Sunday, 5 March 2017

Perihal Lagu Batak dan Ibu

Ketika di tanah perantauan selalu tersentuh hati ini mendengar lagu Batak dari lagu yang bercerita kampung halaman. Kerja keras orang tua, nasehat ayah di tanah perantauan, ibu yang sudah mulai tua, pacar yang di tinggal dll

batakgaul.com


Lagu Batak menurutkku memiliki kekuatan magic yang bisa membuat seseorang yang garang, keras dan tegar terkulai lemah serta menjadi makhluk paling melankolis, lirik-lirik lagu Batak seperti mantra yang selalu menarik-narik jiwa pendengarnya untuk selalu ingat kampung halaman dan mengingat jasa-jasa orang tua. 

Lagu Batak adalah alternatif bagiku agar tidak salah langkah dalam pergaulan serta membangkitkan semangatku untuk membuat orang tua bahagia, ada satu lagu yang paling sedih menurutku yakni yang berjudul Mardalan Au,  lagu ini bercerita perjalanan seseorang yang belum menemukan ujung dari perjalananya, ketika ia lelah menghadapi rintangan perjalanan hidupnya dia teringat akan seorang ibu yang berada dikampung halaman. Elusan seorang ibu lah yang dibutuhkan ketika semangat sudah jatuh dan raga sudah lagi tidak sanggup untuk melakukan sebuah perjalanan ditanah perantauan. Ibu lah satu-satunya yang bisa mengobati semua itu. 

Lagu ini sangat-sangat menguras air mataku sebagai anak yang sedang berjuang di perantauan. Dalam merantau hal seperti ini lah yang sangat sering dijumpai. Di kala keadaan tiba-tiba seperti sendiri tiada yang bisa menolong, ibulah yang bisa mengatasi semua itu, berangkat dari situlah aku mendapatkan kesimpulan bahwa setua apapun umur kita, tetaplah di depan ibu kita hanya bayi yang tidak berdaya yang perlu dipapah dalam berjalan, disuapi olehnya ketika makan dan dimandikannya ketika sudah lelah pulang bermain-main, sentuhan ibu sangat menentramkan jiwa.
Di sinilah aku menemukan betapa berharganya ibu itu, tidak ada benda atau makhluk apapun yang bisa menggantikan ibu kita, kita sungguh makhluk paling memalukan sejagat raya  yang dilahirkan oleh ibu karena kita tidak akan pernah bisa menebus atau membayar jasa ibu. 

Lagu Batak selalu mengingatkan aku akan kebesaran sosok ibu, terkadang tidak habis pikir di dalam benakku betapa teganya aku yang pernah mengecewakannya, jika ada peraturan yang mengatur tentang perilaku anak kepada ibu, aku rela di kenakan pasal penjara seumur hidup karena telah pernah mengecewakan ibu, walaupun dalam agama sudah dijelaskan dengan berdoa kepada orangtuamu adalah salah satu alternatif membalas jasanya, sungguh itu tidaklah cukup menurutku. 

Aku bukan orang yang condong matrealistis tetapi menurutku di dunia yang tampak dan nyata inilah untuk membuktikan pengabdianku sebagai anak kepada seorang ibu, tetapi begitu congkak ku pikir diriku jika aku berani mengatakan bahwa aku bisa membalas kebaikannya kepadaku di dunia yang nyata ini. 

Lagu Batak memang hal yang sangat baik untuk didengarkan agar tidak lupa dengan sosok ibu, lagu Batak membuatku berpikir, ketika nanti ibuku sudah lemah sanggupkah aku untuk merawatnya seperti aku kecil dulu.

Begitu hinanya diriku bila aku menyia-nyiakan kesempatan untuk merawat ibuku. Terimakasih ibu, terimakasih lagu Batak yang telah membuatku menangis dan selalu mengingatkan aku akan sosok ibu.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Ikhwan Ramadhan Siregar sebagai pemenang.


Ikhwan Ramadhan Siregar

Bukan Pujangga, Mantan Demonstran, sekarang sedang berjuang menjadi Buruh Perkebunan dan berjuang mencari jodoh.




0 comments:

Post a Comment