Monday, 27 March 2017

Spooner dan Penculik Om-Om Tajir Adalah Gulai Nangka yang Dipanaskan

Belakangan ini pemberitaan mengenai penculikan merebak di masyarakat. Mulai dari penculikan anak yang dilancarkan dengan ragam motif, yang terkadang diiringi dengan tindakan main hakim sendiri. Sampai pemberitaan menghebohkan dari Malang, penculikan om-om berduit. 



Pemberitaan terkait penculikan anak sangat membuat saya hirau. Pasalnya, saya memiliki tiga orang keponakan yang masih berada di Sekolah Dasar. Jangan sampai orang-orang di sekeliling saya menjadi korban penculikan. Begitulah, hidup di negeri para penculik ini, kita mesti selalu was-was terhadap segala kejahatan yang mungkin terjadi.

Belum lagi reda soal pemberitaan penculikan anak, kini tersiar pula soal penculikan om-om tajir. Konon katanya dilancarkan oleh wanita muda. Mungkin inilah konsekuensi dari arus informasi yang tidak lagi dapat dibendung. Segala informasi dapat kita ketahui dengan mudah. Bahkan pemberi informasi saban detik dapat masuk ke kamar tidur kita.

Entahlah, apakah pemberitaan mengenai penculikan anak dan om-om ini menjadi pengalih perhatian khalayak ramai atas pemberitaan penculikan uang rakyat. Atau isu ini lebih seksi ketimbang perempuan tua yang mencor kaki di depan istana, atau penyegar isu politik yang menjemukan, yang jelas kita mesti selalu waspada.

Sebenarnya saya tidak mau ambil pusing soal pemberitaan penculikan om-om tajir ini. Sebab ini ibarat gulai nangka yang diulang-panaskan. Barang lama yang dibarukan kembali dengan kemasan yang disesuaikan. Laki-laki paruh baya yang kepincut dengan wanita muda itu perkara purba, pun sebaliknya. Ini menyerang semua kelas, bukan hanya yang berduit saja, tapi juga menyerang buruh, tukang ledeng, nelayan, ibu rumah tanggga, dan ragam profesi lainnya.

Tapi apa yang membuat saya memalingkan perhatian pada isu ini? Yaitu kaum ibu. Perempuan-perempuan yang terlanjur menjadi objek.

Wanita (kata ganti perempuan) muda nan cantik belakangan ini selalu dijadikan objek yang ideal. Di segala media informasi, wajah wanita muda selalu terpampang. Barangkali 80 persen dari informasi yang beredar melibatkan wanita muda. Mulai dari iklan kecantikan, alat dapur, tabungan masa depan, obat kurap, aktor kampanye politik, dan lain sebagainya. Mungkin terbebas dari eksploitasi semacam inilah yang tengah disiarkan kaum feminis.

Namun, pada kenyataannya banyak wanita yang terjebak pada konsep ideal tersebut. Entah ini yang dimaksud gaya hidup ideal, entah gaya hidup hedon itu kiranya yang justru lebih nyaman bagi wanita. Supaya selalu tampil ideal dan menawan dengan segala atribut serta prediket yang menyertainya tentu ini tidak murah. Ada cost yang mesti dikeluarkan. Nah, tekanan cost yang terlalu tinggi dengan kemampuan si wanita yang rendah, inilah yang menghadirkan para spooner (bukan merujuk kepada filsuf Lysander Spooner, atau barangkali juga ada sangkut pautnya dengan konsep individualist anarchist miliknya).

Spooner -istilah ini menyesuaikan istilah yang digunakan pemberitaan, meski istilah ini beragam banyaknya- wanita muda yang hidup dengan gaya kelas atas yang bersedia menemani om-om selama jangka waktu tertentu. Wanita muda ini bisa diajak keluar kota, diajak nongkrong maupun ke tempat hiburan untuk berkencan. Tujuannya tidak lain tidak bukan ialah uang bulanan serta fasilitas hidup lainnya. Fenomena ini barangkali sudah berlangsung puluhan tahun silam.

Sekarang ini istilah spooner mendapat tandem yang seimbang; penculik om-om. Seperti yang marak diberitakan, penculik om-om ini dilakukan oleh wanita karir, semacam pegawai perusahaan yang mengejar target bulanan. Barangkali si om dan relasinya dapat memenuhi target tersebut. Merelakan tubuh barangkali bagi dirinya adalah bayaran yang setimpal.

Sungguh miris memang menerima kenyataan yang demikian. Menanggapi pemberitaan seputar spooner dan penculik om-om ini membuat saya lunglai, lebih-lebih ketika saya mendapati kenyataan dimana saya berteman baik dengan salah seorang yang dimaksud. Semoga kebaikan selalu menyertainya.

Saya bingung harus memakai pendekatan apa untuk melihat fenomena ini. Saya pikir segala pendekatan tidak ada yang sesuai, baik pendekat sosiologis, ekonomi, hukum. Bahkan pendekatan religiusitas pun sudah majal di hadapan fenomena ini. Sambil membaca tulisan ini dengan malas, mari malaskan diri sidang pembaca sekalian dari perbuatan buruk yang mungkin akan dikerjakan.

***
Depitriadi

Main Candy Crash Saga sudah sampai level 57.

1 comment: