Saturday, 15 April 2017

Air Turun dari Langit Namanya Hujan

Bogor. Kota hujan. Kota kedua yang aku diami cukup lama selain kota asal, Bandung. Aku dateng ke Bogor bukan buat jadi pawang hujan. Aku dateng ke bogor untuk mencari masa depan yang lebih cerah, ya aku mencari ilmu di sini. Ilmu bagaimana menjadi pawang hujan. Ga deng boong, hehe. 



Udah cukup lama aku di Bogor, sekitar dua tahun yang lalu. Ya walaupun terkadang beberapa bulan sekali pulang ke Bandung. Aku di Bogor bukan tanpa tujuan. Aku datang kesini untuk memenuhi panggilan. Panggialn jiwa. Panggilan jiwa untuk menjemput masa depan. Kali ini serius, aku mencari ilmu di Bogor setelah keterima di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Aku keterima di suatu fakultas yang menangani hewan-hewan di dunia, dari hewan yang kecil-kecil, gajah yang besar, dan juga kamu. Eh maaf ga maksud hehe kamu bukan hewan kan. Ya dari sini lah, Bogor, aku mulai meraih mimpi-mimpi yang akan membangun masa depan.

Pertama denger Bogor. Kota hujan. Suka ngirim banjir. Harus hari-hati takut palid kebawa banjir. Secara spontan sejak tau kalo Bogor kota hujan pasti dingin. Kesalahan besar dalam hidup. Hujan ya hujan. Dingin ya dingin. Tapi di sini, Bogor, panas. Rasanya di sini sinar matahari lebih panas, panasnya nyengat ke kulit. Kalo kamu tinggal di luar Bogor lagi jemur pakain dan pingin cepet kering bawa aja ke Bogor, dijamin, jauh, keburu kering di jalan hehe

Tapi julukan kota hujan buat Bogor itu ga salah. Pagi mendung, tiga jam kemudian panas terang benderang, terus satu jam kemudian hujan ringan, terus panas lagi terus tiba-tiba hujan angin badai, terus jemuran aku kehujanan lupa diangkat. 

Kaya hari ini, di hari libur nasional, aku hanyalah seorang manusia yang mendambakan ketenangan di hari libur. Ga ada mandi pagi, ga ada berebut kamar mandi sama temen kontrakan, ga ada ribut nyari kaos kaki yang cuma ada sebelah, dan ga ada kerusuhan-kerusuhan yang lainnya. Hari ini, aku bisa bangun membuka mata dengan tenang. Sinar matahari mulai jail menyusup ke celah-celah jendela. Melek, bangun, duduk, liat jam, dan tidur lagi. Bangun lagi, kebelet kencing, cuci muka dan aku bisa ngerasain kesegaran dunia. Aku melihat keluar, ini hari yang cerah. Matahari tanpa malu-malu, mengeluarkan sinarnya cukup terik. 

Dari sekian banyaknya hal yang mau aku lakuin di hari ini, aku cuma pengen merasakan detik demi detik dengan ketenangan dan kebebasan. Makan dengan tenang sambil nonton film. Ga ada mandi pagi, mandi pagi di hari libur hanyalah sebuah mitos. Olahraga kecil-kecilan, hidup harus tetep sehat bung. Dimulai dengan naik turun kasur. Seengganya badan gerak. Itulah hal-hal yang yang aku pikirkan dan aku lakukan. Sampai saat ini Bogor masih disinari oleh matahari dengan teriknya.

Setelah olaharaga (yang ini habis beres olahraga beneran), hasilnya badan pun keringetan. Badan mulai merindukan kesegaran. Namun untuk mengumpulkan niat ke kamar mandi itu cukup berat dan penuh rintangan. Aku butuh setengah jam ketiduran di kasur, setengah jam makan siang, setengah jam merenungi kehidupan, setengah jam berdiam diri menahan untuk ga ketiduran lagi, setelah itu aku baru ngambil handuk, dan merenung kembali. Rangkain yang cukup panjang, setelah itu aku baru mencoba untuk benar-benar mandi. Disinilah mulai terjadi. Ditengah keasaikan main sabun (read: menyabuni badan, hal yang biasa dilakukan setiap orang saat mandi, kamu ga akan tau kalo gapernah mandi.) suara-suara tak asing mulai terdengar. Guludug-guludug-guludugg. Sebuah pertanda besar mulai terdengar. Bener aja, seberesnya mandi, Bogor menjadi kota dengan penuh air turun dari langit. Kroyokan. Kaya tawuran. Ditambah angin besar. Hujan badai dengan tiba-tiba terjadi. Secepat itukah. Apa salah aku, gara-gara mandi jadi hujan badai? Apa aku gaboleh mandi? 

