Saturday, 11 March 2017

Soal Kesetiakawanan, Saya Mesti Belajar Dari Truk yang Pecah Ban

Bekali-kali saya pikir ulang untuk menuliskan cerita berikut ini. Soal biasa kalau setiap menulis selalu mentok di kalimat pertama. Dipusingkan dengan kata apa yang baik diletakkan di baris pertama. Namun, ada hal lain yang sungguh memusingkan kepala, adakah tulisan ini berguna jika dibaca? Atau adakah perkawanan saya tambah mesra setelah ini?


Kepalang mujur setelah tulisan ini selesai dituliskan, ada kepuasan tersendiri bagi saya, barangkali juga bagi kengkawen. Naif benar kalau tulisan ini dimaksudkan untuk hal yang buruk dan merugikan. Hanya saja sampai paragraf kedua ini, belum ada terbersit niatan yang sedemikian.

Baiklah, pernah suatu waktu, di perjalanan pulang menuju tanah kelahiran. Kalau tidak salah memperkirakan, waktu yang dihabiskan di perjalanan sampai tujuh jam. Selain jalan yang tidak rata dan berlubang sana-sini, kekhawatiran akan bahaya yang mungkin bersua di tengah jalan, menjadi alasan mengapa begitu lama waktu yang diperlukan. Beda halnya jika siang hari, barangkali waktu enam jam itu sudah terlalu lama.

Banyak ketakutan yang bergelayut di benak para pengendara di malam hari. Selain terserang kantuk, perihal dicegat gerombolan tak dikenal menjadi hirauan pengendara. Pasalnya, telah banyak terjadi kasus pembajakan kendaraan oleh orang tak di kenal, bahkan disertai pembunuhan. Berjalan sendiri di malam hari memang sangat menakutkan. Lebih-lebih jika terjadi pecah ban di pesawangan. Mungkin keringat dingin bakal mengucur, lebih-lebih bagi yang tidak terbiasa dengan hal yang demikian.

Di perjalanan ketika itu, mini bus yang saya tumpangi mendadak menepi. Saya yang dalam lamun kantuk ketika itu, sontak terjaga. Saya mengira sudah sampai tujuan atau istirahat sebentar di rumah makan. Ternyata tidak keduanya. Kendaraan berhenti di jalan yang di tepi-tepinya rimba raya. Saya mencelinguk keluar jendela, tampak enam atau tujuh truk terparkir, kemudian di belakang mini bus yang saya tumpangi, ada lagi lima minu bus lainnya. Saya mencari tahu gerangan, ternyata di depan sekali ada truk yang pecah ban.

Penasaran saya memuncak, yang akhirnya terlampiaskan kepada seorang laki-laki paruh baya yang entah kapan duduk di samping saya. Beliau bercerita banyak soal kejadian yang mungkin terjadi di perjalanan malam hari. Namun, ada yang lebih menyangkut di benak saya, yakni soal kesetiakawanan.

Diceritakan, truk maupun angkutan mini bus mempunyai cara sendiri memaknai kesetiakawanan. Sama halnya dengan pengendara skuter atau vespa. Kenal atau tidak, jika ada yang kemalangan di jalan, pengendara yang lain wajib membantu, meski ada satu-satu yang berlalu. Demikian juga dengan mini bus yang kami tumpangi. Selain membantu menggantikan ban yang pecah, momen tersebut juga dijadikan sebagai ajang silaturahim dadakan, agak sebatang  atau dua batang rokok lamanya. Setelah itu, kendaraan itu kembali berduyun-duyun ke arah yang sama.

Saya pikir kesetiakawanan yang sedemikian perlu dipupuk dalam tabiat saya nantinya. Barangkali juga bagimu. Terkadang kesusahan datang tidak diminta sama sekali, kalau sampai alamatnya pada kita, tentu harapan atas bantuan menjadi tumpuan. Janganlah berlalu ketika kawanmu tengah karam diombang-ambing kesusahan hidup. Janganlah berlalu ketika kawanmu berjalan tidak sesuai ekspektasimu. Percayalah, dia tak lupa pada keadaan yang sama-sama dirindukan

***
Depitriadi

Berharap bertemu Damhuri Muhammad

1 comment: