Friday, 7 April 2017

Anak yang Tidak Suka Diperintah

“Nok, anterin bubur ini ke Bulek Nur.” Puluhan mangkuk bubur yang dikerjakan ibu sedari pagi penuh asap berkepulan, menghantar suara ibu yang sudah terdengar lagi setelah 10 menit yang lalu menyuruhku membelikan cabai di warung sebelah. Sontak rasa mangkel yang sudah mulai surut, timbul kembali. Mendapat perintah dari ibu yang harus keluar rumah adalah pekerjaan yang kalau bisa memilih untuk tidak dikerjakan, aku akan memilih itu. Ibu sangat gemar memerintah. Membeli ini, itu, mengantar ini, itu. Tidak ada habisnya. Seakan aku diciptakan hanya sebagai kurir di sepanjang hidupnya. Aku yakin semua anak sama jengkelnya sepertiku ketika harus menerima perintah yang beruntun. Sampai aku ingin berteriak “tanganku cuma dua!” Atau “istirahat sebentar!” Hanya untuk membuatnya mengerti. Tapi hal itu mustahil karena paham menghormati orang tua sudah ditanamkan sejak kecil oleh para tetua/guru kepada anak-anak belia dengan kepala kosong.


Berat hati aku menyeret kakiku dan menerima mangkuk penuh bubur untuk diantar. “Awas panas.” Suara ibu memperingati lagi dan aku memutuskan untuk tidak peduli kemudian melangkah cepat-cepat pergi dari hadapan ibu. Sepanjang perjalanan aku berencana untuk pergi keluar setelah mengantar bubur sialan ini. Kemana saja, yang penting bebas dari suara perintah ibu. Bebas dari rasa panas mangkuk bubur yang semakin menggigit jariku.

Aku putuskan untuk mengitari jalanan kota, nekad menerobos panas dan macetnya. Tidak ada rencana untuk mampir kemana, muter-muter saja, berhenti dari satu rambu ke rambu yang lain sambil membatin puas di dalam hati “haha, gimana coba buk? Kalau sekarang gantian ibu yang nganterin bubur sendiri?” Tersenyum-senyum kecil membayangkan wajah ibu yang mangkel harus berjalan sendiri mengantar bubur, akhirnya ibu tidak bisa bersantai-santai sedangkan aku yang kesana-kemari.

Semakin asik aku berkhayal, semakin keras usaha dahagaku untuk memaksa mampir ke sebuah minimarket yang sudah 2 kali aku lewati. Aku mampir dan berencana untuk menuntaskan rasa haus ini dengan 2 botol air mineral. Saat aku keluar dari minimarket dan menenteng plastik berisi air mineral, ada seorang ibu paruh baya sedang menatapku dengan mata haus, maksudnya dahaga karena ibu itu terus melihat kantung plastik airku dengan gerakan leher yang terus naik turun, seperti menelan sesuatu. Ibu itu umurnya mungkin sekitar 50an, duduk dipojokan luar halaman minimarket sambil menunggui dagangannya yang digelar sembarangan di latar. Sepertinya ibu itu menjual Gethuk, adonan lembek dengan warna kuning tua yang kelihatan kotor dan tidak menarik, seperti dagangan kemarin yang dijual lagi hari ini. Daun pisang layu dan hampir berwarna coklat berserakan di sampingnya. Hanya itu yang ada di hadapannya. Demi melihat lehernya yang terus naik turun, aku menghampirinya dan menyodorkan 1 botol air minum. Cuaca memang seakan sedang asik bermain panggang-panggangan, panasnya minta ampun dan apesnya ibu itu tidak menggelar dagangannya ditempat teduh.

“Eh, diganti sama gethuk ya nduk? Mau ndak?” Aku mengangguk demi menghargai tawarannya dan buru-buru menyahut saat melihat lagi warna gethuk itu “sedikit saja ya bu gethuknya, takutnya malah ngabisin dagangan.” Cekatan ibu itu membungkus gethuk dengan daun pisang layu, berlapis-lapis karena daun pisang itu mudah koyak ketika ditekuk. Setelah itu langsung menenggak air mineral pemberiannku sampai sisa setengah. Aku duduk di sampingnya ikut meminum air mineral yang satunya, kemudian iseng-iseng bertanya “anaknya berapa bu?” 

