Tuesday, 14 March 2017

Orang Asing yang Terasa Dekat

Hari ini, tepatnya sore hari kurang lebih pukul 15.00, saya bermaksud untuk mengunjungi perpustakaan kampus (Perpustakaan Notohamidjojo-UKSW) untuk sekedar bertapa dengan beberapa buku yang nantinya saya pilih dengan acak di sana. Namun dalam perjalanan, “grekkk... grekkk” perut saya tiba-tiba berbunyi, karena memang sedari kemarin malam saya belum menyelamatkan penduduk kampung tengah[1], dengan sebutir nasi atau pun makanan berkarbohidrat lainnya, saya hanya menenangkan mereka dengan dana otsus[2] berupa kopi hitam dan rokok, yang jelas-jelas tidaklah mempan.


Akibatnya saya harus merubah arah menuju kafe (kafetaria-UKSW), dari luar saya melihat situasi dan kondisi tidaklah memungkinkan, dimana terlihat ruangan kafe begitu padat, tidak ada ruang untuk nantinya saya tempati ketika mencicipi makanan yang akan saya belanjakan. Oleh karena itu saya memutuskan (sudah kebiasaan juga sih) untuk membeli 2 buah roti dan sebotol kecil air mineral, lalu akan saya nikmati di pinggir lapangan bola.

Setelah membayar, barang-barang belanjaan tersebut saya masukan ke dalam tas saya, lalu saya pun berjalan keluar kafe menuju tempat yang telah saya perkirakan yakni di bawah pohon beringin, dari kejauhan memang keadaan sekitar pohon beringin itu terlihat nyaman sehingga saya memilih untuk duduk di situ. Sebelum menikmati roti yang tadinya saya beli, saya lebih dulu mengeluarkan botol air mineral dari tas saya, membuka tutup botol air tersebut dan meneguknya sekali. 

Angin begitu sepoi bertiup, mengundang dan merayu siapa saja untuk larut dalam keheningan. Saya pun untuk beberapa menit melamun tanpa arah, dan tanpa sadar saya bergerak secara refleks mengambil sebatang rokok dan korek lalu kemudian membakarnya menghirup aroma tembakaunya dan kembali melanjutkan lamunan saya. Beberapa saat kemudian seorang muda, mahasiswa Pascasarjana datang mendekati saya, lalu membangunkan saya dari lamunan tak berarah itu.

“Halo... Ade,” demikian ia menyapa saya. 

“Halo... Bang,” saya pun balik menyapa. 

“Fakultas Apa?”

“FTI bang”

“Frans”, kata orang asing itu memperkenalkan namanya, sambil mengulurkan tangannya ke arah saya.

“Mesakh,” saya juga memperkenalkan nama, setelah sebelumnya telah menerima uluran tangan orang asing itu.

Kami lalu bersalaman. Pada titik ini bisa dikatakan adalah awal dari proses meleburnya label orang asing yang saya lekatkan padanya menjadi orang yang saya kenal, Frans.

“Tidak ada kuliah hari ini, de?” tanya Frans kepada saya.

“Tidak bang.” “Kampus FTI, bukannya di atas?” 

“Iya, bang jadi biasa kami ke atas pakai bus.”

“Saya juga banyak kenal orang Papua, saya beberapa tahun di Papua, praktek di sana,” kata Frans sambil menyorongkan SmartPhone-nya menunjukan koleksi foto-fotonya, sekedar mungkin untuk meyakinkan saya.

Terlihat dari fotonya, ia bersama beberapa masyarakat Papua sedang dalam acara bakar batu, dan dari gambar yang ditunjukannya juga ada beberapa ekor Babi yang sedang mereka bakar dalam acara tersebut. Dari gambar yang ia tunjukan lalu tiba-tiba pikiran saya mengembara jauh kembali ke Papua, akan harumnya aroma sedap dari Babi yang dibakar.

“Waduh, ini pasti harum sekali, bikin lapar kalo lihat yang begini,” kata saya sambil menelan air ludah. Karena memang kodisinya saya juga dalam keadaan lapar parah waktu itu.

“Bang disana prakteknya pelayanan ka?”

“Iya saya pelayanan disana”

“Ouw, berarti sekarang ambil S2 di sini?”

“Iya.” “Di Studi Pembangunan ya, Bang?”

“Iya di Studi Pembangunan.”

“Asli mana Bang?”

“Saya aslinya dari Kalimantan, dulunya S1 Teologi di Semarang, kampusnya STT Simson, setelah itu baru diminta untuk melayani di Papua.”

