Saturday, 15 April 2017

Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Cuma Terorisme

Awal tahun lalu. Masyarakat Indonesia digegerkan dengan serangan bom di bilangan Sarinah Jakarta. Tidak hanya bom, aksi tembak menembak dar der dor dari polisi melawan seseorang terekam jelas oleh kamera televisi. Pokoknya adegan-adegan tersebut mirip seperti di film Lomdom has fallen, eh london has fallen film action bukan sih?
 

 
Ya, yang jelas polisi kala itu harus sigap melawan mereka-mereka yang mau mengancam keamanan negara. Mereka-mereka yang dimaksud itu kemudian kita sebut sebagai teroris. Betul, aksi terorisme itu harus dicegah, harus dilawan dan harus dikutuk. Tak ada hal positif dari aksi terorisme yang ada hanya kesengsaraan, kesakitan sampai paranoid yang berlebih. Terorisme memang horor segala tindakanya bisa disebut sebagai ancaman

Tapi, tahukah kamu bahwa sebetulnya ada sebuah hal yang sama horornya, sama menakutkanya sama mengerikanya dan sangat bikin kamu paranoid. Sebuah hal yang tentunya akan kamu hindari dan jauhi. Bahkan untuk menjauhinya kamu mesti menyiapkan kondisi finansial ekonomi yang memadai. Untuk menyebutkan maksud dari hal tersebut, izinkan saya bercerita sedikit

Setiap hari sejak jaman kuliah hingga kini menekuni usaha, saya menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang. Rumah saya ada di ujung timur Kabupaten Cirebon, sedangkan letak kampus dan usaha saya kini ada di pusat kota Cirebon. Jaraknya sekisar 47KM

Uang saya boleh dibilang tidak banyak, tapi ga pas-pasan juga. Nah pada suatu hari, pergi lah saya ke kota. Seperti biasa saya singgah di SPBU dekat rumah untuk mengisi bahan bakar. Sampai di SPBU ternyata bensin jenis premium di sana sudah tak ada lagi, hanya pertalite dan pertamax. Saat itu bahkan, harga pertalite baru saja dinaikan. Jadi, jika saya biasanya pede bilang ‘full tank’ ke mas-mas penjaganya, kali ini tidak begitu. Saya tengok dulu keadaan tanki, sedikit menggoyang-goyangkan motor agar terlihat seberapa penuh bensin yang tersisa di tangki motor saya. Setelah mengira-ngira, saya minta mas-masnya untuk mengisikan pertalite dengan harga 15 ribu. Dan ternyata tidak penuh. Dulu, saat saya masih kuliah (belum setahun yang lalu) premium masih tersedia di SPBU itu dan ketika saya bilang full tank. maka biaya yang harus saya keluarkan paling hanya 12 atau 13 ribu saja.

SPBU sudah saya tinggalkan, saya bergegas pergi ke kota. Tapi, ketika separuh jalan. Saya dipanggil oleh seseorang bertopi dan berompi hijau. Dengan senyum maha ramahnya, dia memberhentikan saya. Betul! dia pak polisi. Setelah mengecek kelengkapan dia mengingatkan saya bahwa plat motor saya tak lama lagi harus diganti. Dan semalam saya lihat berita jika harga ganti STNK naik. “ah duit lagi” gumam saya saat itu

Tidak, saya tidak ditilang pak polisi, dia hanya mengingatkan. Tapi hal itu cukup membuat saya kepikiran. Motor saya pacu lagi hingga akhirnya sampai tujuan dan melakukan kegiatan sebagaimana biasanya. Ketika siang hari tiba, dan perut sudah mulai menggelar konser, saya putuskan untuk makan di warteg dekat tempat saya berkegiatan. Setelah makan, dengan tempe, telor dadar dan sambal. Saya diberi tahu tentang harga makanan yang baru saja saya lahap. Dan ternyata harganya naik. Dengan es teh manis, harga makanan yang saya makan tadi di bandrol 11rb. Kaata pedagangya ini imbas dari kenaikan harga cabai. Jadi, dalam makanan yang saya makan tadi, item termahalnya adalah sambal! Tau gitu saya gak makan sambal

Ketika sore hari saya pulang, dan menyusuri jalanan yang sama dengan ketika berangkat. Kuda besi yang saya tunggangi tiba-tiba berhenti. Saya coba kutak katik, cari-cari sesuatu yang menyebabkan motor saya mati. Dan akhirnya ketemu! penyebabnya ada di tanki motor saya yang ternyata sudah kering lagi. Wajar jika saya tidak tahu kondisi bensin, sebab memang spedometer tanki motor saya sudah rusak. Mau tak mau motor harus dituntun untuk mencari SPBU terdekat atau setidaknya penjual bensin eceran. Singkat cerita penjual bensin eceran sudah saya temui, sudah tentu, harga perlitenya lebih mahal ketimbang SPBU. Tapi yasudahlah dari pada saya tidak pulang.

Ketika saya sampai dirumah. Saya menemukan sepucuk surat cinta yang diberi oleh PLN yang ditempelkan di KWH Meter depan rumah. Tanpa harus membacanya kita semua tahu jika surat cinta itu isinya pengingat untuk segera membayar listrik. Kalau tidak segera dibayar, Putus! Kalau pacar yang bilang putus, kita masih cari yang baru (walau kadang sudah move on) Tapi kalau pln yang mutusin. Kita bisa apa? kita tidak mungkin move on. Kita harus meminta maaf dan berupaya agar PLN mau nyambung lagi dengan kita. Nyambung aliran listriknya maksudnya. Salah satu  yang lebih menyakitkan lagi adalah, saat itu harga listrik baru saja ditetapkan naik. Jadi sudah tentu, tagihanya pun lebih mahal dari biasanya

Dari sekelumit cerita diatas. Maka, kita semua harus tahu jika Terorisme bukan satu-satunya ancaman. Ada ancaman yang sama menyakitkanya, sama menyebalkanya. Ancaman itu adalah Tekorisme. Saya ulangi, ancaman itu adalah Tekorisme. Tekorisme adalah pengeluaran uang dari kantong dan atau dompet seseorang yang bertubi-tubi dalam waktu yang singkat. Imbas dari tekorisme ini adalah tidak nyamanya makan, tidak pulasnya tidur dan tidak konsenya bekerja. karena itu, Tekorisme harus sama sama kita perangi!

Karena itu dalam tulisan ini saya menghimbau kepada Presiden Republik Indonesia, untuk membentuk sebuah detasemen khusus anti tekor yang berfungsi untuk mencegah hal-hal yang berupaya menjadikan masyarakat Indonesia menjadi tekor. Setidaknya densus anti tekor bakal berupaya agar masyarakat Indonesia tidak mengeluarkan banyak uang secara bertubi-tubi atau setidaknya mencegah agar harga-harga entah itu sembako, sayuran, STNK, Bensin sampai listrik tidak naik.
 
***
Tulisan ini ikut arisan godok Bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Wildan sebagai pemenang.
 
Muhamad Wildan
 
Saya resmi menjadi manusia bumi sejak 1994. Penggemar berat Es Teh manis dan memiliki jumlah gigi yang sama denga bulan lalu.

0 comments:

Post a Comment