Monday, 13 March 2017

Senja Menghampiri Jingga di Proklamator

Sore itu delapan tahun silam tepatnya, tahun 2009. Perdana kuliah lhoAwalnya, sering menjaga sikap terhadap teman-teman. Tetapi saat sela-sela selesai kuliah kami saling bercengkerama. Sungguh asyik banget bro, maklum awal kuliah selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman satu angkatan. Namanya saja mahasiswa baru…hehehe yang selalu didoktrin sama senior, katanya “satu keluarga” gitu. Jumlah keluarga cukup lumayan 120 orang dengan tiga jurusan. Wooowwngeri sob!


Seiring berjalan waktu kami sudah saling mengenal satu sama lain. Kebiasaan sering berkumpul dan satu tempat nongkrong yang biasa disebut sebagai medan bapaneh. Tempat ini adanya di Fakultas Ilmu Budaya. Aneh sekali sob tempat yang dikelilingi rindangnya pohon masa dikatakan juga sebagai medan bapaneh, lucu bila denger namanya hahaha. Ini emang (kalo diinget-inget) tempatnya bikin tertawa-tawa sendiri lho, apalagi bila ingat tingkah mahasiswanya FIB. Ada-ada saja. Tempat ini juga digunakan sebagai ajang untuk katakan cinta sob, diiringi Take Me Out. Bikin dada deg dug lho, iseng-iseng berhadiah bagi yang beruntung, pokoknya “keren abis” deh.

Dahulu kala kampus yang saya tempati ini begitu banyak cerita kategori sweet memory yang terukir bagi senior-senior di atas saya. Sebuah cerita pun didapati. Kita namai saja sebagai history, begini ceritanya, sila disimak.

Di belakang kampus ada bebatuan dekat air laut yang menderuhkan ombak. Pantai belakang ini sangat diminati oleh mahasiswa FIB sampai sekarang, walau sudah pindah kuliah ke kampus yang penuh kegersangan. Mereka selalu menyempatkan untuk ke sana apalagi waktu dahulu kantin lebih dekat dengan pantai.

Flashback tentang cerita persabahatan. Tahun 2009, sungguh mengharukan bagi saya, kuliah semester perdana, saya tidak pernah mau meninggalkan dan pengen terus menghabiskan hari-hari bersama friend-friend baru. Saya punya sahabat lelaki, jumlahnya lumayan empat orang. mau tahu siapa saja itu?

Baiklah, saya tulis inisialnya saja ya. Sekali lagi… pada penasaran ya? Inisialnya, pertama R, orangnya unik, kocak dan lucu postur tubuhnya pendek (bukan rasisme tetapi kenyataan) serta bijak dalam bertutur. Orang kedua, inisial “E”. Wah, dengan style stay cool sok jaimnya. Ketiga, “H” orangnya lebih gawat, kelewat kalem seperti warna kulitnya dan terakhir “G” orangnya slengean abis lho. Akhirnya cerita persahabatan kami pun berawal di kampus biru proklamator tersebut.

Waktu terus berjalan, jarum jam berdetak, kebahagiaan hingga suka-duka persahabatan kami lewati bersama. Karena Sering berkumpul dengan sesama teman sekelas. Ternyata salah seorang sahabat gue diam-diam menyimpan perasaan mendalam kepada pujaan hati, seorang wanita satu jurusan. Ialah sahabat kocak gua “R”. Ia sangat menggagumi sebut saja “M”, mereka mempunyai ciri-ciri postur yang sama “hahaha”. Cerita dua sejoli ini bertolak belakang dari hati masing-masing. Kalian jadi penasarankan?

Simak dan ratapi ceritanya. Tiba-tiba “R”  dengan PeDe menghampiri “M” kala itu sedang duduk bersama teman-temannya. Langsung saja si “R” tadi dengan kepedean tingkat sufi mengatakan bahwa dia “suka sama M”. Tak dinyana semua yang mendengar ungkapan rasa R tadi tertawa terbahak-bahak. “M” perempuan paling cantik sedunia (menurut R) itu tersipu malu karena teman-teman ngehek itu secara bersamaan bilang “ciieeeehh ada rupanya.” Rona muka Si doi “M” berubah drastic, dari tersipuh malah tiba-tiba membentak “aku tidak suka dohmalu tau” katanya ikut-ikutan istilah anak gaul zaman sekarang. Jantungnya berdetak kencang dan tak karuan, wajahnya terlihat merah pucat.

Ternyata “R” bukan lelaki pilihan “M” Iwan Flas banget kan? Cerita dua sejoli ini terus berlanjut dari hari ke hari dan menjadi biang gosip, sampe-sampe wanita pujaan hati “R” marunguik kesal sering digangguin “kesal aku sama kalian” jeritnya di sore yang muram itu.

Jika diingat masa-masa  ini bagaikan cerita Jingga dan Senja bagaikan cerita dalam novel romance, so sweet. Takdir yang mempertemukan mereka di kampus proklamator “sahabat dan cinta terukir di hati R” walau tidak kesampaian untuk mendapatkan tambatan hati. Keluh kesah gundah gulana hati R terus mengusik pikirannya, tak tanggung-tanggung dia hampir depresi coy“jangan terlalu serius loh ya!”

Cerita ini menjadi simbol bahkan legenda bagi mahasiswa proklamator, yang saat ini juga  berhaluan menjadi pejuang cinta seperti R dulunya. Kisah
cinta R dan M ibarat kisah Romeo Juliet karya Shakespeare, tapi dalam versi yang bertolak belakang ya hehe. Medan bapaneh punya cerita sekaligus saksi bisu tempat ajang “katakan cinta” yang tidak kesampaian bagi proklamator muda angkatan 2009 itu.

Cerita cinta tak lepas dari kalangan mahasiswa untuk penyemangat untuk kuliah dan selalu tampil cantik menawan bagi kaum Juliet dan begitu sebaliknya bagi Romeo di kampus proklamator. Jangan sungkan-sungkan katakan cinta walau tidak sampai, masih ada kesempatan ‘cinta ditolak dukun bertindak’ bak “ada mbah dukun” kata Alam.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Silakan dibagikan jika menyukai Bustanol sebagai pemenang.

Bustanol

Pegiat Kebudayaan, follow Twitter di @bungtanol

0 comments:

Post a Comment