“Ouw,” kata saya sambil mangut-mangut. Lalu saya mengambil sebatang rokok lagi dan membakarnya.

Sejenak kami hening, tidak tahu apa yang harus dibicarakan atau mungkin sedang menikmati suasana sore itu.

“Salatiga ini nyaman untuk kuliah,” kata Frans memecah keheningan. 

“Iya, Salatiga ini memang cocok untuk studi.”

“Barang-barangnya murah di sini, dulu waktu itu saya sempat di Bandung, wahh kalau disana habis-habisan itu.”

“Iya bang, murah kalo di sini, dengan 5000 saja sudah makan enak, apa lagi yang tinggal di kontrakan, kalau teman kontrakan kompak, buat dapur, trus belanja sendiri ke pasar pagi itu, kalau dengan 5000, makannya sudah istimewa itu bang.”

“Iya, memang murah biaya hidupnya, nyaman pokoknya Salatiga ini, cuman Salatiga nomor 2 kota pengedaran narkoba terbesar, jadi kota dingin begini tapi banyak kejahatan bawah tanah. Makanya hati-hati dengan pergaulan di sini.”

Pada perbincangan ini saya lalu menaruh curiga pada orang asing tersebut, yang ada dalam pikiran saya adalah jangan sampai orang asing ini adalah Intel yang sedang menyamar dan masuk ke dalam lingkungan kampus, dan nantinya kecurigaan itu terbukti keliru.

“Ade Mesakh orang Kristen to?”

“Iya, bang saya Kristen.”

“Kalo tiap Minggu Ibadahnya biasanya dimana?”

“Saya biasa di GKJ sini bang, kalo abang biasa di mana?”

“Saya di Gereja X, dekat kantor D.”

“Oh, di daerah Margosari situ ya bang. di Gereja B.”

“Iya dekat gereja itu, tapi bukan jemaat Gereja B, saya pernah ikut Ibadah di Gereja B, tapi saya kurang nyaman dengan Gereja itu.” 

“Kenapa bang, terlalu hura-hura ya?” kata saya sambil tersenyum.

“Iya, kita kan sudah terbiasa dengan Ibadah yang tenang dan hening, kayak Gereja GKI dan GKJ.”

“Kalo menurut abang, teologi Pak R bagaimana?” 

“Ya, mungkin karena orangnya terlalu pintar, sehingga pemikirannya terlalu sekuler, cuman kita kan tidak biasa dengan yang begitu, masa Kitab di banting, yah kalo dari Gereja lain pasti tidak sepakat dengan cara-cara seperti itu. Tapi itu kembali kepada pemahaman masing-masing orang, mungkin Pak R pintarnya berlebihan jadinya seperti itu.”

“Iya sih, bang,” kata saya sambil tertawa kecil.

“Banyak anak teologi yang strees, dengan cara mengajar Pak R seperti itu, karena dari sana doktrin yang mereka terima pasti berbeda, dimana Kitab dilihat sebagai sesuatu yang sakral, suci, kudus, sehingga perlu untuk dijaga, jangan sampai jatuh, kotor atau robek. Saya disini untuk melayani, saya dari lembaga S, tujuannya adalah untuk menjaga pertumbuhan rohani mahasiswa. Saya tidak digaji, saya hanya melayani, sambil itu saya juga kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya. Saya pernah itu ditawari untuk melayani jemaat di Papua, jadi pemain musik Gereja, sebulanya 4.000.000, Tapi saya menolak itu dan memilih untuk berpelayanan seperti ini. Ade Mesakh rajin ke Gereja?”

“Sudah jarang bang,” kata saya sambil menunduk dan tertawa kecil.

“Ya, mungkin karena kesibukan.” 
“Iya apalagi sistem trimester[3] ini bang,” kata saya memotong.

“Oh, trimester, FTI?”

“Iya bang FTI sistemnya trimester, jadi tidak ada waktu untuk santai-santai.”

“Ya, meskipun kita jarang tapi pertumbuhan rohani secara pribadi itu penting ade Mesakh, tidak butuh waktu yang banyak sebenarnya untuk berkomunikasi dengan Tuhan, cukup menutup mata dalam kondisi apapun, lalu ade Mesakh bicara kepada Tuhan, berbicara disini tidak perlu panjang lebar, cukup ‘Tuhan Terima kasih atas berkat-Mu hari ini, lindungi saya dalam segala aktivitas saya, Amin!’. Singkat seperti itu kan selesai, aman to,” kata Frans sambil tersenyum.

“Iya sih bang.” Kata sama mengiyakan sambil tertawa.

