarik ulur seperti ini. 

Aku yang tak pandai mengendalikan diri atau dia yang terlalu mahir membuat ku baperDia selalu pergi dan pulang semaunya, dia kira nih hati waroenk kopi kali ya?? Bisa sesuka hati dan sesenang hati datang dan pergi. 

Sebelum memulai mendekati mu seharusnya aku tahu diri! Iya tahu diri, bahwa di hatimu telah ada dia. Tak semestinya aku hadir dan merusak itu semua. Aku yang jahat aku yang salah! Seharusnya cinta ini tak kubiarkan hidup, seharusnya ku matikan kobaran api cinta ini sebelum api cinta itu membesar dan sulit tuk dipadami. 

Semua telah terlanjur. Penyesalan pun seakan tidak bermakna namun dari semua ini aku mendapatkan pelajaran. Bahwa cinta tak mesti memiliki.

Untuk kalian semua yang cintanya ditolak ataupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Jangan risau atau pun galau lagi. Karena jika memang ia ditakdirkan untuk kita maka ia akan datang dengan sendiri nya tanpa perlu kita paksa. Biarkan saja cinta itu mengalir sebagaimana mestinya. Jika merelakan adalah jalan terakhir maka relakanlah ia mengejar kebahagian nya.

Jika kita sudah mampu untuk merelakan maka yakinlah bahwa nanti suatu saat kita akan mendapatkan sosok yang lebih dari dia. Mungkin kita beranggapan bahwa dialah yang terbaik sampai membutakan mata, pikiran dan hati. Namun coba dipikirkan kembali, apakah dia yang seperti itu layak disebut “terbaik”? 

Iya, betul sebenarnya ia pantas disebut terbaik namun ada sosok yang lebih pantas disebut terbaik lagi. Siapa ?

Ia adalah orang yang telah menunggu kita dan mencintai kita dengan segala ketulusannya. Maka semestinya kita menengok ke arah sana dan mengahampiri atau bahkan kita sambut dengan penuh kegembiraan. 

Lalu kenapa tidak kita coba? Jika mengharapkan yang tidak ingin diharapkan itu menyakitkan. Lalu kenapa tidak mencoba dengan menerima yang sudah ada?

Kejarlah cinta tersebut dan lupakan semua hal yang membuat kita terpuruk. Bangkit lah wahai teman. Aku yakin kita semua pasti bisa mendapatkan sosok yang lebih dari dia. Yang lebih “terbaik” dari dia. Terus lah berlari mengejar itu semua. Hal yang telah terjadi anggap saja sebagai pelajaran yang berharga dalam kehidupan percintaan. Sosok yang tepat telah menanti kita semua. 

Sambutlah sosok tersebut dengan hati yang penuh gembira dan lupakanlah hal yang menyakiti di masa lalu. 

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26) 

Teruslah memperbaiki diri. Jodoh adalah cerminan diri sendiri. 

***

#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Rimadani sebagai pemenang.

Rimadani

Biasa disapa Rima. Anak kedua dari tiga bersaudara. Anak Palembang yang kuliah di STKIP PGRI Sumbar-Padang jurusan Bimbingan dan Konseling. Sekarang di Padang dan hidup sendiri ala anak kos. Sangat suka dengan keindahan alam.

0 comments:

Post a Comment