Ini bener-bener hujan badai. Anginnya gabisa selow. Atap kedengeran tok-tok-tok-tok dan mulai bertetesan air, pertanda tidak baik. Air mulai nyiprat-nyiprat masuk ke dalem rumah, pertanda tidak baik mulai bertambah. Aku langsung nutup pintu, karna aku pikir itu harus dilakuin biar air hujannya ga nyiprat ke dalem rumah. Tapi, ga lama setelah pintunya ditutup kedenger sesuatu dari luar.

‘Mas mas tolong mas’

Aku masih ga buka pintu soalnya suaranya masih gajelas, siapa tau cuma pikiran doang. Tapi suara itu masih ada dan tambah jelas.

‘Mas mas tolong saya mas’

Deg. Horor. Hantu apa yang kehujanan minta tolong. Aku ragu buat buka pintu. Tapi suaranya ga ilang-ilang. Aku beraniin buka pintu dan ternyata. Itu suara mas-mas tetangga sebelah yang minta tolong. Motornya ketiban pohon runtuh di deket depan rumah-_-
‘Mas tolong mas motor saya ketimpa pohon’

‘Oh iya iya mas bentar. Woi woi bantu itu ada motor ketiban pohon diluarr’ Aku manggilin temen-temen yang ada di dalem rumah. 

Disitu hujan masih cukup deres. Aku langsung ganti celana lagi yang dipake sebelum mandi tadi, sayang kan kalo celana baru dipake harus kena hujan-hujanan, buka baju sayang juga kalo kebasahan, dan keluar dengan gagah bareng temen kontrakan dibawah hujan Bogor. 

‘Ini mas’ 

Pohonnya ga terlalu besar cuma pas banget nimpa motor yang ada di bawahnya. Dipikir-pikir ini pohon jail banget. Iseng mentang-mentang ada motor di bawahnya langsung menjatuhkan diri seenaknya. 

Di bawah derasnya hujan, aku bareng sama temen dan juga si mas yang motornya tertimpa musibah mencoba ngangkat pohon dan ngeluarin motor itu. Butuh lumayan lama buat ngeluarin itu motor walalupun pohon yang nimpa ga besar-besar amat. Tapi akhirnya motor itu bisa terselamatkan juga. Aku berasa jadi manusia bermanfaat hari ini. Ga lama dari situ hujan pun mulai reda, dan Bogor menjadi Bogor yang cerah kembali.

Bogor emang ga bisa diprediksi. Awalnya panas tiba-tiba hujan. Udah hujan tiba-tiba panas lagi. Bogor emang gabisa dimengerti maunya gimana, kaya cewe. Tapi hujan badai kali ini bawa beberapa hikmah dalam kehidupan selama satu hari ini. Pertama, jangan negative thinking sama suara suara yang terdengar agak menyeramkan siapa tau itu orang yang membutuhkan kamu. Kedua, dimana pun, siapa pun , dan dalam keadaan apa pun kalau ada seseorang yang butuh bantuan harus sebisa mungkin kita tolong biar hidup ada manfaatnya, ga cuma ngabisin oksigen doang. Ketiga, seperti kata pepatah ‘Badai pasti berlalu’. Keempat, ini yang paling pamungkas, panas hujan udah ada yang ngatur dan itu semua anugerah dari Allah karna kita juga gabisa nyiptain itu sendiri. Wesss, ga maksud menggurui cuma memberi tahu aja, karna kalo meberi tempe nasi jadinya makan-makan. Ini cuma mau berbagi cerita pengalaman doang dan aku cuma bisa berbagi lewat sini, lewat apa yang lari-lari dipikiran dan ditulis dengan tangan. Terima kasih udah mau ngabisin waktunya buat baca yang beginian. Semoga bermanfaat bagi aku, kamu, dunia aku, dunia kamu, dan dunia kita. 

*Ini berdasarkan pengalaman nyata tanpa rekayasa ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap, jika ada kesamaan tempat dan kejadian mungkin kamu temen kontrakan saya dan mas-mas yang ketimpa pohon, kalau bukan meraka dan kejadiannya tetep sama mungkin kita jodoh. Loh. Maaf-maaf kalau ada salah kata, karna laki-laki selalu salah apalagi dihadapan perempuan. Loh.

***
Tulisan ini ikut Arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Aditya sebagai pemenang.

Aditya Riyanto

Manusia selayaknya manusia biasa yang punya bola mata dua, lubang hidung dua, telinga dua, satu hati yang entah untuk siapa, hehe. Mahasiswa Kedokteran Hewan yang tak asing dengan kata ujian. 


0 comments:

Post a Comment