Wednesday, 29 March 2017

Telaah Kosa Kata “Godok” Dalam Perspektif Gunung dan Laut

Penulis menyadari kalau penulis bukanlah seorang ilmuwan yang paham akan hal ikhwal episttimologi. Maka tulisan ini bukanlah sebuah untaian kalimat demi kalimat yang ditopang dengan metodologi yang bisa dipertahankan secara ilmiah. Entahlah kawan, apakah nantinya ini akan menjadi suatu kajian antropologis atau bahasa, kita lihat saja. kemana kalimat yang membentuk tulisan ini akan mengarah.



Pertama sekali, penulis membatasi permasalahan spasial dalam tulisan ini adalah wilayah yang termasuk dalam administratif Provinsi Sumatera Barat sebagai provinsi yang masyarakatnya sebagai penutur bahasa Minang. Nah, kali ini penulis akan mengajak pembaca untuk membaca tulisan penulis perihal “godok”. Seperti nama situs dimana tulisan ini (yang semoga saja) dimuat oleh redaktur yang terhormat juga bernama sangat unik sekali, Godok. Untuk penulisan godok kedua dan selanjutnya, sengaja penulis tidak memiringkan tulisannya tanpa membubuhi tanda petik. Demi kesederhanaan dan kemudahan penulis dalam menulis. Para pembaca yang budiman, maafkanlah penulis yang terlalu malas untuk menyunting tulisan godok, semoga dimaafkan dan dimaklumi.

Baiklah, kita kembalikan lagi pada konteks godok tadi. Penulis lahir, tumbuh dan berkembang di kaki gunung yang berudara sejuk, dan biasa memakan godok. Godok itu makanan sejenis gorengan yang terbuat dari pisang, tepung, mentega, gula lalu dicetak bulat dan digoreng. Rasanya enak, dan semua orang dari kampung halaman penulis tahu, bahwa godok adalah makanan. Beberapa handai taulan yang juga berasal dari Bukik Sileh di dekat Gunung Talang, dan yang dari dataran tinggi Maninjau yang bersuhu sejuk juga sepakat, bahwa godok itu semacam gorengan yang merakyat. Tetapi, beberapa kawan yang berasal dari pesisir pantai memandang aneh godok. Godok adalah satu kata yang bermakna tidak baik, vulgar untuk dibicarakan.

Kita bisa melihat dua arti yang berbeda dari satu kata. Penutur kata ini dari dua wilayah yang berbeda akan bersilang pendapat mengenai kata godok. Semoga saja tidak ada baku hantam karena kesalahpahaman penggunaan kata godok. Sama halnya dengan kata “lapa” dan “litak” yang juga berbeda arti oleh penutur dari masyarakt dataran tinggi dan pesisir. “lapa” adalah kondisi dimana perut belum berisi bagi masyarakat pesisir, sedangkan bagi masyarakat dataran tinggi, jarang ditemukan kosa kata itu. Namun, dalam beberapa kasus bisa saja ditemukan kosa kata itu dalam percakapan sehari-hari, sebagai padanan kata “cangok” atau rakus dalam bahasa Indonesia. Sedangkan kata “litak” bagi masyarakat pesisir adalah padanan kata letih dalam bahasa Indonesia, dan lapar bagi masyarakat di dataran tinggi. Maka, akan cukup sering terjadi kesalahpahaman yang terjadi saat masyarakat kedua daerah ini bercakap, “litak” bagi masyarakat pesisir adalah letih, dan lapar bagi masyarakat dataran tinggi. Sedangkan, “lapa” bagi masyarakat pesisir adalah lapar, namun bisa saja berarti rakus bagi masyarakat dataran tinggi.

Jika pembaca yang budiman tidak menemukan kasus antara si lapa dan si litak di atas, tidak masalah. Sekali lagi penulis  ingatkan, bahwa penulis tidak memiliki metode ilmiah dalam merumuskan hal di atas, sehingga cerita tadi bersifat commonsense. Dalam penelitian Antropologi, seorang peneliti harus melakukan penelitian yang bersifat partisipasi aktif minimal selama satu tahun, untuk memahami satu siklus dari satu kebudayaan. Penulis bukan seorang antropolog. Dalam penelitian sastra yang humaniora, penulis tidak mengetahui apa-apa sehingga penulis saat menulis tulisan ini memilih untuk tidak membicarakannya.

Kembali kita bahas tentang godok. Saat ini, terdapatlah satu situs yang sangat luar biasa bernama godok.id. seandainya pembaca budiman ingin membaca tulisan-tulisan yang luar biasa, seinggahlah barang sebentar di godok.id, jika tidak mau membaca tulisan luar biasa yang diposting redaktur, cukuplah sodara-sodari untuk membuka saja lalu menutupnya. Itu cukup untuk mendapatkan satu viewer. Semoga banyak yang mampir, lalu angka statistik dari viewer godok.id meningkat, mungkin beberapa perusahaan mencoba memasang peruntungan usahanya dengan membayar redaktur untuk memasang iklan di situs yang luar biasa ini. Lalu redaktur bersedia untuk membayar sebungkus kretek dan secangkir kopi bagi penulis. Hidup ini begitu indah saat kita saling berbagi. Angkat gelas kita bersulang!

Penulis mencoba menjadi seorang sosiolog yang bersifat non-etis, atau bebas nilai, bisa berarti tidak melihat suatu hal itu salah dan benar, alias objektif. Godok adalah godok, bisa berarti makanan dan bisa berarti itu. Maknanya dikembalikan kepada diri kita, jika kamu berasal dari dataran tinggi kamu akan terbiasa dengan kata godok yang berarti makanan, jika kamu berasal dari wilayah pesisir kebanyakan akan menafsirkannya sebagai satu hal yang bermakna negatif. Pertengkaran mengenai makna kata godok itu bisa saja terjadi, dan itu tidak masalah. Hanya, bagaimana kita menafsirkannya secara adil. Sesungguhnya, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pemikiran, apalagi perbuatan.    

***

(H).

Memilih menggunakan nama pena (H). agar lebih sederhana dan terlihat keren. Penganut aliran mainstream entah penyair, entah pujangga ataupun praktisi plagiatisme yang masih menolak untuk kreatif dan melihat dunia luar. Penulis buku Kita Tertawa yang hanya dicetak sebanyak 25 eksemplar, dan stok masih tertawa.

0 comments:

Post a Comment