Lalu Frans mengeluarkan buku tipis berwarna kuning dari sakunya, buku ini pernah saya lihat, buku ini begitu dekat dengan kehidupan saya, dari buku ini lalu saya merasa begitu dekat dengan Frans, buku kuning yang kemudian baru saya tahu adalah buku yang selalu di bawa oleh Bapak kemanapun ia pergi sejak tahun 90-an entah pergi kuliah, jalan dinas, dan aktivitas lainnya. Sewaktu kecil dulu Bapa sering membacakan isi buku ini kepada kami sekeluarga, sebagai renungan singkat pengantar tidur kami. Buku jenis ini ada beberapa macam topik dan salah satunya adalah yang ditunjukan oleh Frans.

“Ade, Mesakh pernah dengar 4 Hukum Rohani[4]?”

“Wah, saya belum dengar bang, yang saya tahu Hukum Kasih bang, kasihlah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

“Yah, itu Hukum Kasih tapi yang saya maksudkan adalah 4 Hukum Rohani, dalam buku kuning ini secara ringkas telah dijelaskan,” kata Frans sambil menunjukan buku kuning tersebut.

“Menurut ade Mesakh Apa yang dicari semua manusia dalam hidup ini?” Kalimat tanya yang diajukan oleh Frans ini akan mengawali diskusi kami mengenai isi buku kuning tersebut.

“Kebahagiaan,” jawab saya sambil tertawa kecil.

Dan kami pun mulai mendiskusikan isi buku itu hingga selesai. Setelah selesai berdiskusi, lalu Frans meminta untuk mendoakan refleksi, diskusi, dan juga ibadah singkat kami disore itu.

“Ade Mesakh, biasa ada waktu kosong kapan?” 

“Saya kosong hari ini, Senin, Sabtu.”

“Ouw, nanti ada waktu kita bisa ketemu lagi, sekedar diskusi saja ade Mesakh.” 

“Iya bang.”

“Ade Mesakh nomor kontak ada?” Kata Frans sambil mengeluarkan SmartPhone-nya, dan saya lalu menyebutkan nomor kontak saya. Tapi karena pulsa di SmartPhone-nya habis maka saya pun meminta nomor Frans untuk saya simpan juga.

“Kalau hari kamis saya biasa disini juga bang, ada kelas jam 13-16, jadi biasa nongkrong di sini.”

“Oke, kalau ada waktu untuk diskusi nanti kita kontak-kontakan saja.”

Saya dan Frans lalu saling berjabat tangan dan kamipun berpisah.

Bukannya ingin ceramah yah. Tapi menurut saya kalau dilihat kembali memang judul tulisan ini terlihat paradoks, sebab orang yang asing tentu belum pernah kita jumpai atau belum kita kenal, lalu bagaimana mungkin ada orang asing yang secara bersamaan bisa terasa dekat dengan kita? Setelah menuliskan ini saya kembali berefleksi dan menurut saya, kedekatan terhadap orang asing tentu memerlukan sebuah proses, proses itu tidak hanya hanya soal perkenalan tetapi –yang terpenting- juga dijembatani (katakanlah demikian) oleh simbol-simbol atau bahasa (logat) untuk dapat berkomunikasi. Dan karena adanya penggunaan simbol-simbol yang akrab dengan kita, tentu menempatkan seseorang dalam ranah yang paradoks itu, ia asing namun juga akrab, ia belum pernah kita kenal namun terasa begitu dekat.

Note : Memang diskusi kami sore itu begitu serius, sehingga saya sampai lupa akan perut lapar saya, atau mungkin sudah dikenyangkan secara Rohani oleh Frans dengan Firman yang dibagikannya.   2 buah roti yang saya beli sore itu, akhirnya menjadi penganjal perut lapar saya, saat menuliskan tulisan ini. Hehehe...  . 

[1] Dalam tulisan ini digunakan sebagai khiasan mengantikan kata “perut, yang sedang lapar”

[2] Dana Otonomi Khusus, yang tujuannya bagi Orang Papua adalah percepatan Pembangunan Infastruktur, namun dalam tulisan ini hanya sebuah khiasan yang memiliki makna “Menunda Lapar”

[3] Trimester adalah sistem perkuliahan yang pada intinya menyelenggarakan perkuliahan 3 kali dalam 1 Tahun.

[4] http://www.4laws.com/laws/indoesian..

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Mesakh sebagai pemenang.

Elyan Mesakh Kowi

Berasal dari Manokwari Papua-Barat dan sekarang sedang melanjutkan studi di Faktultas Teknologi Informasi-UKSW Salatiga.

0 comments:

Post a Comment