Friday, 3 March 2017

Pada Dia yang Kusebut Pakde

Berhubung gue baru berduka karena ada salah satu web (yang jadi bacaan gue belakangan ini) mau ditutup, maka gue mencari tulisan lain untuk hiburan. Dan sekarang gue mampir ke sini. Di sini gue cuma numpang curhat. Memang godok.id gak nerima tulisan serius kan? Jadi baca saja curhatan sampah gue.


November 2016

Titik awal gue yang sudah muak puas dengan Padang, akhirnya berhijrah dan menuju ke satu provinsi yang paling terkenal di seantero Indonesia.
Yuppp..i’m moving to Bali, bit*h!! (iya, gue memang suka keinggris-inggrisan. Masalah buat kalian?)

Banyak pertimbangan yang gue perlukan untuk memutuskan bahwa gue memilih untuk mengabdi di daerah yang sama sekali asing buat gue. Masa lalu gue yang cukup suram akhirnya membuat gue memutuskan untuk mencoba lokasi lain (di mana gue bisa hidup sendirian dan berkomunikasi secukupnya dengan keluarga dan teman-teman lama sambil seneng-seneng seenak jidat). Dan gue beruntung karena gue bisa memilih menjadi hamba sahaya di Bali.

Putus cinta, ditaksir orang, dimaki-maki perempuan lain, dibilang pelakor, menaksir lelaki lain, pulang malam, diskusi yang entah ke mana ujungnya dan segala macam kegiatan tidak sehat lainnya. Pola yang berulang-ulang gue jalani dalam hampir setahun terakhir di Padang, dan itu tepatnya yang harus gue hindari. Itulah misi kebahagiaan gue berangkat ke Bali.

Gue cukup bersedih karena meninggalkan mantan-mantan teman-teman yang rela menjemput gue di tengah malam karena tidak punya ongkos taksi, kehilangan teman yang bisa jadi tempat ngutang, kehilangan dedek-dedek gemez yang bisa jadi hiburan kalau sedang suntuk, akan tetapi bayangan akan menghabiskan waktu satu tahun di Bali dan kemungkinan untuk bertemu para bebulean (mana tahu ada yang nyangkut) membuat semua kesedihan gue langsung lenyap.

Akhirnya gue berangkat dengan senyum riang dan hati senang. Pamit sama semua mantan keluarga jadi tugas terakhir sebelum gue cabut ke Bali.

Hari-hari awal gue di Denpasar masih indah. Hidup gue 2 hari itu cuma berkutat di Kuta, Sanur dan hotel yang disediain gratis dari pemerintah. Hobi gue tersalur banget 2 hari itu. Apakah hobi gue? Yakkkk..tepat sekali!! Duduk bengong di pantai sambil memandangi sunset yang makin lama makin gelap kayak orang baru kemalingan. Di situ gue bisa bilang bahwa sunsetnya Kuta emang asli keren banget (dan nantinya gue akan sadar bahwa statement gue itu salah, setelah gue ngeliat sunset di Sanur bersama orang yang rasanya tepat).

Setelah 2 hari di Denpasar, gue harus berangkat ke Singaraja. To be honestgue gak tahu sama sekali itu kota macam apa pada awalnya. Perjalanan yang gue tempuh gak terlalu lama. Cuma makan waktu 2 jam dengan medan mirip rute Padang – Bukittinggi (memang kudil bloon!! Lo ngomongin Medan, Padang ato Bukittinggi????). Iya, gue garing, gue udah tau. Dan ternyata Singaraja mirip Padang. Asli mirip banget!!!

Deep inside gue bersyukur karena gue gak harus beradaptasi dan mengalami shock dengan keadaan kota kecil begini.

Dan di kota inilah gue memulai pertemanan gue (lagi) dengan seseorang yang gue kenal via medsos yang paling jaya.

Perlu digarisbawahi bahwa gue sudah tidak begitu tertarik dengan pernikahan dan gak berminat punya hubungan. Sudah kenyang.

Dan di sinilah cerita gue dimulai (trus daritadi itu apa?).

Gue berkenalan dengan lelaki itu, sebut saja panggilannya Pakde biar gak pusing, pada bulan Oktober 2016. Tepat satu bulan sebelum gue berhijrah.

Pakde ini adalah orang yang gue anggap sangat pintar. Sejak kenalan, gue bisa nanya apapun sama dia dan hebatnya dia selalu bisa jawab! Jadi gue menikmati buat ngobrol sama Pakde. Pakde juga rajin baca dan punya banyak buku. Dia ngasih pinjem 2 buah buku yang katanya akan menambah keresahan gue. Entah keresahan terhadap apa. Mungkin keresahan karena gue meragukan orientasi seksual belum menemukan tambatan hati (tsahhhh!) gue.

Setelah gue hijrah ke sini (tentunya sambil bawa buku yang dipinjemin Pakde), gue kembali ngobrol sama Pakde di sela-sela waktu dia jadi kacung (bahasanya dia) dan di sela jam kerja (atau tidur) gue. Pada satu waktu dia bercerita kalau dia mau resign (resend kalo bahasanya Riana Rara Kalsum). Gue sebagai orang yang belom pernah ketemu dia, cuma denger-denger doang, cuma bisa mendukung. Gue seneng dia mau resign, walaupun sempet mikir kalo itu bego karna kayanya dia udah stabil dengan kerjaannya.