“3 nduk, 9, 10, sama 15 tahun umurnya. Yang 15 tahun laki-laki. Ganteng sekali.” Wajah Si Ibu kelihatan senang sekaligus sedih saat menceritakan anak-anaknya. “Mereka anak baik nduk. Ndak nakal sama sekali. Diam saja di rumah ndak suka neko-neko.” Aku mengangguk paham.

“Pinter-pinter ya bu pastinya?”

Wajah sedih Si Ibu semakin kentara. "Mereka ndak sekolah nduk, ndak mau.” Peluh Si Ibu menetes saking gerahnya.

“Lho, lha kenapa bu?”

Ndak mau ngabisin duit ibu katanya.” Si Ibu mengusap peluhnya dengan ujung kain bajunya.  “Mereka maunya cari uang. Buat makan katanya. Terus yang hasil jualan ibu ini suruh ditabung.” Mata penuh kabut Si Ibu memandang kosong ke jalanan ramai, menerawang seperti membayangkan anak-anaknya. “Ibu ndak pernah meminta mereka untuk kerja kok nduk, ndak pernah. Mereka yang meminta sendiri. Ibu kasihan malah ngelihatnya. Sakit sendiri kalau melihat mereka baru pulang dari ladang sebelah. Badan kotor semua sama wajahnya pada capek.” Buru-buru Si Ibu mengusap sudut matanya yang hampir tumpah air matanya. Buru-buru juga aku teringat perintah-perintah ibu. Perintah-perintah itu mendadak menjadi perintah-perintah kecil yang tidak ada bandingannya dengan pekerjaan ibu yang mendadak juga di pikiranku menjadi banyak dan besar. Ibu tidak pernah memintaku untuk bekerja, tapi anak-anak Si Ibu Penjual Gethuk malah bekerja tanpa diminta. Ah, kenapa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah padahal sepanjang jalan tadi aku asyik menertawakan kerepotan ibu mengantar bubur ke tetangga sendirian.

Kami terdiam lama sampai akhirnya aku tersadar dari lamunanku saat Si Ibu penjual gethuk mulai membereskan daun-daun pisang yang berserakan, sepertinya sudah mau pulang. Cepat-cepat aku memesan semua gethuknya yang masih separuh, tanpa tahu apa yang harus aku lakukan dengan gethuk kuning kotor ini nantinya. Wajah Si Ibu kembali sumringah dan cekatan membungkus gethuk, kali ini bungkus daun pisangnya semakin tebal. Kemudian Si Ibu benar-benar bersiap untuk pulang. Menggendong keranjang dagangannya dan berjalan bungkuk, tersenyum dan melangkah pelan menjauhiku.

Setelah melihat punggung Si Ibu penjual gethuk sesaat, aku buru-buru pulang. Sampai rumah tergesa aku mencari ibu untuk menanyakan apakah masih ada bubur yang perlu diantar? Aku tidak mau harus membuat badanku kotor dengan pekerjaan yang berkotor-kotor, hanya karena ibu sampai bungkuk saking capeknya bekerja sendiri.

“Ibuuuu, akan aku antar semua buburnyaaa!”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nunik sebagai pemenang.

Nunik Sutrisni

Saya adalah seorang mahasiswa Matematika di Universitas Negeri Semarang. Saya adalah seorang yang hanya berani bermimpi, angannya dipenuhi dengan rencana-rencana besar yang sangat banyak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadi seorang penulis. Dengan kemampuan menulis yang ala kadarnya saya mulai belajar dengan otodidak. Menulis bisa membuat hatiku lega, ini seperti mengutarakan semua isi hati, atau bisa menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi yamg tentu saja dimodifikasi dengan berbagai pemanis. Saya berharap dengan menulis passion yang saya impikan bisa terwujud.

0 comments:

Post a Comment