Friday, 24 March 2017

Motif Abadi Penculikan, Tidak Pernah Move On dari Iming-Iming Uang Jajan

Beberapa hari ini saya sering risih dengan pemberitaan yang disampaikan oleh televisi, pemberitaan yang biasanya selalu perang abadi antara Metro TV dan TV ONE beralih dengan tiba-tiba, jangan berharap teman-teman itu sebuah kedasyatan muatan dari beritanya sehingga bisa mengalihkan isu pilkada DKI Jakarta, tetapi hanya sebuah penculikan, bukan penculikan sandal pak ustad pada saat Shalat Jum’at atau kelahiran kambing presiden. Tetapi ini penculikan abadi dengan motif yang sama sejak aku tau tentang arti penculikan, yaitu “Penculikan Anak”

Liputan6

waktu saya masih kecil dan menonton TV pemberitaan penculikan anak selalu diimingi uang jajan, tetapi efek berita penculikan anak kepada kami yang hidup di kampung tidaklah berpengaruh, untuk jajan kami tidak terlalu memikirkan karna jam istirahat pembelajaran sekolah tidak kami habiskan untuk jajan di kantin walaupun kantinnya hanya satu melainkan rimba di sekeliling sekolah yang dipenuhi oleh pepohonan menjadi tempat ternyaman tersendiri, bagaimana tidak hampir semua jenis tanaman buah ada untuk dipetik tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dengan dalih anak sekolah baru besar yang baru nakal, atau uang jajan yang benar-benar tidak ada untuk buat jajan, ya sudahlah itu kan dulu.

Kembali pada penculikan anak tadi, penculikan dengan motif imingan uang jajan membuatku berfikir ulang, seumur hidup saya, mengapa motif penculikan anak tidak pernah berubah, tetap pada motif yang sama. Kalau kita merunut saya yang lahir ditahun 90-an berita yang beredar tentang penculikan anak dengan dalih uang jajan mungkin itu wajar-wajar saja, karna ditahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter, akan berimbas terhadap kehidupan masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah.

Efek dari krisis moneter ini akan merubah sistem sosial yang ada di Indonesia, tanpa terkecuali, mulai dari pengkhotbah sampai penjahat kelas teri pun berfikir ulang untuk melancarkan aksinya. Penculik anakpun berfikir keras strategi apa yang pas untuk melakukan penculikan, ya waktu itu pastilah dengan dalih uang jajan, jangankan penculik sastrawan sekelas Iwan Fals pun tidak mampu membelikan susu buat anaknya sampai dibuatkannya sebuah lagu untuk megambarkan kondisi waktu itu.

Realitas kehidupan mempengaruhi semua unsur kehidupan sosial, mulai dari penguasa, orang kaya, miskin, sampai dengan perampok kelas teri pun terkena imbasnya, pertanyaannya disini apakah Indonesia sudah bangkit dari keterpurukan ekonominya, tidak mungkin anak-anak orang kaya yang diberi uang jajan lebih oleh orang tuanya masih terkena tipu palsu masalah uang jajan, atau uang jajan dari anak sekolah itu yang sampai hari masih segitu aja, diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tua si anak.

perjalanan negara Indonesia sudah melebihi separuh abad, tetapi kita belum menemukan perampokan bank yang menggunakan sistem IT yang luar biasa, tetapi hanya para koruptor dengan segudang tipu muslihat, atau pembangunan
ekonomi besar-besaran yang mengorbankan seluruh masyarakat di seluruh kawasan tersebut, emas, semen dan gasnya siap diangkut ke apartemen-apartemen mahal di ibukota Jakarta.

orang awam seperti saya yang hidup di lorong-lorong kelas menengah kebawah, dengan pendidikan yang minim hanya bisa melihat dari sisi kemanusian rakyat kecil, tetapi tidak dengan cara pandang pengusaha yang mempunyai fasilitas lengkap untuk memanipulasi kemanusiaan, dengan seratus kotak nasi bungkus disebar kepemukiman warga, mereka sudah dilabeli dengan ahli kemanusiaan.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Ferdy Andika sebagai pemenang.

Ferdy Andika

Berasal dari Solok

0 comments:

Post a Comment