Waktu berjalan, dan Pakde pun terlupakan.

Gak deng, beberapa waktu kemudian, tepatnya awal Desember, dia pamer kalo dia sudah resmi jadi pengangguran. Gue turut memberi selamat sambil menanyakan apa rencana dia nantinya. Dia bilang mau ke Surabaya . Gue sebagai teman yang baik (dan penasaran karena belom pernah ketemu) langsungmenawarkan dia buat mampir ke Singaraja setelah dia turun gunung. Dia bilang lihat nanti.

Baiklah, siapa gue emangnya bisa maksa-maksa. Akhirnya gue berdiam saja.

Sehabis natal, akhirnya dia menyerah dan menerima undangan gue.

Mungkin sebagian orang akan menganggap gue tolol. Mengundang laki-laki yang gak dikenal untuk menemui kita dan menawarkan untuk berbaik hati menemani. Pada dasarnya gue memang setolol sebaik itu.

Gue menghabiskan waktu banyak sama Pakde dan kita (gue tepatnya) cerita banyak. In person, Pakde adalah manusia dengan kemampuan bicara yang sangat wahhh (baca: tai). Tapi dia adalah orang yang sangat baik. Amat sangat baik. Dan gue bisa jujur sama dia, bercerita semua tanpa selubung apapun dan takut dihakimi. Gue yang cerita sih, Pakde Cuma jadi pendengar aja. Dan akhirnya gue sadar, Pakde bisa jadi orang yang seumur hidup ada untuk menerima semua pengaduan gue. Sayangnya gue tau diri dan ingat niat bahwa gue tidak tertarik untuk menikah. Pakde pun sama.

Setelah semua hari (penuh ketololan) bersama Pakde, sunrise Sanur gue bareng Pakde adalah hal terindah (sampai saat itu) yang gue liat di Bali.

Gue yang berusaha denial (dan untungnya gagal) memutuskan untuk mengajak Pakde menikah dan entah kenapa, (mungkin dia khilaf) dia mengiyakan.

Gue, seorang perempuan yang dicap brengsek oleh sebagian (besar) orang, melamar seorang laki-laki sangat baik dan luar biasa (buat gue), yang baru kali itu gue temui dan baru 3 bulan gue kenal.

Pakde gak pernah meminta gue untuk menghentikan semua kelakuan tolol gue, tapi dia membuat gue yang mau memperbaiki diri (maafkan bahasa najis gue). Walaupun Pakde masih kelimpungan karena melepaskan pekerjaannya di waktu yang salah (ya iyalah..mana dia tau kalo gue mau ngelamar), dia masih berusaha untuk mencari yang baru dan gue sangat bersyukur karena menemukan manusia seperti dia. Dia bukan pacar. Dia Cuma seorang kawan yang, entah kenapa, rasanya sangat berbeda dan membuat gue ingin jadi orang yang berbeda.

Wajah Pakde, yang sudah mengiyakan untuk menikah dengan gue, adalah hal
yang sekarang ada di setiap bagian dari layar handphone gue. Bukan lebay, bukan sok cinta mati, tapi untuk mengusir orang-orang iseng yang berniat menjodoh-jodohkan gue.

Inti cerita gue apa? Gue juga gak tau. Tapi gue akan coba (sok-sokan) memberi pesan moral di sini. Kitab suci gue mengatakan bahwa laki-laki baik diciptakan untuk perempuan yang baik. Gue masih percaya itu. Tapi sebagai perempuan yang (secara sosial) dinilai sebagai perempuan brengsek, kasar, dan sejuta hinaan lain, gue merasa beruntung bertemu Pakde karena dia yang membuat gue memaksa diri untuk menjadi lebih baik dan berusaha semampunya.

Gue rasa tidak bijak untuk menilai seseorang baik atau tidak, karena kalo kita telan mentah-mentah ayat itu, gue rasa akan sangat banyak orang yang tidak menemukan jodohnya. Semua orang bisa berusaha untuk jadi baik kan? Bahkan dalam manusia yang paling hitam pun, akan ada bagian yang tetap putih.

Buat kalian-kalian yang berteman dengan orang brengsek sejenis gue, jangan hanya berhenti untuk menghakimi dan hanya mau rajin untuk menanyakan kapan kawin. Carikan mereka (calon) jodoh yang kiranya bisa memperbaiki kebrengsekan mereka. Contohlah bung Giring yang cerewet pada saat itu nanyain kenapa gue belom kawin, dan menawarkan beberapa orang yang mungkin bisa menjadi calon jodoh gue. Dia adalah contoh nyata seorang saudara.

Kalian para perempuan gak perlu takut dibilang gak laku, perawan tua dan sejenisnya. Timing Tuhan gak pernah salah.

Teruntukmu Pakde, Gusti Allah mboten sare. Tuhan gak tidur. Dia gak akan tutup mata terhadap semua doa dan usaha. Bersabar adalah hal yang akan sangat lo perlukan kalo mau menghabiskan hidup sama gue.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan bagi kalau menyukai Dilla Anindita sebagai pemenang.

Dilla Anindita

Perempuan yang belakangan ini jadi anak baik karena kepengen menikahi Pakde.

0 comments:

Post a Comment