Sunday, 5 March 2017

Sang Anti Rokok, Akan Selalu Ada dan Berlipat Ganda

Membicarakan isu seputar permasalahan rokok nampaknya akan selalu menarik untuk dibahas. Pertarungan antar yang pro rokok dan anti rokok tak ubahnya seperti pertarungan tinju di dalam ring. Dari sudut biru sebagai penantang, yaitu sang anti rokok yang belum bisa move on dalam hal keantiannya terhadap rokok ataupun perokok. Dan juga dari sudut merah, sang pro  rokok yang berjibaku sedemikian rupa untuk mempertahankan status quo rokok.

contohdesain.com

Di ronde pertama pertarungan, sang anti rokok langsung melancarkan serangan. Jab kiri dilayangkan dengan pernyataan bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan. Antara lain kanker, hipotensi, serangan jantung. Eh ada yang lain, kanker, tapi yang ini kantong kering. Para anti rokok secara membabi buta terus menggempur pertahanan para pro rokok. Dengan jargon baru “Merokok membunuhmu” dan juga “Perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif”. Para anti rokok semakin melebarkan sayap perlawanannya dengan menggandeng orang-orang yang seolah-olah menjadi korban dari perokok.

Teng - teng. Ronde pertama berakhir, para pro rokok masih dapat bertahan dari serangan-serangan yang diterima. Sedangkan sang anti rokok tersenyum sumringah sambil percaya bahwa pertarungan akan dimenangkan dengan sangat mudah.

Memasuki ronde kedua, sang anti rokok tampil lebih agresif. Uppercut dilepaskan, dengan cara yang soft, mengatakan, “Astaga, sebulan tidak merokok dan uangnya di tabung, ternyata bisa menghasilkan uang Rp.1.200.000 loh”. Wahh, pencerahan yang sangat luar biasa. Tapi sejenak sang pro rokok terdiam sambil termenung. Dan dalam sekejap mendapat ide dan melakukan counter attack pada lawan dengan mengatakan, “Anda dari lahir sampai sekarang tidak pernah merokok. Sudah berapa jumlah tabungan yang anda miliki dari tidak merokok?" Sang anti rokok terkena telak. Jika umur sang anti rokok sekitar 30 tahun, kita hitung aja lah ya sang anti rokok menabung dari umur 20 tahun. Maka pastilah tabungan dari sang anti rokok selama 10 tahun sudah mencapai Rp. 144.000.000. Angka yang fantastic, bukan? Anda memilikinya? Kalau punya, yah bagi-bagi lah wak.

Ronde kedua berakhir dengan hikmad, sang anti rokok mulai kelabakan dan bergetar hebat dengan serangan dari sang lawan. Petarung dari sudut biru tersebut mulai berdiskusi dengan pelatihnya merancang stratak-stratak yang jitu untuk mengalahkan musuh. Ide licik pun muncul. Sang anti rokok merasa perlu melakukan pendekatan (lobi-lobi) dengan penentu keputusan, yang tentu saja adalah wasit.

Sesaat sebelum memulai ronde ketiga, mencanangkan isu kepada para petarung. Dengan tegas beliau berkata, “Masalah rokok adalah masalah kesehatan masyarakat. Jadi untuk menekan angka perokok, maka harga rokok akan dinaikkan menjadi Rp.50.000/bungkus." Mendengar itu, sang pro rokok menjadi galau, merasa dikecewakan karena wasit sudah mulai tidak netral. Tapi dengan prinsip hang on nya, sang pro rokok tetap tegar menerima kenyataan pahit tersebut. Ronde 3 menjadi sangat sengit. Jual beli pukulan dilakukan kedua belah pihak. Kedua petarung seakan tiada lelah nya dalam usaha memenangkan pertarungan.

Hingga hendak memasuki ronde keempat (saat ini), sang anti rokok masih berusaha keras memikirkan cara bagaimana menjatuhkan lawannya. Stratak-statak yang diterapkan dari ronde awal untuk mengalahkan sang pro rokok tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya, dengan berwajahkan sinis dan beraurakan rasa dendam yang mendalam sang anti rokok pun berucap,”ANTI ROKOK AKAN SELALU ADA DAN BERLIPAT GANDA”.

Kira-kira, stratak apalagi yang akan diterapkan oleh sang anti rokok? Dan siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini? JENG JENG JENG. Kita tunggu saja di episode selanjutnya.  Yang terpenting saat ini, saat ini  penulis masih penuh hikmadnya menikmati sebatang rokok kreteknya yang dibeli dengan harga bukan Rp.50.000.

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Lewis Siahaan sebagai pemenang.

Lewis Siahaan

Penulis adalah Mahasiswa biasa yang aktif di Kelompok Studi Mahasiswa BARSDem dan juga Sastrawan Daerah yang masih bermimpi punya Karya Sastra.

1 comment:

  1. Intinya tetap aja pro rokok akan selalu ada dan berlipat ganda juga kan :')

    ReplyDelete