Wednesday, 8 March 2017

Perjalanan Sederhana dan Hasil Luar Biasa

Nagari nan elok, rancak pemandangannyo dan ramah panduduaknyo”. Siapa yang tidak tahu dan kenal dengan sebuah Kabupaten yang mempunyai landscape cantik dengan hamparan pemandangan perbukitan, pegunungan dan persawahan lengkap dengan aroma kesejukkan dan keasrian alamnya yang dirasakan oleh setiap insan apabila berkunjung ke sana. It’s so amazing “nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan”. (hahaha, buat penasaran pembaca aja kira-kira kami kemana ya?).

asliminang.com

Yaps. Perjalanan kami berawal dari ide teman-teman kampus yang merasa senasib dan seperjuangan ingin membebaskan pikiran dan hati sejenak dari dunia perkampusan. Biasalah ya, nggak mahasiswa kalau kesehariannya hanya berkutat dengan diktat, buku, dan tugas-tugas. Nah, untuk merefreshkan pikiran kami dan hati yang dirundung sedih (pacar mana pacar), kami menyusun schedule yang matang untuk pergi adventure ke tempat yang pastinya belum kami kunjungi. Singkatnya, kami pergi jalan-jalan bermoduskan kuliah lapangan supaya tetap ada legitimasi dari kampus (ckckck, jangan ditiru ya tipe mahasiswa seperti ini). Oops! Tujuan kami sebenarnya baik loh, dimanapun dan kapanpun serta dalam kondisi apapun kami tetap membawa dan mengakui nama kampus dimana tempat kami menimba ilmu.

Nagari Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota tujuan pengembaraan kami kali ini. Yakni, sebuah nagari yang terletak di penghujung Kabupaten Lima Puluh Kota. Apabila ingin sampai ke sini, bisa dengan akses kendaraan roda empat dan dua. Keahlian mengendalikan kendaraan sangat dituntut dengan medan pendakian dan penurunan yang cukup curam, jurang yang dalam, dan lembah, (harus ekstra hati hati loh guys). Pastinya, ketakutan kami terbayarkan dengan pemandangan eksotis yang disuguhkan hamparan Bukit Barisan dan Bukit Posuak dengan bentuknya yang unik, karena terdapat lubang di tengah-tengah bukit (search di google bagi yang belum tahu ya), tentunya pemandangan perbukitan seperti ini langka, terlihat berbeda dengan bukit yang kita lihat pada umumnya. Perasaan takjub dan bersyukur terlahir di ranah Minang yang memiliki keindahan alam luar biasa, seolah-olah terpatri dalam jiwa kami. 

Tidak hanya sebatas keindahan alam yang berhasil membuat kami berdecak kagum. Tetapi, tujuan pengembaraan kami kali ini adalah ingin melihat secara kasat mata bukti peninggalan-peninggalan masa lalu. Sudah menjadi kewajiban kami, sebagai mahasiswa sejarah untuk explore situs-situs bersejarah terkhusus bukti-bukti perihal peradaban tertua di Minangkabau, salah satunya terdapat di Nagari Maek Lima Puluh Kota.

Batu Tagak, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Dalam istilah sejarah dinamakan menhir (nisan-nisan kuno). Yah, Nagari Maek dikenal dengan istilah Seribu Menhir. Tak bisa dipungkiri, kehadiran menhir inilah menjadi misteri yang belum terpecahkan apakah memang benar peradaban tertua Minangkabau terdapat di Luhak Tanah Datar dengan Negeri Tertua Priangan. Sementara, Luhak Lima Puluh Kota juga menyimpan bukti-bukti bahwa di sana juga terdapat jejak-jejak peninggalan kebudayaan masa lalu, jauh pada masa pra sejarah.

Sebenarnya, ini bukan menjadi permasalahan yang berarti. Peninggalan ini menjadi bukti bahwa negeri Minang memang kaya akan budaya dan peradaban yang mesti dijaga kelestariannya. Ya, di Nagari Maek kita dapat membuka memori  kembali pada zaman prasejarah negeri ini dengan kembali menilik kehidupan masyarakat pada zaman batu berdasarkan peninggalan yang telah ada. Seolah tak percaya, tapi fakta membuktikan bahwa hampir di setiap sudut desa terdapat menhir, sehingga julukan Nagari Maek sebagai Nagari Seribu Menhir, dapat dikatakan benar adanya.

Rasa takjub dan kagum akan budaya masa lalu, terpaksa kami simpan dalam hati, karena keterbatasan waktu terpaksa membuat kami melakukan trip selanjutnya. Lembah Harau menjadi sasaran kami selanjutnya. Kalau ke Payakumbuh mainstream nya ya lembah Harau. Sedikit koreksi nih pembaca, lembah Harau itu terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota ya bukan di Payakumbuh, semoga tidak salah pengucapan lagi ya (hihhihi).

Adventure kami berakhir di pemandian Batang Tabik. Segala penat terbayarkan dengan apa yang didapatkan. Matahari telah kembali ke peraduannya, menjadi pertanda bahwa kami harus mengakhiri aktifitas yang telah dilakoni, dan segera bersiap untuk kembali pulang.

Sebenarnya, ya bahagia itu sederhana. Sesederhana kami mengagumi ciptaan-Nya, dan menghargai setiap peradaban manusia yang pernah ada. Perjalanan sederhana ini mengajarkan kami betapa nikmatnya belajar sejarah negeri ini. Tentunya perjalanan ini takkan terlupa, tetap abadi dalam lubuk hati sebagai cerita anak cucu kelak. Kemudian, tulisan inilah yang akan menjadi bukti bahwa kami pernah menjalani ini semua, karena setiap perjalanan menjadi takkan berarti apabila tidak terekam dengan jejak pena.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Sri Haryati Putrisebagai pemenang.


Sri Haryati Putri 

Saat ini mendaftar sebagi mahasiswa Magister Sejarah Unand. Hobi menulis dan penyuka petualangan objek dan fakta sejarah yang masih tersembunyi. 


0 comments:

Post a Comment