Sunday, 5 March 2017

Senandung Asap Rokok: Aku vs Bapak

Saat itu...
Suatu sore di teras rumah yang agak mendung, menghabiskan senja bersama bapakku. Aku masih mengenakan baju putih abu-abu dengan sisa keringat di dahi dan areal ketiakku. Dengan sisa tenaga yang ada dan rasa jengkel kuhidangkan secangkir kopi kesukaan bapak yang dimintanya dengan senyum. Senyum itu sangat lembut namun punya arti yang dapat kucerna “awas kalau tak mau, besok uang jajanmu bapak kasih setengah”, begitulah kira-kira artinya walau tahu bapak bukan orangtua yang pelit.

saraung.com

Aku menghidangkan bapak secangkir kopi itu bukan karena ancamannya dengan uang jajanku, tapi aku sadar badan bapak dua kali lebih besar dariku. Terlebih aku takut bila bapak mempraktekkan kuncian-kuncian seperti dalam beberapa episode WWE Smackdownn yang sering kami tonton setiap kamis malam.

Dua sendok kopi dan sesendok gula yang dipesan bapak kuhidangkan cepat bersama dengan segelas teh manis khusus untukku. Kami menikmati sore itu dengan sesekali bersuara. Aku tidak begitu tertarik untuk berbicara panjang lebar, hanya yang penting-penting saja. Kulihat bapak merogoh saku kaos berkerahnya, dikeluarkannya sebungkus rokok kretek beserta mancisnya (mancis = korek gas).

Aku suka cara bapak sebelum merokok, seperti hiburan tersendiri bagiku. Bapak terlebih dahulu mengintip celah bungkusnya sekedar tahu berapa batang lagi rokoknya tersisa. Biasanya bila tinggal dua batang lagi dia pasti menyuruhku mengambil rokok dari steling rokok jualan mamak sembari berpesan, “Jangan nampak sama mamak ya!”
Rokok itu kemudian dipelintirnya keliling. Aku sudah tahu tujuannya supaya tembakau dalam rokok itu rata dan baranya tidak soak karena bertemu potongan tembakau yang besar. Itu semua sudah pernah dijelaskan bapak jauh-jauh hari. Kunikmati pertunjukan singkat itu dengan teliti sampai bapak menyalakan rokoknya.

Aku sering bertanya kepada bapak kenapa suka merokok. Aku juga sering menyarankan bapak agar berhenti atau setidaknya mengurangi beberapa batang rokok dalam sehari. Saran yang sebenarnya dibisikkan dan dititipkan mamak kepadaku karena mungkin mamak sudah capek menasehati bapak.

Sore itu kuhabiskan senja bersama bapak dengan asap rokoknya yang mengepungku. Aku tak tahan bila harus menghirup sisa asap rokok yang dihisap oleh bapak. Sebelum menyelamatkan diri, aku masih sempat bertanya kepada bapak, “apa nikmatnya merokok pak?” Bapak terhenti sejenak. Diangkatnya cangkir kopi yang ampasnya sudah hampir turun semua. Bapak menyesap kopi itu sembari memandang kearahku. Disentilnya rokok kretek dijarinya hingga abunya jatuh kedalam asbak, kemudian dihisap kembali.

“Jangan sampai kau merokok ya! Awas kalau bapak tahu kau merokok!” kata bapak sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengah yang menjepit rokoknya, dan asap rokok yang keluar dari mulutnya yang menampar kewajahku. Aku cuma mengangguk mantap.


Sementara itu...
Di satu warung makan di pinggir jalan.
Suatu sore yang pengap oleh gepulan asap kendaraan yang mulai memenuhi jalanan. Aku menikmati segelas air putih sambil memandang lalu lalang kendaraan itu. Segelas air putih ini adalah bonus yang diberikan pemilik warung karena sudah menghabiskan beberapa lembar uangku untuk menyantap makan siang di warung itu, yang masih jauh dari kata lumayan. Memang untuk hal makanan, aku punya kualifikasi sendiri, kualifikasi yang tentu saja didukung dompet pula. Tanggal 1 sampai 20an, makanan itu harus memenuhi kriteria. Tanggal 20 sampai akhir bulan, persetan dengan kriteria, makanan itu harus memenuhi perut.

Setelah menyantap sarapan siang biasanya aku bersendawa, tapi kali ini rasanya bersendawa belum bisa dituntaskan. Seorang gadis cantik di samping kananku dari tadi memaksa sikapku supaya terlihat keren. Gadis itu sibuk bersama paha ayam goreng yang dicabiknya serius, dengan dua tangan. Aku tak sampai hati melihat bagian tubuh ayam itu dipermainkan.

Kebiasaan lain yang sering kulakukan setelah makan siang adalah menghabiskan sebatang rokok sebagai pelengkapnya, kebiasaan yang kumulai beberapa tahun lalu. Dengan memelintir terlebih dahulu, kurogoh kantong celana meraih mancis biru. Mancis biru itu masih penuh gasnya karena jarang kupakai. Mancis itu seingatku adalah kepunyaan seorang kawan yang kugelapkan tapi lupa siapa orangnya, mungkin karena sudah terlalu sering beraksi. Bila ditanya, barangkali sudah puluhan mancis yang kuamini dengan senyum lebar sambil memainkan kepulan asap dimulut. Bermula dari kehilangan sebuah mancis yang baru kubeli dari minimarket, menyisakan bungkus rokok yang tinggal dua batang lagi, awal dari aksi-aksiku.

Orang bilang nikmat, sampai sekarang aku masih belum tahu dibagian mana nikmatnya kudapat.

Aku belum paham arti sebatang rokok selesai makan siang. Hingga sekarang pun kupahami, bahwasanya memang itu tak ada artinya. Aku menghabiskan beberapa ribu hanya untuk sesuatu yang tak punya arti. Seperti menghabiskan beberapa bulan waktuku dalam jalinan kasih, yang tak berujung namun serasa disudahi. Sambil menghirup asap rokok ini, kuamati lagi gadis disampingku yang menelan kunyahan terakhirnya.
Buurrrrp” suara sendawa gadis itu yang memecah suasana. Dia hanya tersenyum mengangguk kepadaku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku menahan nafas.

Kupalingkan pandangan kearah lain. Kulihat ada seorang ibu duduk di samping gerobaknya, seorang ibu yang usianya mungkin lima puluhan sedang menjajakan jualannya; buah-buahan yang dijual dengan potongan-potongan kecil. Seorang gadis turun dari angkot langsung menyambar lamunan ibu itu. Gadis itu nampak sangat beringas memilah-milah potongan buah kesukaannya kedalam piring plastik. Aku memandang mereka berdua dengan teliti, apalagi gadis itu cantik pula.

Dikeluarkannya dua lembar lima ribuan menjemput kantong plastik putih yang berisi potongan-potongan buah dari tangan si ibu itu. Si ibu tua memberikan uang kembalian lembaran dua ribu. Sempat terbesit dibenakku untuk membeli jajanan buah itu karna kelihatan segar dan menggiurkan, tapi urung karna tahu harganya delapan ribuan.
"Lebih baik kubeli setengah bungkus rokok" gumamku.

***

(PS: Bukan bermaksud mengguruimu, tapi merokok itu memang berbahaya bagi kesehatan. Jauhilah selagi bisa.)

***
#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Ryan Nujie sebagai pemenang.


Ryan Nujie 

Seorang Penikmat Kopi 

3 comments: