Friday, 24 March 2017

Sutan Sjahrir dan Ibu-Ibu Kendeng yang Mencor Surga

Di depan Istana Negara yang penghuninya bisa hidup dari pajak rakyat, ibu-ibu dari Kendeng yang menolak pembangunan Pabrik Semen kembali mencor kakinya. Mereka, terus berjuang agar negara memenuhi janjinya, untuk taat hukum, untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.”


Tribunnews

Janji suci, diawal negara ini melangkah, yang ibu-ibu Kendeng rasakan semakin jauh harapan itu. Janji suci yang berubah menjadi janji manis gombal, tetapi setidaknya masih diucapkan setiap upacara Senin.

Ibu-Ibu Kendeng terus berjuang, kabar terakhir, salah satu ibu yang mencor kakinya meninggal karena serangan jantung. Ibu itu meninggal sebagai pemenang, karena seperti sajak Schiller yang kerap dikutip Sutan Sjahrir;

“bukankah hidup yang tak diperjuangkan tidak akan dimenangkan.”

108 tahun yang lalu, ketika negara ini masih “merunduk dan berlari” untuk penjajah, di bulan ini tokoh besar kemanusiaan Indonesia lahir, ia disebut Bung Kecil dengan kemanusiaan yang luas. Sutan Sjahrir, dalam cita-cita ke Indonesian-nya, menulis di masa revolusi soal “Perjoeangan Kita” meski dinilai terlalu dini, ia menegaskan bahwa cita-cita Revolusi dan kemerdekaan Indonesia ke dalam negeri adalah revolusi kerakyatan, nasib rakyat menjadi perhatian utama.

Rakyat bagi Sjahrir sudah begitu lama ditindas sistem feodalisme yang kawin dengan sistem kolonialisme, yang begitu jauh dari nilai-nilai luhur kemanusiaan. Keinginan rakyat untuk merdeka dan bernegara bagi Sjahrir, karena rakyat tahu, nasibnya akan diurus oleh aturan, yang adil, yang memihak kepada rakyat, yang berlandas pada cita-cita hakiki kemanusiaan. Kolonialisme Belanda dan Fasisme Jepang harus tutup buku, rakyat ingin membuka lembaran baru, Indonesia Merdeka, yang di dalamnya ada kemerdekaan kemanusiaan. Jalan kemerdekaan Indonesia hanya jembatan saja, untuk mencapai kemerdekaan manusia.

Namun, setelah merdeka. Negara dimanapun memang penuh paradoks. Ia bisa melindungi  rakyatnya namun di lain hal ia bisa pula menjadi pembunuh yang kejam, seperti Orba yang hari-hari ini dirindukan sebagian orang tuna-sejarah, yang atas nama pembangunan, apapun bisa saja dikorbankan, termasuk kemanusiaan itu sendiri. Sjahrir sudah mewanti-wanti ini, negara dan kemanusiaan harus berjalan beriringan. Pemerintah sebagai penggerak roda bernegara, harus tetap di jalur cita cita dasar berdirinya Indonesia.

Sudah dua kali aksi di depan Istana Negara, ibu-ibu yang di kakinya terletak surga, mencor kakinya sebagai bentuk ekspresi perlawanan penolakan terhadap Pabrik Semen di Rembang. Karena jika Pabrik Semen itu jadi, mereka berhenti hidup, karena pertanian dan alam yang terjaga merupakan nyawa dari hidup mereka. Pembangunan yang mengorbankan seperti ini, disebut banyak filsuf kemanusiaan sebagai “slow genoside,” pembunuhan pelan-pelan terhadap korban pembangunan dan Pemerintahlah penjahat utamanya.

Jika kita renung-renungi, meski sudah berganti penghuni, karena Belanda dan Jepang memang sudah pergi, namun Istana negara tetap dihuni pikiran-pikiran kolonial. Cara pikir untuk menjajah manusia lain dengan berbagai aturan yang dibuat masih awet hingga hari ini. Sepertinya memang, orang-orang Istana Negara lah yang utama harus mendapat program “Revolusi Mental”.

Dari bagaimana ketidakpedulian Pemerintah kepada Ibu-Ibu Kendeng, kita murung. Ternyata meski sudah merdeka kita tidak beranjak kemana-mana. Desa, selalu begitu dari dahulu, belum menjadi subjek. Mereka orang desa tiba-tiba harus menerima apa yang diputuskan orang-orang yang rapat dengan tertib, harum dan rapi di ruang ber-AC di Ibukota. Sekali lagi, Sjahrir sudah berfikir begini dan menulis;

“begitulah umpamanya, pangrehpraja tak lain dari alat yang dibuat penjajah Belanda dari warisan feodal masyarakat kita. Berupa-rupa aturan yang dilakukan atas rakyat kita di desa tak lain daripada lanjutan yang lebih teratur daripada kebiasaan feodal, demikian penghargaan yang begitu rendah terhadap diri orang desa, yang masih dipandang setengah budak belian....”

Kita sudah di 2017 yang masih murung. 72 tahun sudah Negara ini merdeka. Tapi, pemerintah yang dulu disebut pangreh-praja, masih seperti yang ditulis Sjahrir puluhan tahun lalu. Ia masih membeda-bedakan perlakuan kepada manusia, ia akan membedakan sambutan; “makan siang” untuk investor semen dan Ibu-Ibu Kendeng. Aturan yang pemerintah buat, sudah menjadi rahasia umum, akan berpihak kepada siapa.

Sebenarnya, hanya berjarak selemparan batu antara pusat aksi Ibu-Ibu Kendeng dan ruangan tempat Presiden, Menteri dan Pejabat negara rapat dengan nyaman di dalam Istana Negara. Namun begitulah, para penghuni Istana Negara sepertinya mengidap penyakit mata, rabun rakyat, yaitu penyakit mata, baik mata penglihatan maupun mata hati, yang jika ada rakyat menuntut keadilan dan perhatian, matanya tiba-tiba rabun, hatinya tiba tiba keras, tak bisa menangkap cahaya, cahaya ibu-ibu Kendeng yang terus berjuang merawat alam, merawat bumi, untuk lestari.

Di masa Revolusi, Sutan Sjahrir sudah mengingatkan, orang-orang desa harus dimuliakan, mereka bukan manusia setengah budak belian yang boleh diperlakukan dengan tidak adil. Tanpa kemerdekaan manusia, kemerdekaan Ibu-Ibu Kendeng untuk tetap bertani dan merawat alam, kemerdekaan negara sebuah ilusi yang menyedihkan.

***
Muhnizar Siagian

Staff Pengajar di Hubungan Internasional Universitas Pasundan.

1 comment:

  1. alah, cok cok. banyak pulo teori ang.
    orang tu hanya perlu tempatnya tidak digunakan pabrik semen. sudah itu saja.

    ReplyDelete